Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
134. Obat Pencahar


__ADS_3

Jum'at pagi setelah Faro berangkat ke kantor Mama Meera dan Inneke packing dengan dengan gembira, niatan untuk liburan nanti sore belum diberitahukan kepada seluruh pegawai yang ada di rumah.


Pagi ini bibi Tini pergi ke pasar diantar oleh pak Pardi, setelah kejadian yang hampir menimpa Inneke, sehingga sekarang tugas belanja diserahkan kepada bibi Tini atau bibi Narti, setelah mengetahui bibi Tini akan pergi ke pasar Susi menawarkan diri untuk menemani bibi Tini ke pasar.


Tetapi ternyata Susi mempunyai tujuan tersendiri yaitu ada udang dibalik batu ketika menawarkan diri menemani bibi Tini ke pasar, dia ingin membeli sesuatu di apotek.


Setelah bibi Tini selesai berbelanja semua keperluan rumah yang sudah dibuat daftarnya oleh Inneke, Susi meminta ijin kepada pak Pardi untuk mampir sebentar ke apotek.


"Mau beli apa mbak ke apotek, kalau cuma obat biasa ada di kotak obat, bos sudah menyediakan semua?" tanya pak Pardi dari kemudi mobil.


"Itu obat khusus wanita kok pak" jawab Susi gugup dan malu-malu.


"Ada juga kok obat khusus untuk wanita, kenapa tidak ambil disana aja" jawab pak Pardi lagi.


"Tidak apa-apa kok pak, saya beli sendiri aja" Susi turun setelah membuka pintu mobil berlari kecil membuka pintu apotek, hanya dalam waktu sepuluh menit Susi keluar apotek dengan membawa botol kecil berisi pil putih bulat berukuran kecil, kalau tidak bisa didekati dan banyak penghalangnya, sebaiknya penghalangnya yang harus aku singkirkan terlebih dahulu gumamnya sendiri dalam hati.


Dengan memutar botol kecil itu Susi sudah membayangkan apa yang ingin dia lakukan saat makan malam nanti, aku akan membuat ibu dan Istrinya sibuk, biar si ganteng aku yang melayaninya sampai pagi monolog dalam hati dengan senyum mengembang dibibirnya.


Beraktivitas seperti biasa Susi sampai pukul dua siang sudah selesai, baru beristirahat sejenak di kamar beserta bibi Narti tidur siang bersama.


Pukul tiga sore Faro sudah sampai rumah, mempersiapkan keperluan untuk wisata ke perkebunan.


Di dapur hanya ada bibi Tini, saat Faro masuk ke dapur.


"Bibi Tini, kemana bibi Jum?".


"Ada di kamar si kacep El sepertinya Bang" jawab bibi Tini sopan.


"Oya bibi maaf tidak bisa mengajak Bagus, karena dia tidak libur sekolahnya" Faro merasa bersalah karena Bagas diajak liburan sedangkan adiknya Bagus tidak.


"Bagus ngerti kok Bang, dia harus belajar dengan rajin agar kayak abangnya Bagas mendapatkan juara dan bisa membanggakan Bang Faro yang sudah membiayai sekolahnya" bibi Tini terharu karena begitu banyak jasanya untuk keluarga.


"Ya sudah, bibi tunggu rumah ya, karena bibi Jum harus ikut juga" Faro meninggalkan dapur mencari bibi Jum untuk segera packing.


Pukul setengah empat Faro, Inneke, Mama Meera, Rafael dan bibi Jum berangkat ke hanggar helikopter diantar oleh pak Pardi dan dikawal oleh empat bodyguard seperti biasa, sedangkan Ezo, Rayhan dan Bagas berangkat dari rumah Ken diantar oleh pak Min juga dikawal oleh dua bodyguard.


Pukul empat sore Susi dengan semangat empat lima berinisiatif membuat bubur kacang hijau khusus untuk Mama Meera dan Inneke tetapi ditambah obat yang tadi pagi dibelinya di apotek.


Setelah matang dibawanya ke ruang keluarga yang biasanya jika sore hari Mama Meera dan Inneke bercengkerama sambil nonton televisi secara sinetron kesukaan Mama Meera.


Mendengar suara televisi terdengar Susi tersenyum manis mengira jika ada orang yang dimaksud sedang asyik didepan televisi.

