
Hari Sabtu adalah acara tujuh bulanan kehamilan Erna, tetapi sayangnya karena tidak bisa meninggalkan putranya terlalu lama Ara dan Inneke datang hanya saat acara inti saja tetapi tidak mengurangi rasa kebahagiaan ketiga sahabat itu.
Baru hari esoknya yaitu hari Minggu gantian acara aqiqah baby Cello, digelar dengan sederhana tetapi tidak mengurangi makna yang terkandung didalamnya, hanya saudara dekat, sahabat, karyawan Ara dan tetangga sekitar saja yang menghadiri acara aqiqah baby Cello.
Sebagian masyarakat Indonesia masih percaya jika berbelanja pakaian bayi harus setelah selesai acara tujuh bulanan sang bayi, ini juga yang membuat Erna sampai sekarang belum belanja baju bayi karena larangan dari ibu mertua dan disetujui oleh ibu kandungnya.
Antara percaya atau tidak tetapi Erna tetap mengikuti apa yang ibu mertua dan Ibunya sendiri sarankan, hanya demi menghormati mereka, disinilah sekarang Erna dengan ditemani ibu mertua berbelanja keperluan bayi di sebuah mall ternama di daerah Tanggerang kota.
Baru memasuki pintu mall bergandengan tangan dengan ibunya, Erna berjalan dengan hati yang riang tetapi tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang berjalan berlawanan.
"Bruuuk...aduh" lirih Erna merasa kaget.
"Kalau jalan pakai mata bo*oh" teriak seorang wanita yang tersentak kaget.
Padahal yang terjatuh Erna sedangkan wanita itu hanya terhuyung kesamping dan tidak terluka sedikitpun, wanita itu yang berjalan sambil mengetik pesan WA dengan menunduk sambil berjalan, handphone juga tidak terjatuh.
Erna berdiri dibantu oleh ibu mertuanya, Erna memandangi lekat-lekat wajah wanita yang emosi itu, sepertinya tidak asing karena mendengar suaranya, setelah wanita itu juga memandangi wajah Erna.
"Sari Sagita....." Erna berkata lirih.
"Ooo elo Erna...dasar...jalan tidak pakai mata" dengan emosi dan tatapan mata yang merah Sari mendorong Erna dengan keras sampai perutnya membentur pintu mall dengan keras.
"Bruuk....au...." teriak Erna dengan keras.
"Hey...mata kamu itu yang seharusnya yang dipakai, jalan menunduk melihat handphone malah menyalahkan anak saya" ibu mertua ganti mendorong Sari Sagita dengan kencang sampai dia tersungkur dilantai.
"Bruuk... aduh sakit" keluh Sari Sagita meringis kesakitan.
"Nak kamu tidak apa-apa?" Ibu mendekati Erna membantunya untuk berdiri.
"Wanita tua si*lan" Sari Sagita nanar menatap ibu mertua Erna ingin membalas, tetapi banyak para pengunjung yang mendekati mereka dan banyak yang menyalahkan wanita emosional itu yang memiliki bahasa yang sedikit kasar.
"Bu, perutku sakit..hiks...hiks.... hiks" Erna semakin merintih kesakitan karena perut yang semakin mulas.
"Siapa wanita gila itu nak, kamu kenal?" ibu mertua marah dan kesal.
"Dia teman kuliah saya dulu Bu, mantan Bang Rendi" jawab Erna sambil mengeluarkan air mata karena masih menahan rasa sakit.
Setelah Erna mencoba berdiri dibantu ibu dan salah satu pengunjung ternyata ada darah yang mengalir melalui kaki bagian tengah.
"Bu... Bu itu ada darah di kakinya" tunjuk seorang gadis yang membantu mengambilkan tas Erna yang sempat terjatuh disamping ibu mertua.
"Heey wanita si*lan, jika terjadi apa-apa dengan cucu laki-laki saya, akan saya tuntut kamu ya, ibu ibu tolong pegang dia jangan sampai kabur" semakin marah ibu dengan jongkok melihat kaki Erna yang tambah banyak darah keluar.
"Tolong panggilkan ambulance" teriak salah satu orang laki-laki pengunjung mall.
__ADS_1
Datang beberapa sekuriti, menangkap Sari Sagita yang sekarang tidak berani berkoar-koar, muka pucat pasi seperti tanpa darah mengalir diwajahnya.
