
Saat makan siang Ara berkunjung ke kantor Mario untuk menyerahkan identitas dan paspor yang di perlukan Mario membeli tiket pesawat untuk ke Singapura akhir bulan ini.
Sampai di depan resepsionis Ara mendekati petugas yang ada disana.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan pak Mario" kata Ara dengan sopan kepada resepsionis yang sedang berjaga.
"Ya sebentar, dengan siapa saya bicara?" tanya resepsionis dengan ramah.
"Saya Ara, Bu" jawabnya lagi.
Resepsionis kemudian menghubungi Mario jika ada tamu yang bernama Ara ingin bertemu, dan di balik suara telepon jika Ara untuk segera ke lantai atas.
"Silahkan Bu, pak Mario sudah menunggu anda" resepsionis dengan sopan mempersilahkan Ara untuk naik ke lantai atas.
Ara masuk lift menuju kantor Mario dengan hati yang bahagia, saat Ara keluar dari lift Mario sudah menjemput Ara dengan senyum yang mengembang.
"Halo baby are you ok" tanya Mario memeluk Ara dengan mesra.
"Ya Bang, aku baik-baik saja, ini dokumen yang di perlukan untuk membeli tiket pesawat nanti" jawab Ara melepaskan pelukannya tersenyum manis bergelayut manja dengan menggandeng tangannya.
"Baiklah ayo masuk kantor gue sebentar, atau mau makan siang bersama" ajak Mario dengan lembut.
"Kita makan aja yok Bang, aku belum makan siang" Ara berhenti tidak jadi berjalan menuju kantor Mario.
"Kita makan di kantin aja ya, jam satu gue ada meeting dengan bos".
Ara dan Mario akhirnya makan siang di kantin perusahaan itu yang ada di lantai dasar, setelah selesai Ara langsung pamit pulang karena juga ada janji dengan Jelita di restauran.
Mario langsung naik ke lantai atas kembali setelah Ara pulang menuju kantornya sendiri, tetapi dari tadi belum sempat membuka dokumen yang diberikan oleh Ara tadi.
Saat baru di pintu Mario membuka amplop itu dan membaca nama asli Ara yaitu Achara Thanapon, membuat kakinya lemas langsung terduduk di pintu itu dengan persamaan yang tidak menentu.
Berusaha berdiri dengan tegak dan berjalan ke kantor Faro walaupun hati terasa sangat berat.
"Bos tolong gue, bos tolong gue" ucap Mario lemas dan tertunduk duduk di samping Faro yang ternyata ada Conan juga sedang melaporkan hasil penyelidikannya.
"Mario ada apa?" tanya Faro dengan khawatir melihat keadaan yang lemas dan muka pucat.
"Ini bos coba lihat sendiri" kata Mario menyodorkan sebuah map yang berisi tentang identitas Ara yang sebenarnya.
Dengan cepat Faro membuka dokumen yang diberikan oleh Mario dan membaca dengan seksama, setelah membacanya Faro juga merasa lemas dan berkata "ya Allah ya Tuhanku, kenapa dunia ini tidak selebar daun kelor".
"Apakah selama ini elo tidak mengetahui nama aslinya dan jika dia putrinya ketua mafia itu Mario?" tanya Faro penasaran dan Mario hanya menggelengkan kepalanya saja sambil memandang kearah langit langit kantor.
"Gue tahunya selama ini dia menggunakan nama Amara Khotijah, dia dapatkan nama itu dari ustadz yang mengislamkannya" jawab Mario dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Ada apa ini bos?" tanya Conan penasaran melihat bos dan asistennya Mario yang begitu terpukul dan tidak diketahui apa penyebabnya.
"Ini elo baca ternyata pacar Mario adalah anak dari orang yang mengejar gue selama ini" balas Faro memberikan identitas dari Ara.
"Tapi bos, ini alamatnya Singapura bukan Thailand seperti bos mafia itu tinggal" setelah Conan membaca identitas Ara.
"Itulah tugas elo sekarang, Mario belikan tiket pesawat sekarang untuk bang Conan, berangkatnya aja, nanti pulangnya bareng kita akhir bulan" perintah Faro tegas dan sedikit agak marah jika mengingat sepak terjang Theo Thanapon yang sangat membuat keluarga menjadi trauma.
