
"Papi.... papi cepat ke sekolahan El, disini ada penculikan, Cello di culik Pi" dengan suara tersengal-sengal Rafael menghubungi Faro.
"Sayang bicaralah dengan jelas, Papi tidak mengerti" Faro kaget tiba-tiba Rafael mengubungi dengan suara nafas yang tersengal-sengal.
"Pokoknya cepat kesini Papi, El takut?!" Rafael tidak tahu harus mengatakan apa pada Papi Faro.
"Baiklah sayang, El jangan keluar kelas sebelum Papi tiba disana ok!" perintah Faro cepat dan sangat khawatir.
Faro ingin menghubungi Sarwan bodyguard yang mengawal El, tetapi belum sampai mendapatkan nomor Sarwan jenderal Hendro mengubungi handphone Faro.
"Ya jenderal ada apa?" Jawab Faro setelah menelan tombol hijau.
"Cepat ke sekolahan Rafael sekarang, ada hal yang terjadi disana, hubungi Rendi dan ajak Mario sekarang!" jenderal Hendro langsung mematikan handphone tanpa menunggu jawaban dari Faro.
Tanpa berpikir panjang Faro keluar dari kantornya dengan membuka pintu sedikit kasar membuat Mario yang sedang berada dipintu ruangannya sendiri terperanjat kaget karenanya.
"Bro, ada penculikan di sekolah anak kita, ayo cepat kesana!" Faro menarik tangan Mario dengan kasar dan berlari kencang menuju lift yang ada diujung kantor.
"Ada apa bos, apa yang terjadi dengan anak anak kita?" tanya Mario akhirnya ikut berlari masuk lift keluar menuju parkiran dengan kecepatan tinggi.
Hampir semua karyawan yang melihat bos dan asistennya berlari membuat mereka heran dan bertanya tanya tetapi tidak ada yang tahu dan tidak ada yang berani bertanya.
"Bos kunci mobilnya mana, gue kagak bawa?" Mario bingung karena tidak sempat mengambil kunci mobilnya sendiri.
"Ini pakai mobil gue aja, gue mau menghubungi Rendi dulu, ayo cepatlah!" Mario yang menyetir mobil sedangkan Faro menghubungi Rendi untuk segera ke sekolahan.
"Cepat bro... cepat ini gawat" teriak Faro dengan gelisah memikirkan ucapan El dalam teleponnya tadi bahwa Cello yang di culik, bahkan Faro belum berani cerita kepada Mario.
"Gue menghubungi Abi dulu, cepatlah menyetirnya!" perintah Faro lagi bahkan duduk saja Faro seperti ada ribuan jarum pada kursinya, sangat gelisah memikirkan bahwa Cello sedang diculik.
Jenderal Hendro kembali menghubungi Faro setelah dia selesai menghubungi Ken.
"Sudah sampai mana Bang?" tanya jenderal Hendro dengan suara yang panik.
"Sepuluh menit lagi kira kita sampai Jenderal" jawab Faro bertambah cemas.
"Cepetan bro....tambah kecepatannya!"
"Sebenarnya apa yang terjadi bos, aku jadi bingung".
"Terjadi penculikan di sekolah anak kita, tadi El juga menelepon suara yang bergetar, gue juga kurang jelas" Faro belum berani mengatakan kepada Mario tentang Cello.
Akhirnya mereka sampai di sekolah TK, memarkirkan mobil disembarang tempat, banyak orang yang berdiri disekitar area sekolah, sudah ada garis polis line disana, Faro dan Mario berlari memasuki polis line, yang pertama mereka lihat adalah bodyguard, sekuriti dan beberapa laki-laki yang tergeletak di lantai berjajar sedang di periksa dokter dan dijaga oleh polisi.
"Jenderal dimana El dan yang lain?" tanya Faro berlari memasuki kelas Rafael, melihat putranya syok berat dan melamun dan Kanno yang terus terisak dijaga oleh dua polisi.
"El, Kanno!!" panggil Faro mendekati mereka dan memeluk mereka berdua dengan erat, Mario berlari juga mendekati mereka dan ikut memeluk mereka.
__ADS_1
"El, Kanno dimana Cello?" tanya Mario dengan hati yang tidak menentu menyapu dengan pandangan matanya tetapi tidak ada sosok Cello disana.
