
"Entahlah gue jadi gagal fokus, gue ke toilet sebentar ya, pusing gue, elo aja yang melanjutkan meeting nya, sini pinjam handphone elo lagi" Mario memberikan handphone nya dan Faro keluar dari ruang meeting meminta ijin ke toilet sebentar.
Sampai di toilet Faro berkali-kali mengubungi handphone Inneke tetapi tidak ada jawaban sama sekali, kemudian mengirimi banyak sekali pesan WA.
"Sayang, maaf handphone Abang baterai habis, ini memakai handphone Mario"
Di tunggu beberapa saat hanya centang dua saja tetapi pesan WA itu tidak juga berubah biru, tandanya Inneke tidak membuka dan membaca pesannya.
"Sayang bagaimana apakah baby El sudah tidur?" tetapi tetap saja pesan itu tidak dibacanya.
Diulangi lagi menghubungi melalui vedio call juga tidak diangkat oleh Inneke, semakin panik hati Faro, karena kesal Faro hampir membanting handphone tetapi mengingat itu bukannya handphone nya tidak jadi dilakukan, setelah diam dan mengambil nafas sebentar akhirnya Faro baru teringat harusnya menghubungi bunda ataupun umi.
Tetapi sayangnya setali tiga uang, mencoba menghubungi bunda sampai tiga kali tidak aktif juga, harapannya hanya pada umi.
"Halo Bang Mario...." mendengar suara lembut Imma seakan melegakan Faro yang hampir frustasi.
"Umi, ini Abang Faro, Inneke kemana Abang menghubungi nomor handphone nya tetapi tidak diangkatnya?" Faro mencoba meredakan emosinya dengan menarik nafas panjang.
"Mungkin dia sudah tidur Bang, sebentar umi lihat keatas, apa Abang tahu dari tadi sore jam lima Keke menghubungi Abang, Rafael rewel terus tidak mau turun dari gendongan" Imma sedikit kesal juga karena adik yang dianggap sebagai putranya sendiri itu tidak peka terhadap istrinya.
"Maaf umi, handphone Abang baterai habis, jadwal meeting terlalu padat, sampai Abang lupa waktu" Faro merasa bersalah karena kesibukannya sampai melupakan anak dan istrinya.
Imma sampai didepan kamar Inneke membuka pelan pintu kamar tetapi tidak melihat sosok wanita anggun itu diatas tempat tidur, berjalan ke kamar Rafael melalui pintu yang tembus antara kamar Rafael dengan kamar Inneke, Imma setelah menemukan Keke tertidur di kamar Rafael dia keluar kamar lagi pelan pelan agar tidak membangunkan keduanya.
"Bang, istrimu tidur di kamar Rafael, sepertinya kecapean dia, Rafael tidak mau turun dari gendongannya dari sore, tidak mau digendong oleh umi, bunda ataupun bibi Jum, makanya Bang, boleh kerja tetapi ingat juga anak dan istri, memang sepertinya Keke kesal tadi saat Abang ingin bicara langsung dimatikan handphonenya" cerita Imma tetapi sambil menasehati.
Faro hanya menarik nafas panjang, pikirannya campur aduk antara capek, kesal, merasa bersalah dan menyesal karena telah melupakan istri dan putranya yang menunggunya pulang tetapi tidak sempat mengabari karena kesibukannya.
Kembali ke ruang meeting ingin cepat menyelesaikan dan segera pulang, ternyata masih harus mendengarkan keterangan dari para anggota yang hadir, setelah satu jam akhirnya mereka menemukan kesepakatan kerjasama.
"Mario Carikan tiket pesawat malam ini juga, kalau perlu sewa helikopter jika tidak ada" Mario kaget dan membelalakkan matanya dengan sempurna mendengar perintah Faro yang aneh.
"Sewa helikopter, memangnya ada apa bos, ada yang tidak beres?" Berhenti merapikan berkas yang ada di meja mendekati Faro yang berdiri dan berjalan mondar mandir seperti setrikaan.
