
Hampir satu Minggu sudah keluarga Ken tinggal di kampung, kesehatan Imma semakin membaik, jarang terbangun dengan mengigau memanggil ibu Lestari ataupun bibi Sumi, hanya terkadang keringat dingin membasahi tubuhnya saat menjelang pagi.
Dalam satu Minggu ini juga Imma dan Ken setiap pagi mengunjungi makam bibi Sumi, sedangkan Fia dan Ezo selalu di manjakan oleh kedua mama angkatnya, dari wisata, jalan-jalan ke mall, kuliner dan lainya.
Sedangkan Faro hanya fokus di balik leptop setiap harinya, hanya sesekali keluar bersama Opa Tomy sekedar melepas penat adu tanding menembak di ruang tembak yang tidak semua orang tahu.
Rencana hari Minggu besok Ezo dan Fia akan kembali ke Jakarta, Ezo akan memulai masuk sekolah hari Seninnya memulai tahun ajaran baru, dan kuliah Fia juga akan segera di mulai walaupun tidak bareng dengan Ezo.
Tetapi hari Sabtu ini Faro mendapatkan panggilan dari jenderal Hendro untuk membantu kasus yang terjadi di negara tetangga yaitu Brunai Darussalam yang meminta secara khusus kepada si mata elang untuk memecahkan kasus itu, karena rekomendasi dari intelejen Singapura yang pernah memberikan penghargaan kepada si mata elang.
Dan satu lagi mendapat telepon dari si Conan untuk minta bertemu karena penelitian waktu itu sudah mencapai 60%, tetapi kalau masalah Ramos Sandara si Conan masih belum memberikan keterangan sampai waktu satu bulan ke depan.
Sebetulnya jika masalah perusahaan tidak ada Kendala, karena Mario sangat handal dalam menangani perusahaan itu, semua target berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan.
Maka pagi itu juga Faro berpamitan kepada Imma dan Ken saat sedang sarapan.
"Abi, umi hari ini Abang harus ke Jakarta, ada pekerjaan yang harus Abang lakukan sore ini" cerita Faro sambil menyuap nasi kuning yang di buat oleh Yu Minah.
"Kakak dan adik ikut sekalian Bang, daripada besok berangkat berdua aja" usul Imma memandangi wajah Fia dan Ezo.
Fia yang sudah berpikir dewasa, setuju dengan usulan uminya tetapi tidak bagi Ezo yang masih manja dan dekat dengan uminya.
"Yaaa umi, adik masih betah disini, masih pingin senang senang, please" rengek Ezo dengan bergelayut manja dalam pelukan Ken.
"Dasar manja, kalau gitu besok elo pulang sendiri, kakak pilih pulang bareng Abang aja" Fia kesal dengan sikap Ezo yang manja.
"Adik, nanti kalau ada waktu bisa kesini lagi, nanti umi dan Abi juga pulang kalau umi sudah bisa pulang dengan pesawat komersil ok" nasehat Ken bijak.
Ezo kesal dengan menghentakkan kedua kakinya, mengerutkan bibirnya tetapi terpaksa menganggukkan kepalanya "iya... adik ikut Abang, tetapi kalau Abi dan umi lama disini adik nyusul kesini lagi".
"Iya nak, diutamakan sekolahnya, jangan lupa untuk sementara waktu Uthi Mami nanti yang menemani kakak dan adik" pesan Imma mengacak rambut Ezo gemas.
"Iya umi" ucap Ezo dan Fia kompak.
"Kakak dan adik memang pintar, kesayangan umi" rayu Imma lagi sambil tersenyum simpul.
"Kok cuma Kakak dan adik sih yang di sayang, teganya umi" protes Faro pura-pura merajuk, muka sengaja di tekuk cemberut dan kesal.
"Idih Abang, jangan merajuk karena Abang adalah belahan jiwa umi, naah satu lagi kalau Abi adalah belahan hati umi, adil kan?" Imma akhirnya merayu suami dan putra-putrinya.