Seketika Kanno menangis kencang karena Mario menyebutkan nama Cello.
"Kanno diam, Papi, Papa sini sebentar El mau cerita" akhirnya El bercerita tentang penculikan yang terjadi satu jam yang lalu.
Mario langsung merosot terduduk di lantai karena merasa syok mendengar putranya di culik oleh orang yang belum diketahui identitasnya.
"Maafkan El, Papa" Rafael memeluk Mario dengan erat dengan raut wajah yang sedih merasa bersalah karena seharusnya Rafael yang menjadi target penculik.
"Bang, Mario" panggil jenderal Hendro yang datang bersama Rendi kedalam kelas.
"Apa yang sebenarnya terjadi jenderal?" tanya Mario bangun dari duduknya mendekati mereka.
"Mario maaf sepertinya mereka salah menculik, kami sudah memeriksa CCTV sekolah, tujuannya adalah Rafael, mereka adalah anak buah Agus Martono, kemungkinan mereka sudah mengetahui semua yang terjadi di masa lalu" cerita jenderal Hendro.
"Berarti Cello di culik oleh anak buah paman dan kakeknya sendiri?" lirih Mario kembali melorot terduduk dilantai.
"Sabar bro kita atur strategi, tidak akan gue biarkan putra kita celaka" Faro menghibur Mario yang masih syok dan bingung.
"Papi posisi Cello sekarang ada kompleks perumahan kota tua" kata Rafael dengan memandangi handphone yang terus-menerus bergerak mengikuti gerakan Singal dimana Cello bergerak.
Hampir setengah jam mereka menyusun strategi dan untuk menyelesaikan kasus yang baru saja terjadi.
"Papi, Cello ada dijalan tol menuju bandara" teriak Rafael karena tidak mendapatkan perhatian dari orang dewasa yang ada di sebelahnya.
"Sayang, darimana El tahu posisi Cello saat ini" tanya Faro sambil mengambil handphone yang di pegang Rafael.
"Daddy, Papi, Papa, Kanno juga tahu kalau Cello ada di jalan tol menuju bandara" Kanno sambil terisak dan menunjukkan handphone yang dipegangnya.
Jenderal Hendro mengambil handphone milik Kanno dan memperhatikan dengan seksama dimana signal itu berjalan.
"Darimana kalian mempunyai GPS ini El?" tanya jenderal Hendro penasaran.
Kedua kalinya Rafael bercerita tentang pembuatan gelang mutakhir yang mereka buat sendiri tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Kita ke markas sekarang, ajak Istri kalian juga, terutama Ara karena ini berhubungan langsung dengan keluarga mereka.
"Papi, sekarang Cello sudah duduk di bandara" El membaca kembali handphone yang dipegangnya.
Dalam waktu satu jam semua sudah berkumpul di markas intelejen, ini hari pengecualian, tidak sembarang orang bisa masuk di markas intelejen karena ini menyangkut orang yang dilindungi oleh pihak kepolisian dan intelejen serta karena Faro pihak pertahanan dan keamanan mengijinkan mereka menyusun strategi di markas intelejen.
Inneke dan Erna selalu memberikan dukungan kepada Ara karena putranya Cello yang menjadi korban penculikan, walaupun Ara sangat khawatir tetapi ada sedikit kelegaan karena kepandaian ketiga putra mereka memiliki kemampuan mendeteksi dimana posisi Cello.
"El menurutmu dimanakah Cello sekarang kenapa sekarang seperti alamatnya menunjukkan ada di ketinggian?" tanya jenderal Hendro dengan mata yang selalu menuju layar monitor besar yang sudah dihubungkan dengan handphone milik Kanno.
"Iya paman jenderal, ini koordinat diudara, cuma El tidak faham 1220° dan 7019°, apakah itu maksudnya?" tanya Rafael ragu.
__ADS_1
"Nanti saja paman jelaskan, jika waktu longgar, setelah Cello ditemukan" Rafael hanya mengangguk tetapi mata terus tertuju pada layar monitor besar yang ada didepannya.
"Papi, bagaimana putramu bisa sepandai itu, kapan dia membuat GPS-nya" bisik Inneke ditelinga Faro.
