
"Mengganggu aja, halo!!!" ucap Faro kesal.
"Bos....bos.. tolong bini gue ada di rumah sakit, sekarang gue ada di UGD" teriak Mario panik.
"Ok gue kesana sekarang"
Dengan berat hati Faro tidak melanjutkan kegiatannya padahal sudah di ubun ubun gairah itu dirasakan, turun dari tempat tidur memunguti baju yang sudah berserakan entah kemana.
"Ada apa Bang, siapa yang berteriak teriak di telepon tadi" tanya Inneke duduk mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun dibadannya.
"Suara Ara sepertinya dia mau melahirkan, tapi tadi yang telepon Mario, Ara tidak tahan kesakitan" keterangan Faro memakai jaket mencari dompet dan kunci mobil.
Wajah kecewa itu Faro lihat seperti beberapa Minggu ini, Faro hanya bergumam sendiri walaupun dia tidak pernah berani jujur sebenarnya juga menahan rasa tetapi apa boleh buat, tidak hanya laki-laki yang butuh gelora cinta tetapi karena menganggap tabu sehingga jarang jujur dengan pasangan lebih memendam rasa sendiri tetapi Faro bisa membaca jelas diraut wajah istri tercintanya
"Sayang maaf kita lanjutkan lagi nanti ya, Abang ke rumah sakit dulu" Faro mencium bibir Inneke sekilas.
"Iya Bang, maaf tidak bisa ikut, kabari nanti kalau sudah sampai sana ya, jangan lupa kabari bunda atau umi, kasihan kak Ara" Inneke berpesan dan turun dari tempat tidur mengenakan baju kembali dan mengantarkan Faro sampai depan pintu.
"Maaf sayang, sekali lagi maaf kita lanjutkan lagi nanti ya, Abang janji nanti Abang bayar dobel kalau perlu tripel" kembali Faro mencium bibir Inneke dengan lembut.
"Itu mah maunya Abang, dasar mesum" Inneke mengerucutkan bibirnya sambil cemberut. Waktu belum terlalu malam baru pukul sepuluh malam saat Faro mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, tetapi sesekali masih ada daerah yang macet walaupun masih dalam tahap wajar.
Empat puluh lima menit Faro tiba di rumah sakit tetapi saat berjalan ke UGD ada notifikasi pesan WA dari Mario jika Ara sudah di pindahkan keruang bersalin.
"Elo dimana gue sudah ada didepan ruang bersalin?" Faro membalas pesan Mario.
Faro mendengar teriakkan Ara dari ruang bersalin, rupanya dia memang tidak tahan sakit, saat Inneke dulu melahirkan hanya mendesah lirih saja, tetapi teriakan Ara terdengar sampai luar ruangan, Faro mendengar teriakkan itu jadi merasa ngilu sendiri.
Akhirnya memutuskan untuk menghubungi umi atau bunda, ternyata ada bapak yang dari tadi berdiri mematung disamping pintu.
"Bang, ini aku disuruh mengurus administrasi, tetapi bingung harus bagaimana?" Bapaknya Mario memberikan KTP dan kartu kesehatan.
"Biar Abang saja Pak, tunggu sini nanti ada bunda dan umi yang datang sebentar lagi" bapak hanya mengangguk dengan raut wajah yang pucat karena mendengar suara Ara yang dari tadi teriak teriak tidak tahan sakit.
Hampir seperempat jam Faro selesai mengurus administrasi, saat ada telepon masuk tanda dikenali namanya.
"Halo apakah ini bosnya Mario, Faro Sanjaya Wiguna?" tanya suara dalam handphone yang tidak begitu asing bagi Faro.
"Ya betul, ada yang bisa dibantu?" jawab suara wanita paruh baya yang belum diingat oleh Faro.
"Saya mommy nya Ara, tadi saya mendapatkan pesan dari Mario, tetapi saya hubungi balik tidak diangkat, maaf saya menghubungi anda" mommy berbicara dengan suara yang cemas.
"Iya mommy, ini Ara dan Mario ada di ruang bersalin" jawab Faro cepat.
"Tu......tuan Faro" mommy terbata-bata.
"Panggil Abang Faro aja mommy" tersenyum Faro menjawab mommy.