Ken hanya tersenyum mendengar ucapan Imma langsung ikut berkomentar "Kirain tadi Abi tidak ada di daftar umi, hampir aja Abi protes juga kayak Abang" celoteh Ken sambil menyusup jus jeruk yang tinggal setengah.
Setelah selesai sarapan Faro, Fia dan Ezo langsung packing dan bersiap-siap berangkat karena jadwal penerbangan pukul sepuluh pagi.
__ADS_1
Sesaat sebelum sarapan pagi tadi Faro menghubungi keluarga Tomy Sanjaya untuk berpamitan, tanpa di duga, mereka menyempatkan diri datang ke rumah Imma walau hanya sekedar untuk berpamitan.
"Apakah Abang akan kesini lagi setelah urusannya selesai?" tanya Mama Meera seakan tidak mau pisah dengan putra kandung dari almarhum suaminya itu.
"Iya Mama, setelah urusan Abang selesai, adik Ezo masuk sekolah mungkin Abang akan mendampingi belahan jiwa Abang" cerita Faro sambil memeluk Imma dan mencium punggung tangan mereka bergantian diikuti oleh Fia dan Ezo.
"Berapa hari kira-kira Bang?" tanya Opa Tomy yang seolah-olah juga tidak ingin pisah dari cucu laki-laki kesayangan.
"Paling lama tiga hari Opa" Faro masuk mobil yang disiapkan oleh Opa Tomy dan diikuti oleh pengawal dari belakang sampai bandara internasional Juanda Surabaya.
Hampir tengah hari Faro, Fia dan Ezo tiba di Jakarta di jemput oleh Mario menuju ke kediaman keluarga Ken yang sudah di tunggu oleh Uthi Mami dan Akung Papi.
Faro hanya mandi berganti baju dan berangkat lagi ke markas intelejen di antar oleh Mario, dalam perjalanan mereka tidak menyia-nyiakan waktu, sekalian menandatangani berkas yang mendesak yang akan di tangani perusahaan.
"Semua aman kan bro?" tanya Faro tanpa memandang Mario yang sedang fokus menyetir mobil.
"Aman bos, tenang aja, bagaimana kabar nyokap?" Mario yang begitu mengkhawatirkan keadaan umi dari bosnya itu yang membuat Faro jarang istirahat, kusut dan tidak pernah memperhatikan penampilannya.
Mario hanya melirik penampilan Faro yang sekarang, rambut sudah mulai panjang jambang yang di biarkan tumbuh memakai kemeja yang di lipat lengannya sampai siku.
"Bos, coba ke babershop sebentar, kenapa jadi seperti itu penampilannya, apakah si calon makmum tidak pernah menghubungi bos lagi?" tanya Mario begitu prihatin dengan kondisi yang di alaminya.
"Nanti malam aja kalau ada waktu, dia tidak pernah menghubungi gue lagi, sudahlah bro, gue sudah ikhlas, gue hanya fokus dulu untuk kesehatan umi, yang lain bisa menyusul" Faro hanya pasrah menghadapi kenyataan, cobaan yang bertubi-tubi membuatnya lebih bijak dalam menyikapinya.
Sampai di markas Faro bergegas turun dengan cepat karena sudah di tunggu oleh jenderal Hendro dan anggotanya.
"Ok siap bos" balas Mario memutarkan mobilnya kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah di tandatangani oleh Faro.
Duduk di depan layar monitor besar, penyelidikan dimulai ini kasus sangat rahasia karena menyangkut pengkhianatan di lingkup kerajaan yang ada di Brunei Darussalam.
Seolah berjalan begitu cepat, sampai pukul enam sore satu kasus, baru bisa di pecahkan, sedangkan pihak kerajaan Brunei Darussalam mengirim tiga kasus tetapi masih saling terkait.
Tanpa diduga seorang menteri pertahanan dan keamanan datang seorang diri dengan memakai masker, songkok dan sarung hanya untuk menemui si mata elang.
Sebenarnya Faro tidak ingin di ketahui identitasnya, karena desakan dari menteri itu dan berjanji akan merahasiakan identitas Faro, dengan terpaksa Faro menemui menteri pertahanan dan keamanan, bukan karena sombong tetapi hanya semata-mata untuk melindungi keluarga tercinta.
