Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
59. Bertemu Calon Adik Ipar


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Faro dan Inneke menikah dan tinggal satu rumah dengan Ken dan Imma.


Faro sudah membeli rumah di komplek perumahan Uthi Mami dan Akung Papi, hanya beda beberapa blok saja, tetapi masih dalam renovasi rencananya rumah itu akan di tempati satu bulan mendatang setelah renovasi selesai.


Paket honeymoon ke Singapura dan Malaysia belum Faro gunakan karena kesibukan kantor yang semakin meningkat, dan masih sedikit trauma gara-gara insiden kecil di Brunai Darussalam saat itu.


Pekerjaan Faro berjalan bersamaan antara kantor dan intelejen tanpa ada halangan sedikitpun, semua lancar dan selalu aman dalam melaksanakan tugasnya itu.


Sementara dalam satu bulan ini juga Jasson selalu menanyakan kapan keluarganya bisa datang untuk melamarnya karena saat dia melamarnya waktu itu boleh datang setelah pernikahan Faro.


Saat hari Sabtu ini Inneke sedang berada di rumah bunda dan uthi Intan, Faro hanya mengerjakan pekerjaan kantor di rumah sampai nanti sore akan menjemput Inneke dari rumah bundanya.


Saat Faro turun dari lantai atas ingin mengambil air minum dan melihat adik cantiknya Fia sedang melamun di ruang keluarga.


"Ada apa kakak Fia yang cantik, tumben melamun?" tanya Faro duduk di samping Fia memeluknya dari samping.


"Abang, bikin kaget saja, gue lagi bingung Bang!" ucap Fia menunduk, bingung harus mulai bicara dari mana sedangkan umi dan abinya sedang berada di rumah Uthi Mami dan Akung Papi bersama Ezo.


"Ayo ceritakan sama Abang, pasti Abang akan bisa membantu masalah elo" pinta Faro adik cantiknya Fia.


Fia akhirnya bercerita tentang hubungannya dengan Jasson anak pak Andri Pranoto selama ini, dan keinginan Fia jika tidak ingin berpacaran, sehingga membuat Jasson berniat segera melamarnya, Fia juga bercerita jika umi dan Abi sudah merestui hubungan antara mereka dan meminta melamar jika setelah Abang Faro menikah.


"Umurku belum genap dua puluh tahun Bang, tetapi dia ingin segera melamar kesini, gue jadi bingung" kata Fia ragu.


"Menikah itu tidak di lihat umur adikku, tetapi itu tentang kesiapan mental dan hati, kalau elo percaya dengan Jasson maka Abang akan mendukung kalian seratus persen" dukungan Faro begitu mantap dengan memegang tangan Fia.


"Jadi gue harus bagaimana Bang, dia sudah tidak sabar ingin cepat melamar kesini Bang" cabik Fia merasa gelisah dan bingung harus berbuat apa.


"Suruh datang aja jika dia jika memang tidak berniat mempermainkan adik cantiknya Abang, kan tidak harus menikah sekarang, tunangan aja dulu seperti yang Abi katakan" nasehat Faro bijak.


"Bagaimana kalau nanti malam kita Doble date, ajak Jasson bertemu baru nanti Abang datang berdua dengan kak Keke?" ide Faro pada Fia yang masih bingung.


"Tidak aah Bang, gue ogah kalau suruh pacaran, tidak ada manfaatnya sama sekali, mending gue belajar di rumah" tolak Fia malas.


Pribadi Fia memang kuat, persis seperti uminya, tidak suka bercanda atau bermain-main dengan hal yang tidak penting, dia akan selalu satu fokus kepada apa yang dia inginkan atau cita-citakan, tanpa menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih apa yang menurut dia baik demi masa depannya.


"Baiklah, atau sebaiknya minta Jasson bertemu Abang Sebelum datang ke rumah, Abang ingin mengujinya terlebih dahulu sebelum melamar adik cantik Abang ok" perintah Faro kemudian dengan penuh keyakinan.


"Iya Bang, nanti gue hubungi Bang Jasson untuk menemui Abang" Fia setuju untuk mempertemukan dengan Jasson.