Salah satu sekuriti itu langsung menggendong bridal Erna tanpa memperdulikan keadaan sekitar, berlari keluar mall dengan diikuti oleh ibu mertua yang menangis terisak.
Ternyata memang ada satu ambulance yang selalu standby di depan mall, dengan sekali teriak sopir ambulance membuka pintu belakang, masih dalam pangkuan, Ibu juga ikut naik ambulance melesat cepat membelah jalan ibukota yang tidak terlalu sibuk karena belum waktunya jam pulang kerja sekitar pukul tiga sore.
Berhenti di depan UGD rumah sakit sekuriti itu berlari tetap menggendong bridal Erna yang terus mengerang kesakitan, belum sampai pintu UGD ada cairan pekat merembes mengenai celana sekuriti dan menetes di lantai setiap langkah sekuriti muda itu.
"Ibu sepertinya ketubannya pecah, suster tolong... cepat tolong" teriak sekuriti itu dengan lantang.
Datang brankar tempat tidur yang didorong oleh dua petugas UGD dibaringkan Erna disana dibawa masuk ruangan UGD dengan cepat, karena ibu melihat cairan darah bercampur air ketuban yang berceceran di lantai dan di badan sekuriti ibu itu memegangi kepalanya.
"Nak, ibu pusing sekali" tangannya meraih baju sekuriti dan pingsan seketika, untungnya sempat ditangkap olehnya dan digendong bridal masuk ke UGD.
"Suster tolong ibu ini pingsan dia" teriak kembali sekuriti itu dan meletakkan disalah satu brankar.
Akhirnya sekuriti itu kebingungan sendiri apa yang harus dilakukan, dua tas yang dia pegang dengan terpaksa dia buka untuk mencari identitas dan handphone siapa tahu bisa menghubungi keluarganya.
Baru membuka dompet membaca nama identitas wanita yang hamil, dokter memanggilnya.
"Bapak yang membawa ibu hamil tadi kan?, tolong tandatangan, dengan terpaksa dia harus segera dioperasi untuk menyelamatkan bayi dan ibunya" perintah dokter dengan menyodorkan kertas dan bolpoin.
Tanpa berpikir panjang sekuriti muda itu tanda tangan, dalam pikirannya hanya berniat menolong agar semua bisa selamat baik ibu bayi dan ibu setengah baya yang pingsan tadi.
Datang lagi seorang suster mendekati lagi sekuriti yang sedang melamun.
Sekuriti muda itu hanya tersenyum dan mengangguk sopan dan berjalan keluar menuju loket pendaftaran, dengan bekal KTP Erna langsung mendaftar dengan cepat.
"Permisi mas silahkan menyelesaikan administrasi di kasir yang ada disebelah loket ini ya" perintah pegawai loket.
Dengan menganggukkan kepalanya sekuriti itu bergumam sendiri, uangku di tabungan hanya ada tujuh juta apakah cukup untuk membayar operasi Caesar.
"Permisi Pak, ini admistrasi nya berapa ya?" tanya sekuriti muda itu ragu-ragu.
"Ini delapan juta pak, sebagai pembayaran awal" jawabnya singkat.
"Pak, uang saya cuma tujuh juta, bisakah sisanya nanti menyusul, tolong pak" sekuriti itu sambil menyodorkan ATM debt kepada pegawai kasir.
"Baik Pak, tetapi tidak boleh lebih dari dua jam ya" ternyata pegawai kasir itu memberikan toleransi karena uangnya tidak cukup.
"Terima kasih Pak" sekuriti menekan pin ATM debit yang diperintahkan oleh pegawai kasir.
Selesai menyelesaikan administrasi sekuriti bergegas ke UGD kembali mencari ibu paruh baya yang pingsan tadi, bertanya kepada suster keadaan beliau.
"Ternyata ibu memiliki riwayat hipertensi, sehingga beliau harus dirawat juga karena sekarang tensinya tinggi sekali" jawab salah satu suster yang merawat ibu.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik untuk beliau ya suster" ucap sekuriti dengan menarik nafas panjang.
