
Setelah mendapatkan informasi jika Ramos Sandara mendapatkan informasi tentang penembakan pada putra angkatnya, Theo Thanapon terbang langsung dari Thailand ke Indonesia dengan menaiki pesawat komersil dari bandara internasional Suvarnabhumi Bangkok Thailand menuju bandara internasional Soekarno Hatta dengan perjalanan selama hampir empat jam.
Ramos Sandara langsung menjemput Theo Thanapon setelah mendengar bahwa bosnya akan segera tiba di bandara internasional Soekarno Hatta.
"Bos...kami disini" panggil Ramos saat melihat Theo Thanapon keluar bersama Decha Thanapon putranya.
Theo Thanapon dan putra angkatnya mendekati Ramos beserta dua pengawalnya di depan pintu keluar bandara.
"Kita langsung ke markas besar saja" perintah Theo dengan tegas.
Ramos dan dua pengawalnya mengikuti kedua bosnya itu dari belakang sampai di parkiran, melaju membelah jalanan ibukota Jakarta dengan kecepatan sedang sampai daerah kota tua Jakarta dimana markas itu berada.
Setelah mandi membersihkan diri kemudian mereka makan siang, baru menuju kantor yang biasa di tempati oleh Ramos Sandara.
"Ini ada dua foto dua meter dari TKP saat kejadian saat itu" ucap Ramos kepada Theo Thanapon sambil mengulurkan tangannya memberikan dua foto itu.
"Yang sengaja tidak di laporkan saat di TKP adalah seorang laki-laki muda itu dan putranya, sedangkan laki-laki muda itu di ganti dengan Letnan Agung pada saat itu, serta putranya tidak dilaporkan juga" cerita Ramos panjang lebar.
Theo dan Decha Thanapon mengamati kedua foto itu dengan seksama, memang sepertinya itu ayah dan putranya.
"Siapa dia Ramos?" tanya Theo Thanapon penasaran.
"Ini biodatanya bos, namanya Kenzie Wiguna pimpinan perusahaan ternama di Indonesia yaitu PT WIGUNA GROUP, dan putranya itu sekarang memegang salah satu cabang yang ada di Jakarta juga" keterangan Ramos lagi.
Theo membaca biodata lengkap Kenzie Wiguna dengan teliti, memiliki satu istri, dua putra dan satu putri.
"Menurut kamu, apa kelemahan dari pengusaha ini?" tanya Decha Thanapon kepada Ramos.
"Putrinya kelas dua belas SMU dan istrinya, bos" jawab Ramos cepat.
Theo begitu marah, kenapa begitu lama untuk menemukan informasi ini gumamnya dalam hati, dengan mengeratkan giginya Theo mengepal kuat.
"Kamu sudah menyelidiki di mana putrinya sekolah Ramos?" tanya Theo lagi.
"Sudah bos, kami sudah mengawasi putrinya dua hari yang lalu" dengan cepat Ramos membalas pertanyaan Theo Thanapon.
"Baiklah pulang sekolah besok culik gadis itu" perintah Theo lagi.
"Siap bos" jawab Ramos Sandara cepat.
Targetnya adalah Safia Anjani Wiguna gadis periang nan manja, putri pasangan dari Kenzie dan Imma.
Karena waktu jarak antara kedatangan Theo Thanapon dengan penyelidikan keluarga Kenzie Wiguna tidak lama, sehingga kurang komplit dan kurang akurat informasinya, inilah kecerobohan dari seorang Ramos Sandara.
**************
Keesokan harinya si ceria Fia menunggu jemputan di depan sekolah hampir satu jam, tetapi Pak Rudi sang sopir tidak terlihat batang hidungnya, karena sedikit kesal, Fia keluar dari lingkungan sekolah untuk mencari angkutan umum atau taksi, berdiri di jalan yang sudah sedikit sepi karena sebagian siswa SMU itu sudah pulang.
Dari kejauhan ada dua orang berbadan tegap mendatangi Fia perlahan, sedangkan Fia yang mencurigai dua orang itu, sudah memasang kuda-kuda dengan kokoh.
Saat kedua orang itu mendekati Fia dan mencoba menariknya, spontan Fia mundur beberapa langkah.