__ADS_1


"Neng Keke dan Bu Meera, ini saya buatkan bubur kacang hijau khusus untuk anda berdua" kata Susi sambil melihat dua mangkok bubur yang masih mengepulkan asapnya.


Ternyata yang duduk didepan televisi bukan orang yang diinginkan Susi tetapi ada Yono sang sekuriti dan salah satu bodyguard yang sering mengawal Inneke sambil makan camilan kacang goreng.


"Ee Susi, kamu tidak tahu kalau bos dan keluarga lagi liburan ke perkebunan, daripada mubazir sini buburnya buat kita aja" dengan cepat Yono mengambil dua mangkuk bubur kacang hijau itu dan diberikan satu mangkuk untuk Sarwan sang bodyguard.


"Eeee jangan, ini untuk----" Susi tidak melanjutkan ucapannya mangkuk sudah berpindah tangan diambil oleh Yono.


"Iya tahu, tetapi Bu bos dan Bu Meera tidak ada" mereka berdua menikmati dua mangkuk bubur itu dengan cepat tandas tanpa sisa.


"Terima kasih, buburnya manis seperti yang buat, sekarang aku menikmati bubur buatanmu semoga suatu saat nanti aku bisa menikmati yang buat buburnya" rayu Yono tersenyum mentowel dagu Susi dengan mengedipkan matanya.


Seketika Susi pucat pasi melihat kedua orang yang telah menikmati bubur kacang hijau buatan Susi langsung bereaksi setelah duduk bersandar baru beberapa menit.


"Aduh....aduh.. Yon perut gue mulas banget" Sarwan memegangi perutnya yang melilit dan mengeluarkan keringat dingin pada seluruh tubuhnya.


"Wan...aduh gue juga, Susi elo kasih ramuan apa dalam buburnya hah?" Yono mendekatkan wajahnya ke wajah Susi yang mulai mengeluarkan keringat dingin juga.


Tetapi Susi hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat kedua laki-laki itu belingsatan menahan sakit dan melilit pada perutnya, keduanya langsung berlari kebelakang mencari kamar mandi yang ada di dapur basah dan satu lagi di kamar mandi dapur kering.


Susi langsung berlari kebelakang masuk kamar bibi Narti dan pura-pura tidur karena tidak enak badan, dalam setengah jam Yono dan Sarwan sudah lebih dari sepuluh kali bolak-balik ke kamar mandi, mereka sudah lemas kehabisan cairan, membuat para pegawai Faro kebingungan dan melarikan mereka ke rumah sakit.


Bibi Tini akhirnya melaporkan kejadian itu kepada Faro melalui telepon rumah kebetulan Faro baru tiba di rumah utama Mama Dini, bibi Tini menceritakan semua tanpa ada yang ditutup tutupi, karena akhir-akhir ini kejadian berkaitan dengan Agus Martono, sehingga Faro meminta bantuan kepada jenderal Hendro untuk menyelidiki kasus yang dibuat dua pegawainya mencret sampai kehabisan carian.


"Bibi siapa yang membuat bubur maut itu?" tanya Mario mendekati bibi Tini.


"Susi Bang, tadi kata Yono dan Sarwan bercerita awalnya bubur dibuat khusus untuk Bu bos dan Bu Meera" cerita bibi Tini sedikit takut.


Pak Kumis memakai sarung tangan mengorek tempat sampah dan menemukan botol kecil obat pencahar dan isinya sudah habis tanpa sisa.


"Jenderal coba lihat ini!" Pak Kumis menunjukkan botol kecil yang masih baru tetapi sudah tidak ada isinya.


"Itu sepertinya Susi yang beli pak tadi pagi di apotek saat pulang dari pasar" bibi Tini mengamati botol kecil itu sampai memiringkan kepalanya.


Kemudian Mario mengajak jenderal Hendro dan Pak Kumis untuk berdiskusi sebentar di meja makan dan bercerita tentang Susi yang akhir akhir ini banyak membuat Faro tidak nyaman tinggal di rumah.


Bibi Tini datang memberikan kopi dan camilan kepada tamunya diletakkan meja makan.


"Bibi bisa tolong panggilkan Susi dan bibi Narti kesini" pinta Mario setelah bibi Tini meletakkan kopi dan camilan itu.


"Baik Bang" bibi Tini keluar lewat pintu dapur menuju rumah belakang dan langsung membuka pintu kamar bibi Narti.

