
Menekan tombol hijau dengan nama bunda, sambungan pertama tidak di angkatnya, Faro mencoba sekali lagi siapa tahu diangkatnya gumamnya sendiri dalam hati, hampir lima menit ternyata ada yang mengangkat juga.
"Halo Abang, ada apa jam segini menelpon?" ternyata bukan suara bunda tetapi ayah yang mengangkatnya.
"Ayah.... maaf mengganggu tidur ayah, apakah bunda masih tidur yah?" tanya Faro dengan ragu-ragu.
"Tidak apa-apa, bunda lagi ada di kamar mandi, oooo itu sudah datang, ayah loud speaker ceritakan ada apa?" ayah kembali menjawab dengan suara yang khawatir.
Kemudian Faro menceritakan kejadian aneh yang baru saja terjadi, dan sekarang Inneke masih menangis merengek menginginkan jus stroberi.
"Baiklah nak, coba bunda tanyakan kepada uthi Intan, dalam satu jam kami akan sampai disana" bunda berkata walaupun suaranya terdengar serak masih mengantuk.
"Baiklah Bun, kami tunggu maaf sekali lagi menganggu tidur ayah dan bunda terima kasih" Faro mengakhiri perbincangan melalui telepon.
Bunda berlari ke dapur mengecek stok barang yang ada di dapur basah, disana ada kulkas besar khusus untuk menyimpan stok bahan untuk restauran tetapi sayangnya bunda tidak menemukan stroberi sedikitpun.
Bunda memutuskan membangunkan ibunya untuk bertanya siapa tahu ada stok stroberi di restauran, walaupun akhir-akhir ini restauran di pegang oleh bunda tetapi Uthi Intan masih sering mengontrol ketersediaan bahan baku untuk restauran.
Akhirnya mereka bertiga berangkat ke restauran langsung, dengan membawa kunci cadangan yang di pegang oleh Uthi Intan dan di bantu oleh sekuriti yang bertugas di restauran itu ternyata Alhamdulillah masih ada stok stroberi walaupun hanya setengah kilogram.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju rumah Faro, saat di parkiran mobil ayah iseng mengirim pesan WA kepada Ken dan menceritakan tentang kejadian malam ini, ternyata walaupun hampir jam tiga pagi Ken terbangun dan langsung membaca pesan dan membalas pesan itu segera akan ikut menyusul kesana setelah membangunkan Imma.
Sebetulnya satu Minggu yang lalu Imma sudah curiga tentang keanehan yang terjadi pada Inneke, dan Imma juga bercerita pada bunda tentang kecurigaan itu.
Setelah Imma bangun dan Ken menceritakan jika bunda dalam perjalanan ke rumah Faro, Imma langsung menghubungi bunda.
"Ya halo umi, kami sudah otw ini ada apa?" tanya bunda saat menerima telepon dari Imma.
"Bisa mampir ke apotek 24 jam sekalian Bun,?" pinta Imma sambil berganti baju untuk siap-siap ke rumah Faro.
"Oya betul juga, ini sudah dekat dengan apotek itu, terima kasih idenya, ayah kita mampir dulu ke apotek?" perintah bunda dan sambungan telepon itu berakhir setelah Imma menekan tombol merah.
Bunda, ayah dan Uthi Intan tiba di rumah Faro terlebih dahulu langsung di bukakan gerbang oleh sekuriti karena sudah di beritahu jika orang tua akan datang, saat mereka masuk rumah Inneke langsung menyambut mereka datang tepatnya menyambut stroberi datang karena orang tua datang bukan meraih punggung tangannya untuk bersalaman tetapi stroberi yang Inneke tanyakan.
"Bunda....mana stroberinya" tanya Inneke berlari mendekati mereka.
Faro langsung meraih punggung tangan mereka bergantian mencium punggung tangannya.
"Ayah datang bukannya di sambut, kenapa stroberi yang di sambut?" gemas ayah mengacak rambut Inneke.
Dapur menjadi riuh karena kedatangan orang tua Inneke, ketika bibi Jum dan bibi Narti masuk dapur dengan tergopoh-gopoh dengan sedikit heran.
"Ibu, Abang neng Keke ada apa, kenapa rame banget?" tanya bibi Jum heran.
