Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
22 Sebungkus Bertiga Bukan Sepiring Bertiga


__ADS_3

"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk Abi saya dok" jawab Faro tegas.


"Ok, silahkan mas urus administrasi dan pembayaran secepatnya" titah dokter lagi.


"Siap dok" jawab Faro singkat dan keluar ruang dokter bersama Imma menemui semua keluarga yang hadir untuk memberikan dukungan.


Faro mendekati Mario dan Sandi meminta untuk segera mengurus administrasi yang di perlukan untuk operasi.


"Om Sandi, Mario tolong urus administrasi Abi karena sebentar lagi akan segera di operasi" kata Faro sambil meneteskan air matanya, fikirannya buntu, belum selesai dengan masalah dengan Inneke sekarang abinya harus masuk rumah sakit dan di operasi.


Saat duduk di samping Ezo, Fia dan uthi Mami, Faro sedikit melamun.


"Uthi..bisa tolong adik-adik dan umi, tadi belum sempat makan, tolong ajak mereka ke kantin saja" pinta Faro kepada Uthi Mami.


Dengan susah payah Mami Winda mengajak mereka makan di kantin, setelah Ken masuk keruangan operasi baru mereka bertiga makan di kantin rumah sakit.


Faro hanya duduk di depan ruang operasi dengan menundukkan kepalanya, ditemani oleh keluarga besar yang telah menemaninya, hampir dua jam operasi itu berlangsung, sedangkan Imma, Fia, Ezo dan Mami Winda sudah bergabung kembali dengan mereka.


Ada notifikasi pesan WA masuk ke handphone Faro, langsung di geser handphone itu ternyata dari Inneke.


"Abang... apakah masih marah padaku, aku minta maaf, aku tidak ada hubungannya dengan Fajar, orang yang memegang tanganku tadi siang, aku sangat mencintai Abang, aku akan menunggu Abang sampai kapanpun, tolong maafkan aku, aku akan selalu mengunggu Abang".


Faro hanya membacanya saja pesan dari Inneke itu, ingin membalasnya saja masih enggan, karena masih banyak beban yang dia pikirkan saat ini.


Mario mendekati Faro karena melihat perubahan raut wajahnya yang terlihat panik dan kusut.


"Kenapa bos, siapa yang kirim pesan WA kenapa raut wajah bos jadi kusut seperti itu?".


"Bro, tolong elo hubungi Inneke, baterai handphone gue hampir habis, dan juga gue sedang kalut, elo saja yang menghubungi dia, please?" pinta Faro penuh pengharapan.


Sebelum Mario menjawab permintaan Faro lampu di atas pintu operasi merah berubah menjadi hijau dan bersamaan seorang dokter dan seorang suster keluar dari ruang operasi.


Faro dan yang lainnya langsung mendekati dokter dan suster itu dengan cepat.


"Bagaimana operasinya dokter, apakah semuanya lancar?" tanya Faro dengan cemas.


"Semua berjalan dengan lancar sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat inap untuk pemulihan" jawab dokter tegas.


Semua keluarga merasa lega, setelah selesai operasi, Ken di bawa ke ruang rawat inap VVIP diikuti oleh seluruh keluarga besar.


"Bagaimana Ken, masih nyerikah?" tanya Papi Bastian mendekati putranya.


"Masih tidak terasa Pi, mungkin masih ada obat biusnya" jawab Ken singkat.


"Akung, uthi sebaiknya istirahat pulang aja ini sudah malam, kasihan Ezo dan Fia sebentar lagi ujian, biar Abang dan umi yang menjaga Abi" perintah Faro kepada semua keluarga.


Akhirnya semua keluarga pamit pulang, hanya Faro dan Imma yang menemani Ken di rumah sakit.


Mario mendekati Faro memberikan nasi bungkus Sebelum berpamitan pulang, karena tahu bahwa sedari siang dia belum sempat makan.


"Bos, ini buat elo, makan dulu, jangan siksa tubuh elo gara-gara sibuk dan galau, jangan khawatir, Inneke nanti gue yang menghubunginya" nasehat Mario.


