Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
48. Tidak Tahu Jodohnya


__ADS_3

Hari H-3 datang di mobil box berukuran besar datang ke alamat ibu Intan Ariyani pukul sebelas siang.


"Permisi, apakah ini kediaman keluarga ibu Intan Ariyani?" tanya kernet mobil box itu.


Bunda yang sedang melamun sendiri di ruang tamu jadi tersentak kaget karena ada suara cempreng dari luar.


"Iya betul, ada yang bisa kami bantu?" tanya bundanya Inneke dengan lesu.


"Ini pesanan dari ibu Intan, bisa tolong tandatangani terlebih dahulu, dan harus kita letakkan dimana Bu?" tanya kernet itu lagi dengan menyodorkan surat jalan kepada bundanya Inneke.


"Sebentar ya mas saya panggil ibu Intan dulu" kernet itu mengangguk tetap berdiri di depan pintu.


Bundanya Inneke berjalan ke dapur mencari keberadaan ibu kandungnya yang ternyata duduk di belakang rumah dengan asistennya mengecek persiapan ketersediaan bahan baku untuk catering nanti.


"Ibu....diluar ada mobil box, katanya pesanan ibu, ayo keluar sebentar" ajak bundanya Inneke dengan menarik satu tangannya, berjalan tergesa-gesa menuju kearah pintu depan.


"Ada yang bisa di bantu mas?" tanya Ibu Intan.


"Ini ibu Intan ya?, Pesanannya sudah selesai semua, mau di drop dimana Bu?" tanya kernet itu.


"Saya merasa tidak memesan barang mas, emangnya atas nama siapa dan apakah sudah lunas?" tanya Ibu Intan sedikit bingung karena merasa tidak memesan barang apalagi satu mobil box besar.


"Atas nama Faro Sanjaya Wiguna dari PT WIGUNA GROUP, ini sovenir pernikahan berupa jam tangan, dan alamat pengantaran kesini, boleh minta tanda tangan" keterangan kernet lagi lebih jelas.


Ibu Intan dan bunda mendengar ucapan dari kernet itu baru faham jika itu sovenir, karena Faro ataupun Imma sendiri tidak memberitahu mereka jika hari ini akan datang kiriman dari Bandung.


"Iya sini mas, ibu yang tanda tangan, dan bisa tolong di turunkan lewat pintu samping aja ada ruangan kosong disana" keterangan ibu Intan sambil menandatangani surat jalan itu dengan cepat.


Ada dua orang yang menurunkan sovenir itu secara bergantian, ada sekitar dua puluh lima kardus berukuran besar sudah selesai di turunkan.


Ada satu kardus dengan ukuran berbeda yaitu setinggi badan orang dewasa yang langsung di serahkan kepada ibu Intan lagi.


"Bu maaf, yang ini bonus langsung dari pimpinan kami buat kedua mempelai, dan pimpinan kami berpesan untuk di letakkan di samping pelaminan saja, bisa minta tandatangan lagi?" kernet itu mengulurkan satu lagi surat yang harus di tandatangani.


Ibu Intan kembali menandatangani surat jalan, dan meminta mengangkat barang itu ke dalam ruang tamu saja, dan mereka langsung pamit dengan sopan.


Setelah di letakkan di sudut ruang tamu, Ibu Intan kedatangan tamu tiga orang yang akan mendekor ruang keluarga untuk pelaminan akad nikah dan kamar pengantin yang ada di lantai atas.


Baru saja bundanya Inneke membaca pesan WA dari Malaysia jika Inneke tidak bisa pulang hari Jum'at karena pesawat yang akan di tumpanginya itu mengalami patah roda, sehingga di ganti berangkat Sabtu siang atau sore.


Membaca pesan itu di ruang keluarga bunda langsung pingsan, membuat semua orang kaget dan berlari mendekati bunda terutama ayah Edi Santoso.

__ADS_1


"Bun, bunda bangun" kata ayah Edi menepuk pipi bunda tetapi dia tidak sadar juga.