Bagaimana nanti jika harus membayar lagi untuk administrasi ibu itu uangku sudah habis gumam sekuriti itu dalam hati sambil mendekati brankar tempat tidur ibu itu yang terbaring lemas.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya nya cemas.
"Masih pusing nak, maaf merepotkan kamu ya nak" jawab itu dengan lemah.
"Oya Bu, ini tas ibu dan mbaknya tadi, bisa tolong hubungi suaminya Bu, biar nanti saya yang cerita, tunjukkan saja nomornya yang mana?" pintanya hati-hati.
Ibu membuka tasnya, mengambil handphone jadul miliknya menekan nama Rendi.
"Ini nak, tolong hubungi anak saya ya" perintah ibu menyodorkan handphone model lama yang bisanya hanya untuk telepon dan kirim SMS aja.
"Halo Bu, ada apa, apakah sudah selesai belanja nya?" suara Rendi langsung memberondong pertanyaan tanpa menunggu siapa yang menelepon.
"Halo Pak maaf, nama saya Ridwan, saya sekuriti mall HS, apakah anda bisa ke rumah sakit daerah Tangerang sekarang, nanti saya ceritakan semua" keterangan sekuriti yang ternyata bernama Ridwan.
"Maaf..bapak, ibu meeting akan ditangani oleh sekertaris saya, karena ada hal penting yang harus saya urus" Rendi keluar ruang meeting dan menjawab kembali telepon dari Ridwan tadi.
"Baik saya kesana bro" Rendi langsung keluar dari ruangan meeting dengan sedikit menggerutu dan khawatir tentang apa yang terjadi dengan Istri dan Ibunya, andai aku mempunyai asisten mungkin tidak akan serepot ini gumamnya dalam hati.
Hanya dalam dua puluh menit Rendi sampai di rumah sakit daerah, kembali menghubungi handphone ibunya yang dipegang oleh Ridwan.
Ridwan melihat sosok Rendi, perlente menggunakan setelan jas seperti eksekutif muda, terlihat gagah dengan menenteng tas kerja terlihat keren dan gagah.
"Bos, saya Ridwan" panggilnya dengan mengangkat satu tangan.
"Apa yang terjadi dengan Istri dan ibu saya bro?" tanya Rendi khawatir karena melihat seragam sekuriti yang dikenakan Ridwan terlihat lembab dan ada noda darah yang hampir mengering.
Setelah menceritakan dari kejadian di mall dan di rumah sakit tanpa di tutup tutupi, Rendi seketika merosot lemas terduduk seperti tidak bertulang, seolah olah mengingat kembali saat dia kehilangan anak pertamanya saat ada perampok yang masuk rumahnya waktu itu.
"Bos...bos...anda harus kuat, ayolah demi istri, anak dan ibu anda" nasehat Ridwan membantu berdiri dan dan memeluknya menepuk pundak Rendi untuk memberikan dukungan.
"Terima kasih bro, tolong jangan pergi dulu" pinta Rendi dengan meneteskan air mata.
Rendi menatap Ridwan, sekuriti yang ada didepannya ini rela membantu orang yang tidak di kenalnya dengan ikhlas, bahkan tanpa ragu membayar uang operasi dengan uangnya sendiri.
"Bos, maaf anda sudah disini, saya harus kembali bekerja, takut nanti saya dipecat, ini tas Istri dan ibu anda" dengan tegas Ridwan berkata dan ingin kembali ke mall.
"Tunggu bro, tetaplah disini, jangan pikirkan masalah pekerjaan, nanti aku yang akan mengurusnya, tolong bantu aku sampai selesai" perintah Rendi dengan duduk bersandar di kursi depan UGD.
"Baiklah bos, anda istirahat disini saja semua akan saya selesaikan".
Pertama Ridwan mengurus ibunya Rendi ke ruang rawat inap, kebetulan ibu diberikan obat tidur agar bisa beristirahat oleh dokter UGD, jadi lebih tenang bisa meninggalkan beliu saat sedang tertidur pulas, dengan mendaftarkan nama ibu ke loket, setelah selesai mengajak Rendi ke depan ruang operasi dimana Erna sedang dioperasi.
__ADS_1
Tidak berselang lama ada dokter keluar dari ruang operasi mendekati Ridwan dan Rendi.
"Dokter bagaimana istri dan anak saya?" tanya Rendi sangat khawatir.