__ADS_1


"Bibi dan Susi dipanggil asisten Bang Faro sekarang juga" tanpa basa-basi bibi Tini langsung pada tujuannya.


"Ada apa kita dipanggil?" tanya bibi Narti penasaran.


"Tidak tahu, sudah bisa jalan ke rumah utama kan?" bibi Tini bertanya lagi.


"Iya aku sudah kuat kok, ayo nduk cepat kita kesana" bibi Narti menarik tangan Susi.


"Tapi Bu, aku masih pusing" alasan Susi sambil pura-pura memegangi kepalanya.


"Jangan bantah, perintah asisten Mario sama saja seperti perintah Bang Faro" bibi Tini dan bibi Narti menarik tangan Susi dengan terpaksa Susi mengikutinya.


Sampai masuk rumah utama ternyata Mario dan yang lainnya sudah duduk di ruang keluarga, dan bibi Narti serta Susi ikut duduk didepan mereka dengan sedikit takut.


"Kamu yang namanya Susi, kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi sore?" tanya jenderal Hendro dengan memandangi wajah Susi yang sudah pucat pasi karena kalut, menunduk dan tidak berani menjawab pertanyaan hanya diam membisu.


"Apa yang dilakukan Susi memangnya?" bibi Narti yang tidak tahu persoalannya sama sekali.


"Bibi tidak tahu apa yang dilakukan oleh anaknya sendiri?" tanya Mario diikuti gelengan kepala bibi Narti.


"Susi tadi sore membuat bubur kacang hijau dicampur obat pencahar satu botol, tujuannya untuk Bu bos dan Bu Meera" jenderal Hendro mengatakan analisa yang dia dapat dari penyelidikannya.


Bibi Narti memandang tajam wajah Susi dengan nafas yang tidak teratur, sedangkan Susi hanya menunduk karena analisa jenderal Hendro benar adanya.


"Tetapi sayangnya Yono dan Sarwan yang memakan bubur itu, akibatnya hanya dalam satu jam mereka harus dilarikan ke rumah sakit karena kehabisan cairan" lanjut jenderal Hendro menatap wajah bibi Narti dan Susi bergantian.


Spontan bibi Narti memukuli anaknya sendiri dengan kedua tangannya "Buk...buk...buk, bocah kurang ajar bikin malu aja, ora kapok ya" dengan amarah yang memuncak bibi Narti menumpahkan kekesalannya.


"Ampun Bu, sakit.. ampun" Susi tetap menunduk melindungi kepalanya sendiri agar tidak terkena pukulan ibunya.


"Bibi...sabar... bibi!!" Mario mendekati bibi Narti dan menariknya agar tidak terus memukuli anaknya.


"Dan untungnya lagi bukan Bu Meera yang makan bubur itu, karena wanita yang sudah berumur tidak akan mampu bertahan jika mengonsumsi obat pencahar dalam jumlah besar, akan langsung kehabisan cairan dalam tubuhnya" kembali jenderal Hendro memberikan keterangan akibat ulah Susi.


"Ini termasuk tindakan kriminal sebaiknya kita serahkan wanita ini ke pihak yang berwajib jenderal" saran Pak Kumis geram karena tindakannya yang merugikan orang lain tanpa berpikir panjang.


Seketika bibi Narti menangis tersedu-sedu karena takut anaknya ditangkap polisi, Susi semakin pucat pasi wajahnya, ikut menangis tersedu-sedu dan menggelengkan kepalanya tidak mau dilaporkan polisi.


"Kamu melakukan ini dengan tujuan apa, memang dengan tujuan baik, tidak kan? kamu harus mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu?" kata jenderal Hendro sedikit membentak.


"Sekarang katakan apa tujuan sebenarnya kamu melakukan itu, kenapa membuat bubur itu hanya khusus buat Bu bos dan Bu Meera saja?" tanya jenderal Hendro lagi dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Saya......sa.. saya hanya ingin mendapatkan perhatian dari Bang Faro" jujur Susi dengan terbata-bata.


"Apa kamu tidak sadar diri nduk, kamu itu siapa, kamu mau mengulangi kelakuanmu mengganggu suami orang seperti dulu itu, bocah edan" bibi Narti naik pitam karena kejujuran dari Susi.


__ADS_2