
Ternyata tersangka yang kedua berlari menyusuri rel kereta api yang gelap menjauh dari jangkauan CCTV mengarah tempat TKP dimana mereka di temukan tewas disana.
"Masih ada satu kejanggalan lagi dari peristiwa itu" ucap Faro sambil mengamati layar monitor lagi dan lagi.
"Apa itu?" tanya Pak Kumis dengan memelintir kumisnya.
"Bukankah tidak di temukan bercak darah yang berceceran di TKP, berarti tersangka tidak di tembak di sana?" pendapat Faro kemudian.
"Memang pihak forensik kemarin juga memberikan keterangan jika dua tersangka itu di tembak dengan jarak yang dekat" balas jenderal Hendro.
"Baiklah penyelidikan sampai disini dulu, sudah lumayan banyak kemajuannya, kita besok menyelidiki peluru yang bersarang di kepala para tersangka" perintah jenderal Hendro lagi.
Jam istirahat siang keesokan harinya, dari kantor Faro meluncur ke kantor forensik mabes polri yang menangani kasus kematian dua orang laki-laki yang telah menyerang Fia kemarin.
Faro diijinkan masuk karena rekomendasi dari jenderal Hendro yang membantu mengatasi penyelidikan tersangka.
Faro hanya ingin melihat jenis dari peluru yang bersarang di kepala para tersangka yang telah tewas di dekat rel kereta api kemarin.
Setelah selesai memberikan analisa tentang peluru, Faro berpamitan kembali ke kantor, sisanya Tim kepolisian dan dinas intelijen yang akan menanganinya.
Setelah tiga hari setelah kunjungan Faro ke kantor forensik mabes polri baru mendapatkan informasi bahwa kemungkinan besar ada keterlibatan dan keterkaitan peristiwa di temukannya jenazah dua orang laki-laki yang pernah menyerang Fia adalah orang-orang yang bergabung dalam kelompok Ramos Sandara.
Informasi itu di perkuat adanya foto antara Ramos Sandara yang sedang bermain judi dengan kedua orang laki-laki yang tertembak peluru di kepalanya itu satu bulan yang lalu.
Informasi yang didapatkan Faro langsung di laporkan kepada Ken pada saat mereka berada di ruang kerja Ken, di ceritakan semua termasuk penyelidikan Faro di intelejen.
"Sebaiknya kita cari pengawal untuk Fia, Ezo dan umi ya Bi?" saran Faro.
"Iya Bang, tetapi dari jarak jauh aja, agar kita tidak terlalu khawatir, terutama umimu" jawab Ken.
"Abi sajalah yang mencari pengawal, sepertinya Abang hanya konsentrasi mengawasi kelompok Ramos Sandara saja" pinta Faro lagi.
"Iya Bang, Om Sandi bisa di andalkan jika menyangkut masalah ini, tenang saja"
Datang Imma dengan membawa kopi dan camilan untuk dua laki-laki yang beda generasi tetapi sangat gagah keduanya menurut Imma.
"Waaaah dua jagoan umi kenapa harus bekerja keras terus, bersantai lah sedikit" kata Imma dari pintu depan duduk di kursi kerja Ken.
"Kopi ya umi, kebetulan Abang lagi pingin yang pahit dan manis" Faro langsung meminum kopi panas itu sedikit demi sedikit.
Sedangkan Ken mulai memeluk Imma dari samping dengan menggunakan satu tangan, sedangkan tangan kanannya masih membolak-balikkan kertas dokumen yang harus di pelajari dari tadi.
Walaupun mata Ken tertuju pada kertas berkas tetapi tangan kiri juga ikut bekerja menelusuri tubuh belakang Imma.
Imma menyuapi Ken camilan di mulut Ken dengan telaten, Faro yang melihat pemandangan kemesraan kedua orang tuanya jadi tersenyum sendiri.
"Coba bermesraan di kamar sana Abi....umi, kenapa di depan Abang sih bikin ngiri aja" cabik Faro dengan terkekeh menggoda Imma dan Ken.
Ken ikut terkekeh mendengar celotehan Faro yang usil dan menarik tangan kiri Ken dari punggung Imma.
