
Pola tidur Faro setelah baby Rafael lahir menjadi jungkir balik pasalnya saat siang hari baby Rafael akan tidur pulas, bangun jika menyusui, pup, buang air kecil dan popoknya basah atau saat mandi.
Tetapi jika malam hari setelah tengah malam dia akan terjaga dan aktif bergerak, tetapi sayangnya jika tidak mendengar suara papinya baby Rafael akan melengking tinggi suara tangisannya, sudah di coba di temani bibi Jum, umi ataupun bunda tetap saja akan selalu menangis jika tidak mendengar celotehan papinya.
Pernah sekali baby Rafael menangis lebih dari satu jam saat Faro sakit perut dan bolak balik ke kamar mandi karena diare, tetapi setelah mendengar suara bariton papinya memanggil baby Rafael perlahan berhenti menangis.
Digendong oleh umi, bunda, Mami Winda, Mama Meera ataupun Mama Dini bahkan bibi Jum yang setiap saat bersamanya secara bergantian tetapi suara tangisan melengking itu tetap saja tidak berhenti, setelah Faro meminum obat yang diberikan oleh Inneke baru kedua orang tua baru itu berlari mendekati putranya.
"Papi tidak kemana mana sayang, Papi sakit perut, bolak balik ke kamar mandi, jangan nangis lagi ya, apa perlu Papi gendong ke kamar mandi" ucap Faro menggendong baby Rafael dengan penuh kasih sayang.
Semua para Oma jadi tertawa lepas setelah pukul tiga pagi membuat semua Omanya terbangun membuat kehebohan, tetapi setelah di gendong oleh Faro langsung diam dan tidak menangis lagi.
"Dasar anak Papi, gemas grandma sama baby El" umi mencium pipi bayi menggemaskan itu.
"Iya memang, anak Papi tidak bisa jauh dari papinya" bunda juga mencium pipi baby El.
Faro dan Inneke terkekeh bersamaan, karena sudah membuat satu rumah geger karena suara tangisan putranya.
"Sudah semua sebaiknya tidur lagi, ini masih malam" nasehat Faro kepada semua orang yang sangat menyayangi nya.
Hampir satu Minggu ini Faro sering tertidur kantor karena setiap malam bergadang menemani baby Rafael yang terjaga berdua dengan Inneke.
Besok hari Minggu adalah akan diadakan aqiqah baby Rafael, hari Sabtu ini Faro tertidur pulas disamping baby El dengan pulas seharian, Inneke jadi tersenyum duduk di samping dua laki-laki yang berbeda generasi itu tertidur pulas dengan posisi yang sama tidur terlentang berdampingan dengan wajah yang sama seperti di foto kopi, mengelus pipi mereka bergantian dan ikut merebahkan tubuhnya di samping baby Rafael ikut terlelap.
Sampai menjelang sore mereka bertiga baru terbangun setelah bibi Jum mengetuk pintu karena waktunya untuk baby Rafael mandi.
"Tok...tok...tok..."
"Abang, Neng Keke ini waktunya baby Rafael mandi" panggil bibi Jum dari depan pintu.
Faro yang mendengar ketukan pintu menjadi tersentak kaget dan Langsung duduk melihat di sebelahnya ada istri dan anaknya masih tertidur pulas.
"Ya bibi masuk aja tidak di kunci pintunya" Faro yang mengeluarkan suara sedikit kencang Inneke dan baby Rafael ikut juga terbangun.
"Bangun nak, ayo mandi dulu sudah sore" Faro mengajak baby Rafael bicara dengan lembut.
Sore itu setelah mandi baby Rafael dan minum ASI eksklusif menjadi rebutan para Oma cantik, aunty dan Mama angkat mereka, semua jatuh hati pada baby Rafael yang menggemaskan bahkan Inneke tidak sempat bercengkerama dengan putranya sendiri hanya saat memberi ASI saja Inneke berdua dengan baby Rafael sampai malam menjelang selalu menjadi rebutan.
Pagi harinya aqiqah baby Rafael akan diadakan setelah sholat Jum'at hanya akan mengundang anak yatim-piatu dan ustadz beserta tetangga, sahabat serta keluarga besar.