Datang ibu Intan membawa minyak kayu putih dan dioleskan di hidungnya, baru perlahan-lahan mata bunda mengerjap melihat sudah ada banyak keluarga yang mengelilinginya.


"Syukurlah bunda sudah siuman, ada apa yang bunda pikirkan, kok sampai pingsan?" tanya ayah Edi lagi begitu khawatir.


"Itu yah, Keke tidak jadi pulang hari Jum'at, Sabtu baru bisa, nanti kalau tidak jadi pulang bagaimana?" jawab bunda sambil berderai air mata.


Karena bunda begitu khawatir, akhirnya ayah Edi Santoso memutuskan untuk langsung vedio call putrinya di Malaysia.


"Ada apa yah, kok tumben vedio call segala" ucap Inneke penasaran.


"Tadi kamu kirim pesan WA pada bunda apa kok bunda sampai pingsan coba lihat itu?" tanya ayah Adi sambil mengarahkan kameranya kepada bunda yang terbaring lemah dengan tatapan yang kosong.


"Bun, jangan mikirin macam-macam, aku pasti pulang, walau aku harus merangkak dari sini istilahnya aku akan tetap pulang, bunda yang sehat ya" kata Inneke jadi ikut khawatir melihat bunda yang lemas tak berdaya, karena takut dirinya tidak pulang.


"Baiklah nak, besok jika sudah di bandara kamu vedio call bunda ya, biar bunda tidak khawatir'" nasehat ayah Edi pada putrinya.


"Iya yah, jangan khawatir" baru sambungan vedio call itu terputus setelah ayah Edi menekan tombol merah untuk mengakhiri percakapan.


Hampir dua hari ini bunda tetap saja sering melamun, sering menangis karena teringat almarhum ayah Anton, waktu beliau meninggal dulu dia tidak sempat bertemu beliau, dia seperti anak yang tidak berbakti kepada ayahnya, dalam perjalanan hidupnya jarang sekali bisa membahagiakan beliau.


Hari H-1 pukul tiga sore Inneke melakukan vedio call seperti yang di minta oleh ayah Edi Santoso kemarin dengan menarik koper masuki bandara internasional Kuala Lumpur.


"Bunda, ayah aku ada di bandara internasional Kuala lumpur sekarang" kata Inneke tersenyum manis dengan anggun berjalan menyusuri jalan masuk pintu bandara.


"Waaah anak ayah kok cantik banget sekarang, saingan dong sama istri ayah" rayu ayah Edi sambil menggoda istrinya yang dari tadi pagi muka di tekuk.


"Aah ayah, cantikan bunda yah, kalau bunda tersenyum sedikit aja, tidak di tekuk begitu mukanya" rayu Inneke gantian agar bundanya tidak khawatir.


"Tidak usah gombal Ke, yang penting sampai rumah dengan selamat pasti nanti lihat bunda tersenyum" cabik bunda sedikit lega melihat sosok putrinya ada di bandara.


Ya sudah Bun, tidak lama lagi, aku tagih janji bunda awas kalau tidak tersenyum, aku kelitikin bunda sampai pingsan, ya sudah aku mau cek-in dulu ya" jawab Inneke melambaikan tangannya dan mematikan sambungan vedio call nya.


"Iya nak hati-hati, ayah sendiri yang akan jemput kamu di bandara" jawab ayah Edi Santoso kemudian.


"Bunda sudah senang sekarang, ayo kita turun, makan dulu temani ayah, masak bunda tega, ayah belum makan dari siang" kata ayah sambil menarik tangan bunda, dan menggandeng bunda sampai lantai bawah.


"Maaf ya yah, gara-gara bunda ayah tidak makan siang" balas bunda merasa bersalah karena tidak memperhatikan suaminya sendiri.


Selesai makan ayah mengajak bunda berkeliling melihat rumah karena hampir dua hari bunda selalu di kamar, rumah sudah sangat cantik dengan nuansanya merah dan hijau di padu dengan bunga melati putih kesukaan Inneke, sedangkan kado yang kemarin dari Bandung yang tingginya sama dengan tinggi ayah sudah di letakkan di pojok ruangan kontras dan cocok sesuai dengan tema padahal tidak berkoordinasi dengan pendekor.