"Ok terima kasih bro, tolong handle semua pekerjaan kantor, jika ada yang perlu di tandatangani antar aja kesini, atau kirim aja ke email pekerjaan yang perlu gue periksa, nanti gue kerja dari rumah sakit aja, elo bawa mobil gue, biar nanti gue pakai mobil bokap" perintah Ken lagi sambil mengulurkan tangannya memberikan kunci mobil.

__ADS_1


"Siap bos, jangan lupa makan, umi..bos besar, aku pamit pulang juga, jangan lupa suapi si bos dari siang belum makan dia" kata Mario dengan mencium punggung tangan Ken dan Imma bergantian.


Mario terkekeh berhasil menggoda bosnya berlari keluar pintu ruang rawat inap dan berjalan menuju parkiran.


Tetapi sebelum masuk ke dalam mobil, Mario mengirim pesan WA kepada Inneke dan Rendi.


Mario menceritakan kepada keduanya tentang kejadian bokapnya Faro yaitu bos Ken yang terjatuh dari tangga, dan berjanji besok pagi akan janjian untuk bertemu saat olahraga pagi di taman karena kebetulan hari ini adalah hari Sabtu.


Di ruang rawat inap, Faro meletakkan makanan yang di berikan Mario tadi di meja depan sofa panjang ada di ruangan itu.


"Bang... Di makan, jangan di taruh meja lagi, apa perlu umi suapi?" titah Imma penuh dengan penekanan.


"Tidak lapar umi" balas Faro malas dan duduk di sofa.


"Bang... kalau tidak di makan, pulang aja sana, makan dirumah!" perintah Ken dengan suara serak.


"Baiklah, Abang makan, apakah Abi mau Abang suapi?" Jawab Faro pasrah.


"Abi mau di suapi tetapi umi juga harus ikut makan!" pinta Ken


Faro mendekati Imma dan Ken, duduk di samping Imma menyuapi Ken dan Imma dengan telaten, Ken memandangi wajah Faro yang sedang menyuapinya dengan tersenyum.


"Kok Abi senyum-senyum sendiri, ada apa?" tanya Faro masih tetap menyuapi abinya.


"Abi jadi ingat, waktu dulu, kita juga juga makan bertiga seperti ini" cerita Ken dengan menggenggam tangan Imma.


"Iya kah, kok Abang tidak ingat sih Bi?" tanya Faro.


"Waktu umimu sakit, Abi belum menikah dengan umimu, kita makan bertiga seperti ini, hanya bedanya Abi yang menyuapi kalian berdua" cerita Ken sambil tersenyum.


"Terima kasih ya Abi, sudah menyayangi Abang sampai sekarang" kata Faro masih tetap menyuapi Abi dan uminya bergantian sampai habis nasi satu bungkus.


"Minum dulu, Abi ...umi" Faro memberikan botol Aqua yang sudah ada sedotannya karena Ken untuk sementara tidak boleh bangun dulu.


"Kalau dulu satu gelas bertiga, sekarang satu botol bertiga" cerita Ken lagi.


"Lain kali mungkin lebih baik kita satu piring berlima, mungkin lebih seru Bi!" pinta Faro dengan senyum.


Selesai makan mereka beristirahat, Faro membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang memang di sediakan untuk orang yang sedang menunggu pasien, sedangkan Imma harus berbaring di samping Ken, karena Ken tidak bisa tidur jika tidak ada di sampingnya.


Pagi hari seperti janji Mario, Rendi menjemput Erna dan Inneke diajak untuk bertemu Mario di taman sambil berolahraga.


"Bro..kita disini" panggil Rendi saat melihat Mario datang membawa mobil Faro.


"Kak, kirain kesini sama Abang?" tanya Inneke berharap kehadiran orang yang di cintainya.


Inneke hanya menunduk, harapan bertemu orang yang sangat di cintainya pupus lagi, karena dia tidak hadir di antara mereka.


"Sudahlah Inneke, jangan lupa, sekarang bokapnya masih di rawat di rumah sakit" nasehat Erna bijak.


"Naah... yang di katakan bini gue itu betul Inneke, elo jangan cemas, nanti kalo si bos sudah tenang hatinya, pasti akan nyari elo lagi" Rendi ikut menasehati.