"Tapi bos, kalau gue punya usul, sebaiknya nikahi Ara secepatnya, jadi tidak mungkin ayahnya akan menghancurkan anda nantinya, jika suatu saat nanti mereka mengetahui siapa musuhnya" saran Conan yang masuk akal.
"Ide bagus bos, sebaiknya gue nikah aja dengan Ara, kita bisa mengetahui perkembangan mereka melalui Ara nantinya" logika Mario juga mengatakan itu.
"Apa elo rela jika Ara hanya kita buat sebagai tameng dan pertahanan kita Mario" tanya Faro penuh penekanan.
"Apapun gue lakukan bos, yang penting keluarga bos terutama akan selamat dari mereka" Mario yakin dengan apa yang dia pikirkan.
Faro mengerutkan keningnya berpikir sejenak dengan apa yang dikatakan Mario dan Conan, bisa juga ini sebagai strategi kedepannya untuk menghadapi orang yang selama ini membuat keluarganya menderita tetapi seharusnya tidak harus mengorbankan perasaan sahabatnya juga.
"Tetapi Mario, gue tidak akan tega juga mengorbankan elo dalam masalah pribadi keluarga gue" Faro ragu-ragu dengan keputusan Mario.
"Tidak bos, gue juga mencintai Ara, dianya sendiri yang tidak ingin seperti ayahnya, dia juga hampir empat tahun ini bersembunyi dan lari dari keluarganya karena berbeda keyakinan.
"Atau begini saja bos, gue yang mencoba mengurus surat identitas dan tentang pindah agama Ara, jika nanti berhasil gue janji akan mengurus surat ijin nikahnya Ara di Indonesia, bagaimana?" tawar Conan untuk menyelesaikan hal yang rumit ini.
Mata Mario langsung berbinar, Conan sendiri yang menawarkan tentang administrasi kependudukan Ara, ini akan memudahkan keinginannya untuk menikahi gadis pujaan hatinya.
"Tapi gue juga harus mempunyai saksi mata untuk ini bos yang bisa di percaya" Conan meminta agar ada yang bisa membantu sedikit di Singapura nanti.
"Tenang aja Bang, ibu kandungnya Ara nanti yang akan membantu, nanti gue mintakan alamat dan identitas beliau dari Ara" keterangan Mario lagi penuh keyakinan.
"Baiklah, gue pamit, persiapkan aja semua dokumen yang diperlukan, gue harus pamit bokap di Surabaya mungkin besok baru kembali kesini" pamit Conan meninggalkan kantor Faro karena akan pergi ke apartemen dan terbang ke Surabaya.
Sore harinya pulang dari kantor, Mario menemui Ara di restauran menceritakan tentang pertemuannya dengan Conan dan bosnya dan rencananya, dengan terpaksa Mario juga menceritakan tentang siapa sebenarnya bosnya, keahlian yang tidak semua orang ketahui dan tentang dendam yang berhubungan dengan ayah kandungnya juga kakak angkatnya yang telah Faro tembak saat dia masih SD, Mario hanya tidak menceritakan tentang jika Faro adalah adalah anggota intelejen Indonesia.
"Pantas aja, Bang Faro begitu ahli dalam memegang senjata melebihi sniper saat menolong aku saat itu" Ara begitu kagum setelah Mario selesai menceritakan tentang siapa sebenarnya bosnya.
"Tetapi berjanjilah demi nyawa gue, harus merahasiakan identitas bos dari keluarga elo baik di Singapura ataupun di Thailand, karena sejatinya bos hanya membela keluarganya saja, tidak berniat untuk menyakiti keluarga elo" pinta Mario dengan menggenggam tangan Ara.
"Tentu Bang, aku bisa membedakan mana pihak yang benar dan salah, dari awal aku juga tidak setuju jalan yang di tempuh ayah dan kakak angkat aku" Ara dengan nada yang sendu.
