Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
43. Lamaran Resmi Imma


__ADS_3

Hari Senin ini adalah seperti hari yang terlahir kembali bagi keluarga Ken karena hari ini hari pertama mereka melakukan aktivitas seperti biasa sebelum terjadinya peristiwa yang sangat membuat perasaan tercabik-cabik bagi yang mengalaminya.


Ken mulai ke kantor, Faro juga, Ezo di antar pak Min sekolah sedangkan si cantik Fia mulai menggunakan mobil sendiri semenjak dia memiliki SIM saat ulang tahun ke 17 dan mendapatkan hadiah mobil Yaris warna pink yang di belikan Faro.


Pagi ini semua sangat sibuk mempersiapkan keperluan masing-masing, termasuk Imma mempersiapkan baju, jas, tas kerja dan dasi juga, saat memakaikan dasi Ken langsung menggelayut manja memegang pinggang Imma dengan mesra.


"Abi sangat merindukan suana seperti ini honey, I love you" ucap Ken sambil mengecup keningnya dengan mesra.


"I love you too, ayo anak-anak sudah menunggu" balas Imma menarik tangan Ken keluar kamar menuju lantai bawah dan ke ruang keluarga.


"Honey, sebentar lagi, Abi masih ingin memeluk lagi dan lagi" protes Ken yang kembali seperti dulu mesum dan candu jika dekat dengan istri tercintanya.


"Jangan merayu pagi-pagi, kasihan Ezo nanti terlambat" Ken dan Imma turun dari tangga dengan bergandengan tangan.


"Cie....cie...umi dan Abi kenapa pagi-pagi sudah membuat mata adik suci dan polos ini jadi ternoda?" goda Ezo melihat mereka bergandengan tangan.


"Wuek...suci darimana, otak sudah kongslet sama cabe-cabean di bilang suci, sudah seperti sampah yang sudah masuk comberan" celoteh Fia kesal melempar sisa roti bakar yang sedang di nikmati oleh keluarga.


"Tidak usah syirik kak dengan pangeran saham Wiguna yang ganteng" cicit Ezo lagi mengingat ucapan abinya yang menyebut sebagai raja saham.


"Sudah aah Abang berangkat dulu, umi nanti Abang pulang siang ya karena pesawat jam tiga sore sudah take off" pamit Faro dengan mencium punggung tangan mereka berdua bergantian.


Diikuti Ezo, dan Fia mencium punggung tangan mereka bergantian dan pamit berangkat dalam waktu yang bersamaan.


"Sayang, jam sepuluh umi ke rumah bu Intan ya bersama Kemmy" ijin Imma mencium punggung tangan Ken saat dia mau berangkat ke kantor.


"Iya hati-hati, ingat jangan kaget kalau ada rombongan salesman yang mengikuti umi" perintah Ken dengan penuh penekanan.


"Memang berapa orang sayang salesman nya?" tanya Imma bergelayut manja di lengan Ken keluar menuju garasi mobil.


"Cuma enam orang, tunggu pak Min, jangan ikut mobil Kemmy, dia aja yang suruh itu mobil umi".


"Iya sayang" Imma hanya pasrah tanpa membantah sepatah katapun.


Kemmy datang pukul sembilan dengan membawa putranya Rinto yang sudah bisa jalan walaupun selangkah demi selangkah sekarang.


"Sarapan dulu aja Sebelum kita kesana, masih ada nasi goreng di meja makan?" ajak Imma menuju meja makan.


"Tidak usah kak, aku mau makan di tempat ibu mertua aja, dia masak gurami bakar hari ini, khusus untuk menyambut kakak" tolak Kemmy duduk di bangku samping meja makan mengambil jus jeruk yang ada disana.

__ADS_1


Di depan ada dua moge yang memimpin, Imma, Kemmy dan Rinto duduk manis dengan pak Min sebagai sopirnya dan di belakang mobil pak Min ada satu mobil lagi yang berisi empat orang bodyguard tetapi memakai baju salesman.


