Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
123. Terjengkang


__ADS_3

"Bruuuk...aduh sayang, pinggang Abang" Faro terjengkang dari sofa dengan posisi terlentang.


Mau tertawa tetapi kasihan, tidak ditertawakan Faro terjengkang dengan posisi yang lucu bahkan tanpa sehelai benang melekat ditubuhnya, dengan sekuat tenaga menahan tawa Inneke dengan cepat memakai baju dan membantu suaminya bangun.


Lebih lucu lagi karena teriakan Faro tadi membuat Rafael terbangun dan mencari suara papinya yang tidak terlihat dari pandangannya, perlahan turun dengan badan tengkurap melorot kaki kanannya terlebih dahulu.


"Pi...Pi...Mi...Mi.." Rafael mendekati papinya yang mulai duduk di bantu oleh Inneke.


"Eeeee El turun sendiri ya?" tanya Faro kaget dan menyambar kaosnya yang berada disisi dia terduduk, ditutupkan pada kobranya yang masih tegak berdiri.


Karena tidak tahan menahan tawa Inneke tertawa lepas diikuti oleh Rafael yang berjingkrak jingkrak tertawa melihat papinya yang meringis kesakitan, dikira Rafael papinya sedang mengajak bercanda.


"Tega yaaa, Papi kesakitan malah ditertawakan, kompak lagi berdua" cabik Faro mengerucutkan bibirnya dengan muka masam.


"Maaf Papi, cepat pakai celananya, lihat Rafael tertawa terus melihat Papi seperti itu".


Inneke membantu memakaikan celananya yang berada disamping Faro, tetapi dengan usil Rafael menarik celana itu sambil tertawa lepas, terjadi tarik-menarik antara Faro dan Rafael akhirnya Faro jadi ikut tertawa terbahak, Rafael semakin senang dan ikut tertawa dengan berjingkrak.


"Gantengnya Papi lepaskan celana Papi, pinggang Papi sakit" Rafael melepas celana Faro, bergegas Faro menaikkan celananya, duduk disofa sambil meringis.


"Papi ayo berbaring di tempat tidur agar tidak sakit pinggangnya" dibantu Inneke berjalan memeluk Faro disebelah kanannya perlahan, sedangkan Rafael ikut memegang tangan kiri Faro dengan sabar.


"Waaah gantengnya Papi pintar sekali ya, bantu Papi sampai tempat tidur ya sayang" Faro tersenyum manis ternyata putranya yang baru berumur satu tahun sudah memilki empati dan mengerti jika papinya sedang sakit.


Berbaring terlentang ditempat tidur dengan sedikit meringis kesakitan, Rafael mencoba menaiki tempat tidur dengan cara badan depan ditempelkan dipinggiran tempat tidur dan telah kaki kanannya naik diikuti kaki kiri, akhirnya berhasil duduk disamping Faro.


"Yeeeee...!!!" Rafael tepuk tangan dengan riang karena berhasil naik tempat tidur sendiri, Rafael ada dipinggir tempat tidur akhirnya Faro mengangkat Rafael di sisi lain yang dekat dengan tembok.


"Auuuh, sakit" keluh Faro lagi, Rafael hanya terdiam memandangi wajah Faro yang meringis.


"Ada apa lagi Papi?" Inneke berlari mendekati Faro kembali tadi niatnya ingin mengambilkan minyak tawon untuk dioleskan di pinggangnya.


"Ini ngangkat El dari sini kesini, tapi sakit lagi" Faro menggerakkan tangannya dari kiri ke kanan tempat tidur.


"Apakah sakit banget, Papi mau dipanggilkan dokter atau tukang urut?".


"Panggil Mario aja di kamar sebelah, tidak usah telepon aja".


"Pi..mi, um mum" Rafael berceloteh lagi memeluk Papi dengan erat.


"Iya terima kasih sayang, putra Papi memang pintar" tersenyum dan mengelus pipi Rafael dengan lembut.


Inneke menelepon Mario hanya singkat saja setelah bersambung "Bang kesini sekarang" langsung ditekan tombol merah tanpa memberi waktu Mario untuk menjawab karena Inneke ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Hanya dalam hitungan menit Mario datang dengan berlari kecil masuk ke kamar bosnya.