__ADS_1
"Anak gue dari jam lima sore nangis terus, tadi pagi gue bilang jika sore akan pulang, tetapi sampai sekarang belum pulang juga, parahnya lagi Inneke marah karena gue tidak bisa menepati janji" cerita Faro dengan muka masam dan gelisah sendiri.
"Anak elo tidak seperti itu kah bro?" Faro mondar-mandir, hati gelisah mengingat Inneke mematikan handphone padahal dia belum selesai bercerita.
"Baby Cello lebih dekat dengan mamanya, dia tidak terlalu memperdulikan kalau papanya pergi lama, maka itu gue tidak terlalu khawatir".
Mario mengecek tiket pesawat untuk malam ini ke Jakarta ternyata penerbangan terakhir pukul sembilan malam ini, sekarang sudah pukul sepuluh malam jika ingin naik pesawat harus memesan tiket pada penerbangan pertama pukul empat pagi.
"Tidak ada bos, tiket pesawat adanya pukul empat pagi, jadi bagaimana?" Mario mematikan handphone, dan kembali merapikan dokumen kembali.
"Gue hubungi jenderal Hendro aja, sini pinjam handphone elo lagi" Faro mengambil handphone Mario kembali dan menghubungi jenderal Hendro dengan cepat.
Untungnya jenderal Hendro langsung mengangkat dan menerima panggilan telepon dari Faro, menceritakan tentang putranya yang terus menangis tanpa menunggu lama, jenderal Hendro menghubungi nomor koleganya yang ada di Bandung, kebetulan ada helikopter sudah standby disana, tanpa menunggu lama helikopter itu bisa mengantar Faro sampai Jakarta malam itu juga.
Pas tengah malam Faro tiba di Jakarta, tanpa disangka ternyata jenderal Hendro sendiri yang menjemput Faro di hanggar helikopter.
"Jenderal mengapa anda sendiri yang menjemput kami, saya bisa pesan mobil online?" Faro merasa tidak enak karena merepotkan atasannya pada tengah malam begini.
"Tidak apa-apa, kebetulan saat Abang menelpon saya masih ada di markas, ini sekalian pulang" jenderal Hendro membawa sendiri mobil pribadinya untuk menjemput Faro dan Mario.
Hanya dalam waktu satu jam perjalan Faro sampai didepan rumah, segera turun dari mobil yang dikemudikan oleh jenderal Hendro.
"Terima kasih jenderal" Faro membungkukkan badannya hormat.
"Sama sama Bang cepat masuklah, lihat Rafael dan Inneke" titah jenderal Hendro dan langsung melajukan kembali mobilnya untuk mengantar Mario pulang.
Dibukakan pintu oleh sekuriti, berlari ke lantai atas dengan lift membuka pintu kamar, sudah tertata rapi baju tidur yang di letakkan diatas tempat tidur, tetapi Inneke sendiri tidak tidur di tempat tidur itu.
Bergegas mandi untuk menghilangkan keringat yang menempel ditubuhnya, memakai baju tidur yang telah disediakan, bergegas menuju kamar putranya, mengusap pipi Rafael dengan lembut, kemudian berjalan menuju tempat tidur single bad yang ada disamping box bayi berjongkok didepan wajah Inneke mencium bibirnya dengan lembut.
"Hhhmmm....." Inneke hanya bergumam membalikkan badannya memunggungi Faro, seolah olah hatinya masih menyimpan marah.
"Sayang, apakah masih marah dengan Abang, dalam tidur aja kau marah pada Abang, ayo kita pindah" Faro menggendong bridal Inneke dibawanya ke kamar dan dibaringkan, Faro naik juga ketempat tidur berbaring disamping Inneke memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Tidak dipungkiri Faro sangat capek dan mengantuk, hanya dalam sepuluh menit dia sudah terlelap sambil memeluk istrinya dengan erat, tetapi ternyata Inneke sudah terjaga saat Faro di kamar Rafael tadi bahkan saat dia mencium bibirnya juga mengetahuinya, karena masih marah Inneke pura-pura tertidur.