"Tidak apa-apa bibi, tolong buatkan jus stroberi ya bibi, sekarang" perintah Inneke lembut.
"Tapi neng stroberinya habis" balas bibi stroberi.
"Nich..." Inneke memberikan stroberi yang tadi di pegangnya.
__ADS_1
Bunda membantu bibi Jum membuat jus stroberi sambil menceritakan tentang Inneke kepada bibi Jum, akhirnya bibi Jum juga bercerita tentang kecurigaan yang terjadi pada Inneke akhir-akhir ini.
Selesai jus dibuat Inneke langsung menghabiskan jus itu bahkan sampai dua gelas, tanpa menggunakan jeda waktu.
Datang Ken dan Imma bahkan Uthi Mami dan Akung Papi juga ikut bergabung dengan mereka.
"Abi, umi kok jam segini kesini, tambah Akung dan Uthi ikut juga?" Faro tersenyum melihat kedatangan keluarga tercintanya bergegas mencium punggung tangan mereka bergantian diikuti oleh Inneke.
"Ayah tadi yang menghubungi Abi, kemudian Abi mampir dulu kerumah Akung mengajak kesini" jawab Ken tersenyum manis.
Belum ada pukul empat pagi mereka berkumpul bercengkerama di ruang makan dengan riang, sedangkan Inneke beberapa kali menguap setelah minum jus stroberi buatan bibi Jum dan dibantu oleh bunda.
"Bang, aku ngantuk" bisik Inneke di telinga Faro yang duduk di sampingnya.
"Mau tidur di kamar ayo Abang antar" ucap Faro berdiri dari tempat duduknya.
Bunda yang berada di dapur dekat kompor mendengar Faro akan mengantar Inneke ke kamar langsung mendekati mereka.
"Tunggu Bang, jangan tidur dulu sebelum melakukan tes?" perintah bunda mendekati mereka sambil mengambil tas yang di gantung di kursi meja makan yang di duduki oleh Imma.
"Tes apa sih Bun?" tanya Inneke sambil menguap berkali-kali.
Bunda mengambil test pack dari tasnya di letakkan di atas meja sekitar tujuh jenis test pack dengan merk yang berbeda.
"Apa itu Bun?, buat apa ini?" tanya Faro penasaran, mengambil alat kecil panjang itu membacanya.
"Bunda dan umi sebetulnya sudah curiga dari satu Minggu yang lalu kalau istrimu itu hamil, apalagi setelah bibi Jum tadi juga cerita kalau dia juga menduga sama, ayo coba kita tes sebentar" panjang bunda menjelaskan.
Karena mendengar kemungkinan hamil, ngantuk Inneke seakan menguap hilang dan membuat matanya berbinar dan ikut senyum dengan bahagia.
"Tapi kenapa banyak banget ini ada tujuh test pack nya?" cabik Inneke sambil menghitung test pack.
"Tidak apa-apa, setiap alat akan memberikan informasi berbeda-beda, karena keakuratan alat itu berbeda, ayo sana ke kamar mandi, nanti kita bisa pegang satu-satu alatnya, malah seru" Imma yang menggandeng Inneke ke kamar mandi samping dapur.
Faro akhirnya ikut masuk kamar mandi menyusul Inneke, mengikuti cara pemakaian test pack itu dengan baik bahkan tujuh alat itupun sudah selesai mengenai urine, kemudian di serahkan kepada mereka yang menunggu di depan pintu kamar mandi.
Bunda, umi, Uthi Mami, Uthi Intan, ayah, Abi dan satu lagi di pegang Inneke dan Faro, setelah menunggu beberapa menit dengan tegang satu persatu tanda garis itu mulai muncul tetapi dengan warna yang berbeda hanya ada empat test pack yang menunjukkan hari garis dua, yang dua hanya garis satu dan yang satu lagi hanya garis yang samar.
"Bang, kita akan menjadi orang tua, apakah Abang bahagia?" tanya Inneke dengan berkacamata ingin menangis,
"Tentu sayang itu yang Abang tunggu-tunggu, ada suara tangisan bayi di rumah ini secepatnya" balas Faro memeluk Inneke dengan mesra.