"Bini..bini kepala lo pe'ang, dasar playboy kampung sudah di akui bini belum ada janur kuning melengkung" cabik Mario, sedangkan Rendi hanya terkekeh, malah tersenyum mengedipkan matanya kepada Erna.

__ADS_1


"Tapi kak, tadi malam aku sudah kirim pesan WA kepada Abang, tetapi hanya di baca aja, tidak di jawab olehnya" kata Inneke dengan mengeluarkan air matanya.


"Tadi malam pas dia baca pesan WA dari elo, baterai handphone sedang lowbat, gue jadi saksinya, sebenarnya dia juga khawatir denganmu, tetapi keadaan yang membuatnya belum sempat menghubungimu, tolong bersabarlah sebentar, tetaplah menghubungi atau mengirim pesan WA kepadanya, walaupun dia tidak sempat menghubungimu atau membalasnya, berikan dia dukungan, agar dia tidak merasa sendiri" nasehat Mario panjang dan lebar.


"Tapi kak, bagaimana jika Abang tidak menjawab pesan WA ku?" tanya Inneke masih ragu.


"Berjuanglah Inneke, kalau elo masih ingin bersamanya, berjuanglah" gantian Rendi menasehati dengan penuh penekanan.


Inneke akhirnya mengangguk walaupun hatinya masih ragu, dalam hati bergumam sendiri, jika hanya aku yang berjuang, tetapi Abang tidak mau membalasnya pesan WA, berarti dia tidak berniat memperjuangkan hubungan lebih lanjut, mungkin akan menyerah saja, tetapi akan mengikuti saran Mario dan Rendi dalam beberapa hari ini, jika tetap tidak mau membalasnya, lebih baik akan mundur teratur.


Hubungan antara dua orang juga harus di dasari saling percaya, tetapi Inneke merasa Faro tidak memperjuangkannya sama sekali.


Saat Inneke melamun ada suara handphone berdering, dari neneknya, bergegas menggeser tombol hijau dan menempelkan handphone di telinganya.


"Iya nek ada apa?" tanya Inneke.


"Nenek mau ke rumah sakit, temani nenek ya?" Jawab Intan Ariyani.


"Iya nek, aku pulang sekarang" suara handphone terputus, dengan cepat, Inneke mendekati mereka bertiga.


"Kakak,... Erna...gue pulang dulu, nenek gue meminta pulang, harus menemaninya ke rumah sakit besuk saudara yang dirawat disana" ucap Inneke berdiri dan ingin pulang.


"Gue antarkah?" Mario mencoba menawarkan diri untuk mengantar Inneke.


"Tidak usah kak, aku sudah pesan mobil online, maaf buru-buru" Inneke berlari menuju jalan raya dimana mobil online sudah menunggunya.


Erna dan Rendi langsung berangkat ke Bandung saat itu juga, sedangkan Mario pergi ke kantor.


Di rumah sakit Faro pagi ini bersiap untuk pulang ke rumah sebentar, untuk mengambil baju ganti untuk Imma dan Ken, mengambil power Bank, dan keperluan lainnya yang dibutuhkan.


"Bi...mi,... Abang pulang dulu ya, sekalian nanti jemput Mama Meera dan Mama Dini ke Bandara internasional Soekarno Hatta pukul sepuluh pagi" pamit Faro.


"Siapa yang mengabari mereka, kok sampai mereka tahu?" tanya Ken.


"Om Sandi katanya yang cerita pada Om Budi" cerita Faro.


"Apakah Opa Tomy dan Oma Nadia juga datang?" tanya Imma penasaran.


"Tidak umi, beliau sudah sering kecapean jika dalam perjalanan jauh, Abang jalan dulu".


"Hati-hati Bang" pesan Ken kemudian.


Takdir memang belum mengijinkan antara Faro dan Inneke bertemu, Faro keluar dari rumah sakit sekitar lima belas menit, semua keluarga datang, termasuk ibu kandung Rama yaitu Intan Ariyani beserta cucu yang selama beberapa tahun ini menemaninya Inneke.


__________________


Dukungan jangan lupa, untuk give away nanti,


apakah sudah bisa menebak apa bentuk give


away nya?


like vote dan komentar serta hadiahnya di

__ADS_1


tunggu..... thanks


__ADS_2