
Mario datang membawa ganti baju dan ikan emas bakar kesukaan Inneke buatan Ara ke ruang rawat inap Inneke saat Faro sedang menyuapi Inneke makan yang di pesannya lewat online.
"Kalian sudah makan, ini gue bawakan ikan emas bakar buatan Ara" ucap Mario menyodorkan kotak makan berisi ikan bakar.
"Bang, aku mau ikan bakar juga, tapi tidak pakai nasi" pinta Inneke dengan mata berbinar mencium harumnya ikan bakar.
"Iya sayang, Abang suapin ikan bakarnya ya, mau pakai sambal?" Inneke mengangguk, Faro mulai memotong ikan itu di tambahkan sedikit sambal.
Suapan demi suapan tanpa terasa habis dua ekor ikan emas bakar sambil bercerita bertiga dengan riang.
"Apakah ini ada hubungannya dengan mafia itu lagi bos?" tanya Mario mulai berbicara dengan serius.
"Kemungkinan, tetapi belum jelas kita tunggu saja laporan dari intelejen dan kepolisian, makanya mulai saat ini perketat penjagaan, jangan lupa jaga istri elo juga" titah Faro dengan penuh penekanan.
"Kok gue lama-lama jengah sendiri ya bos, sudah bertahun tahun tetapi hanya kucing kucingan dengan mereka" Mario tampak kesal karena sepertinya tidak ada ujung persoalan dengan mafia itu.
"Kemungkinan mereka belum mendapatkan bukti yang pasti tentang peristiwa penembakan putra angkatnya waktu gue SD, sehingga mereka hanya menyerang keluarga gue secara diam-diam" keterangan Faro lagi.
Faro jadi termenung karena omongan Mario tadi, selama ini seperti kucing kucingan dengan mafia itu tanpa bisa berbuat apa-apa, mau membalas balikpun harus berpikir seribu kali, kekuatan mereka sangat besar, yang bisa dilakukan hanya bertahan dan mencoba melindungi keselamatan seluruh keluarga dengan baik.
Pagi harinya saat dokter Rianti visit ke ruangan bersama dokter ahli jantung mengatakan jika Inneke sudah mulai membaik, tetapi harus tunggu sampai minimal dua hari lagi untuk diperbolehkan pulang, karena masih di opservasi tentang kesehatan bayi dan pemulihan irama jantung yang tidak stabil serta luka yang terkena pecahan kaca juga harus diperhatikan agar tidak terjadi tetanus.
Datang Erna, Ara dan Cinta dengan membawa ikan bawal goreng beserta sambal mangga buatan Cinta, diantara tiga Ibu hamil Cinta seperti menjadi ambigu dan iri terjebak di dalam tubuh laki-laki tetapi jiwanya condong menjadi kemayu dan lebih sensitif.
"Coba gue bisa merasakan seperti kalian, seperti apa bahagianya gue" Cinta monolog sendiri dengan lirih tetapi sayangnya mereka bertiga mendengarnya hanya Faro yang tidak, Faro masih di kamar mandi saat mereka datang.
"Cinta...... tidak usah bersedih, anggap aja sebentar lagi elo akan memiliki tiga bayi yang harus elo jaga untuk kedepannya nanti" hibur Erna lembut dengan mengusap pundaknya.
"Iya say, elo yang akan menjadi ibu asuh dari bayi kita nanti" Ara juga menghibur Cinta karena matanya yang sendu.
"Cinta... mau dong ikan dan sambal mangganya, baunya sudah membuat dekbay yang ada di dalam perut berontak pingin menikmatinya, masih dalam perut aja dia sudah menyukai masakan buatan ibu sambungnya, bagaimana kalau sudah lahir nanti?" rayu Inneke mengalihkan perhatian Cinta agar tidak bersedih.
"Iya sebentar gue ambilkan, mau disuapin atau makan sendiri?" tanya Cinta mukanya mulai berseri lagi.
"Abang yang nyiapin aja Cin, kalian juga makan bareng yok biar tambah berselera" Faro mengambil piring yang dipegang Cinta duduk disamping Inneke mulai menyuapinya dengan telaten.