__ADS_1
"Baiklah Bang, ini mommy sudah naik pesawat akan segera tiba di Jakarta, bisa minta tolong jemput mommy karena mommy tidak faham daerah Jakarta"
"Baik mommy, nanti sopir akan jemput mommy namanya Pak Min ya mom" keterangan Faro lagi sambil duduk disamping bapak.
Selesai menjawab telepon mommy, ada lagi panggilan suara handphone berdering dari umi ternyata umi dan Abi datang sudah dalam perjalanan dan umi juga menceritakan jika bunda juga dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Setibanya umi dan bunda datang, Faro juga meminta Pak Min untuk menjemput mommy di bandara dua jam lagi, bunda dan umi kaget karena ada suara Ara yang masih teriak teriak menahan sakit.
Bunda akhirnya mendorong pintu ruang bersalin mendekati Ara dan Mario, suster kaget saat bunda masuk tanpa permisi.
"Bu, anda siapa, dan mencari siapa?" tanya suster mendekati bunda.
"Itu yang teriak teriak itu putri saya suster" bunda menunjuk kearah Ara.
"Ooooo silahkan Bu, dari tadi teriak terus dia, sepertinya putri ibu tidak tahan sakit" cerita suster mempersilahkan mendekati mereka.
Bunda melihat Mario sudah acak-acakan rambutnya karena sering ditarik oleh Ara, tangan di cengkeraman dengan erat sehingga tangan itu merah dan membengkak karena kuku yang menancap.
"Bunda..." panggil Mario dan Ara bersamaan.
"Sayang, kurangi sedikit suaranya, terdengar sampai luar, kalian tahu melahirkan itu seperti semua tulang dicabut dari badan, tetapi percayalah setelah putra kalian lahir, yang ada tinggal kebahagiaan, sebentar lagi mommy datang, kata Bang Faro beliau sudah naik pesawat dari satu jam yang lalu" nasehat bunda memeluk Ara dan mengusap lembut perutnya yang buncit.
"Sakit Bun, Ara tidak kuat" suara manja Ara tetapi sambil menangis.
"Coba bayangkan saja, saat kalian bercinta apakah pakai teriak teriak, anggap saja sekarang sedang bercinta dalam versi lain, karena ini juga karena hasil percintaan kalian" nasehat bunda lagi tetapi sambil tersenyum defil.
"Bunda bisa saja, baby boleh sakitnya pindah ke Abang saja, bunda betul juga ayo kita berjuang bersama-sama, kalau memang tidak kuat apa mau operasi Caesar?" tawar Mario membelai rambut dan perut Ara lembut, Ara menggelengkan kepalanya.
"Bunda keluar dulu ya, jangan merasa sendiri, ada Bang Faro, bapak, umi dan Abi diluar, kami ada bersama kalian" bunda pamit keluar ruangan.
Hampir tiga jam Ara menahan sakit, sesekali tidak bisa menahan rasa sakitnya berteriak kencang dan terkadang menutup mulutnya jika teringat nasehat bunda.
Umi juga masuk kedalam ruang bersalin memberi dukungan dan banyak memberikan nasehat kepada Ara dan Mario dengan penuh kasih sayang.
Karena tidak boleh lebih dari satu orang yang menunggu, akhirnya bunda, umi dan yang lain menunggu harap-harap cemas didepan pintu masuk.
"Abang.... hubbby aku pingin BAB" Ara kembali berteriak kencang setelah umi keluar dari ruang bersalin.
Mendengar teriakan Ara suster dan dokter Rianti yang baru datang langsung mendekati mereka untuk memeriksa keadaan Ara.
"Ooooo sudah waktunya si dedek keluar, suster ayo persiapkan semua" perintah dokter Rianti setelah memeriksa sudah pembukaan sempurna.
Datang mommy dengan berlari kecil mengikuti pak Min yang mendorong koper yang lumayan besar.
"Dimana putriku nyonya?" tanya mommy mendekati umi dan bunda dengan cemas.
"Ada didalam Bu, silahkan masuk saja, untuk mendukung putri anda" titah umi mengantar mommy sampai didepan pintu.
__ADS_1
Hampir setengah jam Ara berjuang tetapi baby-nya belum juga lahir, saat mommy masuk dan mendekati mereka dan semua menengok mommy datang.
