
Pagi ini Faro, Mario dan Conan sedang membaca dokumen data diri Pak Basiran seorang cleaning yang disebutkan orang kepercayaan Thora sebagai anak buahnya yang menyusup di perusahaan Faro.
"Gue tunggu dalam dua hari ini selidiki latar belakang pak Basiran dan kegiatannya di luar jam kerja" titah Faro sedikit kesal.
"Ok siap bos, Oya bos ada kabar yang beredar jika di Thailand sedang ada konflik lagi antara Theo Thanapon dengan rivalnya" lapor Conan dan memberikan bukti dari berita internasional melalui media sosial.
"Siapa rival dari ketua mafia itu Bang?" tanya Mario ikut membaca berita itu disamping Faro.
"Rumornya sih saudara tiri dari Theo Thanapon sendiri ingin melengserkan posisi kakak tirinya, ada juga yang memberitakan jika rivalnya itu anak haram dari ayah kandung dari Theo Thanapon" jawab Conan lagi.
Ada notifikasi pesan WA masuk di handphone Faro dari Jenderal Hendro tentang empat orang laki-laki anak buah Decha Thanapon yang ikut tawuran pelajar SMK sore itu.
"Bang, ternyata empat orang laki-laki anak buah dari Decha Thanapon itu telah bebas dua Minggu yang lalu, ada orang yang membebaskan mereka, waspadalah ternyata anak dari Decha Thanapon itu memiliki kemampuan diatas rata, Thora sangat menguasai hukum, strategi bernegosiasi dan pandai main belakang".
Hari demi hari berjalan dengan tenang, walaupun selalu waspada menjaga keluarga baik dari orang orang Thora Thanapon baik yang bekerja di perusahaan Faro atau anak buah yang sering mengawasi gerak-gerik keluarga besar Ken.
Prinsip Faro tidak akan bereaksi selama mereka tidak mengusik ataupun mencelakai keluarganya, dia hanya akan waspada dan tidak akan mengganggu mereka.
Inneke mengisi hari-hari dengan latihan menembak, senam hamil bersama Erna dan Ara atau jalan pagi bersama Faro, sampai hari ini tinggal menunggu hari kelahiran tiba, tetapi sayangnya sudah hampir lebih dari tiga hari dari perkiraan lahir, dekbay nya belum ada tanda-tanda untuk keluar dari perut Inneke yang semakin membesar.
Sudah tiga hari ini juga umi dan bunda standby dan menginap di rumah Faro, menunggu harap-harap cemas, Faro juga tidak bisa tenang saat bekerja di kantor, bahkan hampir setiap jam menghubungi istrinya yang ada di rumah, terkadang menghubungi umi atau bunda jika Inneke tidak mengangkat panggilan handphone nya.
Bibi Jum juga tidak kalah cemasnya, membuatkan ramuan-ramuan tradisional agar bayi dan ibunya sehat dan lancar melahirkan juga sudah dia lakukan, tetapi dekbay masih anteng dalam perut tidak segera memberikan tanda-tanda ingin segera keluar.
Setelah makan siang hari Kamis yang sangat terik tiba-tiba Inneke ingin berenang di kolam renang yang ada di belakang rumah.
"Umi, bunda temenin aku berenang yok, panas panas gini enak kali ya berendam" ajak Inneke sudah siap dengan pakaian renang khusus ibu hamil.
"Sayang panas begini, mau renang, nanti kulitnya hitam lo" bunda mengikuti Inneke berjalan keluar menuju kolam renang.
"Pakai krem Sunblock dulu nak, biar tidak belang kulitnya nanti" titah Imma kemudian berjalan ke kamar untuk mengambilkan krem Sunblock.
Inneke dan bunda menunggu di kursi malas yang berada di samping kolam renang sampai umi datang langsung mengoleskan krem Sunblock di tubuh dan wajah Inneke, bunda dan umi juga memakainya.
Menemani Inneke berenang hampir satu jam, terkadang berlomba kecil bertiga sambil bercanda ria dengan riang.
"Neng, bunda, umi istirahat dulu ini jus dan camilannya" panggil bibi Jum dengan membawa jus stroberi dan camilan dibantu oleh bibi Narti dan bibi Tini ikut juga.