"Terima kasih Bang, mau menerima aku, padahal ayah dan Kakakku telah mencelakai orang yang sudah membantu keluarga Abang dan membiayai kuliah sampai Abang berhasil" ucap Ara lagi langsung memeluk Mario dengan mata yang basah karena air mata.
Mario hanya membalas pelukan Ara dan mengusap pundaknya sebagai dukungan penuh padanya.
"Kenapa elo malah menangis, tetapi elo tidak apa-apa jika kita nikah sederhana saja yang penting sah sesuai agama dan negara?" tanya Mario sedikit ragu-ragu.
__ADS_1
Ara melepaskan pelukannya memandangi Mario dengan berbinar menggenggam tangan Mario tanpa ragu.
"Tidak apa-apa Bang, yang penting bersamamu, aku juga tidak punya banyak teman juga disini" Ara bahagia dan tersenyum manis.
"Oya jangan lupa hubungi ibumu dan minta biodata ibu yang ada di Singapura, nanti bisa membantu Bang Conan untuk mengurus administrasi dan identitas elo?" Mario meminta Ara untuk mempersiapkan keperluan semuanya.
Malam harinya Ara menghubungi ibu kandungnya menceritakan jika dalam waktu dekat ada temannya yang akan menghubungi untuk merubah identitas dan ijin menikah di Indonesia.
Ara juga bercerita jika akhir bulan ini akan ke Singapura untuk mengurus langsung tentang administrasi bersama calon suaminya Mario.
Ara dengan ceria menceritakan tentang calon suaminya Mario kepada ibunya, dan saat pertemuan pertamanya, ibu bagi Ara adalah segalanya, hanya ibunya saja yang mau mendukung dirinya selama ini.
Ibunya Ara juga satu tahun terakhir ini diam diam mempelajari agama Islam seperti keyakinan putri satu-satunya, tanpa sepengetahuan siapapun bahkan suaminya Theo Thanapon dan putra angkatnya Decha Thanapon.
Saat asyik bercengkerama dengan ibunya melalui vedio call ada bel apartemen berbunyi sehingga Ara berpamitan kepada ibunya untuk lain kali bisa menghubungi lagi, bergegas Ara keluar dari kamar untuk membuka pintu.
"Ee Cinta ada apa?" Ternyata Cinta yang bertamu.
"Temenin gue makan dong say, ini gue sudah bawa dua bungkus nasi Padang" ajak Cinta dengan membawa plastik berisi dua bungkus nasi Padang.
"Baiklah kebetulan aku juga belum makan, ayo masuklah, kita makan di ruang makan aja" Ara langsung mengajak Cinta ke ruang makan.
Setelah selesai makan Ara dan Cinta duduk di ruang keluarga bercengkerama panjang lebar sampai Cinta kembali mengusulkan hal yang di cita-citakan.
"Say, gue pingin kerjasama dengan elo karena sepertinya elo bisa di percaya dan mampu" Cinta mengawali pembicaraan serius.
"Kerjasama apa sih Cin?" tanya Ara penasaran menatap Cinta yang serius.
Akhirnya Cinta bercerita dia memiliki keahlian dalam bidang kecantikan tetapi tidak memiliki cukup modal untuk mengembangkannya sehingga meminta Ara bekerjasama yang saling menguntungkan.
"Tapi Cin, identitas aku belum penduduk asli Indonesia jadi agak susah untuk mendapatkan ijin dari pemerintah" Ara ragu-ragu padahal dia sangat tertarik dengan ajakan Cinta.
"Begini saja say, bagaimana kalau pakai nama pacar elo aja ijinnnya toh sebentar lagi kalian akan menikah" usul Cinta kemudian.
"Waaaah, ide yang bagus Cin, begini saja kamu persiapkan proposal dan lokasinya, nanti aku akan bicarakan ini dengan Bang Mario bagaimana?" kata Ara dengan antusias.
"Ok deal kita kerjasama" Ara dan Cinta berjabat tangan tanda mengawalinya kerjasama berdua untuk membuka rumah kecantikan.
____________________
Jangan lupa like vote dan komentar
hadiah, kopi, bunga juga boleh
untuk semangat author menulis
__ADS_1
terima kasih