"Ada apa bos?" Mario berhenti di tengah tengah antara tempat tidur dan pintu masuk karena melihat Faro hanya mengenakan celana bokser tanpa mengenakan kaos.


"Malah bengong, pinggang gue sakit, bisa panggilkan dokter atau tukang urut, tunda besok pagi aja pulangnya, bilangin seluruh keluarga" titah Faro sambil meringis.

__ADS_1


Mario meraih handphonenya yang ada dikantong, tetapi memiringkan kepalanya, menatap lekat lekat Faro karena pengambilannya hanya mengenakan celana bokser.


"Sebenarnya bos kenapa bisa sakit pinggang?" Mario sudah mulai curiga sepertinya bos bucin kronis itu habis main kuda-kudaan.


"Jatuh dari sofa" jawab Faro singkat.


"Sofa itu fungsinya untuk duduk kenapa bisa terjatuh atau jangan jangan bos lagi main--" Mario belum sempat melanjutkan ucapannya sudah dilempar bantal oleh Faro.


"Diam lo, ada Rafael" sahut Faro diikuti suara tawa renyah Rafael karena melihat bantal melayang tepat mengenai wajah Mario.


"Ha ha ha ha dasar bucin kronis main tidak lihat tempat" tambah keras suara tawa Mario diikuti Rafael ikut tertawa juga.


"Ok sebentar gue ngomong bos besar aja, tapi pakai CD dan kaos elo dulu, nanti ketahuan orang pasti diketawain terjengkang gara gara main----- " Mario tidak melanjutkan ucapannya berbalik badan keluar kamar untuk memanggil Ken atau Imma.


Tidak berselang lama datang Ken, Imma dan Fia yang perutnya mulai terlihat membuncit serta Jasson yang selalu menempel pada istrinya.


"Abang kenapa?" Imma yang awalnya terlihat khawatir, tetapi setelah melihat Rafael yang ceria sedikit tersenyum.


"Jatuh dari sofa umi, pinggang Abang sakit" jawab Faro lirih.


Ken dan Jasson yang sepertinya memahami situasinya, karena sofa yang pendek tetapi Faro terjatuh sampai sakit pinggang.


"Waah Abang ini mencurigakan, seperti apa posisinya jatuh, sofa sependek itu bisa sampai kesakitan" cicit Jasson melirik Inneke yang tertunduk malu tidak berani memandang Jasson atau Ken.


"Diam lo uncle, tidak lihat ada keponakan duduk manis disini, jangan dicemari dengan bahasa elo yang absurt" Faro kesal sepertinya semua orang bisa membaca apa yang terjadi.


Ken tertawa lepas karena mendengar jawaban dari Faro kemungkinan tebakannya tepat.


Mario dan Rendi masuk kamar Faro bergabung dengan Jasson, Imma dan Ken, sambil tersenyum defil sepertinya Mario sudah cerita tentang apa yang menimpa Faro barusan.


"Coba umi periksa sebentar, perlu dokter atau tukang urut, miring bisa Bang" perintah Imma.


Dengan perlahan Faro memiringkan badannya membelakangi Imma meraba dengan pelan pelan.


"Apakah disini sakit Bang?" tanya Imma sambil menggerakkan tangannya dipinggang Faro bagian belakang.


"Tidak umi" jawabnya singkat.


"Panggil tukang urut aja, diurut paling sembuh" Imma berdiri dan duduk kembali dipinggir tempat tidur.


"Tapi laki-laki ya umi yang urut, Abang tidak mau kalau perempuan" cabik Faro cengar-cengir.


"Abi tahukah tentang tukang urut laki-laki, kalau langganan umi ya perempuan?" Imma mendekati Ken yang berdiri sambil dan melipatkan tangannya diperutnya, dan Ken hanya menggelengkan kepalanya.


Rendi jadi teringat dengan Cinta wanita jadi-jadian yang lemah gemulai, biasanya dia banyak tahu tentang masalah seperti itu.


"Coba hubungi Cinta aja, siapa tahu dia punya koneksi tentang tukang urut laki-laki" saran Rendi yang tetap cool berdiri di samping Ken.


"Siapa yang punya nomor handphone Cinta, gue tidak punya?" Mario menjawab karena Faro dan Rendi menatapnya bersamaan.