Dipindahkan pelan pelan tangan kekar yang melingkar sempurna di pinggangnya bangun dan turun dari tempat tidur, bersamaan dengan Rafael merengek bangun karena haus, Inneke langsung mendekati box bayi diraihnya Rafael dan duduk di tempat tidur single bad meluruskan kakinya dan memberikan ASI dengan sedikit mengantuk.
Selama ini Inneke memang belum berani menyusui sambil berbaring, takut jika dia menyusui baby Rafael sambil berbaring akan melukai buah hatinya, sehingga saat ini Inneke dengan sekuat tenaga mencoba untuk membuka matanya agar tidak terpejam.
"Tidur lagi nak, sekarang masih malam, Papi sudah pulang jangan khawatir, sepertinya Papi capek sekali, biarkan Papi istirahat dulu ya, besok saja gantengnya Papi bisa bermain" dengan mengelus rambut Rafael Inneke tetap bertahan menahan kantuk yang amat sangat.
Setelah Rafael tertidur kembali, dibaringkan Rafael di tempat tidur single bad, rasanya matanya tidak bisa diajak kompromi, tidak sanggup untuk berjalan ke box bayi, akhirnya Inneke tidur berdua dengan Rafael di sana.
Sampai pukul empat pagi waktunya Rafael terbangun seperti biasa, bayi menggemaskan itu bergerak dengan suara ah ih uh seolah olah ingin membangunkan maminya untuk diajaknya bermain, tetapi sayangnya mata Inneke belum bisa terbuka sedikitpun.
Faro yang mendengar suara putranya bermain sendiri langsung terjaga, ternyata Inneke tidak ada disampingnya, Faro berdiri bergegas menuju kamar Rafael, ternyata Inneke kembali tertidur di ranjang single bad bersama Rafael.
"Sudah bangun kah sayang, ayo Papi gendong, biarkan Mami istirahat, apakah Mami sangat marah pada Papi?" Faro menggendong baby Rafael pelan-pelan agar tidak Inneke tidak terbangun.
Faro dan Rafael bermain di tempat tidur, bercerita walaupun hanya Faro yang bercerita tetapi keceriaan keduanya sangat bahagia, saat Rafael pub biasanya Faro akan memanggil istrinya untuk membersihkan dan mengganti popok, sekarang dia sendiri yang melakukannya.
"Sama Papi aja ya sayang, tidak usah membangunkan Mami, kasihan Mami capek" dengan telaten dan sabar Faro segera membersihkan pub dan Menggantinya dengan popok yang baru.
Sampai waktu Rafael berjemur di pagi hari, Inneke belum bangun, sehingga Faro memanggil bibi Jum untuk meminta tolong mengajak Rafael berjemur.
"Sayang bangun sudah siang, apakah masih marah sama Abang, maafin Abang ya?" Faro jongkok disamping tempat tidur single bad disisi wajah Inneke yang masih terpejam.
Saat Faro ingin mencium bibir Inneke, dia berbalik badan memunggungi Faro tanpa membuka matanya, Faro terkekeh dan naik ke tempat tidur berbaring memeluknya dengan erat.
"Sayang, maafin Abang, please... Abang memang yang salah, ayolah ampuni Abang".
Tanpa sadar air matanya menganak sungai, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, hatinya terasa sakit, seperti diabaikan olehnya hanya karena pekerjaan.
"Sayang ayolah jangan marah lagi, maafin Abang, umi sudah cerita semuanya, Abang tau kau menghubungi Abang dari sore, Rafael badannya panas setelah imunisasi" cerita Faro dengan mengeratkan pelukannya.
Saat dibalik tubuh istrinya dan melihat ada linangan air matanya sontak Faro jadi kaget, dihapusnya air matanya dengan jarinya dan menciumi seluruh wajah Inneke.
__ADS_1
"Abang harus bagaimana biar dimaafin oleh istri Abang yang cantik ini?".
"Makanya jangan janji kalau tidak bisa menepatinya, kabarin kek jika tidak bisa pulang, sudah tau Rafael tidak bisa tidur tanpa mendengar suara papinya, malah asyik entah dimana" amarah Inneke seakan memuncak dikeluarkan semua unek-unek dihati yang dipendam dari semalam.