
Faro duduk di pojok Imma kafe saat mengirim pesan pada calon ibu mertuanya dengan senyum yang mengembang, kerinduan hampir satu tahun tidak bertemu hanya dia aplikasikan dengan memandang foto-foto yang masih tertata rapi di galeri handphonenya.
Faro sedang menunggu kedatangan Conan dan Mario yang akan melaporkan tugas masing-masing Mario bertugas memantau kelancaran resepsi dan akad nikah esok pagi, sedangkan Conan sudah hampir dua Minggu ini menyelidiki orang yang tidak di ketahui identitasnya saat penculikan uminya.
Hampir setiap lima hari sekali Conan melaporkan perkembangan penyelidikan itu, lima hari pertama penyelidikan Conan berhasil mengetahui jika target waktu remaja adalah atletik menembak tingkat olimpiade berdarah campuran Inggris dan Malaysia.
Saat Conan datang duduk di depan Faro langsung mengeluarkan laporan yang ada di sebuah map coklat yang berisi data, foto dan keterangan yang mengenai semua tentang target.
"Ini bos silahkan baca laporan yang saya dapatkan selama hampir dua Minggu ini" kata Conan menyodorkan map coklat.
Faro mendapat laporan jika penembak pak Rudi itu adalah bernama Andrew Hidayat, yang sekarang menjadi ketua kelompok cabang di Malaysia dan menjadi anak buah kesayangan dari Theo Thanapon dan berencana akan di jodohkan oleh putri kandungnya yang tinggal di USA.
Andrew Hidayat tinggal di daerah Sarawak Malaysia tempat dekat sebuah market tradisional yang cukup ramai disana, tinggal di sebuah apartemen elite sendirian sedangkan anak buahnya tinggal di markas belakang market yang memiliki tiga lantai.
Selesai membaca laporan itu, baru giliran Mario datang sendiri dan bergabung dengan mereka berdua.
"Sorry bos, macet maklum malam Minggu" alasan Mario duduk disamping Conan juga membawa map untuk laporan yang diminta Faro.
Faro membaca perlahan laporan itu walaupun Faro tidak bertanya rencana umi dan bunda Inneke dalam konsep pernikahannya, tetapi setelah Faro mengetahui jika jodohnya adalah gadis pujaan hatinya, Faro berusaha memantau apa yang kurang dan berniat membuat lancar dan melakukan yang terbaik tanpa sepengetahuan umi dan bunda juga menyewa pihak keamanan untuk melancarkan acara besok.
"Bagaimana rasanya sekarang bos?" tanya Mario setelah Faro selesai membaca laporan laporan itu.
"Entahlah, gue sendiri masih hampir tidak percaya jika gadis itu yang menjadi jodoh gue" Seloroh Faro sekenanya.
"Oya Bang jangan lupa besok datang di pernikahan gue" pinta Faro kepada Conan saat Conan akan berpamitan pulang.
"Siap bos, mungkin gue datangnya malam aja bos, siang masih menyempurnakan serum yang hampir selesai, gue pulang dulu" Conan pulang ke apartemen sekaligus laboratorium mini yang ada di dalamnya.
"Bos tiket bulan madu belum gua beli, maunya kemana?" tanya Mario setelah Conan meninggalkan mereka.
"Thailand aja bagaimana?" tanya Faro sengaja ingin tahu bagaimana reaksi Mario yang notabene pacarnya asli Thailand.
"Kalau ke Thailand gue ikut" balas Mario cepat.
"Elo mau jadi kambing congek, gue bulan madu ikut, atau mau ngintip gue malam pertama?" usil Faro dengan sedikit tersenyum mengejek.
"Baru mau nikah kenapa pikiran bos sudah mesum, kalau boleh lihat belah duren tidak masalah" gantian Mario mengganggu Faro.
"Mana ada pikiran gue mesum, elo aja yang nggak jelas orang mau bulan madu ikut, sono ajak si Ara bulan madu juga jangan ikut gue nanti elo ngeces" canda Faro tertawa lepas.