__ADS_1


"Dia kan karyawan bibi elo, coba tanya sana dasar loading" Rendi memukul lengan Mario dengan keras.


"Sakit gelo" Mario mengusap lengannya sambil keluar kamar memanggil istrinya yang berada di samping kamar Faro.


Dalam waktu sepuluh menit Mario kembali ke kamar Faro dan mengabarkan jika Cinta dan tukang urut laki-laki yang diminta Faro sudah otw menuju resort.


Inneke merasa lega setelah ada yang akan datang untuk bisa meringankan sakit pinggang suaminya, berpamitan keluar untuk mencari Rafael karena waktunya menyusu, akhirnya Imma juga ikut keluar kamar bareng Inneke untuk bergabung membantu menyiapkan makan malam bersama.


Dengan sedikit usil dan tersenyum defil Mario mendekati Faro meraba celana boksernya bagian karet.


"Apakah sudah dipakai **********?" berbisik ditelinga Faro tetapi didengar oleh semua orang yang ada di kamar.


"Berarti kecurigaan Abi betul ya, Abang jatuh dari sofa karena sedang main kuda-kudaan?" seloroh Ken tertawa lepas diikuti oleh semua yang ada di kamar itu.


"Abi, tega banget ngeledek Abang" dengan mengerucutkan bibirnya Faro pura-pura merajuk.


"Tadi gue juga berpikir seperti Abi lo Bang, ternyata betul hehehe" Jasson juga ikut menimpali Abi Ken.


"Tapi betulkan, bagaimana bisa jatuh terjengkang?" desak Mario sambil melihat posisi sofa yang masih memunggungi tempat tidur.


"Iya sih, gue terjengkang karena lupa kalau tempatnya sempit, saat selesai mau merebahkan badan ternyata kosong dan langsung terjun ke lantai" cerita Faro sambil cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal diikuti gelak tawa bersama.


"Terus kenapa posisi sofa seperti itu, seharusnya ada di sebelah sana?" tanya Rendi yang melihat posisi sofa jauh dari posisi sofa yang lain.


"Itu karena kami tidak ingin Rafael yang sedang tertidur pulas terganggu dengan kegiatan orang tuanya" celoteh Faro lagi.


"Dasar bucin kronis, main kuda-kudaan tidak tau tempat dan waktu" kesal Mario lagi.


Hampir satu jam mereka bercanda ria sampai tukang urut laki-laki teman Cinta tiba di kamar Faro.


"Waaaah para Papa ganteng berkumpul disini semua, gue jadi bingung mau pilih yang mana?" celoteh Cinta dengan mengibaskan tangannya berjalan lenggak-lenggok mendekati tempat tidur Faro.


"Siapa yang mau sama elo, tuuh kejar bos gila si Rendi, dia aja yang mau sama elo" Faro melempar bantal kearah Cinta tepat mengenai pantatnya yang rata.


"Eeeee kodok buntung, cicak loncat" latah Cinta kaget karena ada bantal yang melayang.


"Sembarangan, siapa yang mau sama kodok buntung seperti dia, lihat aja sudah geli gue" celoteh Rendi dengan kesal.


"Ayo kita keluar dulu, silahkan Pak itu yang berbaring yang minta diurut" Ken mengajak semua keluar kamar agar tukang urut laki-laki itu bisa memulai mengurut pinggang Faro.


"Mario panggil Istri gue kesini" titah Faro setelah mereka ingin keluar kamar.


"Siap bos, laksanakan" Mario mengacungkan jempolnya berjalan keluar kamar bersama.


Cinta yang melihat ada Jasson yang berjalan disamping Ken dan seolah olah memang sengaja menghindar darinya.


"Ternyata ada Abang susu disini" Cinta melangkah mendekati Jasson cepat, sedangkan Jasson terpaksa memutari Abi Ken agar tidak disentuh oleh Cinta.


"Apa itu Abang susu, emang elo jualan susu Jasson?" tanya Rendi tertawa lepas.

__ADS_1


"Kagak, kemarin gue ketemu dia saat gue mau beli susu hamil buat Fia" cerita Jasson berjalan menghindari Cinta yang terus berjalan mengejarnya.


"Abang ganteng jangan menghindar terus, susunya masih disini" Cinta menggoyangkan badannya menggoda Jasson, dan diikuti gelak tawa bersama.


__ADS_2