Seperti iring-iringan pejabat yang sedang berkunjung di suatu daerah rombongan Imma padahal jarak antara rumah Imma dan ibu Intan tidak lebih dari satu jam perjalanan,tetapi inilah peraturan yang harus Imma ikuti jika dia ingin keluar rumah.


Tiba di halaman rumah semua rombongan langsung dipersilahkan masuk dari pagi gerbang sudah di buka karena akan ada tamu yang mereka tunggu-tunggu hampir setengah tahun ini.


Setelah Imma dan Kemmy yang menggendong Rinto turun dari mobil, ibu Intan dan bundanya Keke langsung menyambut dengan hangat, cipika-cipiki lalu mengajak duduk di ruang tamu.


"Apa kabar Bu, maaf harus bawa pasukan salesman" kata Imma sambil cipika-cipiki tetapi masih di kelilingi oleh pengawal bahkan pak Min pun juga ikut mengawasi keselamatan majikannya itu, karena dari pengalaman kemarin Ken sengaja mencari pegawai harus bisa beladiri.


"Aku baik, tidak apa-apa kenapa di namakan pasukan salesman?" tanya ibu Intan dengan senyum mengembang memandangi pasukan pengawal yang menggunakan seragam hitam putih berlengan panjang tetapi di lipat sampai siku.


"Penampilan mereka seperti salesman yang sedang menawarkan dagangan dari pintu ke pintu" jawab Kemmy sambil terkekeh geli.


Duduk di ruang tamu berempat saling berhadapan hanya terhalang oleh meja yang berisi makanan ringan, kue dan minuman dingin.


"Bu, aku kesini untuk membicarakan tentang amanah itu, jadi aku berniat melamar cucu ibu untuk putraku" kata Imma langsung pada intinya dan berterus-terang.


"Apakah Abang setuju tentang perjodohan ini, kenapa dia tidak ikut?" tanya bundanya keke dengan hati-hati


"Abang sudah menyerahkan semua urusan pada kita, dia tinggal tunggu kapan akad nikah, karena dia sangat sibuk, hari ini saja dia akan ke Brunai Darussalam untuk urusan bisnis selama lima hari" cerita Imma panjang lebar.


"Bagaimana kalau kita langsung tentukan tanggalnya langsung?" tanya Ibu Intan penuh antusias untuk segera menyatukan keduanya.


"Keke di Malaysia sudah hampir enam bulan ini, mencari pengalaman kerja disana, coba aku hubungi dia dulu, baru nanti kita tentukan tanggalnya" ucap bundanya Keke.


Bunda mengambil handphone dari kantong celananya menggeser nama putrinya dan menekan tombol hijau, tidak tunggu lama, Keke menjawab panggilan bunda.


"Halo Bun, apa kabar?" terdengar suara Keke dari handphone itu karena bunda sengaja menggunakan loud speaker agar semua bisa mendengar percakapan itu.


"Baik nak, kamu kapan pulang, janjinya dulu enam bulan akan kembali?" tanya bunda mengawali pembicaraan serius kepada Inneke.


"Dua Minggu lagi kontrak kerja aku baru selesai Bun, mungkin tiga Minggu lagi baru bisa pulang, karena aku harus menyelesaikan sampai selesai pekerjaan yang akan aku tinggalkan, memangnya apa apa Bun?" tanya Inneke tanpa menyadari jika banyak yang mendengar suaranya di handphone.


"Ini temannya kakek Anton sudah datang melamar kamu nak, apakah kamu sudah siap?" tanya bunda langsung pada intinya.


Sepertinya Inneke kaget dengan perkataan bundanya karena sampai beberapa saat Inneke tidak menjawab pertanyaan itu.


"Halo nak, apakah kamu masih ada disitu?".

__ADS_1


"Ooo ya Bun, maaf atur aja, terserah bunda tentukan kapan tanggalnya, aku ngikut aja" jawab Inneke pasrah tanpa membantah sedikitpun ucapan bundanya.


"Baiklah kalau begitu, kirim KTP, akte kelahiran dan pas Foto sekarang juga ya, jangan di tunda lagi, dan satu lagi, kalau kamu tidak pulang tiga Minggu lagi kamu akan melihat keranda mayat bersama bunga dalamnya" ancam bunda dengan penuh penekanan.


