
"Apakah sakit Bang, sepertinya dalam kacanya menancap di lengan, ini darah kenapa tidak berhenti?" Fia panik mengikat lengan Jasson dengan kuat saat mereka duduk berjongkok di samping etalase toko.
"Kalau yang mengobati secantik Istri Abang, tidak terasa sakit sih" rayu Jasson tetapi sambil meringis menahan rasa sakit.
"Gombal Abang mah, menahan sakit malah merayu" cabik Fia mengerucutkan bibirnya.
Datang polisi menangkap dua laki-laki bertato itu, mengantar para korban ke rumah sakit, terpaksa Jasson meninggalkan mobil di parkiran dan menghubungi Abi menceritakan tentang kejadian yang baru saja terjadi.
Karena khawatir Imma memaksa ikut di sertai empat bodyguard seperti biasa, satu bodyguard bertugas mengambil mobil Jasson, sisanya menyusul Jasson dan Fia di rumah sakit terdekat dari tempat kejadian.
Ken tiba di UGD rumah sakit setelah Jasson selesai diobati dan diberikan suntikan tetanus, ternyata bersamaan dengan datangnya pemilik toko emas dan berlian.
Pemilik toko itu ternyata pengusaha emas dan berlian yang lumayan sukses di Jakarta, setelah masuk ruang UGD untuk menemui pegawai dan sepasang suami istri yang telah menyelamatkan tokonya pengusaha itu mengenali Kenzie Wiguna sebagai pimpinan PT WIGUNA GROUP.
"Pak Ken apakah hubungan anda dengan pasangan suami-istri yang telah menyelamatkan toko kami" tanya bapak paruh baya pemilik toko itu mendekati Ken mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan bergantian.
"Dia putri dan menantu kami" jawab Ken juga mengulurkan tangannya untuk membalas salaman mereka bergantian.
"Terima kasih telah menyelamatkan toko kami, perkenalkan saya Hardian Hisyam dan ini Istri saya Maya Hisyam" pasangan paruh baya itu membungkukkan badannya hormat.
"Ooo berarti anda pengusaha emas dan berlian itu, salam kenal" Ken dan Imma juga membungkukkan badannya tanda hormat.
"Putri dan menantu anda sangat hebat, karena mereka toko dan seluruh karyawan kami selamat sekali lagi terima kasih" kata ibu Maya Hisyam tersenyum bahagia.
Ken Imma tersenyum merasa bangga kepada putri dan menantunya bisa menolong orang walaupun Jasson terluka karenanya.
Datang dokter jaga UGD mendekati Jasson yang sedang duduk di pinggir brankar tempat tidur didampingi oleh Fia.
"Boleh saya pulang aja dok?" pinta Jasson Sebelum dokter itu memberikan informasi yang harus disampaikan sehingga membuat dokter itu tersenyum.
"Apakah anda tidak pusing?" tanya dokter sambil membaca laporan yang di tulis oleh sister yang membantu menangani Jasson.
"Tidak dok, saya baik-baik saja" jawab Jasson singkat.
"Baiklah malam ini boleh pulang, tetapi Minggu depan harus kontrol lagi ya" dokter itu menulis resep dan diberikan kepada Fia.
"Bang, apakah tidak sakit, kok minta pulang, nanti kalau apa apa-apa bagaimana?' Fia sedikit khawatir dengan keadaan Jasson yang nekat minta pulang.
"Nanti kalau menginap disini, bagaimana dengan program baby kita, Abang mau program mulai sekarang" bisik Jasson di telinga Fia mengedipkan matanya dan mencuri ciuman singkat dibibir Fia.
__ADS_1
"Apa sih Abang ini, dasar mesum" cabik Fia mengerucutkan bibirnya sambil memukul lengan Jasson memalingkan mukanya karena malu, dokter juga hanya tersenyum melihat pasangan yang sangat mesra didepannya.
Jasson terkekeh gemas dengan tingkah istrinya selalu saja masih malu jika membicarakan tentang soal ranjang padahal sudah hampir satu tahun mereka menikah.
