
"Ok deh... yang mau jadi lakinya siapa, yang repot siapa?" gerutu Rendi tetapi masih di dengar oleh kedua sahabat itu.
"Gue denger, elo ngomong apa, cepat kerjakan aja, atau elo gue tendang sampai Bandung tempat calon mertua" perintah Faro kesal sekali.
"Alhamdulillah, gue mau, enak gue langsung bisa ngelonin itu bini" celetuk Rendi dengan terkekeh.
Rendi langsung menghubungi Erna dengan vedio call langsung.
"Hai...sayang lagi ngapain?" tanya Rendi dengan menunjukkan giginya tersenyum manis.
"Lagi santai nonton TV, ada apa kak?" gantian Erna bertanya.
"Tadi sudah dapat kabar dari Inneke atau belum, apakah dia sudah sampai tujuan?".
"Emang kak Rendi ada dimana?, tadi Inneke kirim pesan sudah di tempat aunty nya katanya".
"Gue lagi ada di kantor Faro, bersama Mario juga, nich lihat" Rendi mengarahkan kamera handphone kepada Faro yang bermain dengan handphonenya dan Mario melambaikan tangannya.
"Apakah dia sudah menghubungi Inneke kak?" tanya Erna sedikit berbisik.
"Tidak tahu sayang, sudah ya terima kasih, hari Sabtu jadi ke Bandung kan?, jangan naik bus ataupun kereta api, tunggu gue yang antar, daaaa sayang" pamit Rendi dalam vedio call nya, sedangkan Erna hanya mengangguk tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Bagaimana apakah dia sudah sampai?" tanya Faro setelah vedio call itu selesai, penasaran dan khawatir sebetulnya dalam hati.
"Sudah tenang aja, tapi kenapa elo belum menghubungi calon makmum sih?" tanya Rendi dengan cepat dan mencondongkan badannya mendekati Faro.
"Nanti saja gue hubungi dia, salah sendiri mau di pegang tangannya sama laki-laki itu" jawab Faro masih sedikit kesal.
"Rupanya masih cemburu bosku, kan sudah tahu bagaimana kejadiannya, kenapa masih keras kepala, dasar bucin" jengkel Mario sambil melototi bosnya.
"Ayolah bro, jangan sampai elo menyesal nantinya, cemburu boleh saja, tapi harus segera di selesaikan" nasehat Mario lagi.
"Entahlah...gue bingung, gue mau pulang, elo mau kelonan berdua disini silahkan aja" cabik Faro mengibaskan tangannya menyambar tas kerjanya keluar kantor tanpa melihat orang yang berada di sekelilingnya menyapanya.
"Cih, najis ngapain gue kelonan ama dia, gue pulang juga" jawab Rendi berdiri juga ingin keluar.
Tetapi di tarik oleh Mario, dan terpaksa Rendi duduk kembali dengan kesal.
"Ada apa lagi, emang betul elo mau kelonin gue, jangan jeruk makan jeruk ya?" Cerocos Rendi bergeser duduknya menjauhi Mario.
"Gue masih normal dodol, duduk dulu gue mau ngomong, elo aja yang ngomong sama bini elo, sebetulnya bos sudah tidak marah cuma hanya cemburunya yang belum hilang, suruh Inneke yang menghubungi bos duluan, jika menunggu dia pasti akan lama" perintah Mario.
Rendi hanya menarik nafas panjang, mengapa selalu dia yang harus menyelesaikan jika masalah asmara karena dia dulu di juluki playboy kampung gumamnya sendiri.
"Baiklah... nanti gue hubungi calon bini gue" akhirnya Rendi pasrah.
"Gue mau pulang dulu, elo mau ikut kagak?" kata Rendi lagi sambil keluar kantor dengan tergesa-gesa.
"Gue ikut lah, elo langsung ke rumah Erna aja, tapi tapi anter gue dulu" ucap Mario.
Berdua keluar kantor menuju ke parkiran mengantarkan Mario pulang, kemudian ke tempat Erna untuk menyampaikan pesan dari Mario untuk Inneke.
Faro tiba sampai rumah, tidak seperti biasanya, masuk rumah langsung naik lantai atas tanpa melihat siapa yang duduk di ruang keluarga, biasanya datang langsung mencium punggung tangan Imma jika bertemu di ruang keluarga.