"Ciek...ciek... Bang Jasson, sudah punya panggilan sayang rupanya" goda Faro mendekati Fia dengan mentowel hidungnya.


"Aaaah Abang jangan mulai modus, kalau mau modus sana sama kak Keke, gue tidak mempan di modusin" kesal Fia memukul lengan abangnya sendiri.


Sore harinya saat Faro menjemput Inneke di rumah bunda, mendapat pesan WA dari nomor yang tidak di ketahui identitasnya.

__ADS_1


"Bang, maaf aku tunggu di kafe NN, tadi aku mendapatkan kabar dari Fia jika Abang ingin bertemu dengan ku" dari Jasson.


Setelah Faro membaca pesan dari Jasson kemudian membalas pesan itu dengan cepat.


"Ya tunggu sebentar, gue jemput istri sebentar, baru otw kesana" balasan Faro baru memarkirkan mobilnya di depan rumah bunda untuk menjemput Inneke.


Faro masuk rumah bunda dan mencari istrinyanya yang sedang duduk di ruang keluarga, duduk di samping Inneke memeluknya erat dan mencium bibir Inneke tanpa melihat ada mertua dan Uthi Intan juga.


"Sayang, malu tahu ada bunda, ayah dan uthi Intan" celoteh Inneke pada Faro dengan memukul lengannya perlahan.


"Emang kenapa, cium istri sendiri tidak apa-apa kan ayah, bunda" tanya Faro mengedipkan matanya kepada ayah Edi Santoso.


Edi Santoso hanya terkekeh, melihat menantunya yang mesum di depannya tanpa malu-malu.


"Sayang ayo berangkat, Abang ada janji di kafe NN" ajak Faro melipatkan kakinya tetap tangannya usil membelai rambut Inneke dengan mesra.


"Tidak tunggu makan malam dulu nak?" tanya bunda penuh harap.


"Maaf Bun, lain kali aja, ini orangnya sudah menunggu disana, kasihan dia kelamaan" alasan Faro lagi.


"Aku ambil tas sebentar kalau gitu ke kamar" Inneke naik tangga menuju lantai atas ke kamarnya untuk mengambil tas dan berganti baju.


Setelah selesai Faro dan Inneke berpamitan kepada bunda, ayah dan Uthi Intan dengan mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Kenapa memang, kalau janjian sama cewek gimana?" goda Faro mendekati Inneke dan membelai rambut Inneke dengan mesra.


"Coba aja janjian sama cewek, Abang tidak akan dapat jatah malam ini, kalau perlu tidur di luar aja" Inneke kesal dan merasa Cemburu.


"Cemburu niye....ciek ciek" Faro tersenyum melihat tingkah laku Istrinya yang mengerucutkan bibirnya.


"Jangan macam-macam Bang, mau tidur di luar kamar" ancam Inneke masih kesal.


"Tidak sayang, Abang cuma mau satu macam aja, cinta sama istriku yang tiada duanya, Abang janjian sama calon suami dari Fia" baru Faro jujur karena Inneke hampir marah merasa cemburu.


Sambil menuju kafe NN Faro bercerita tentang Jasson dan niat keluarga itu ingin melamar adiknya Fia, Faro juga bercerita jika Fia tidak berniat pacaran dan ingin pacaran sama suaminya saja, dan dia juga bercerita jika adiknya Fia adalah gadis yang mempunyai sifat seperti uminya yang mempunyai pendirian teguh dan berkomitmen jika sudah menyangkut kehidupan pribadinya.


Sampai di depan parkiran kafe NN, Faro turun dari mobilnya menggandeng tangan Inneke dengan mesra,


"Kita nostalgia disini sayang, mengenang saat-saat pacaran di kafe ini" Faro tetap menggandeng tangan Inneke tetapi mencium bibirnya sekilas.


"Kalau mau nostelgia, jangan cium bibir Bang, dulu kita cuma pegangan tangan aja" protes Inneke saat di cium bibirnya oleh Faro.


Mendorong pintu kafe mendapat sambutan hangat dari para pegawai kafe, Faro menyapu pandangannya ke seluruh pengunjung mencari dimana Jasson duduk.


