
Pagi ini Faro mendapatkan panggilan dari jenderal Hendro untuk datang ke markas sekarang juga.
Mandi terburu-buru, memakai setelan jas berwarna biru Dongker, menyambar tas kerja berlari menuruni tangga mendekati keluarga yang sedang menikmati hidangan sarapan pagi.
"Umi, Abi maaf Abang buru-buru tidak ikut sarapan, nanti aja di kantor, minum susu aja" Faro meminum susu dengan cepat tanpa jeda sampai habis tak bersisa.
"Abang sayang umi dan Abi, muuaah... muuaah" Faro mencium pipi Ken dan Imma bergantian lalu keluar menuju pintu keluar.
"Opa, Mama Meera Abang ke kantor dulu" pamit Faro sambil mencium punggung tangan keduanya bergantian.
"Iya Bang, hati-hati" balas Opa Tomy singkat.
"Abang genit banget sih geli gue" cabik Ezo melihat Faro mencium pipi kedua orang tuanya.
"Bilang aja ngiri, elo mau Abang cium juga" Faro menghentikan langkahnya berbalik badan menggoda Ezo.
"Ogah, jangan cium pipi gue nanti terkena rabies" ledek Ezo lagi dengan menutup kedua pipinya.
"Kampret lo, dasar Playboy cabe-cabean" Faro kembali berbalik badan keluar menuju garasi, mengeluarkan mobil dan bergegas ke markas intelejen.
Sampai di markas Faro berlari kecil mendekati Jenderal Hendro yang sudah menunggu di kantor intelejen.
"Ada apa jenderal?" tanya Faro duduk di hadapan jenderal Hendro.
"Ramos Sandara sudah di temukan tetapi dalam keadaan tidak bernyawa" jawab jenderal Hendro menyerahkan map coklat laporan dari kepolisian persis seperti yang di laporkan oleh Conan tadi malam.
Faro hanya menarik nafas dalam-dalam, menyembunyikan bahwa sebenarnya dia sudah tahu dan bahkan dia sendiri yang telah membuat Ramos tewas, tetapi Faro hanya diam menyembunyikan apa yang ada dalam pikirannya agar jenderal Hendro tidak curiga.
"Ini ada juga laporan CCTV saat dia terkena serangan jantung di sebuah gedung perkantoran di Singapura, apakah kau mau menyelidiki tentang ini?" tanya jenderal Hendro lagi sambil menatap tajam ke arah Faro.
"Tidak Jenderal, biar kepolisian aja yang mengurusnya" Faro menjawab dengan suara dingin dan seperti ada yang dia sembunyikan.
"Permisi jenderal, soalnya jam sembilan Abang akan ada meeting dengan klien" tanya Faro sambil berdiri ingin meninggalkan kantor intelejen, tetapi berhenti dan membalikkan badannya.
"Tersangka yang belum di ketahui identitasnya itu apakah sekarang sudah di temukan jenderal?" tanya Faro penasaran sudah sekian lama tetapi belum di temukan, sepertinya lambat pergerakan dari kepolisian.
"Sepertinya belum, nanti coba aku tanyakan lagi kesana" balas jenderal Hendro singkat dan tegas.
"Ada lagi jenderal?" tanya Faro lagi.
"Tidak, silahkan aja, tidak ada kasus juga kok hari ini" jawab jenderal Hendro singkat.
Faro kembali ke kantor dengan hati yang lega, puas tetapi ada persamaan yang mengganjal di hatinya, ada perasaan yang sangat menyiksa dan menyayat hatinya, entah apa yang membuat hatinya sekarang menjadi mengeras mungkin karena pengorbanan umi sekaligus kakaknya itu hatinya tidak bisa menerima jika menyangkut kehidupan uminya.
__ADS_1
Pukul delapan pagi Mama Meera juga pamit berangkat ke pasar Tanah Abang untuk belanja kain yang diperlukan butiknya.
