Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
53. Honeymoon ke Jepang


__ADS_3

"Jangan kemana-mana, Abang mau menghubungi Mario dulu, kita berangkat ke Jepang dengan penerbangan sore" kata Faro membuka handphone menekan tombol hijau dengan berbincang dengan Mario.


Ternyata bunda, ayah, umi, Abi dan Mario juga belum pulang masih ada di hotel itu sampai rencana Faro berangkat ke Jepang baru mereka pulang ke rumah masing-masing.


Koper Inneke dan Faro sudah di persiapkan mulai tadi pagi, karena sampai siang berdua tidak keluar kamar tidak ada yang berani mengetuk pintu kamar hotel Faro, tetapi setelah Faro menelpon Mario mereka berbondong mendatangi kamar Faro dan Inneke tanpa malu-malu dan tanpa mengetuk pintu, untungnya pintunya tidak di kunci.


"Bos kenapa lama banget menghubungi kami, sampai kegajahan kami menunggu, berapa ronde kerja rodinya" goda Mario masuk kamar bersama yang lain dengan membawa dua koper, tiket, dan akomodasi yang di perlukan selama di Jepang nanti.


"Keke, kamu sehat nak?" tanya ayah Edi Santoso pura-pura tidak tahu.


"Bang kenapa istrimu duduk meluruskan kaki begitu, kamu garap berapa kali?" Ken malah berterus terang dengan apa yang ada dalam pikirannya.


Yang di tanya hanya mesam-mesem tanpa menjawab sepatah katapun, sedangkan Inneke hanya tertunduk malu tanpa berani menatap mereka yang datang terus mengganggu pasangan baru itu.


"Ini tiket pesawat dan akomodasi ke Jepangnya bos, sisanya mana yang dari jenderal Hendro dan pak Andri, biar gue jadwal ulang keberangkatan nya" pinta Mario minta tiket honeymoon yang lainnnya.


"Memang dapat berapa tiket honeymoon Mario?" tanya Ken penasaran banyak yang memberikan hadiah tiket honeymoon.


"Banyak bos, ini ada juga dari Bu Meera, tetapi tdk tahu kemana, saya belum sempat membacanya yang jelas ini ada tiga yang sudah saya pegang, dapat tiket honeymoon kok kayak dapat kacang goreng" celoteh Mario, ternyata banyak yang menyayangi Faro dibalik penampilan yang akhir-akhir ini yang dingin, tetapi semua pernah di bantu oleh Faro tanpa pamrih.


Waktu tinggal dua jam lagi untuk keberangkatan ke Jepang, Inneke ingin pulang sebentar, tetapi Faro melarangnya, turun dari tempat tidur saja di larang oleh Faro, ke kamar mandi aja di gendong gara-gara Inneke merasa kesakitan saat berjalan ke kamar mandi tadi pagi.


Tidak perduli ada orang tua dan mertuanya tetap aja Faro melarang Inneke berjalan kemanapun juga.


"Baru sehari nikah sudah bucin lo" kata Mario melempar bantal kearah Faro yang baru saja menggendong Inneke buang air kecil.


Setelah puas bercengkerama dan saatnya berangkat, Inneke di minta berganti baju tetapi Inneke berjalan sendiri tidak mau di gendong lagi oleh Faro.


"Sudah tidak sakit Bang, malu di gendong terus Bang sama mereka, aku ganti baju dulu ya" Inneke berjalan ke ruang ganti dekat kamar mandi itu.


Saat Faro dan Inneke menuju bandara internasional Soekarno Hatta diantar oleh Mario semua keluarga pulang dan beristirahat di rumah masing-masing.


Bandara internasional Tokyo Haneda Jepang adalah salah salah satu bandara yang sangat penting di Jepang, tiba disana pukul dua malam karena perjalanan sekitar delapan jam, Faro dan Inneke langsung menuju hotel bintang lima di kota Tokyo Jepang.


"Sayang mau mandi atau langsung istirahat, mau makan atau di makan" goda Faro saat mereka sudah ada di dalam kamar hotel suite room yang sangat mewah dan di hiasi mawar merah di tengah tempat tidur.


