Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
111. Baby Kano


__ADS_3

"Iya sudah bos, itu wanita yang mendorong istri bos sekarang masih di kantor polisi, harus diapakan dia?" Ridwan melaporkan kejadian tersebut dan meminta apa yang harus di kerjakan lagi.


"Mario, elo urus itu wanita nenek lampir, ajak Ridwan sebagai wakil resmi dari Rendi, gue mau menghubungi jendral Hendro untuk mempermudah prosesnya nanti" titah Faro mengambil handphone yang ada di kantongnya jasnya.


"Siap bos dilaksanakan, ayo bro kita berangkat" ajak Mario sok akrab dengan Ridwan, sedangkan Ridwan menjadi gugup dan sedikit minder karena penampilan yang sederhana hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana kain.


Baru melangkah menuju pintu Rendi memanggil Ridwan dengan suara lantang mengagetkan Ridwan yang sedang melamun.


"Ridwan, rubah penampilan kamu, jangan masih seperti sekuriti, Mario make over asisten gue, rubah seperti selayaknya seorang asisten Rendi Wibisono" sombong Rendi dengan cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dasar bos gila" gerutu Ridwan melihat sosok bos barunya yang aneh dan unik.


"Tenang aja yang penting bonusnya 70% masuk kantong" celoteh Mario keluar mengajak Ridwan untuk mengikutinya.


Sampai di parkiran Ridwan berjalan menuju parkiran motor tanpa menoleh kearah Mario dan mengeluarkan kunci motor dari kantong celananya.


"Bro, elo mau kemana?" teriak Mario lantang.


"Ambil motor bos" jawabnya singkat.


"Pakai mobil gue aja, nanti setelah selesai gue antar kesini lagi" sampai di mobilnya membuka pintu duduk di kemudi diikuti oleh Redwan disebelahnya.


"Kita kemana dulu bos?" tanya Ridwan setelah duduk disampingnya dan mobil sudah membelah jalanan di terangi lampu jalanan karena matahari sudah terbenam di balik awan.


"Make over elo sebentar, seperti perintah bos elo" Mario masih konsentrasi memegang kemudi menghadap lurus kedepan.


"Boleh ceritakan bos Rendi itu, soalnya aneh orangnya, tadi uangku hanya tujuh juta, dia malah mentransfer 50 juta, dia juga memaksaku menjadi asistennya tanpa meminta persetujuan dariku, saat aku ingin menolaknya dia mengancam akan menambah transfer lagi" cerita Ridwan dengan suara kesal.


Mario tertawa lepas dengan kejujuran anak muda yang ada disampingnya itu, pantesan Rendi mengangkatnya menjadi asistennya gumamnya sendiri.


Kemudian Mario bercerita jika kami bertiga sudah berteman dari sejak sekolah dasar, bahkan Rendi dan Faro berteman sejak di bangku taman kanak-kanak.


Mario bercerita Rendi adalah pribadi yang kocak, tetapi baik hati terlahir dari seorang pengusaha properti dan interior sukses di Tangerang dan mempunyai adik perempuan yang masih kuliah, Mario juga bercerita disekolahkan oleh orang tua Faro sampai perguruan tinggi sekarang menjadi asistennya walaupun istrinyanya seorang pengusaha yang sukses tetapi masih memilih setia dengan bosnya.


"Rendi akan sangat loyal kepada orang yang jujur dan setia kepadanya, tetapi sekali di khianati dia akan lebih kejam melebihi penjahat yang kejam" cerita Rendi tersenyum tanpa tahu diketahui oleh Ridwan apa artinya.


"Bekerja lah dengan giat, jagalah kepercayaan Rendi, semoga elo setelah ini akan memiliki masa depan yang lebih baik" nasehat Mario membuat hati Ridwan menjadi menghangat.


"Baik, mohon bimbingannya, saya akan belajar dengan baik, saya ingin mengubah nasib dan ingin membahagiakan kedua ibu saya" jawab Ridwan dengan antusias.


"Elo punya dua ibu, maksudnya?" Mario mengerutkan keningnya, merasa heran dengan ucapan Ridwan yang aneh.


Karena sudah sampai di toko pakaian pria terkenal di daerah Tangerang, Mario meminta nanti dalam perjalanan pulang saja bercerita tentang kedua ibunya.