Sementara di rumah hari ini Ken berangkat agak siang karena akan ada meeting yang di adakan di Imma kafe jam sepuluh pagi, sehingga masih ada dua jam untuk berduaan dengan istri tercintanya, mungkin ini yang di sebut puber kedua bagi Ken setelah hampir puasa berbulan-bulan, seperti pengantin baru, candu Ken semakin menggila.
"Honey....sini" Ken menarik tangan Imma di dudukkan nya di pangkuan saat Ken santai di sofa panjang yang ada di dalam kamar.
"Ada apa sayang, umi mau lihat bibi sedang masak apa untuk nanti siang, awas umi mau berdiri" Imma mencoba turun dari pangkuan Ken, tetapi apalah daya tenaga Imma tidak sekuat tenaga Ken, dia tidak bisa bergeming sedikitpun.
"Bagaimana perkembangan persiapan pernikahan Abang?" tanya Ken tetapi tangan sudah masuk di balik baju tanpa disadari oleh Imma karena saking antusiasnya bercerita.
"Katering dari ibu intan, kue dari kafe kita, hotel sudah ready, MUA, pelaminan dan hiburan Kemmy yang mau urus, izin dan KUA bundanya Keke, tinggal undangan dan sovenir yang belum" jawab Imma antusias tetapi otaknya sudah melayang entah kemana karena sentuhan Ken.
"Aaaah, Abi kesempatan dalam kesempitan, dasar mesum" Imma setelah sadar tangan Ken sudah membuka kancing baju Imma dan bra juga kaitannya sudah terlepas sempurna tetapi tanpa sadar menikmatinya juga.
"Sebentar honey, tanggung nich" cabik Ken semakin intens gerakannya.
Setelah selesai ritual pagi itu Ken langsung menggendong Imma ke kamar mandi, pagi ini saja Ken dan Imma sudah mandi dua kali.
"Abi...jahat iiiih, umi harus mandi dua kali pagi hari ini" protes Imma dengan mengerucutkan bibirnya dengan pura-pura merajuk.
"Jangan marah sebagai hadiahnya Abi yang pesan undangan, nanti setelah meeting kita ke tempat percetakan undangan ok" rayu Ken sambil menciumi seluruh muka Imma karena gemas.
"Kapan rencana kita memberikan kabar pada Abang tentang hari H akad nikah dan resepsi pernikahan dia serta siapa sebenarnya jodohnya?" tanya Ken setelah Imma sudah berdandan dan Ken mengeringkan rambut Imma dengan handuk kecil.
"Iya...Abi setuju, ayo kita turun sebentar lagi Abi mau meeting di kafe" Ken menggandeng Imma dengan mesra.
Para bibi, sekuriti dan para salesman yang sedang sarapan di meja makan besar di samping dapur kering begitu bahagia melihat majikannya sudah seperti dulu kembali, mesra apalagi turun dari lantai atas berdua seragam dengan rambut yang masih basah.
"Pagi bos..." ucap mereka bersamaan.
"Pagi....." jawab Ken dan Imma bersamaan tersenyum dan melihat mereka sarapan dengan lahapnya.
"Di atas hujan ya bos, Kok di bawah kering, Sorry bos bercanda" celoteh salah satu sekuriti yang usil dan kocak.
"Tidak usah usil, palingan kamu ngiri" jawab Ken sekenanya disertai sorakan semua temannya.
Ken berjalan menuju kafe dengan menenteng tas kerja, sedangkan Imma duduk di ruang keluarga bergabung dengan Opa Tomy yang sedang menonton berita di televisi,
Imma kemudian menghubungi bundanya Keke dengan vedio call membicarakan tentang menu makanan yang akan di sajikan saat acara resepsi yang tinggal dua Minggu lagi.
Ken sampai pintu samping kafe bertemu meneger Bayu yang sedang mengecek ketersediaan kue yang ada di etalase.
"Bos, pagi-pagi kenapa basah, habis kebanjiran atau habis ngebanjirin istri?" ledek Bayu dengan tersenyum berjalan mengikuti Ken ke dalam kafe.
__ADS_1
"Dua-duanya, tidak usah syirik, kayak kamu tidak bucin aja" cabik Ken memukul lengan Bayu yang cengar-cengir.