"Hai....anak kecil, sebaiknya kamu ikut kami secara baik-baik!" Perintah salah satu orang itu.
Tanpa menunggu lama Fia mengambil ancang-ancang untuk menendang ************ dengan keras.
__ADS_1
"Hyaaaaaat....."
"Aduh......eee ini anak nekat juga, kemari lo!".
Orang itu tersungkur dengan posisi duduk di atas aspal.
Salah satu orang yang di tendang tadi bangun, menyeringai dan melotot menatap Fia kemudian mendekati lagi.
"Emang gue takut....maju lo....pak tua" ejek Fia lagi bersiap siap menunggu serangan lawan.
Karate Fia tidak bisa di pandang remeh Walaupun badannya kecil di banding dengan lawannya dua orang laki-laki yang berbadan tegap, Fia tetap berusaha pelawan, guru karate Fia adalah abangnya sendiri, sudah pasti tidak bisa di pandang sebelah mata.
Fia tetap semangat walau di keroyok satu lawan dua, dengan tendangan dan elakan serta pukulan di ayunkan pada lawan tanpa merasa takut.
"Hyaaaaaat....hak.......huk"
Ada seorang pemuda yang lewat di jalan itu, diawasinya sebentar, kemudian pemuda itu memarkirkan mobilnya agak jauh dan berlari mendekati Fia yang di keroyok satu lawan dua orang.
"Hai... pengecut beraninya lawan perempuan" kata pemuda itu.
Setelah bergabung pemuda itu, akhirnya satu lawan satu, Walaupun tidak mudah, saling baku hantam dan menyerang, bisa dikatakan seimbang perlawanan mereka.
Satu persatu datang orang yang lewat tempat kejadian itu untuk membantu, juga sekuriti SMU telah datang karena mendengar suara ribut-ribut yang ada di depan sekolah.
Datang mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi berhenti di dekat mereka dengan mendadak mengerem, dan keluar dari mobil itu.
"Neng....maaf neng Fia, datang terlambat" pak Rudi jemputan Fia tergopoh-gopoh mendatangi pertarungan itu.
Akhirnya kedua orang yang menyerang itu memutuskan untuk pergi dari situ dengan berlari menjauh dari mereka.
"Aku baik-baik aja, terima kasih sudah membatu, namaku Fia" balas Fia menerima uluran tangan untuk bersalaman.
"Neng... maaf, tadi ban mobilnya pecah, baterai handphone bapak juga habis" alasan pak Rudi mendekati mereka berdua.
"Tidak apa-apa pak, ayo kita pulang, permisi ya Bang Jasson kami pulang dulu" pamit Fia meninggalkan Jasson yang berdiri mematung memandangi wajah Fia masuk mobil.
"Tapi...eee baiklah sampai ketemu lain waktu" ucap Jasson. dengan kecewa.
Jasson hanya mematung memandangi mobil yang di tumpangi oleh Fia sampai tidak terlihat, dia hanya bergumam sendiri padahal ingin berbincang sebentar atau sekedar minta nomor handphone tetapi tidak ada kesempatan, akhirnya Jasson berlari kecil menuju mobilnya dan melaju kembali meninggalkan tempat itu dengan sedikit kecewa.
Sedangkan di dalam mobil Fia membersihkan roknya yang kotor terkena aspal tadi, dan ada robek sedikit di kemeja seragam sekolahnya.
"Kok sampai bisa robek begitu neng, kemejanya, siapa orang yang menyerang neng Fia tadi?" tanya pak Rudi.
"Entahlah pak, Fia juga tidak tahu, untung ada si Abang tadi yang bantu" jawab Fia sedikit meringis menahan tangannya yang ketendang oleh salah satu orang yang menyerangnya tadi.
"Apakah tangannya terkilir neng, kita ke klinik dulu ya?" ajak pak Rudi khawatir.
"Tidak usah pak, kita pulang aja" perintah Fia lagi.
Sampai di rumah Fia berjalan dengan sedikit pincang, karena rasa sedikit ngilu pada kaki sebelah kanan.
Imma yang melihat putrinya terpincang-pincang, kemeja seragam robek, rok yang kotor langsung berlari mendekatinya dengan cepat.
"Kakak.... kenapa....kok berantakan begini penampilannya, apakah kakak habis kelahi, dimana?" Imma memberondong pertanyaan kepada putrinya karena sangat khawatir.