"Aku mandi dulu ya Bang, gerah rasanya nich" Inneke membuka kopernya mencari baju tidur yang biasa dia pakai saat di Malaysia, tetapi koper itu bunda yang menyiapkan, tidak ada satu lembar pun baju tidur itu, yang ada baju lingerie tipis dan tidak berlengan.


"Bang, kok bajunya begini semua, dimana baju tidur aku, malas aku pakai baju tipis banget kayak untuk saringan teh aja nich" Inneke kesal, membawa baju tipis itu tiga sekaligus, berniat memakai tiga baju langsung.


Faro yang melihat Inneke membawa tiga baju jadi heran dan ingin menanyakan masalah itu, tetapi Inneke keburu berlari kecil menuju kamar mandi.

__ADS_1


Merendam badan dengan air hangat sejenak, tubuh Inneke terasa rileks karena sudah larut malam, Inneke hanya sebentar berendam dan memakai baju lingerie itu dobel tiga, sehingga tidak terlihat lekuk tubuh Inneke dari luar.


"Bang, sana mandi keburu malam" Inneke berjalan santai tetapi terasa aneh karena gesekan baju itu menjadi aneh, tetapi Inneke seolah olah bersikap wajar saja.


Faro hanya membawa handuk saja ke kamar mandi, hanya menghilangkan keringat yang menempel di badannya saja, seperti hanya mandi bebek saja yang Faro kerjakan.


Melihat Inneke yang duduk dan memakai krim malam duduk santai menghadap kaca di depannya.


"Yang, coba berdiri sebentar, apa-apaan pakai baju begini, kemaren dua, sekarang laah kok dobel tiga" kata Faro mulai membuka baju lingerie itu satu persatu.


"Jangan di buka Bang, terlalu tipis" Inneke menyilangkan tangannya di dada karena sudah dua baju lingerie yang di buka Faro.


"Lebih cantik lagi tidak usah di pakai bajunya" Faro langsung menggendong bridal Inneke ke tempat tidur pengantin, sedangkan Inneke kaget dan ingin meronta ronta.


"Abang, turunkan aku, bajunya mana, aku malu iiih" kaki Inneke di gerakkan ke atas bawah karena baju sudah entah kemana sekarang ada di lingkungan Faro dan di letakkan perlahan di tempat tidur.


"Sudah di bilang, lebih cantik tidak pakai baju, Abang lebih mudah memakannya" Faro langsung mencium bibir Inneke yang mungil itu dengan rakusnya.


"Abang memang tidak capekkah, kenapa tidak makan dulu gitu?" tanya Inneke setelah melepas ciuman Faro yang begitu menggebu-gebu.


"Tidak ada rasa capek, kalau sama kamu, salah sendiri hampir satu tahun kau pergi tinggalkan Abang, terimalah hukumannya sekarang" Faro mulai menciumi bibir Inneke kembali dengan tanpa jeda, mengabsen seluruh rongga mulut itu tanpa ada yang tertinggal.


"Sayang, apakah kamu bahagia" rayu Faro mulai mengabsen setiap inci dari tubuhnya tanpa terlewati, bergerilya di setiap lekuk tubuh Inneke.


Semakin larut semakin Faro tak terkendali mengungkung Inneke sampai entah berapa ronde, lagi lagi dan lagi, sampai hampir tengah hari baru terbangun karena kecapean, Inneke mengerjap matanya bangun kesiangan karena perut berbunyi terasa sangat lapar, menggeser pelan-pelan lengan Faro agar tidak terbangun.


Badan seperti remuk redam, tetapi Inneke bergeser sedikit demi sedikit, menarik selimut tetap dililitkan di tubuhnya berlari ke kamar mandi merendam tubuhnya di buth-up dengan air hangat dengan aroma terapi.


Setelah setengah jam berendam, baru Inneke membilas tubuhnya dan menggunakan handuk yang sudah tersedia di kamar mandi itu, mengambil gaun sederhana berwarna crem dan mengenakannya dengan cepat.


Merapikan baju itu di dalam lemari, begitu juga koper Faro juga dimasukkan kedalam lemari, baru berniat membangunkan Faro yang masih terlelap di tempat tidur.