Padahal di ruang keluarga ada Imma, Fia dan Ezo, bahkan Faro tidak melihat mereka sama sekali.
"Umi... kenapa dengan Abang, kok muka di tekuk begitu?" tanya Ezo heran sambil menunjuk Faro yang sedang naik tangga dengan sedikit menunduk dan cemberut.
"Mungkin Abang capek kali dik, biar aja dulu, nanti kalau sudah mandi, paling gabung dengan kita seperti biasa" jawab Imma sambil tersenyum.
"Tapi kok sedikit aneh ya mi, tidak seperti biasanya?" gantian Fia penasaran.
__ADS_1
"Sudahlah sayang... nanti umi yang menanyakan sama Abang, ok" jawab Imma kepada kedua putra dan putrinya.
Ken pulang dari kantor langsung menuju ruang keluarga melihat Imma, Fia dan Ezo sedangkan tidak ada Faro bersama mereka.
"Abi pulang, kemana Abang kok tidak ada, honey?" tanya Ken.
"Abang ada di kamar Bi" jawab Imma sambil mengambil tas Ken, membukakan dasinya duduk di samping Imma.
"Kayaknya Abang sedang patah hati deh Bi, tadi pulang tidak negur kita langsung naik lantai atas menuju kamarnya" cerita Ezo dengan antusias.
"Iya kah... Abi mandi dulu deh, baru kita cari tahu kenapa dengan Abang" ucap Ken berdiri lagi berjalan menuju lantai atas diikuti oleh Imma.
Ken langsung mandi untuk membersihkan badannya di kamar mandi, sedangkan Imma menyiapkan baju ganti dan di letakkan di atas tempat tidur.
Selesai mandi Ken langsung berganti baju, duduk di sofa panjang dalam kamar di samping Imma yang sedang menunggunya.
"Honey, ayo turun dulu melihat apakah Abang sudah keluar dari kamar atau belum?".
"Iya ayo.....".
Ken dan Imma keluar kamar turun menemui Fia dan Ezo yang duduk santai sambil main PS, sedangkan Faro tidak kelihatan batang hidungnya.
"Apakah dari tadi tidak turun kah Abang nya?" Kanya Ken pada Fia dan Ezo.
"Tidak ada Bi" jawab Fia masih asyik bermain game bersama Ezo.
"Nanti saja Bi, kalau hampir makan malam, baru kita ke kamar Abang, biar aja dulu sepertinya masih ingin sendiri" saran Imma
Faro merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, melihat langit langit kamar, hanya membayangkan wajah Inneke yang tadi siang di pegang seorang laki-laki teman kuliahnya.
Walaupun itu murni bukan salah Inneke tetapi tetap saja hatinya susah menerima kejadian itu, masih enggan menghubungi Inneke seperti yang disarankan oleh Mario, hatinya masih gamang karena amanah dari abi kandungnya yaitu Dona Sanjaya.
Sudah hampir waktunya makan malam Faro juga belum beranjak dari kamarnya, Ken menunggu di ruang makan bersama Fia dan Ezo.
"Baiklah...."
Imma naik ke lantai atas menuju kamar Faro dan mengetok pintu perlahan.
"Tok....tok.....tok".
"Bang...umi masuk ya?".
"Ya umi masuk aja tidak di kunci" jawab Faro dari dalam.
"Ada apa, kok Abang terlihat murung dan sedih?" tanya Imma duduk di samping tempat tidur mengusap lembut pipi Faro.
"Tidak ada apa-apa kok umi, lagi malas aja".
"Apakah lagi berantem sama calon makmum?" tanya Imma dengan mengedipkan matanya.
"Ih umi, Abang masih galau, antara dia ataupun jodoh yang di amanahkan Abi Dona" jawab Faro dengan sendu.
"Apakah Abang sudah tahu keluarga besar calon makmum?" tanya Imma.
Sebelum sempat menjawab pertanyaan uminya ada suara teriakan dari lantai bawah padahal Imma berniat untuk memberitahukan bahwa calon makmum yang di maksud Faro adalah keturunan dari Anton Sahroni.