__ADS_1


"Coba lihat kado dari Bandung ini Bun" ayah membuka sedikit kado itu, karena memang sengaja baru di buka jika acara akad nikah akan dimulai.


Mulut bunda menganga melihat kado itu ternyata jam dinding bel bandul dengan ukuran besar, terbuat dari kayu ukir dan ada foto Faro dan Inneke sedang bergandengan tangan dan saling menatap mata tersenyum manis.


"Yah, kok ini ada foto mereka berdua, kapan mereka bertemu?" tanya bunda heran ada foto mereka berdua mesra begitu.


"Mene ketehe Bun, anak jaman sekarang tanya Mbah Google mungkin calon mantu bunda, sudah tutup lagi ya" jawab ayah Edi sekenanya.


Baru ayah mengajak bunda ke kamar pengantin disana juga sudah di hias senada dengan di ruang tamu dan ruang keluarga,


"Bagaimana Bun, ini kamar pengantin anak kita, apa perlu kita nostalgia seperti dulu?" goda ayah dengan merangkulnya dengan mesra.


"Ngarut aja nich ayah, sembrangkangan, sudah mau punya mantu masih aja ngeres itu otak, sana ambil sapu" celoteh bunda mendorong ayah Edi dengan kesal.


"Buat apa sapu Bun?" tanya ayah lagi pura-pura tidak tahu.


"Buat nyapuin otak ayah biar bersih" kesal bunda keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah mencari Ibu Intan berada di dapur bersama keluarga yang lain untuk mempersiapkan keperluan yang tinggal satu hari lagi.


"Ayah mandi dulu ya Bun, mau ikut jemput Keke?" tanya ayah sambil berjalan menuju kamar yang terletak di sebelah kamar pengantin.


"Tidak ayah aja yang jemput, bunda mau bantu ibu di dapur.


Tetapi saat baru turun dari tangga ada notifikasi pesan WA masuk tetapi tidak ada nama hanya nomor yang tidak bunda kenal.


"Bunda saya Faro, maaf belum sempat menemui bunda, apakah sovenir sudah sampai Bun?" tulis Faro mengawali pembicaraan padahal dalam hati Faro ingin bercerita tentang hal yang lain.


"Ooooo Abang, tidak apa-apa nak, sudah datang dua hari lalu dan ada jam dinding bel bandul juga sudah datang" jawab tulisan bunda sambil tersenyum.


"Bun, boleh kah tanya sedikit?" tulis lagi Faro dengan ragu-ragu.


Bunda dalam hati tersenyum walaupun dia pernah melihatnya tanpa sengaja dan sudah hampir satu bulan berstatus menjadi calon mantu tetapi memang waktu tidak sempat mempertemukan mereka, karena sama-sama sibuk, waktu juga sangat mepet, ternyata calon menantunya itu mencoba ingin dekat walaupun hanya melalui pesan WA saja.


"Silahkan aja tidak usah ragu nak" bunda menulis singkat jawaban dari Faro.


"Apakah putri ibu sudah tahu siapa calon suaminya?" Faro menulis lagi walaupun dengan setengah hati.


"Belum tahu nak, dulu saat dia menerima perjodohan ini, dia ingin bertemu saat akad nikah sebelum itu dia tidak ingin tahu siapapun orangnya itu syarat dari dia yang harus kami penuhi" cerita bunda dalam tulisannya.


"Baik Bun, tidak apa-apa sekalian jangan kasih tahu ya, nanti biar surprise, setelah akad nikah akan saya ceritakan semua, maaf karena belum sempat bertemu bunda, salam buat ayah dan Uthi Intan terima kasih" terakhir tulis Faro untuk calon mertuanya.


Bunda semakin bingung ada apa sebenarnya yang di sembunyikan dari calon menantunya itu dari foto yang ada di jam dinding bel bandul saja bunda masih bingung dapat dari mana, sekarang melarang untuk tidak memberi tahu tentang jodohnya.

__ADS_1


__ADS_2