"Sudah gue mau pulang, jadi seteres mikirin elo mau bulan madu, jadi kemana nich paket bulan madunya?" tanya Mario lagi sambil berdiri ingin pulang.
"Ke Jepang aja satu Minggu ya" jawab Faro singkat.
Sementara itu ayah Edi Santoso baru parkir di depan rumah ibu Intan bersama calon pengantin wanita Inneke, turun dari mobil menarik koper dengan anggun masuk rumah di sambut oleh semua keluarga yang sedari tadi di tunggu tunggu.
__ADS_1
Bahkan hampir satu jam perias heena sudah menunggu kedatangan mempelai, dan tidak boleh pulang sampai calon pengantin datang.
"Aduuuh anak bunda, cantik banget ayo masuk nak" sambut bunda dengan memeluk putrinya dengan erat langsung di bawa keatas kamar pengantin.
"Bun, aku mandi dulu ya lengket semua nich" kata Inneke mengambil handuk dan baju tidur bergegas masuk kamar mandi.
"Iya nak, jangan lama-lama, bunda ambilkan makan malam ya" jawab bunda keluar kamar menuju lantai bawah untuk mengambilkan makan malam untuk putrinya.
Inneke duduk termenung di closed kamar mandi, hatinya yang terluka di sembunyikan rapat-rapat dari kedua orang tuanya dan keluarganya, walaupun mencoba ikhlas tetapi hati kecilnya masih berharap bertemu dengan pujaan hati yang hampir satu tahun ini ditinggalkan.
Hampir setengah jam duduk termenung, setelah teriakan bunda dari luar Inneke baru mulai mandi dengan cepat.
Didalam kamar sudah banyak yang menunggu, Inneke keluar kamar mandi perlahan.
"Ayo Keke, makan dulu, biar si mbak perias heena mulai bekerja bunda yang nyiapin makannya" ucap bunda lembut. Inneke duduk di tempat tidur Inneke yang sudah di ganti menjadi ukuran lebih besar.
Duduk meluruskan kakinya, perias heena ada di depan Inneke sedangkan bunda ada di samping sambil menyuapi sesuap demi sesuap, sedang ibu Intan ada di samping bunda memberikan air mineral.
Inneke di manjakan oleh seluruh keluarga, di layani keperluannya tanpa terkecuali, hampir satu jam perias itu selesai, bergantian bunda dan ibu Intan memijat pundak dan kaki Inneke dengan lembut sambil bercerita tentang pengalaman selama Inneke tinggal di Malaysia.
Sampai pukul dua belas malam mereka bertiga belum selesai bercerita, sampai ayah Edi datang mencari bunda.
"Bun, sudah malam jangan ajak Keke bergagang, besok bisa-bisa Keke kecapean, biar fit Keke menghadapi malam pertama, ayo tidur" goda ayah Edi Santoso mengedipkan matanya kearah Keke.
Akhirnya malam itu Inneke tidur berdua dengan ibu Intan sampai pagi, pukul tujuh pagi perias MUA sudah datang, sedangkan Inneke baru mulai mandi, itupun sambil melamun, harapan dan impiannya pupus sudah, dengan pasrah selesai mandi di dandani oleh MUA terkenal itu.
Hampir satu setengah jam di rias wajah Inneke betul-betul bersinar, cantik dan anggun, siapapun yang memandangnya akan terpesona dengan paras cantik dan anggun.
Sedangkan semua keluarga sudah sibuk dengan tugas masing-masing, tamu undangan dan tetangga sebelah rumah satu-persatu datang, di persilahkan duduk oleh tuan rumah.
Penghulu dan rombongan Faro datang hampir bersamaan, dengan membawakan berbagai macam bingkisan untuk mempelai wanita yang sangat banyak, dipersilahkan duduk lesehan semua duduk dengan rapi termasuk Rendi, Erna, Mario dan Ara berada di rombongan itu, tetapi mereka memang sengaja tidak mendatangi Inneke sampai ijab qobul dilaksanakan.