Masuk dalam toko pakaian pria Mario memilihkan kemeja lengan panjang yang lumayan banyak, celana kain dengan warna gelap dan beberapa jas untuk dipakai saat bekerja besok.

__ADS_1


Saat Mario akan mengeluarkan kartu debit, Ridwan mengambil kartu ATM-nya sendiri.


"Bos...bos jangan memakai kartu anda, pakai ini saja" bergegas Ridwan mengulurkan kartu ATM kepada kasir.


Tetapi setelah melihat notifikasi pesan masuk Ridwan langsung membulatkan matanya, membeli baju sampai 10 juga, orang kaya memang aneh gumamnya sendiri, biasanya membeli baju seratus ribu dapat tiga, sekarang sepuluh juta hanya mendapatkan tidak lebih dari lima setel baju.


"Cepat gantilah bajumu dengan setelan jas ini, kita langsung ke kantor polisi" perintah Mario memberikan satu setel baju berwarna hitam yang sudah di bayar tadi.


Ridwan masuk keruang ganti, walau hampir tidak pernah mengenakan pakaian mahal seperti jas kecuali saat ijab qobul dan resepsi kecil dengan almarhumah istrinya Ridwan, tetapi saat Ridwan berkaca waaaah gagah juga memakai setelan jas seperti ini, apa komentar ibu jika melihat penampilanku sekarang gumamnya sambil tersenyum sendiri.


Sekarang Mario dan Ridwan sudah sampai di kantor polisi, bertemu dengan inspektur polisi yang sudah menunggunya.


"Apakah anda orangnya jenderal Hendro, silahkan masuk Pak" ajak inspektur itu duduk di sofa kantornya.


Ridwan mengerutkan keningnya berpikir dan bergumam sendiri siapakah jenderal Hendro itu mengapa inspektur polisi menunggu kedatangannya walaupun datang pada malam hari.


"Betul inspektur, kami ingin melaporkan dan mengajukan tuntutan hukum kepada Sari Sagita" ucap setelah Mario dan Ridwan duduk dihadapannya.


"Ya pak, ini anda tinggal menandatangani berkas yang sudah kami persiapkan".


Inspektur polisi itu menceritakan jika mall juga ikut menuntut Sari Sagita karena telah mencemarkan nama baik mall karena banyak masyarakat yang menilai pihak keamanan tidak bekerja dengan baik, dan pihak kepolisian juga menunggu pihak dari keluarga korban ikut menuntut keadilan yang dilakukan oleh Sari Sagita.


"Inspektur apakah boleh saya bertemu dengan wanita yang telah mendorong ibu hamil tadi siang" pinta Mario setelah duduk berhadapan dengan inspektur polisi yang telah menunggunya.


Saat Sari Sagita melihat sosok dua orang laki-laki yang berjas mendekatnya, dia langsung berdiri dan mendekati jeruji besi.


"Mario, apakah kamu Mario?" tanya Sari Sagita seperti hampir tidak percaya jika bertemu dengan teman kuliahnya.


"Ya, gue mewakili keluarga Rendi menuntut atas perbuatan elo yang membahayakan tiga orang sekaligus" jawabnya tegas.


"Kenapa Rendi, gue hanya mendorong Erna?" Sari Sagita gugup secara tidak sengaja mengakui telah mendorong Erna.


Mario tersenyum sinis melihat tingkah teman kuliahnya itu ternyata sikap sombong dan angkuhnya tidak berubah.


"Mario tolong gue, gue tidak bermaksud ingin mencelakai Erna, dimana Rendi sekarang, apakah dia sudah menikah, gue bertahun tahun mencarinya untuk minta maaf, gue pingin kembali kepadanya?" tanya Sari Sagita dengan penuh harap bisa bertemu Rendi.


"Dasar b*d*h, elo tidak tahu kalau yang elo dorong itu istrinya Rendi, silahkan membusuk dipenjara" Mario begitu geram ternyata sudah bertahun tahun Sari Sagita tidak pernah berubah, egois dan mau menang sendiri.


Sari Sagita hanya merosot terduduk dilantai mendengar suara Mario yang meninggi pupus sudah harapan bertahun-tahun mencari Rendi.


Selesai membuat laporan dan tuntutan kejadian untuk bos barunya Ridwan diantar Mario kembali ke rumah sakit tetapi sesuai janjinya dia menceritakan tentang kedua ibunya yang sempat terpotong tadi.