Malam itu juga mereka pulang kerumah, walau dengan sedikit perih tetapi Jasson tetap semangat melakukan program baby yang sudah di rencanakan dari sore, sekuat tenaga Fia protes karena lengan Jasson yang sakit tetapi dengan alasan yang sakit lengannya bukan senjatanya membuat Fia pasrah dan ikut menikmati permainan Jasson yang membuat hatinya melayang sampai ke surga dunia.
Pagi harinya pukul sepuluh pagi saat Ken dan Imma akan ke rumah sakit ingin menengok cucu laki-laki yang baru lahir, Ken sengaja tidak ke kantor hari ini tidak ada meeting sehingga bisa di handle oleh Sandi semua pekerjaannya, datang pasangan suami-istri pengusaha emas dan berlian berkunjung ke rumah Ken, ingin bertemu dengan Fia dan Jasson secara langsung mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan toko dan para karyawannya.
Jasson yang hari ini hanya akan mengerjakan pekerjaan kantor di rumah saja, sehingga pukul sepuluh pagi belum beranjak dari tempat tidur masih terlelap dalam mimpinya setelah semalam bertempur sampai menjelang pagi.
Diketuk oleh bibi jika ada orang tamu yang ingin menemu dengannya, Jasson baru mengerjapkan matanya dan mengumpulkan nyawanya sejenak saat mendengar ada ketukan pintu berkali-kali.
"Tok.....tok....tok...."
"Kakak Fia, Bang Jasson ada tamu" panggil bibi ada di depan pintu berkali-kali mengetuk pintu.
"Ya bibi, Fia masih di kamar mandi, setengah jam lagi kami turun ya" teriak Jasson dengan suara serak karena bangun tidur.
Padahal Fia masih terlelap disampingnya tanpa mengenakan sehelai benangpun di badannya hanya selimut yang menutupi tubuhnya.
"Sayang... bangun, umi dan Abi memanggil kita, ada tamu katanya" Jasson menggoyangkan badannya berharap Fia segera bangun dan mandi.
"Masih ngantuk Bang, jam berapa sekarang?" Fia masih terpejam dan enggan untuk membuka matanya.
"Abang, aku mandi sendiri aja nanti Abang mesum lagi kalau kita mandi bareng" protes Fia saat sudah berada di bathtub kamar mandi.
"Kali ini Abang janji, tidak mesum, paling cuma pegang sedikit" cabik Jasson cengar-cengir tersenyum defil.
"Tuuuh kan, sudah berniat mesum" Fia mengerucutkan bibirnya kesal.
Jasson terkekeh mendengar celotehan Fia, dan akhirnya membuktikan Jasson hanya meraba sebentar gunung kembar Fia dan mandi tanpa plus-plus sampai selesai.
Ken dan Imma akhirnya menunda keberangkatan ke rumah sakit untuk menemani tamunya, bercengkerama dengan akrab, setengah jam kemudian Fia dan Jasson baru turun dari lantai atas dengan tersenyum.
"Selamat pagi" ucap Jasson sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan mereka bergantian.
"Selamat pagi, maaf mas mengganggu ya?" kata pak Hardian dengan senyum ramah melihat keduanya dengan rambut yang masih sedikit basah.
"Tidak apa-apa pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Jasson duduk di samping Ken dan berhadapan langsung dengan kedua tamunya.
__ADS_1
Ibu Maya mengeluarkan kotak perhiasan berwarna merah dari tasnya dan menyerahkan kotak itu kepada Fia.
"Mohon diterima, ini hanya sekedar tanda terima kasih kami atas bantuan kalian semalam" ibu Maya dengan mata yang berbinar.
"Apa ini Bu, kami melakukan dengan ikhlas, tidak perlu repot-repot" tolak Fia tidak menerima kotak itu karena merasa tidak enak.
"Jangan begitu nak, kami ikhlas kok, anggap saja sebagai hadiah dari kami, terus terang kami sudah melihat CCTV saat kejadian tadi malam, kalian ingin berniat membeli perhiasan coople untuk ibu dan anak" cerita pak Hardian meyakinkan Fia untuk menerima kotak itu.