"Kalau pingin nikah sana Bang, nikah aja, jangan ngiri Abi sama umi" celoteh Ken melirik uminya yang salah tingkah.
"Nikah, emang gampang?, urusannya rumit Abi kalau mikirin soal nikah" jawab Faro masih menyeruput kopi dengan santai
"Tinggal di lamar itu calon makmum apa susahnya sih Bang" Imma menggoda Faro dengan menyebut calon makmum.
__ADS_1
"Uhuk....uhuk.....uhuk...."
Karena kaget Faro terbatuk-batuk dan kopi menyembur keluar dari mulut Faro.
"Ih.. Abang pelan-pelan" ucap Imma khawatir dan mendekati Faro menepuk punggungnya.
"Siapa calon makmum itu Bang, hayo.....?" Ken yang penasaran dan menutup dokumen yang sudah selesai di kerjakan.
"Dia....di....dia" jawab Faro gugup.
"Teman kuliah Abi, yang di taksir Abang selama ini" cerita Imma melanjutkan perkataan Faro yang tidak selesai.
"Waaah ternyata Abang sudah punya gebetan, kenapa tidak cerita Abi dan umi, apa yang kemarin masih di tunggu satu tahun lagi yang di maksud calon makmum?" tanya Ken penasaran.
"Iya Abi, sudah ah.... jangan di bahas, nanti kalau sudah waktunya Abang pasti akan cerita" elak Faro mengambil camilan yang ada di depannya.
"Coba sekali-kali dibawa kesini Bang, biar Abi dan umi mengenal calon makmum....eee salah calon mantu" pinta Imma duduk di samping Faro dan mengusap punggungnya.
Faro tetap memasukkan camilan ke dalam mulutnya, menerawang mengingat jika Inneke meminta tidak akan bertemu keluarga Sebelum lulus kuliah.
"Nanti saja umi, tunggu saja setelah waktunya tepat, Abang akan cerita semuanya, tetapi bagaimana dengan perjodohan itu" tanya Faro sendu.
"Jangan di pikirkan masalah perjodohan itu Bang, dari awal Abi kan sudah bilang, tidak akan memaksakan tentang perjodohan ini" keterangan Ken dengan tegas dan berwibawa.
"Iya Abi terima kasih, sudahlah, Abi...umi... Abang istirahat dulu, silahkan di lanjutkan mesra-mesraannya" kata Faro berlalu meninggalkan mereka berdua ke kamarnya sendiri.
"Ayo honey, kita lanjutkan" kata Ken duduk di samping Imma memeluknya erat.
"Ee... melanjutkan apa sayang?".
"Itu, yang kata Abang... mesra-mesraan" mata Ken berkedip-kedip mendekati wajah Imma.
"Mau kemana, jangan mengalihkan perhatian ya?" cabik Ken semakin intens gerakan tangannya.
"Mau ke salon dan makan bareng aja sayang, atau Abi mau ikut kita ke salon?".
"Ogah... lebih enak Abi ajak umi ke langit ke tujuh".
Ken melanjutkan gerilya nya di ruang kerja itu juga, tetapi Imma mendorong Ken sedikit keras, dan mencoba melepaskan tangan Ken dari pinggang Imma.
"Abi, sayang... pintu tidak di kunci, kalau nanti ada yang masuk bagaimana?"
Ken langsung mendongak memandang Imma dengan sendunya, betul juga selama ini melakukan aktivitas ranjang tidak pernah di tunjukkan dan di ketahui oleh putra-putri nya gumamnya dalam hati.
"Baiklah... baiklah...ayo kita ke kamar, Abi akan makan umi di kamar sepuasnya" jawab Ken menggandeng tangan Imma masuk ke kamar mereka dengan mesra.
Imma hanya tersenyum dan mengangguk setuju mengikuti Ken kedalam kamar melakukan rutinitas ranjang sampai menjelang tengah malam baru mereka tidur dengan berpelukan sampai pagi.
Pada pagi hari di kantor Faro sibuk memeriksa dokumen yang harus selesai di kerjakan hari ini juga.
"Tok.....tok.....tok"
"Masuk...." kata Faro tanpa menoleh siapa yang datang.
