Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
92. Terjebak di Tawuran Pelajar


__ADS_3

"Cepat kabari bos, kita menuju rumah sakit, sebentar lagi ambulance datang!" perintah bodyguard dengan muka pucat.


Dalam waktu setengah jam ambulance membawa Inneke dan sopir sampai di rumah sakit dan di tangani di UGD, sedangkan Faro, Ken dan Imma datang setelah sepuluh menit kemudian.


"Bagaimana ini bisa terjadi, apa saja kerja kalian?" Bentak Faro dengan sorot mata yang merah karena menahan emosi.


"Bang, sabar jangan keras-keras, ini rumah sakit" Imma memeluk Faro untuk meredam emosinya yang meledak-ledak.


Keempat bodyguard itu hanya berdiri tegak dan menunduk tanpa berani menatap wajah bosnya yang merah padam, tetapi ada salah satu bodyguard yang sedikit terhuyung ke belakang, ternyata ada punggungnya terluka karena terkena sabetan golok pada punggungnya saat melindungi amukan salah satu pelajar yang ingin meringsek masuk ke mobil Inneke.


"Mas kamu kenapa?" tanya bodyguard yang ada disebelahnya.


"Bos punggung mas Tono terkena sabetan golok, darahnya sudah mau mengering ini" lapor bodyguard yang ada disebelahnya.


"Cepat antar masuk ke UGD biar diperiksa oleh dokter" perintah Ken dengan bijak.


Ternyata darah mengalir dan hampir tidak terlihat karena kebetulan mas Tono menggunakan jaket berwarna hitam, dia juga tidak memperdulikan kesehatannya sendiri, yang dia prioritaskan adalah keselamatan bu bos (mas Tono adalah putra dari paman dan bibi penjualan Coto Makassar teman Imma saat muda).


Faro langsung masuk ke ruang UGD bertanya kepada dokter jaga tentang istrinyanya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Faro kepada dokter jaga yang menangani Inneke dan sopir.


"Lukanya sebenarnya tidak parah pak, hanya saja karena syok, istri anda detak jantungnya berdetak lebih cepat, sebaiknya di rawat dua atau tiga hari untuk perkembangan bayi dalam kandungannya, semoga tidak apa-apa" keterangan dokter jaga itu dengan sabar.


"Baiklah lakukan yang terbaik menurut dokter, bagaimana dengan dua orang anak buah saya yang terluka dok?" tanya Faro kemudian.


"Mereka sudah di jahit lukanya, boleh langsung pulang setelah menyelesaikan administrasi mereka" dokter meninggalkan Faro untuk memeriksa pasien yang baru saja tiba.


Dengan di infus pada tangan sebelah kiri, Inneke di pindahkan ke ruang rawat inap diikuti oleh Ken dan Imma dari belakang sedangkan Faro berjalan disamping brankar menggenggam erat tangan Inneke yang tidak di infus.


Sudah di pindahkan ke brankar tempat tidur rawat inap tetapi Inneke tidak terbangun juga membuat Faro sedikit panik.


"Suster kenapa istriku belum bangun juga, ada apa sebenarnya?" tanya Faro panik memandangi istrinya yang tertidur pulas.


"Sabar pak, tadi dokter jaga memang sengaja memberikan obat tidur kepada istri bapak, tujuannya agar istri bapak bisa istirahat sejenak dan bisa menstabilkan detak jantung nya" keterangan salah satu suster yang mengantarkan Inneke keruangan rawat inap.


"Berapa lama istri saya tertidur suster?" tanya Faro lagi sambil duduk disamping Inneke yang tertidur pulas.


"Sekitar empat atau lima jam lagi ya pak" suster itu menjawab lagi dan berpamitan keluar dari ruangan itu.


"Sabar Bang, jangan khawatir istirahatlah Abang belum sempat istirahat dari pagi kan?" Imma dengan lembut memberikan saran kepada Faro.


"Iya umi terima kasih, umi dan Abi juga istirahatlah, jangan terlalu capek" Faro menarik nafas kasar.


"Umi, Abi Abang keluar sebentar ya, tolong tunggu Inneke sebentar" berjalan keluar ruangan setelah uminya menganggukkan kepalanya.