"Kami belum lama menikah pak, belum mempunyai momongan, tadi malam saya hanya melihat lihat perhiasan coople saja untuk persiapan suatu saat nanti jika kami memiliki baby" cerita Jasson cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalian ini ada-ada saja, kenapa ingin membeli perhiasan coople segala?" cabik Imma heran dengan pikiran menantunya.
"Itu umi, karena Bang Jasson setelah melihat baby Rafael jadi pingin punya beby juga" jujur Fia kepada uminya.
"Nak anggap saja ini hadiah pernikahan kalian mohon jangan ditolak ya, dan ibu doakan dengan memiliki perhiasan coople ini keinginan untuk memiliki momongan akan segera terkabulkan" pinta ibu Maya dengan penuh harap.
"Aamiin" jawab mereka bersamaan.
"Baiklah terima kasih ya Bu" akhirnya Fia menerima perhatian itu walau merasa tidak enak dan sungkan.
Fia membuka kotak berwarna merah dengan perlahan ternyata isinya kalung, gelang, cincin dan anting-anting semua satu pasang setiap itemnya.
Setelah sepasang suami istri pengusaha perhiasan emas dan berlian itu pamit, Fia dan Jasson beranjak ingin ke ruang makan untuk sarapan pagi walaupun sudah menjelang siang, Ken dan Imma bersiap kembali ingin ke rumah sakit datang kembali tamu yang datang ke rumah mereka yaitu Papa Andri Pranoto dan Mama Trisya Hamsah dengan muka yang cemas dan khawatir.
Ternyata tadi malam Jasson sengaja tidak mengabarkan kepada kedua orang tuanya takut mereka khawatir, Jasson hanya bercerita kepada Jessi adik perempuannya, tanpa sengaja pagi pagi cerita saat Jessi akan berangkat kuliah kepada mamanya waktu sarapan, membuat kedua orang tuanya langsung datang ke rumah Ken.
Kembali duduk di ruang tamu Ken dan Imma bercerita kepada besan tentang kejadian tadi malam dan bercerita juga jika mereka mendapatkan bingkisan perhiasan emas dari pengusaha itu sebagai tanda terima kasih.
Setelah hampir setengah jam bercengkerama Mama Trisya Hamsah memperhatikan penampilan Imma yang siap berangkat keluar rumah baru menyadarinya.
"Ngomong ngomong ini umi dan Abi mau keluar ya sebelum kami datang tadi?" Mama Trisya bertanya merasa tidak enak hati karena kedatangannya mereka tidak jadi keluar.
"Tadi rencana kami ingin ke rumah sakit, istri Bang Faro kemarin melahirkan, maaf dari kemarin belum sempat mengabarkan" cerita Imma merasa bersalah karena panik sampai lupa tidak mengabarkan kabar gembira itu.
"Waaaah ayo papa kita kesana bareng umi dan Abi, ngomong ngomong cewek atau cowok baby-nya?" antusias mama Trisya dengan girang dan bahagia.
"Anaknya cowok beby Rafael namanya, mukanya persis seperti Bang Faro, hanya sorot matanya saja yang seperti kak Keke, menggemaskan sekali deh Ma, aku jadi pingin juga punya beby" Jasson bercerita panjang karena sangat antusias ingin memiliki baby.
"Ini sudah hampir waktunya makan siang, sebaiknya makan aja dulu aja jadi nanti disana bisa ngobrol lebih leluasa" nasehat Ken bijak.
__ADS_1
"Betul juga, sebentar saya cek dulu ke dapur bibi sudah selesai belum masaknya" Imma berjalan kearah dapur mengecek bibi yang sedang masak.
Menikmati hidangan makan siang bersama tanpa bersuara sampai selesai, baru dua pasangan besan itu akhirnya berangkat ke rumah sakit dengan beriringan dua mobil dan di kawal oleh empat bodyguard yang menggunakan dua motor gede mengikuti mereka dari belakang, sedangkan Jasson dan Fia kembali ke kamar untuk melanjutkan program memiliki baby.