Ridwan adalah anak seorang tukang ojek pengkolan dan ibunya bekerja sebagai ART, tinggal di sebuah kontrakan kecil yang disewanya bersebelahan dengan teman ibu yang bekerja sebagai ART juga pada majikan yang sama, hanya bedanya teman ibu sudah janda dan memiliki satu anak gadis yang hanya lulusan SMP bekerja di sebuah pabrik garmen.


Setelah satu tahun lulus SMU Ridwan bekerja di pabrik garmen yang sama akhirnya menikahi gadis itu dengan usia yang sangat muda, setelah pernikahan berjalan lima bulan istri Ridwan hamil,

__ADS_1


Sampai umur kandungan lima bulan saat pagi hari berangkat kerja boncengan naik motor dengan istrinyanya dan kebetulan berbarengan bapak Ridwan mengantar ibu ke pasar untuk berbelanja untuk kebutuhan majikannya ada truk container yang menabrak mereka dari belakang.


"Bapak tewas ditempat, ibu mengalami patah kaki, sedangkan istri Ridwan mengalami pendarahan hebat, Ridwan membawa istrinya ke rumah sakit persis seperti dia menolong Erna tadi sore, tetapi sayangnya istri dan calon anaknya sudah meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.


Setelah bapak, istri dan calon anaknya meninggal dunia, ibu harus berhenti bekerja karena kakinya patah, ibu mertua juga ikut berhenti bekerja karena merawat ibu selama dua tahun sampai sekarang sudah sehat dan bisa berjalan kembali, setelah peristiwa itu Ridwan memutuskan merawat kedua ibunya dan menyewa kontrakan satu pintu untuk ditinggali bersama dan melarang mereka untuk bekerja kembali.


Ridwan bercerita kepada Mario dengan linangan air mata tanpa henti, membuat Mario juga ikut berkaca kaca terbawa suasana.


"Sekarang nasib elo sudah berubah bro, jangan sedihlah, semoga elo bisa membahagiakan mereka, ingat belajar dan pelajari dengan giat serta pantang menyerah" nasehat Mario.


"Siap, mohon bimbingannya" Ridwan spontan menjawab seperti pekerjaan lamanya.


Mario terkekeh dengan jawaban Ridwan "Jangan elo bawa bawa pekerjaan lama, bersikaplah seperti seorang asisten wakil CEO".


"Belum terbiasa, saya jadi membayangkan setelah pulang nanti bagaimana ekspresi ibu dan emak melihat penampilan saya sekarang" ikut tersenyum dengan memandang jalan raya yang masih padat.


Sampai didepan rumah sakit Ridwan turun dipinggir jalan, Mario langsung pulang hanya menitip salam karena sudah malam sedangkan Faro juga sudah pulang saat menjelang senja tadi.


Ridwan langsung melaporkan kepada bos barunya bahwa sudah mengajukan tuntutan hukum kepada Sari Sagita, pamit pulang dan besok akan datang mulai bekerja sebagai asistennya.


"Sudah dipersiapkan nama untuk putramu, apa perlu bantuan bapak?" bapaknya Rendi bertanya saat tinggal keluarga inti yang berada diruang rawat inap itu.


"Sudah Pak, namanya Ikhano Sakti Wibisono" Erna tersenyum mendengar nama yang disebutkan suaminya.


"Bisa di panggil baby Kano berarti ya?" Ibu ikut bahagia mendengar nama yang indah untuk cucu pertamanya yang baru lahir.


"Sayang, kapan kita bisa keruang bayi untuk melihat baby Kano?" dengan mata sendu Erna ingin melihat putranya yang baru dilahirkan.


"Nanti kita tanya dokter dulu sabar ya, jangan khawatir putra kita ganteng seperti Daddy nya" canda Rendi menghibur istrinya tercinta.


"Visit dokter jam berapa?, lebih baik Abang tanyakan ke suster aja sekarang" Erna sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putranya.


"Baiklah tunggu sebentar Abang tanyakan ya, jangan bangun dulu sebelum mendapatkan ijin dari dokter"


___________________


Semangat semangat


jangan lupa juga kesehatan.


like vote dan komentar serta hadiahnya


jangan lupa sebagai semangat author.


terima kasih, I love you all

__ADS_1


__ADS_2