Akhirnya makan dengan lahap dan sambil bercanda, bukan sarapan atau makan siang, ini camilan ala ibu hamil yang terkadang makan tidak mengenal waktu.
Sampai malam kembali banyak yang membesuk mereka secara bergantian, baik keluarga, orang tua serta sahabat tidak ketinggalan, malam ini Mario, Rendi beserta istrinya berkumpul di ruang rawat inap untuk memberikan dukungan kepada Inneke agar cepat sembuh.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangannya, dekbay nya sehat saja kan?" tanya Rendi duduk di kursi di samping Inneke ingin membelai perut Inneke.
"Elo berani menyentuh perut dia, gue cincang lo, jangan macam-macam, bini elo sendiri tuuh dibelai, dasar jablay" celoteh Faro sambil menepuk pundak Rendi sedikit kesal.
"Maaf bro refleks, kebiasaan suka membelai perut bini, tidak usah cemburu juga kali ama gue" cicit Rendi cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Memang bos satu ini bucin Kronis, tidak pernah tau tempat kalau lagi main kuda-kudaan" Mario ikut komentar karena mengingat peristiwa di kantor jika sedang berdua dengan istrinyanya.
"Emang elo kagak, sama aja elo tuuuh bucin kritis, pulang kerja bukannya mandi malah mengajak perang diatas tempat tidur" cicit Faro tidak mau kalah.
"Bro, ngomong ngomong elo sudah siapin nama buat dekbay kah?" tanya Rendi yang sudah duduk manis di samping Erna mengelus perut istrinya dengan mesra.
"Memang sudah tahu jenis kelaminnya anakmu Er?" tanya Inneke penasaran.
Erna hanya menggelengkan kepalanya saja, mengingat kemarin saat periksa ke dokter Rianti katanya kelaminnya tertutup oleh tangan mungilnya.
"Mungkin bulan depan baru bisa diketahui, kemarin dokter Rianti bilang dekbay nya lagi malu, ditutup dengan tangan jadi tidak bisa terlihat" Rendi bercerita dengan sendu.
"Anak gue laki-laki, sudah juga gue persiapkan namanya" kata Faro dengan bangga sambil melirik Inneke dengan senyum mengembang.
"Siapa Bang namanya?" tanya Erna cepat karena penasaran.
"Yeee rahasia nanti aja kalau sudah lahir baru di umumkan bersamaan dengan potong dua kambing" Inneke dengan penuh keyakinan.
"Anak gue juga laki-laki bos, tetapi gue belum terpikirkan namanya" Mario tidak mau kalah membanggakan calon dekbay nya.
Sampai batas pengunjung datang ke rumah sakit berakhir Rendi dan Mario beserta istrinya pulang pamit pulang ke rumah masing-masing.
"Pulang dulu bos, jangan main kuda-kudaan ini rumah sakit, awas ada CCTV, nanti jadi viral, dengan judul pasangan bucin Kronis main kuda-kudaan di rumah sakit, kan tidak lucu" goda Mario tersenyum defil melirik Inneke yang mulai menyipit matanya terserang kantuk.
"CCTV kalau di kamar, gue masih bisa bermain cantik di kamar mandi, elo aja yang kurang kreatif" jawab Faro dengan terkekeh menggoda Mario yang sering berfikir mesum jika melihat Faro sedang berduaan dengan istri tercintanya.
"Dasar bucin kronis, bisa aja menemukan cara yang nyeleneh disaat seperti ini" Mario keluar kamar rawat inap menyusul Ara yang sudah berjalan dengan Erna di depan.
Karena celoteh Mario tadi tanpa disadari Faro, cobranya berdiri tegak hanya membayangkan bermain cantik di kamar mandi.
Dari naik disisi tempat tidur Inneke yang tangannya tidak di pasangi infus, memakai selimut, tetapi tangan menyusup di balik baju pasien rumah sakit tanpa terlihat.
"Abang jangan bilang apa yang diucapkan dengan Mario tadi akan praktekkan betulan" protes Inneke mencoba menahan tangan Faro yang sudah sampai puncak gunung itu dan memainkan dengan lembut.