Acara sakral itu di mulai dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, dan pengarahan sedikit dari penghulu kepada pengantin pria, dari pihak Faro saksi diwakili oleh Opa Tomy dan walinya Ken, sedangkan dari pihak pengantin wanita wali oleh ayah kandungnya Edi Santoso dan saksi adalah Rama Sahroni.
Tiba saatnya ayah Edi Santoso berhadapan dengan Faro saling berjabat tangan dengan lantang.
"Faro Sanjaya Wiguna saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Putri kandung saya Inneke Farissa binti Edi Santoso dengan mas kawin emas permata sebesar 100 gram di bayar tunai" kata ayah Edi lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Inneke Farissa binti Edi Santoso dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" jawab Faro dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana sah?" tanya penghulu dengan suara lantang juga.
"Saaaaaaaaaaah" semua yang hadir bersamaan, dan diikuti tepuk tangan serta dilanjutkan dengan doa oleh pak penghulu.
Baru pengantin wanita keluar dari kamar di dampingi oleh bunda dan aunty Kemmy, Inneke tidak berani mendongakkan kepalanya sedikitpun, dari lantai atas terus tertunduk tidak berani melihat siapa suami dan para tamu yang datang.
__ADS_1
Sedangkan yang di bawah Faro melihat Inneke setelah hampir satu tahun ini tidak di temuinya seperti melihat bidadari turun dari langit, padahal hanya dari lantai atas, dengan mulut terbuka, mata tanpa berkedip dan hati yang berdegup kencang, seandainya tidak ada orang mungkin sudah di terkam oleh Faro seketika itu juga, cantik dan anggun yang sesungguhnya gumam Faro dalam hati.
Mario dan Rendi mendekati Faro menepuk pundak kanan dan kiri dengan pikirannya masing-masing.
"Bro...mulut di tutup awas ada kecoak masuk" celoteh Rendi cengar-cengir.
"Bos ilernya sampai panjang, segitunya lihatin istri" cabik Mario usil.
"Kalian ini bikin kaget aja, apa tidak salah itu Inneke bro, kok cantik banget ya" kata Faro tanpa sadar.
Sedangkan sampai duduk di samping Faro dan berhadapan hadapan Inneke tetap belum berani menatap wajah suaminya, acara di lanjutkan menyerahkan mas kawin, di terima dengan tetap menunduk, dan penyematan cincin kawin, Inneke di pasangi cincin kawin bergantian dengan Inneke memasangkan di jari Faro tetap saja menunduk.
Inneke mengambil punggung tangan Faro dan menciumnya dan Faro mencium kening Inneke "Halo istriku" bisik Faro di dekat telinga Inneke.
Spontan Inneke mendongakkan wajahnya memandangi suara bas suaminya yang tidak asing suara itu bagi telinga Inneke.
"A....a.... Abang" ucap Inneke terbata-bata tangannya masih menggenggam tangan Faro, tetapi karena saking kagetnya Inneke pingsan di pangkuan Faro, langsung di rangkul oleh Faro, dan berteriak-teriak memanggil umi dan bunda.
"Umi... bunda, dia pingsan" teriak Faro panik.
Faro langsung mengendong bridal Inneke ke lantai atas dengan setengah berlari diikuti oleh Imma dan bunda.
"Kamarnya disini Bang" ajak bunda membukakan pintu kamar Inneke yang sudah di hias cantik sebagai kamar pengantin.
Faro meletakkan perlahan tubuh Inneke di ranjang itu dan duduk di samping Inneke serta menggenggam tangannya dengan erat.
"Keke... bangun nak," ucap bunda dengan mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung Inneke.
Mata Inneke mengerjap perlahan melihat sekelilingnya, ternyata duduk di sebelahnya orang yang selama ini dia rindukan sedang menggenggam tangannya dengan erat.
________________________
Mohon maaf lahir dan batin
untuk shobat ku semua.
selamat hari raya idul Fitri
bagi yang menjalankan, kesalahan hanya
pada hamba, mohon dimaafkan yang baik
disengaja maupun tidak disengaja.
terima kasih
__ADS_1