"Abang.....umi......" teriak Ezo.
"Abang......umi.... cepat kemari, Abi bangun Abi kenapa?" ucap Fia ternyata Ken sudah terkapar di bawah tangga
Ken ingin menyusul Imma di kamar Faro karena menunggu hampir lima belas menit tidak juga turun, menaiki tangga dengan buru-buru sebelum sampai tangga paling atas Ken terpeleset menggelinding sampai ke lantai dasar kembali.
__ADS_1
"Umi kenapa adik dan kakak berteriak-teriak, ayo kita ke bawah?" ajak Faro turun dari tempat tidur keluar kamar berlari diikuti oleh Imma dari belakang.
Melihat dari atas Ken sudah meringis kesakitan dan tidak bisa bergerak.
"Abi......kenapa bisa begini?".
"Sayang ....mana yang sakit, kakak....adik... kenapa Abi bisa begini?" tanya Imma sudah mulai terisak.
"Honey jangan menangis....auw.....auw... Abang punggung abi----?" kata Ken terbata-bata.
"Iya... Bi, Abang panggil ambulance, sabar tunggu sebentar" jawab Faro ikut khawatir.
Faro menghubungi ambulance rumah sakit, setelah itu menghubungi asistennya Mario.
"Bro... bokap gue jatuh dari tangga, ini gue mau bersiap ke rumah sakit, ambulance masih otw, tolong kabari yang lain".
Setelah selesai menghubungi Mario ambulance datang membawa brankar untuk mengangkat Ken.
Imma ikut masuk ke ambulance yang membawa Ken dengan linangan air mata, raut wajah yang sangat khawatir dengan keadaan Ken, sebetulnya Ken adalah laki-laki yang kuat, jarang sakit karena selalu menjaga pola hidup sehat, berolahraga teratur.
Ken hanya tersenyum dan meringis mengusap pipi Imma, menghapus pipi yang basah karena air mata.
"Honey..... please jangan nangis terus, Abi baik-baik aja, cuma punggung aja yang sakit, yang lain tidak sakit" rayu Ken.
Imma mencium pipi Ken dengan lembut, menggenggam dan menautkan tangannya dengan erat.
"Cih... kenapa pipi yang di cium?" goda Ken sambil tersenyum tetapi sedikit meringis.
"Abi lagi sakit, kenapa pikirannya malah mesum sih" cabik Imma dengan mengerucutkan bibirnya.
Ken hanya terkekeh, suka sekali melihat istrinya yang mengerucutkan bibirnya, terlihat seksi gumamnya dalam hati.
Faro, Fia dan Ezo mengikuti ambulance dari belakang, tidak kalah khawatirnya mereka bertiga dengan keadaan Abi yang sangat di sayanginya.
Sampai di rumah sakit Ken di dorong ke ruang UGD, sedangkan Imma harus menunggu di luar, dengan cemas berdiri di depan pintu UGD, Faro dan kedua adiknya berlari dan memeluk Imma bersamaan.
Satu demi satu keluarga datang, Sandi, Rama, Kemmy, Mami Winda, Mario, sudah bergabung dengan mereka saat Ken di bawa ruang rongsen.
"Keluarga Kenzie Wiguna" panggil dokter keluar dari ruangan rongsen.
"Iya dok, saya putranya, bagaimana dengan Abi saya dok?" tanya Faro khawatir.
"Silahkan masuk ke kantor saya mas!" dokter itu berjalan ke ruang kerjanya diikuti Faro dari belakang.
"Umi.... ayo ikut Abang menemui dokter" ajak Faro dengan menggandeng tangannya Imma.
"Silahkan duduk mas, ibu" perintah dokter itu.
Faro mempersilahkan uminya duduk sedangkan Faro berdiri di samping Imma.
"Begini Bu, mas, ada salah satu tulang belakang bapak yang patah, sehingga harus segera di operasi penyambungan tulang itu" jelas dokter tulang itu dengan cepat.
"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk Abi saya dok" jawab Faro tegas.
_______________
dobel up
jangan lupa like vote dan komentar serta
hadiah untuk give away nanti
__ADS_1
jangan lupa dobel juga komentar dan
hadiahnya.... thanks