Diluar masih setia empat bodyguard yang berdiri didepan pintu termasuk mas Tono yang tadi terluka di jahit punggungnya yang robek terkena golok.


"Kenapa mas masih disini, pulang istirahatlah biar mereka yang menjaga disini" perintah Faro dengan menepuk pundak mas Tono pelan.

__ADS_1


"Tidak bos, saya sudah baik-baik saja, anda mau kemana?" tanya mas Tono khawatir karena Faro berjalan keluar menjauhi mereka.


"Mau menghubungi seseorang, jaga disini jangan sampai lengah lagi" perintah Faro berjalan menuju kantin rumah sakit.


Membuka handphone mencari nama jenderal Hendro dan menekan tombol hijau setelah mendapatkannya.


"Jenderal bisa tolong Abang, ini Inneke terluka karena insiden tawuran pelajar tadi sore" Faro langsung ke inti permasalahan tanpa berbasa-basi.


"Oke Bang, aku kesana saja, di rumah sakit mana?" jawab jenderal Hendro dalam suara handphone Faro.


"Rumah sakit MH kamar 15" handphone langsung dimatikan oleh jenderal Hendro tanpa mengucapkan salam juga.


Di kantin Faro membeli air mineral, makanan ringan dan dua porsi untuk Abi dan umi, dan empat porsi untuk bodyguard yang menunggu diruang rawat inap.


"Mas Tono ini buat berempat, yang dua porsi dan sebagian camilan tolong untuk Abi dan umi, bilang juga untuk makan duluan" perintah Faro kembali meninggalkan tempat itu menuju ujung lorong untuk menghubungi Mario dan Rendi.


Datang jenderal Hendro bersama Uda Padang dan Pak Kumis keruangan rawat inap Inneke bertemu dengan Ken dan Imma.


"Jenderal, Abang masih diluar sepertinya sebentar dipanggilkan" ucap Ken setelah selesai menyalami tamunya satu persatu.


"Terima kasih bos" Jawab jenderal Hendro singkat.


Ken keluar ruangan memanggil salah satu bodyguard untuk memanggilkan Faro.


"Mas Tono panggil Abang ada tamu sekarang ya" titah Ken hanya membuka pintu sedikit kemudian masuk kembali ke ruangan.


"Bos ada tiga orang tamu mencari anda" mas Tono sedikit berbisik di telinga Faro karena ada rombongan orang yang lewat disebelahnya.


Faro menutup handphonenya dan mengikuti mas Tono berjalan ke ruang rawat inap Inneke, mendorong pintu bergegas masuk.


"Jenderal Hendro, Uda Padang, pak kumis" panggil Faro sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman secara bergantian.


"Kita bicara di luar saja agar tidak menggangu pasien" ajak jenderal Hendro keluar ruangan diikuti oleh Uda Padang dan Pak Kumis.


"Abi, umi, Abang keluar lagi, makan aja duluan nanti Abang tunggu Inneke bangun, jangan sampai umi sakit juga" Faro memeluk uminya dengan hangat.


"Iya Bang, jangan khawatir umi baik-baik saja" Imma membalas pelukan Faro dengan kasih sayang tulus.


Duduk di kursi ruang tunggu yang ada agak jauh dari para bodyguard menjaga ruang Inneke, Faro dan anggota intelejen mulai membahas mengenai kejadian tadi sore.


"Kita sudah melihat CCTV saat tawuran itu Bang, aku kirimkan lewat pesan WA" Uda Padang memegang handphone mengirim rekaman CCTV kejadian tawuran pelajar tadi sore.


Tanpa menunggu lagi Faro membuka handphone dengan cepat, memutar CCTV yang dikirim oleh Uda Padang, diperhatikan dengan seksama bahkan hampir tidak berkedip seperti ada yang janggal dari tawuran itu, ada beberapa orang laki-laki yang ikut tawuran tetapi umurnya lebih dewasa dari anak SMK yang sedang tawuran gumam Faro dalam hati.


"Apakah Abang juga melihat ada orang laki-laki lebih tua dari anak SMK?" tanya Pak Kumis setelah Faro selesai melihat tayangan CCTV dari handphone.


"Iya Pak Kumis, sepertinya ada yang mendalangi tawuran itu, apakah pihak kepolisian sudah menyelidiki kasus ini jenderal?" tanya Faro kesal karena istrinya juga jadi korban tawuran antar pelajar SMK sore tadi.