"Bagaimana apakah sudah terpecahkan kasus itu?" tanya Pak menteri setelah bersalaman dengan Faro dan seluruh anggota intelejen.
"Baru satu kasus Pak, besok akan kita selesaikan, karena malam ini di mata elang akan ada pertemuan dengan klien yang tidak bisa di tinggalkan" jelas jenderal Hendro kepada atasannya itu.
Saat Pak menteri dan Jenderal Hendro membahas tentang intern intelejen Faro ijin pamit dan di jemput kembali oleh Mario.
"Babershop terlebih dahulu ya bos?" tanya Mario saat mobil itu sudah berjalan dengan kecepatan sedang menuju babershop.
__ADS_1
Hanya dalam satu jam Faro keluar dari babershop dengan penampilan yang rapi seperti dulu sebelum putus dengan Inneke.
"Naaah gitu kan ganteng bos, gue aja bisa klepek-klepek naksir elo" canda Mario cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iiiih..najis, ogah gue jeruk makan jeruk" jawab Faro sambil terkekeh masuk lagi ke dalam mobil untuk melanjutkan janji bertemu dengan si Conan di sebuah kafe dekat dengan kantor perusahaan.
Di perjalanan Sebelum Bertemu dengan si Conan, Faro menceritakan pertemuan dengan detektif nyentrik itu, mendanai penelitian yang sedang di kembangkan olehnya.
Faro juga menceritakan jika dia sedang menyelidiki keberadaan Ramos Sandara dan satu orang laki-laki yang belum di ketahui identitasnya yang menembak pak Rudi.
Sampai di kafe itu si Conan sudah duduk manis menunggu Faro "Bos, aku disini".
"Oya kenalkan ini asisten Mario, jika nanti gue ada di kampung lo bisa menghubungi dia" perintah Faro.
"Halo bro, panggil gue Conan" katanya dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Bagaimana perkembangan penelitian itu?" tanya Faro setelah duduk di depan Conan saling berhadapan hanya meja saja yang menghalangi mereka.
"Ini laporannya" Conan memberikan sebuah map yang berisi tentang semua penelitian itu dari awal sampai akhirnya berhasil mengembangkan sampai menjadi serum berwarna cair bening, jika di gunakan tidak akan meninggalkan bekas sedikitpun.
Serum akan membuat para target memiliki efek samping yang berbeda-beda tergantung kekebalan tubuhnya, ada yang seperti terkena serangan jantung, pecah pembuluh darah ataupun gagarotak, hanya saja serum itu harus di masukkan pada target dalam jarak dekat.
"Apakah bisa di kembangkan lagi, cara menggunakannya?" tanya Faro yang belum puas dengan penelitian itu.
"Buatlah lagi penggunaan serum itu bisa dari jarak jauh, misalnya seperti jarum kecil yang bisa melesat menggunakan teknologi handphone sehingga target tidak harus berdekatan.
Conan mengerutkan keningnya berpikir sejenak, sangat sulit untuk di realisasikan permintaan bos yang ternyata sangat cerdas, mudah sekali dia memahami semua laporan tentang serum itu, betul betul hebat gumamnya sendiri dalam hati.
"Baiklah bos, akan gue kembangkan lagi, tetapi ini tidak akan mudah akan membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit" ucap Conan dengan penuh keyakinan.
"Gue tidak perduli, elo hubungi aja Mario, nanti akan dia persiapkan semuanya" jawab Faro tegas tanpa memperdulikan berapa biaya yang akan di keluarkan nantinya.
"Siap bos, gue pamit dulu kalau gitu" Conan berpamitan bersalaman dan meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru.
Faro dan Mario akhirnya memesan makanan yang ada di kafe itu untuk makan malam, baru pulang kerumah untuk beristirahat.
_________________
Sehat selalu sobat, jangan lupa like vote dan
komentar serta hadiahnya, agar lebih semangat
Terima kasih sudah selalu setia menunggu
__ADS_1
up setiap harinya, dan Doble up jika hari
Minggu.