__ADS_1
Faro tersenyum manis, ternyata istrinya bisa membaca apa yang diinginkannya, walaupun sudah di tahan tangannya oleh Inneke dengan sekuat tenaga, Faro tahu betul kelemahan istrinya itu, maunya menolak tetapi tubuhnya akan merespon dan pasrah jika Faro sudah bermain diantara gunung kembarnya.
"Abang nanti kalau terlihat di CCTV seperti kata Mario bagaimana malu atu?" Inneke masih mencoba menolak keinginan Faro.
Tetapi suara desahan kecil Inneke tidak bisa di cegahnya karena permainan Faro yang selalu membuat Inneke langsung terbang melayang menikmati sentuhan yang Faro lakukan.
"Ya tenang aja sayang, tidak akan ada yang tahu, ini tertutup oleh Selimut tangan Abang" Faro mulai menyusup di dalam selimut membuka tali baju pasien sehingga bisa dirasakan gunung kembar dan perut buncit Inneke.
Di hisapnya salah satu puncak gunung kembar dan satunya di tangkap dengan tangannya di mainkan dengan meremasnya lembut, Inneke terus mengeluarkan desahan laknat yang tidak bisa di tahannya dibalik selimut.
Faro keluar dari selimut dengan senyum mengembang karena sudah bisa memancing istrinya untuk bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
"Kita bermain cantik di kamar mandi saja" Faro turun dari brankar tempat tidur menggendong bridal Inneke dan meletakkan infus di atas perut Inneke.
"Abang dasar mesum, ini infusnya bagaimana?" Inneke bingung dengan apa yang dilakukan suaminya yang tidak bisa menahan rasa walaupun di rumah sakit.
"Tenang aja sayang, Abang yang ngatur, nikmati aja ok" Faro meletakkan Inneke diatas kloset, mengambil botol infus dan di gantungkan di atas kloset itu.
Faro menukar posisinya, Inneke di pangku secara berhadapan, langsung melakukan penyatuan disana sampai keduanya lemas setelah keduanya mengeluarkan cairan pekat bersamaan.
Langsung membantu mengguyur air hangat untuk mandi dengan cepat agar tidak kedinginan karena waktu sudah malam, menarik handuk mengeringkan tubuh Inneke dan membantu mengenakan baju, setelah Faro juga sudah bersih dan memakai baju dengan cepat, kembali menggendong bridal Inneke ke tempat tidur.
"Tidur sayang sudah malam" di kecupnya kening dan bibir bergantian dan ikut naik berbaring disampingnya memeluknya mulai memejamkan matanya beristirahat sampai pagi matahari mulai mengintip dari balik jendela rumah sakit.
Saat dokter Rianti dan dokter ahli jantung visit ke ruangan Inneke tersenyum manis karena setelah memeriksa keadaan Inneke sudah normal semua baik detak jantung dan dekbay sudah sehat seperti sediakala.
"Waaaah, ini hebat semua sudah bagus, ibu sudah sehat tunggu sampai sore kalau tetap stabil boleh pulang nanti malam" kata dokter Rianti senang.
"Terima kasih dok, kenapa tidak pagi ini saja pulangnya?" pinta Inneke membalas senyum dokter itu tulus.
"Jangan sekarang ya Bu, di opservasi sampai sore dulu, sabar ya" nasehat dokter ahli jantung dengan tegas.
"Baik dok" jawab Faro singkat dan diikuti anggukkan kepala Inneke tanda setuju.
Setelah dua dokter cantik itu keluar ruangan Faro tersenyum manis mendekati Inneke dan memeluknya dari samping.
"Yang, mungkin karena permainan cantik kita tadi malam di kamar mandi jadi cepat sembuh, kita ulangi lagi yok?" goda Faro dengan mengeratkan pelukannya.
Inneke hanya menatap horor Faro sambil memukul lengannya kesal dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Apa yang akan diulangi Bang?" tanya ayah Edi datang dan mendorong pintu masuk kamar rawat inap, diikuti bunda, Uthi Intan dan Rayhan masuk juga.
"Eeeee ayah, tidak apa-apa, cuma iseng" gugup menjawab dengan asal.