"Sudah Bang, dalam waktu dua jam kedepan mungkin kita akan mendapatkan informasi dari mereka" balas jenderal Hendro tegas.

__ADS_1


"Tunggu....itu...itu, Uda Padang coba lihat juga CCTV itu" titah Faro dengan membuka lebar-lebar matanya hampir membulat sempurna.


"Sudah mata elang, yang bagian mana yang harus di fokuskan?" tanya Uda Padang diikuti Pak Kumis dan jemderal Hendro mendekati Uda Padang ikut melihat CCTV.


"Itu Uda, ada empat orang laki-laki yang menggunakan seragam putih tetapi celana Levis, apakah jenderal mengenalinya?" tanya Faro kepada jenderal Hendro.


Jenderal Hendro melihat dengan lekat-lekat keempat orang laki-laki yang ditunjuk oleh Faro tetapi kepalanya hanya menggeleng "Tidak ingat Bang, siapa mereka?".


Faro hanya menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan kembali, ingatannya menerawang jauh kebelakang beberapa tahun lalu saat Decha Thanapon berencana menyelundupkan narkoba di kontener saat awal bekerja sama dengan Andri Pranoto tertangkap oleh pihak kepolisian, merekalah anak buah Decha Thanapon yang pernah di penjara selama delapan tahun, tetapi mengapa sekarang mereka bersama dengan anak SMK tawuran.


"Mereka anak buah Decha Thanapon yang seharusnya di penjara selama delapan tahun karena penyelundupan saat bekerja sama dengan Andri Pranoto" keterangan Faro dengan jelas dan gamblang.


"Betulkah, aku sudah lupa dengan wajah mereka, ok aku akan kembali menghubungi inspektur polisi yang menangani kasus ini, ayo Uda Padang, Pak Kumis kita langsung kesana, kita pamit Bang, salam buat umi dan Abi" pesan jenderal Hendro meninggalkan tempat itu bersama Pak Kumis dan Uda Padang.


Selesai mereka pulang Faro kembali ke kamar rawat inap mendekati Abi dan uminya.


"Abi, umi apakah Inneke sudah bangun?" tanya Faro setelah duduk di samping uminya yang bersender di bahu abinya.


"Belum Bang, sepertinya masih tertidur pulas dengan nyenyak" Imma sambil memeluk Faro dari samping.


"Sebaiknya Abi dan umi pulang aja, kasihan umi tidak bisa istirahat dengan maksimal, besok pagi kesini lagi" pinta Faro dengan lembut.


Ken dan Imma akhirnya pulang ke rumah setelah di paksa oleh Faro, kemudian duduk di samping Inneke yang tertidur pulas, memegang erat tangannya dan meletakkan kepalanya di atas brankar samping bahu Inneke terlelap karena sangat ngantuk dan kecapean belum sempat istirahat sama sekali dari pagi.


Baru terlelap sekitar setengah jam ada yang mengusap lembut pipinya, ternyata Inneke bangun dan mendapati suaminya berada di sampingnya terlelap sambil duduk.


"Sayang sudah bangun, apanya yang sakit?" Faro langsung terbangun dan mengangkat kepalanya setelah dibelai lembut oleh Inneke.


"Tidak ada yang sakit Bang, naik sini jangan tidur sambil duduk" titah Inneke menepuk disamping brankar tempat tidur kosong yang ada disebelahnya.


"Abang aja belum sempat mandi, nanti aja tunggu Mario kesini membawa ganti baju Abang dulu" Faro tersenyum sambil mencium jasnya yang dia pakai.


"Iiiih Abang jorok, pantas dari tadi ada yang bau aneh, Oya Bang aku lapar" celoteh Inneke terkekeh.


"Mau makan sayang, Abang juga belum makan dari tadi" tanya Faro mendekati Inneke menciumi punggung tangan Inneke berkali-kali.


"Cumi lada hitam dan udang asam manis" pinta Inneke cepat seolah membayangkan enaknya dua menu makanan itu.


________________


Hai shobat......


jangan lupa like vote dan komentar


serta hadiahnya jangan bosan ya.....


ayo semangat... semangat.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2