"Tapi tahu waktu bos, bucinnya malam hari, ini bos pagi-pagi sarapan pakai plus-plus, itu namanya bucin kronis" bela Bayu lagi masih berjalan mengikuti bosnya.
"Aku akan meeting sekitar sepuluh orang coba kamu siapkan tempat dan jangan lupa kue dan minumannya" perintah Ken dengan nada serius.
"Ok disiapkan bos" balas Bayu memanggil karyawan laki-laki untuk menata meja memanjang di pojok dekat jendela.
Bayu juga berjalan ke pantry untuk memberikan pengarahan menu kue apa saja yang di mempersiapkan untuk meeting yang akan di lakukan oleh Ken bersama klien, dan Aqua juga di persiapkan oleh Bayu.
Selesai meja tertata rapi datang Sandi dari luar dengan berlari kecil dengan membawa setumpuk berkas yang akan di pakai untuk meeting hari.
"Waaaah, didalam hujan ya, kok basah sih bos, berapa ronde kehujanan nya?" gantian Sandi meledek bosnya.
"Hari ini kenapa pada usil dan syirik semua ya perasaan, apa kamu juga ngiri pagi pagi ngeres pikirannya?" cabik Ken sekenanya tanpa melihat Sandi yang senyum senyum sendiri.
"Makanya bos, kalau mau main kuda-kudaan itu lihat waktu, buat yang lihat gagal fokus" protes Sandi membuka leptop mempersiapkan meeting yang akan segera di mulai, satu persatu peserta meeting datang, dan memulai pembahasan setelah mereka berkumpul semua.
Meeting itu selesai setelah satu jam kemudian, dan Ken tidak langsung berangkat ke kantor.
"San, setelah jam istirahat ya aku ke kantor, kamu duluan aja" perintah Ken berdiri ingin keluar dari kafe menuju rumah.
"Kenapa lama betul, apakah mau melanjutkan kuda-kudaan lagi?" tanya Sandi asal-asalan.
"Tuuuh pikiran kamu aja yang ngeres, aku mau antar umi pesan cetak undangan pernikahan Abang" cerita Ken lagi.
"Oya sebentar lagi bos mau mantu ya, aku langsung ke kantor aja" Sandi merapikan berkas,
Ken kembali masuk rumah mencari istrinyanya, ternyata dia sedang bercengkerama dengan Opa Tomy di ruang keluarga.
"Umi, ayo katanya mau cetak undangan, apakah Opa mau ikut?" tawar Ken kepada Opa tomy duduk di samping Imma tanpa membuka jas yang dia kenakan.
"Tidak, aku di rumah saja, paling Meera pulang sebentar lagi" tolak Opa Tomy kemudian.
Imma kemudian ke lantai atas menuju kamarnya untuk berganti baju dan mengambil tas dan turun kembali ke lantai bawah, sedangkan Ken dan Opa Tomy sedang asyik berbicara tentang bisnis tanpa menyadari Imma telah duduk kembali di samping Ken.
"Sudah siap honey, ayo kita berangkat" ajak Ken berdiri mengambil tas kerja yang tadi di letakkan di atas meja.
"Opa kalau nanti kita ataupun Mama Meera belum datang, tidak usah nunggu kita, Opa makan siang aja, jangan telat makan, Opa harus jaga kesehatan" pesan Imma sekalian pamit untuk ke luar sebentar dan mencium punggung tangan Opa Tomy.
"Hati-hati, jangan lupa itu para salesman tetap harus ikut" titah Opa Tomy, rupanya ada kekhawatiran tersendiri di hati Opa Tomy karena kejadian yang menimpa Imma beberapa bulan lalu.
Tidak bisa di pungkiri ada rasa bersalah yang ada di dalam hati Opa Tomy, karena depresi Imma berasal dari keegoisan masa lalu yang ingin melindungi putranya Dona Sanjaya, Opa Tomy tidak mempertimbangkan dampak negatif atas tindakannya itu berdampak buruk pada gadis belia Imma saat masih muda.
__ADS_1