Naik dari kolam renang dibawakan handuk oleh bibi Jum di lingkarkan di perut Inneke yang membuncit.
"Neng itu...itu kenapa di kaki airnya merah" tunjuk bibi Tini sedikit bergetar karena takut.
Serentak mereka duduk jongkok mendekati Inneke yang sedang berdiri dan minum jus stroberi.
"Iya Bun, sepertinya ini tanda-tanda cucu kita mau keluar, apa perutnya terasa mulas nak?" tanya Imma lembut tetapi sedikit cemas dan khawatir.
"Tidak umi, biasa saja" jawab Inneke meletakkan gelas jus dan duduk di kursi malas.
"Bibi cepat ambilkan baju ganti dulu, semua tenang jangan panik ya" bunda bertindak cepat mengatur semua.
__ADS_1
Selesai mengganti baju dengan santai Inneke menikmati camilan yang ada di depannya, padahal darah menempel di baju yang baru saja dipakai.
Imma langsung menghubungi Faro dengan tangan sedikit bergetar karena gugup.
"Bang, sepertinya Keke sudah mulai ada tanda melahirkan" Imma berbicara dengan hati-hati.
"Umi....umi bagaimana keadaannya, sekarang dimana, apakah Inneke kesakitan bagaimana persiapannya?" Faro langsung panik dan memberondong pertanyaan yang banyak.
"Bang... Bang.. jangan panik Keke aja masih santai di samping kolam renang menikmati camilan" cabik Imma dengan cepat dan mencoba menenangkan Faro.
"Jadi bagaimana umi, Abang pulang sekarang ya?" Faro mencoba tenang dan menarik nafas dalam-dalam.
"Abang ke rumah sakit aja, kita ketemu disana, ini sudah siap-siap menuju kesana" titah Imma lagi.
Bibi Jum mempersiapkan keperluan tas yang sudah dari dua Minggu lalu dipersiapkan jika sewaktu-waktu tinggal mengambilnya.
"Aduuuh, ssstttt.....umi, bunda ini baru terasa mules" Inneke meringis mengelus perutnya dengan lembut.
"Neng, ambil nafas panjang, dan berdoa ya" nasehat bibi Tini jongkok didepan Inneke ikut mengusap perutnya.
Bunda dan umi juga ikut mengelus perut Inneke karena gugup dan cemas bahkan ikut menarik nafas panjang sesuai instruksi bibi Tini.
"Sudah hilang Bun, sudah tidak mulas lagi" Inneke tersenyum manis kembali menikmati camilan dengan santai.
"Idih dasar Faro Junior semua pada panik, eee malah santai makan camilan" cabik bunda cengar-cengir melihat tingkah Inneke yang aneh.
Bergegas Imma memanggil pak Min dan para bodyguard untuk mempersiapkan ke rumah sakit dengan cepat, tidak lupa juga Imma menghubungi Ken, Mami Winda dan Kemmy.
"Sebentar Bun, aduh...sstt mules lagi, umi ini kenapa basah ya celananya" Inneke terbata-bata sambil menahan sakit.
"Bun, ayo cepat sepertinya air ketubannya sudah pecah" Imma jadi panik sendiri karena prosesnya seperti cepat sekali.
Mulasnya belum lama tetapi darah sudah mulai mengalir dan air di ketuban juga sudah pecah, memapah Inneke sampai mobil duduk bersandar dengan santai sesekali Inneke meringis menahan sakit, mencengkeram jok mobil dengan erat.
"Pegang tangan bunda atau umi sayang, kalau tidak bisa menahan sakitnya, tidak usah ragu" bunda menarik tangan Inneke dan menggenggamnya erat.
Inneke tidak ingin menyakiti umi atau bunda, dia lebih memilih mencengkeram jok mobil sampai joknya robek tanpa sengaja.
Melaju dengan cepat pak Min diikuti oleh empat bodyguard dibelakangnya, bibi Jum duduk disamping pak Min dengan menghadap kearah belakang mengusap perut Inneke dengan lembut.
Sampai di depan UGD ternyata Faro sudah berdiri disana menunggu dengan cemas, saat mobil berhenti sempurna Faro berlari membuka pintu mobil dengan cepat.
"Sayang...ayo apakah sakit sekali" Faro langsung menggendong bridal Inneke masuk ke UGD dengan cepat.