"Entahlah sayang, Papi juga bingung, ternyata ketiga putra kita ternyata sangat jenius jika mereka bersatu" jawab Faro tidak kalah kagum dengan putranya sendiri.
Kanno yang notabene memilik kemampuan spesifik di bidang teknologi dan sering mengotak-atik barang elektronik mendekati Pak Kumis yang sedang memperhatikan keyboard dan menggerakkan mouse.
"Paman... Paman berkumis, bolehkah Kanno pinjam mouse itu?" tanya Kanno ragu-ragu, sesaat Pak Kumis menengok kearah Jenderal Hendro untuk meminta persetujuan, dan diikuti anggukkan jenderal kemudian Pak Kumis langsung memangku Kanno.
"Baiklah jagoan, mari bantu Paman Kumis menangkap penjahat yang menculik Cello"
"Kanno ayo cepat kita baca yang dibilang koordinat oleh paman jenderal" ajak El ikut duduk dipangkuan Pak Kumis.
Akhirnya Pak Kumis memangku Rafael di paha sebelah kiri dan Kanno di paha sebelah kanan, sedangkan keyboard dikuasai oleh tangan mungil mereka berdua, Pak Kumis hanya memandangi gerakan tangan mereka.
Dalam waktu seperempat jam tangan mungil El dan Kanno bekerja sama bisa membaca arah koordinat itu menuju negara Singapura.
"Singapura" kata El dan Kanno bersamaan.
"Berarti kemungkinan Cello terbang menuju Singapura?" tanya Mario kaget.
"Iya Papa" jawab El dan Kanno bersamaan lagi dan turun dari pangkuan Pak Kumis.
"Baby hubungi mommy, mommy sekarang berada di Singapura bukan?" Mario mendekati Ara yang sudah lemas terduduk di pojok markas intelejen.
"Betul juga" jawab Ara dengan mengambil handphone yang ada didalam kantong sakunya.
"Jangan lupa di loud speaker!" perintah jenderal Hendro.
Setelah tersambung hubungan telepon antar negara itu, Ara dan Mario bergantian menceritakan situasi yang terjadi, dan kemungkinan dibawa kemana Cello saat tiba di Singapura.
Mommy yang berada dii kampung halaman tepatnya di daerah perbatasan Singapura dan Kalimantan, saat itu juga berangkat menuju ibukota Singapura.
Jenderal Hendro juga menghubungi intelejen Singapura dan juga menceritakan kejadian hari ini untuk meminta bantuan mereka secara resmi.
"Mario kita berangkat ke Singapura persiapkan helikopter sekarang juga" Faro langsung mengambil keputusan dengan cepat.
"Bagaimana ini apakah kita pulang dulu untuk mengambil baju ganti atau yang lain?" tanya Erna mendekati suaminya Rendi.
"Kita tidak sedang tour, yang penting membawa identitas dan paspor serta dompet itu sudah cukup, kita tidak memiliki banyak waktu" tegas Faro dengan mata yang tajam seolah menyembunyikan amarah yang meledak-ledak.
Hanya dalam waktu setengah jam, keperluan sudah siap, pastor, KTP, ijin terbang bahkan sudah menghubungi kepolisian Singapura, walaupun tidak secara resmi meminta bantuan untuk menyelamatkan Cello, tetapi karena hubungan baik antara intelejen dengan Jenderal Hendro serta jasa yang pernah Faro lakukan untuk negara itu sekarang mereka sudah mulai mengawasi gerak-gerik dari Thora Thanapon beserta anak buahnya.
Faro, Rendi, Mario dengan membawa anak dan istri di tambah lagi jenderal Hendro dan Ken berangkat menuju Singapura dalam perjalanan satu setengah jam menuju Singapura.
Setibanya disana rumah yang dituju pertama adalah rumah Oma Cecilia yaitu Omanya Jasson, walaupun beliau sudah meninggal tiga tahun lalu, tetapi keluarga Jasson menyambut baik mereka karena sebelumnya memang Ken meminta bantuan kepada Jasson jika keluarga besarnya akan berkunjung ke Singapura karena ada sebuah kerjasama bisnis sekalian mengajak anak dan istri untuk berwisata.
__ADS_1
"El, Kanno dimana posisi Cello sekarang cepat periksa lagi?" perintah Mario dengan cemas.