"Bos... ini hasil penyelidikan tentang keluarga Inneke yang elo minta waktu itu" kata Mario sambil mengulurkan tangannya memberikan map berwarna coklat kepada Faro.
__ADS_1
"Oooo sudah, apakah nenek dan kakeknya juga sudah kamu selidiki?".
"Tidak bos, hanya keluarga inti saja" jawab Mario tingkat.
Faro membaca biodata dari keluarga Inneke.
Nama ibu Tiara Sahroni, ayah Edi Santoso anak pertama Inneke Farisa adik Rayhan Isnain Santoso.
Inneke lahir di Bandung, sekolah dari SD, SMP dan SMU di Sarawak Malaysia, mengikuti ayahnya yang bekerja di perusahaan internasional yang memiliki cabang di Malaysia.
"Mario bisa tolong carikan silsilah keluarga dari Inneke termasuk kakek dan neneknya juga!" titah Faro lagi.
"Baiklah bos, tetapi tidak usah buru-buru ya?".
"Tidak, santai saja".
Setelah selesai melaporkan tentang biodata Inneke Mario kembali ke ruang kantornya sendiri.
Sedangkan Faro masih membaca biodata Inneke tetapi sayangnya hanya fokus kepada ayahnya Inneke saja, tanpa menyadari nama belakang ibunya Inneke.
Sedangkan di mall siang itu tiga sahabat Imma, Mely dan Marisa sedang asyik bercengkerama dengan akrabnya tanpa diikuti oleh putranya, friends time istilahnya.
Ke salon, belanja, makan es krim, nongkrong di restauran dilakukan dengan riang, sudah lama mereka tidak berkumpul dan jalan bareng seperti ini karena mengurus keluarga masing-masing.
"Im, kamu pesan apa?" tanya Mely saat mereka duduk di pojok sebuah restauran seafood.
"Aku, nasi cumi lada hitam dan capcay" jawab Imma.
"Aku nasi goreng seafood dan jus mangga" ikut Marisa memesan.
"Eee...Mel, aku minumnya jus alpukat ya" tambah Imma lagi.
"Baiklah...aku pesan nasi udang bumbu asam manis dan jus alpukat ya mbak" pesan Mely kepada waiters yang ada di depannya.
"Baiklah di tunggu ya Bu" jawab waiters itu dan meninggalkan mereka bertiga.
"Kenapa kalian berdua kompak hanya punya satu putra, kenapa tidak tambah lagi?" tanya Imma mengawali pembicaraan setelah waiters itu pergi.
"Aku sih mau Im, tetapi suamiku tidak mau tambah lagi takut katanya karena melihat saat melahirkan dulu" jawab Marisa sendu.
"Kalau aku sih pinginnya tambah lagi, pingin juga punya anak cewek, tetapi entahlah sudah lepas KB tiga tahun lalu, tetapi suamiku itu sering kecapean gara-gara suamimu itu, jadinya seringnya sampai rumah sudah roboh di tempat tidur" cerita Mely panjang.
"Kenapa suamiku yang kamu salahkan?, walaupun capek suamiku itu mengerjai aku sampai menjelang pagi" cerita Imma.
Marisa dan Mely terkekeh mendengar celotehan Imma yang selalu jujur tanpa di tutup tutupi sedikit walaupun masalah ranjang.
Tetapi sebelum kedua sahabat Imma menjawab datang dua waiters membawakan pesanan makanan yang mereka pesan tadi dan di letakkan di meja.
"Selamat menikmati" kata salah satu waiters dengan sopan.
"Terima kasih ya mbak" jawab Imma mewakili mereka bertiga dan diikuti anggukkan kepala dan mereka mengundurkan diri.
Saat sedang menikmati hidangan yang sudah di pesan lewat dua orang gadis yang satunya cantik dan anggun yang pernah Imma kenal saat aqiqah putranya Kemmy yang namanya Keke.
"Umi.. apa kabar, masih ingat aku kan?" tanya Keke saat melihat Imma dan kedua temannya yang sedang menikmati hidangan.
__ADS_1
"Keke ya...umi sehat, kamu apa kabarnya?" tanya Imma balik.
"Sehat umi, Tante salam kenal, aku Keke" jawab Keke sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan mencium punggung tangan mereka bergantian.