"Bunda ini ngomong apa, dari awal aku sudah ikhlas menerima perjodohan ini Bun, tiga Minggu lagi aku pasti pulang, sudah ya Bun, aku kerja lagi masih di kantor nich" setelah Inneke menutup handphonenya, dalam waktu tidak sampai lima menit persyaratan yang di minta oleh bunda sudah di kirim oleh Inneke.


Setelah mendapatkan informasi tentang kepulangan Inneke tiga Minggu lagi, kemudian Imma, Ibu Intan dan bundanya Keke memutuskan jika satu bulan lagi pernikahan akan di langsungkan.


Karena waktu sudah mepet mereka berencana tidak akan menggunakan tema daerah, akan melaksanakan ijab Kabul pukul sepuluh pagi dan setelahnya akan langsung duduk di pelaminan dengan menggunakan gaun pengantin modern.


Untuk ketering restauran milik ibu intan yang akan menghandle, sedangkan kue akan di tangani oleh Imma kafe, akad nikah akan diadakan di rumah ibu Intan sedangkan resepsi akan diadakan di hotel samping restauran milik ibu Intan.


Untuk rias pengantin akan di serahkan kepada teman bunda yang biasa merias para artis itu kita, dan satu paket dengan band yang akan menghibur para tamu serta fotografer juga sudah satu paket dengan MUA itu, untuk undangan Kemmy yang akan mengurusnya.


Tanpa terasa asyik membahas tentang pernikahan itu sudah hampir jam istirahat tiba, bergegas ibu Intan mempersilahkan untuk menikmati hidangan makan siang bersama termasuk para pengawal menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Selesai menikmati hidangan, Imma langsung berpamitan karena tadi pagi Faro berjanji jika akan pulang makan siang.


Belum sampai di rumah, Faro datang terlebih dahulu tiba di rumah, Faro mencari uminya di setiap sudut rumah tetapi tidak menemukannya.


"Bibi, umi kemana, kok tidak ada di kamar?" tanya Faro kepada salah satu bibi yang ada di dapur.


"Ibu tadi keluar dengan Bu Kemmy Bang, tetapi katanya saat makan siang sudah akan pulang" cerita bibi itu.


Faro begitu khawatir tidak mendapati uminya di rumah, seakan hilang separuh nyawanya, kemudian Faro menghubungi uminya ingin menanyakan dimana posisinya sekarang.


Tetapi belum sempat terhubung, iringan mobil Imma beserta para pengawal masuk di halaman rumah, Faro melihat ada mobil masuk di halaman langsung berlari menuju halaman, memeluk dengan erat uminya yang baru turun dari mobil.


"Abang kenapa, baru pisah tadi pagi, sudah peluk umi seperti ini?" tanya Imma heran melihat putranya memeluknya erat seolah takut terjadi sesuatu pada uminya.


"Abang takut aja, tidak ada umi dirumah" alasan Faro sambil menggandeng uminya masuk ke rumah langsung ke meja makan.


Menemani Faro makan siang sebentar, baru membantu Faro packing baju untuk lima hari kedepan yang akan ke Brunai Darussalam, belum selesai packing Mario sudah datang di antar oleh Ara karena rencananya memang pak Min yang akan mengantar mereka ke bandara.


Mario dan Ara menemui Imma sebentar memperkenalkan Ara kepada nyokap bosnya sebagai calon istrinya.


"Waaah dia calon istrimu nak, cantik banget?" celoteh Imma mengelus rambut Ara yang panjang saat dia mencium punggung tangan Imma.


"Saya Ara Tante salam kenal" balas Ara sambil memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Panggil umi saja biar Mario juga panggil umi, ayo duduk dulu sebentar kita berbincang dulu, bibi bawa jus jeruk ke ruang tamu ya" teriak Imma pada bibi yang ada di dapur.


"ya Bu" bergegas bibi mengambil jus jeruk di bawanya ke ruang tamu lengkap dengan camilan, sekalian menunggu Faro turun dari lantai atas.


__ADS_2