"Mommy I am sorry, help me please" Ara menjulurkan tangannya meminta dukungan dan mommy langsung menggenggam tangan Ara dengan erat.
"Let's fight for your son baby, mom always support you( ayo berjuang demi putramu sayang, mommy selalu mendukungmu)"
"Ayo Bu semangat, ambil nafas dulu, doorooong"
"Haaaaaaak........" Dengan sekuat tenaga Ara mendorong.
"Oek.......oek.....oek..." bayi laki-laki itu keluar dengan suara tangisan kencang.
"Ooooo ternyata baby-nya menunggu grandma datang ya, dasar nakal" seloroh dokter Rianti bercanda untuk mengurangi ketengan.
Hampir setengah jam dari suara bayi menangis, setelah skin to skin dengan Ara, di mandikan, kemudian di azani baru digendong mommy keluar ruangan didampingi Mario yang penampilannya sudah acak-acakan, bersamaan Ara yang dipindahkan ke ruang rawat inap.
Saat sampai di ruang rawat inap waktu menunjukkan pukul tiga pagi, semua keluarga berkumpul disana dan mengucapkan selamat kepada pasangan Mario dan Ara.
Faro tersenyum defil melihat penampilan Mario rambut yang sudah acak-acakan kedua tangannya sedikit bengkak dan merah karena cengkeraman tangan Ara.
"Kenapa penampilan elo seperti itu bro, apa yang dilakukannya?" ejek Faro memukul kecil bahu Mario.
"Ini dia bos, karena Ara kesakitan tangan dan rambut gue yang jadi sasaran" cabik Mario menahan perih tangannya.
"Kenapa saat putra elo lahir menyusahkan saja, elo tau gue mengecewakan Inneke, karena sedang asyik-asyiknya tinggal masuk ke jalan yang benar, gagal gara-gara mendapat telepon dari elo" jujur Faro sedikit kesal mengingat percintaannya gagal.
"Alasan aja, bukan Inneke yang kecewa bos paling elo sendiri yang kecewa gara-gara tidak jadi masuk gua, dasar bucin kronis" Mario berceloteh sambil terkekeh geli.
"Sono pulang, lanjutkan aja main kuda-kudaan nya nanti keburu loyo itu kobra kagak bisa bangun lagi" Mario mengejek lagi dan tertawa lepas.
"Sial lo, sudah lahir aja sekarang ngusir gue, selamat berpuasa bro, giliran elo yang akan menahan rasa" gantian Faro mengejek Mario dengan berbisik di telinganya.
Setelah diruang rawat inap, umi dan Abi, bunda dan Faro berpamitan pulang karena sudah ada mommy Ara yang menjaga mereka, besok rencana akan datang lagi setelah istirahat terlebih dahulu.
Faro berharap bisa melanjutkan percintaannya yang terputus tadi malam saat sampai rumah, tetapi harapannya pupus karena jam empat pagi adalah jadwalnya baby Rafael bangun dan mengajak bermain.
Tetapi setelah bangun dan tidak mendengar suara Papi baby Rafael sedikit rewel, yang biasanya bermain di tempat tidur Inneke menggendongnya agar tidak rewel.
Faro membuka pintu kamar setelah sampai rumah dengan mata yang sedikit sayu karena kurang tidur.
"Itu naaah Papi sudah pulang, ayo Pi, cuci tangan dulu baru Rafael minta gendong" Inneke menirukan suara anak kecil dan mengayunkan Rafael agar tenang.
"Iya sebentar ya sayang, Papi cuci tangan dan ganti baju" Faro berjalan ke kamar mandi mencuci tangannya berganti baju dan menggendong Rafael menciumi pipinya dengan gemas.
Sambil menggendong baby Rafael Faro mendekati Inneke dan memeluknya dengan satu tangan, mencium pundaknya dengan lembut.
"Mami kapan kita melanjutkan yang tadi malam terputus?" Faro berbisik di telinga Inneke.
__ADS_1
"Kemarin Mami sudah bilang Papi, jaga omongan kalau lagi beriga dengan baby Rafael.
"Yaaaah gagal maning...gagal maning" cabik Faro mengerucutkan bibirnya, diikuti Inneke yang terkekeh keluar dari kamar meninggalkan mereka berdua.