"Abang sakit sekali, aduuuh ssstttt" dengan cepat Inneke mencengkeram lengan Faro dengan kencang.
Faro sedikit meringis menahan rasa sakit karena cengkeraman tangannya, tetapi tetap tersenyum manis kepada Inneke.
"Pindahkan sakitnya ke Abang semua" Faro mencium pipi dan bibir Inneke bergantian, dibaringkan Inneke di brankar setelah sampai di dalam ruang UGD.
__ADS_1
Dokter Rianti dan dokter jaga langsung berlari mendekati Inneke dan Faro memeriksa keadaan Inneke dengan teliti, sedangkan yang lain menunggu diluar.
"Waaaah, sudah pembukaan tujuh, kemungkinan besar satu atau dua jam lagi baby akan segera lahir" dokter Rianti sambil tersenyum memerintahkan suster untuk memindahkan Inneke ke ruang bersalin.
Di luar ruang bersalin semua keluarga besar sudah berkumpul dengan cemas, di dalam Faro memegang tangan Inneke dengan erat, saat sakit datang tanpa sadar Inneke mencengkeram erat lengan Faro.
"Abang sakit sekali..... tolong pinggang aku sakit" Inneke sampai mengeluarkan air mata tanpa henti.
"Sebelah mana, sini Abang usap usap ya biar berkurang sakitnya, nak cepatlah keluar jangan biarkan mami kesakitan" Faro mengelus pinggang dan perut Inneke.
Faro mengusap air mata Inneke, menciumi wajahnya dengan penuh kasih, sesekali mengusap perut dan punggungnya tanpa henti terus dia lakukan sampai hampir dua jam sampai dokter Rianti datang untuk memeriksa Inneke.
"Kita lihat ya Bu, sudah pembukaan berapa, sabar ya Bu, tahan sakitnya" dokter Rianti memeriksa Inneke ternyata sudah pembukaan lengkap yaitu pembukaan sepuluh
"Suster... sepertinya sudah siap baby keluar ayo kita siap siap" perintah dokter itu cepat.
Suster mulai sibuk mempersiapkan semua, dokter juga mempersiapkan dengan cepat.
"Bapak silahkan naik dibelakang ibu ya, peluk istrinya dari belakang untuk memberikan dukungan agar mudah nanti baby nya keluar" titah dokter kepada Faro.
Faro naik ke brankar membuka kakinya diletakkan disisi kanan dan kiri tubuh Inneke memeluknya dari belakang dengan erat, sesekali menciumi rambut dan pipi Inneke lembut.
"Ayo sayang kita berjuang demi anak kita, jangan menyerah" Faro kembali menciumi pipi dan rambut Inneke.
"Dokter...aku seperti ingin buang air besar" teriak Inneke menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Baik Bu, jika ingin terasa ingin buang air besar, mengejanlah yang kuat tetapi sebelumnya ambil tarik nafas panjang terlebih dahulu" arahan dokter Rianti dengan lembut dan tegas.
"Dokter aku....aku" cabik Inneke teriak menahan sakit.
"Tarik nafas Bu, dan dorong" arahan dokter Rianti cepat.
"Huuuff.......aaaaah huf....huf... " tersengal-sengal Inneke mengambil nafas.
Faro sampai meneteskan air mata melihat perjuangan istrinya hidup dan mati untuk memperjuangkan kelahiran putranya.
"Ayo semangat sayang" titah Faro sambil mengusap air matanya sendiri.
"Sayang... tidak usah menangis, kenapa jadi cengeng, aaaduuuuh dokter seperti mau---" Inneke tidak melanjutkan ucapannya langsung mengambil nafas panjang.
"Doorooong Bu......" Dokter Rianti teriak.
"Aaaaah uf...uf....." Inneke mengejan dengan sekuat tenaga.
"Aaaaaaah..." Faro juga ikut mengejan bersamaan tanpa sadar mengikuti Inneke.
"Sekali lagi bu doronnnnng, ini sudah terlihat rambutnya" suster ikut memberikan arahan cepat.
"Aaaaahhhhh" sekali lagi Inneke mengejan.
__ADS_1
"Oek......oek....oek...." suara tangisan bayi menggelegar di seluruh ruangan bersalin.