__ADS_1
"Pak Rudi......kemari....!" teriak Imma dengan suara keras.
"Umi... jangan khawatir, kakak baik-baik aja, sebentar nanti Kakak ceritakan, tetapi duduk dulu ya" jawab Fia sambil tersenyum agar tidak terjadi khawatir.
Pak Rudi berlari mendekati majikannya itu dengan rasa penyesalan karena datang terlambat menjemput pulang dari sekolah.
"Maaf Bu, tadi ban mobilnya kempes, jadi saya terlambat menjemput neng Fia" keterangan pak Rudi dengan menundukkan kepala.
"Apakah sudah di tambal ban mobilnya?" tanya Imma lagi.
"Belum Bu, tadi saya hanya ganti ban serep aja, masih ada di mobil ban yang kempes, ada paku besar Bu, lebih baik di belikan ban baru aja" saran pak Rudi lagi.
"Ya sudah, pak Rudi makan dulu aja, biar Abang Faro nanti yang akan mengganti ban mobilnya".
"Ya Bu, permisi..." pak Rudi keluar dari ruang tamu menuju dapur untuk makan siang walaupun sudah terlambat.
"Nak, mana yang sakit?, sebentar umi ambilkan makan ya".
Kemudian Fia menceritakan kejadian di jalan dekat sekolah itu, termasuk seorang pemuda yang bernama Jasson yang membantu melawan dua orang laki-laki itu.
Imma berlari mengambilkan makan untuk Fia, dan menyuapi dengan telaten, walau Fia menolak untuk di suapi tetap Imma bersikeras, menyuapinya.
"Umi... kakak baik-baik saja, makan sendiri aja gin, kayak anak kecil aja" protes Fia kesal.
"Sudah kakak diam aja, turuti umi" perintah umi lagi.
Setelah selesai makan Fia membersihkan diri di kamarnya sendiri, berbaring di tempat tidur untuk istirahat, sedangkan Imma menghubungi Ken dan Faro tentang kejadian itu.
Tidak lama kemudian Ken pulang ke rumah mendengar putrinya di serang orang yang tidak di kenal, setengah jam kemudian Faro juga datang dengan begitu khawatir mendengar adik kesayangannya mengalami hal yang tidak diinginkan.
Ken melihat putri cantiknya istirahat dengan tenang, merasa sedikit lega, sedangkan jiwa intelejen Faro mulai berjalan, yang pertama-tama Faro kerjakan adalah meneliti ban kempes yang terkena paku, paku itu ukurannya lumayan besar, sehingga memang ada kesengajaan agar mobilnya di hambat untuk tiba di sekolah.
Ban mobil itu Faro bawa dan di masukkan ke mobilnya untuk di selidiki lebih lanjut, berpamitan kepada Ken untuk pergi ke markas intelejen.
"Abi, kemana umi?, Abang mau ke markas sebentar, ada yang mencurigakan Abi, tolong jangan bilang ke umi, nanti malah umi khawatir, bilang aja Abang mau kekantor?" tanya Faro dengan sedikit berlari menuju ke halaman rumah mendekati mobilnya.
"Ya Bang, hati-hati, nanti Abi sampaikan kepada umi"
Ken masuk ke dalam kamar Fia, menyusul Imma yang sedang memandangi wajah putri cantiknya tertidur pulas dengan sangat khawatir.
"Honey..... tidak usah khawatir terus, ayo kita keluar, biarkan putri kita istirahat dulu" ajak Ken dengan lembut kepada Imma.
Imma berdiri dalam pelukan Ken berjalan keluar kamar Fia perlahan, agar tidak membangunkan putrinya yang tertidur pulas.
"Kakak itu sering berlatih sama Abang dan adik Ezo, fisiknya kuat, walaupun dia wanita tetapi cukup tangguh percayalah" nasehat Ken untuk tidak khawatir pada putrinya.
Kejadian itu cepat sekali beredar di media sosial dan televisi nasional pun ikut meliputnya, seperti roket melesat cepat dari porosnya.
**************
jangan lupa like vote dan komentar serta
hadiahnya, untuk give away nanti.
siapa tahu keberuntungan ada pada sahabat.
__ADS_1
terima kasih