Karena adanya perbedaan dari test pack Sehingga membuat mereka semakin ramai berdebat, terutama Abi dan ayah karena test pack yang mereka pegang berbaris satu.
"Tapi Bang, ini yang Abi dan ayah pegang cuma garis satu, berarti negatif dong?" cabik Ken menunjukkan test pack itu kepada Faro.
"Bagaimana jadinya ayah, Abi ini mana yang betul, hamil atau tidak Abang jadi bingung?" Faro bingung dengan perdebatan antara mereka.
"Secara jumlah saja garis dua yang menang Bang, atau buat janji saja pagi ini dengan dokter kandungan" Umi sangat antusias.
__ADS_1
"Selamat ya sayang sebentar lagi Abang akan menjadi ayah" uthi Mami memeluknya dengan erat.
Faro kemudian duduk Kembali di kursi meja makan diikuti Inneke duduk bersandar di pundaknya karena kantuk mulai datang kembali.
"Yang Akung Papi pegang bagaimana?" tanya Uthi Mami mendekati Papi Bastian yang duduk di Hambal dekat meja makan yang di gelar oleh bibi Jum.
"Garisnya tidak jelas hanya samar-samar aja, coba lihat" Papi Bastian menunjukkan test pack itu kepada mami Winda.
Sedangkan semua sedang berdebat tentang kehamilan Inneke, tetapi yang dibicarakan tertidur pulas di pangkuan Faro dengan muka menghadap ke perutnya dan tangan melingkar sempurna di pinggangnya.
"Tapi ngomong-ngomong dimana Keke, kita sedang berdebat tentang dia kok dia menghilang?" tanya ayah sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Inneke.
"Dia ada disini, lagi tertidur pulas di pangkuan Abang" Faro menunjuk dan menunduk kearah pangkuannya.
"Bawa aja ke kamar sana!" perintah Imma dengan lembut.
Faro menggendong Inneke dengan bridal ke kamar menggunakan lift, tidak di pungkiri hatinya saat ini sangat bahagia, jika benar Inneke sedang hamil saat ini, setelah di baringkan di tempat tidur menyelimuti tubuhnya sampai di lehernya, mengirim pesan kepada Mario untuk membuatkan janji bertemu dokter spesialis kandungan pagi ini, dan meminta untuk menghendel semua pekerjaan hari ini karena tidak ke kantor.
Bergabung kembali dengan orang yang di sayanginya di ruang keluarga, ternyata mereka masih berdebat tetapi kali ini yang mereka ributkan adalah panggilan apa yang akan anaknya Faro nanti kepada mereka.
"Panggilnya grani aja biar terlihat keren dan modern" usul bunda dengan cengar-cengir.
"Tidak, aku maunya pagan dan macan" celoteh Ken tidak mau kalah.
Semua melihat ke arah Ken yang mengucapkan kata yang tidak mereka mengerti.
"Apa itu artinya sayang kok aneh?" tanya Imma penasaran dengan mengerutkan keningnya berpikir tetapi tetap tidak tahu artinya.
"Pagan itu singkatan dari Opa ganteng dan macan itu singkatan dari Oma cantik" jawab Ken cepat.
"Aaaah Abi, sangar banget di panggil macan nanti cucu kita lari terbirit-birit kalau tahu ada macam datang, cari ide yang lain saja" tolak Imma sedikit kesal karena akan di panggil macan.
Akhirnya mereka tertawa terbahak bahak saat Imma protes dengan alasan yang masuk akal, sedangkan Faro hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah orang-orang yang dia sayangi begitu antusias menyambut kehamilan anak dan menantunya padahal belum pasti apakah Inneke hamil ataupun tidak.
"Begini saja, kalau memang Istriku hamil, sebaiknya nanti panggil dengan bahasa Jepang, Sofu untuk kakek dan sobo untuk nenek bagaimana?" Faro menengahi perdebatan mereka dan semua menyetujui panggilan itu.
___________________
Keluarga kami masih disini
tetapi Alhamdulillah kata dokter
tinggal pemulihan dan tunggu tes PCR kedua
terima kasih atas doa sahabat semua
kami sudah pulih seperti sedia kala.
__ADS_1
terima kasih I love you all.