"Bang sudah siang ayo bangun, Bang" Inneke menggoyangkan badannya berharap bangun dan cepat mandi.


"Hhhmmm, masih ngantuk Yang" suara Faro yang masih sedikit serak khas orang bangun tidur.


"Sayang, aku lapar" ucap Inneke manja dengan memanggil berbeda tidak seperti biasanya.


Mendengar panggilan sayang, Faro langsung terduduk "Lagi dong Yang, panggil sayang lagi dong" Faro bahagia mendengar ucapan panggilan itu berdiri tanpa sadar padahal dia tidak menggunakan sehelai benangpun menutupi tubuhnya.


"Iiiih Abang, porno tau, pakai baju dulu jangan main tancap berdiri begitu aja" kata Inneke tertawa terbahak bahak sambil menutup wajahnya dengan dua tangannya.

__ADS_1


Sedangkan Faro hanya terkekeh dan santai mendekati Inneke, tanpa rasa malu sedikitpun malah mencoba menggodanya.


"Kenapa sih sayang, dari kemarin sudah melihat ini dan merasakannya juga, kenapa harus malu, mau minta lagi" goda Faro mendekati Inneke.


"Aaah, mandi sana, aku sudah lapar, nanti lagi aja, jangan mulai lagi" Inneke mengalihkan pandangannya kearah pintu dan mendorong Faro ke kamar mandi.


Setelah Faro ke kamar mandi dengan tanpa sehelai benangpun tanpa malu, Inneke menyiapkan kaos dan celana pendek untuk Faro dan di letakkan di ruang ganti, sambil menunggu Faro selesai mandi, Inneke memakai make-up tipis agar terlihat segar.


"Mau makan keluar atau di kamar aja berdua" tawar Faro setelah selesai memakai baju santainya dan mendekati Inneke yang duduk manis di kursi meja rias.


"Keluar aja ya Bang, aku ingin lihat-lihat sekitar hotel dulu" Inneke antusias dengan kata yang berbinar.


"Sesuai keinginan tuan putri, tapi pakai jaketnya dulu ya, lehernya ditutupi, nanti banyak yang melirik kesitu, tidak boleh hanya Abang saja yang boleh melihatnya" Faro mengambil jaket di dalam lemari memakaikan pada Inneke.


Keluar hotel menggandeng dengan mesra melewati lift pun Faro tidak membiarkan Inneke jauh darinya.


"Mau makan apa sayang, pizza, atau seefood?" tanya Faro melihat restauran yang ada di lantai dasar hotel itu lumayan komplit.


"Seefood aja, aku mu kepiting lada hitam Bang, sepertinya enak banget" Inneke begitu antusias hanya melihat kepiting lada hitam yang begitu menggugah selera.


"Yang selama ini kerja apa di Malaysia, tega banget ninggalin Abang tanpa kabar nomor handphone pun di blokir lagi?" tanya Faro menggenggam tangan Inneke menatap sayu.


"Aku kerja di perusahaan ayah, sebagai staf keuangan, kemarin kontrak enam bulan aja, rencana mau di perpanjang kontrak lagi, tetapi keburu kita di jodohkan" cerita Inneke menunduk karena tidak tahu siapa sebenarnya orang yang di jodohkan.


"Abang kenapa tidak cerita kalau kita sudah di jodohkan Sebelum kita lahir?" tanya Inneke penasaran.


"Abang tahunya Lima hari sebelum hari H kita menikah, makanya masih sempat memesan sovenir pernikahan berupa jam tangan" cerita Faro kemudian.


Obrolan mereka berhenti setelah pesanan makanan datang kepiting lada hitam di campur dengan jagung rebus manis dan kenyang goreng.


Tetapi Faro juga minta tambahan nasi putih hangat untuk berdua, menambah romantis suasananya, sesekali Faro mengusap bibirnya dengan bibirnya sendiri jika ada saos yang menempel di sana.


"Bang, malu atu di lihat banyak orang" Inneke saat di cium bibirnya oleh Faro saat makan tanpa malu.


____________________


Jangan lupa like vote dan komentar


serta hadiahnya agar lebih bersemangat


author menulis terima kasih

__ADS_1


I love you all


__ADS_2