"Bang Faro, aku disini" panggil Jasson duduk di bangku paling belakang pojok kafe.

__ADS_1


Faro dan Inneke mendekati Jasson dan duduk di depannya hanya terhalang oleh meja saja diantara mereka.


"Apa kabarnya Bang, kakak?" ucap Jasson mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan bergantian.


"Kami baik" jawab Faro singkat dan mengajak Inneke duduk.


"Kakak pesan makan aja dulu, ini daftar menunya" ajak Jasson menyodorkan buku menu kepada Inneke.


Ada satu pramusaji mendekati mereka setelah Jasson memanggil dengan lambaian tangan.


"Nasi lamak dua dan es jeruk juga dua" pinta Inneke tanpa minta persetujuan Faro terlebih dahulu tentang pesanannya.


"Kamu tidak pesan makanan?" tanya Faro mengawali pembicaraan pada Jasson yang hanya ada kopi di depannya.


"Aku sudah Bang tadi makan gado-gado" jawab Jasson langsung.


Datang dua pramusaji mendekati mereka dengan membawa pesanan Inneke yaitu dua nasi lamak dan dua es jeruk, Faro dan Inneke makan dalam diam sampai habis tanpa berbicara terkadang hanya suara sendok dan garpu yang beradu suara, selesai makan baru Faro mulai membuka pembicaraan serius dengan Jasson.


"Kamu serius dengan adik gue Fia?" tanya Faro dengan penuh penekanan dan berwibawa.


"Sangat serius Bang, aku suka sama adik Abang mulai bertemu pertama kali saat dia di keroyok preman di depan sekolah SMU dulu" cerita Jasson tanpa ragu-ragu.


"Tetapi adik gue belum genap dua puluh tahun Jasson, apakah kamu sanggup menunggu dia sampai minimal tahun depan sampai umurnya cukup untuk menikah?" tanya Faro lagi sambil melihat manik mata Jasson yang tidak ada kebohongan disana.


Jasson hanya menarik nafas dalam-dalam, inginnya secepatnya menimang gadis impiannya bisa langsung ingin melamarnya tanpa menunda-nunda lagi.


"Aku akan siap apapun syaratnya Bang, kalau bisa langsung melamar dia, aku sangat mencintai dia, aku tidak ingin di tikung orang, sebab di kampus banyak yang merebutkan adik Abang" jujur Jasson kepada Faro.


Faro jadi mengingat dirinya sendiri, mencintai Inneke tanpa syarat, selalu mengingatnya walaupun sudah putus tetap saja tidak bisa melupakan cinta sejatinya itu.


"Apakah kamu siap bertunangan terlebih dahulu dan menunggu lagi satu tahun" tanya Faro penasaran dan ingin menilai lagi kesabaran Jasson.


Jasson hanya menghirup udara dengan kasar, masih perlu perjuangan untuk mendapatkan restu dari Abang dari gadis yang di cintainya.


"Aku sudah menunggu hampir dua tahun Bang, tetapi tidak masalah jika menunggu setahun lagi, asalkan aku boleh tunangan sekarang" pinta Jasson dengan penuh harap.


Faro hanya terkekeh, dia seperti bercermin pada dirinya sendiri, mencintai adiknya dengan begitu dalam.


"Kapan rencana kamu kerumah untuk melamar adik gue?" tanya Faro sambil tersenyum simpul melihat Inneke yang sedari tadi hanya diam saja dan mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Kapan pun bisa Bang, sekarang juga aku bisa, aku sangat mencintai Fia, justru aku sedang menunggu jawaban Fia kapan bisa bertemu kedua orang tua Abang?" tanya Jasson kemudian.


"Baiklah nanti aku bicarakan dulu nanti dengan umi dan Abi, semoga beliau akan mengijinkan elo bisa kapan datang ke rumah untuk melamar adik gue" jawab Faro masih memandangi Jasson yang sendu.


"Ya Bang, aku tunggu kabar secepatnya, kalau bisa malam Minggu besok aja boleh" Jasson dengan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2