Setelah acara inti dan doa selesai anak yatim-piatu juga sudah pulang setelah mendapatkan bingkisan dan amplop, tanpa diduga dan disangka datang tamu tak diundang dari Malaysia yaitu pasangan suami istri Sanah dan kedua orang tuanya, inspektur Ahmad dan kedua orangtuanya serta paman dan bibi yaitu orang tua dari Andrew Hidayat.
__ADS_1
Dengan alasan berwisata di Jakarta mereka sekaligus berkunjung ke rumah Faro dan mengucapkan selamat atas kelahiran putra pertamanya.
Dengan terpaksa Faro memperkenalkan kepada mereka kepada umi dan Abi tetapi sebelumnya Faro berpesan kepada inspektur Ahmad untuk tidak menceritakan siapa sebenarnya paman dan bibinya sebenarnya.
"Sanah....apa apa kabar?, akhirnya sampai juga di rumah kami, waaaah rombongan, siapa mereka?" Inneke dengan mata berbinar menyambut tamu yang datang tanpa disangka-sangka sambil cipika-cipiki.
"Mari saya perkenalkan, itu ayah dan ibu Sanah, yang pasangan ditengah mengenakan baju Koko hijau ayah dan ibu mertua, dan paling pinggir paman dan bibi dari Bang Ahmad" Sanah memperkenalkan seluruh keluarga yang hadir.
"Darimana Sanah tahu kami ada acara aqiqah hari ini?" tanya Inneke lagi sambil mencium punggung tangan para tamu bergantian diikuti oleh Faro yang sedang menggendong baby Rafael.
"Dari Jenderal Hendro dan kebetulan kami sedang wisata ke Jakarta, jadi kami sekalian mampir" jawab inspektur Ahmad dengan tegas.
"Ahmad bisa bicara sebentar" bisik Faro ditelinga Ahmad setelah menyerahkan baby Rafael kepada Inneke.
"Ya tuan ada yang nak saya bantu?" Ahmad ikut berbisik dengan menganggukkan kepalanya.
"Boleh bertemu dengan kedua orang tua saya tetapi jangan bercerita jika paman dan bibi anda adalah orang tua kandung dari Andrew Hidayat" pinta Faro tetap berbisik agar tidak didengar oleh keluarga Ahmad.
"Tentu tuan, saya dari kemarin bercerita kepada keluarga jika anda adalah suami dari teman Sanah yang pernah bekerja di Malaysia, kecuali paman dan bibi" keterangan Ahmad kemudian ikut berbisik juga.
Datang Umi, Abi, bunda dan ayah ikut menyambut kedatangan mereka.
"Perkenalkan beliau umi dan Abi saya, dan beliau ayah dan bunda dari Inneke, beliau tamu dari Malaysia teman kerja saat Inneke bekerja di Malaysia, umi" kata Faro memperkenalkan mereka satu persatu.
Duduk diruang tamu bercengkerama dengan akrab, para bapak sebagian besar berbincang dengan bisnis bahkan mereka berencana akan melakukan kerja sama dengan perusahaan PT WIGUNA GROUP dan perusahaan yang dimiliki oleh keluarga besar paman dan bibi atau orang tua dari Andrew Hidayat, orang tua dari bibi yang notabene asli dari Inggris mewariskan perusahaan yang dikelola oleh paman atau ayah kandungnya Andrew Hidayat, sedangkan para Ibu-ibu banyak bercerita tentang baby, seputar pengalaman mengandung sampai melahirkan.
Tetapi ada sorot mata yang sendu dari bibi atau ibunya Andrew seperti tidak bisa diartikan saat memandangi wajah anggun seorang Imma Anjani, dia yang tahu betul jika pernah mengalami depresi berat karena ulah putranya sangat merasa bersalah ingin meminta maaf tetapi dilarang oleh keponakannya yaitu inspektur Ahmad takutnya akan terjadi depresi kembali.
Sehingga orang tua kandung dari Andrew Hidayat yang bernama Hasan Hidayat memutuskan untuk mendekati mereka dengan kerjasama bisnis bersama Ken, bahkan mereka tidak berani mengajak kerjasama dengan Faro karena inspektur Ahmad menceritakan jika pribadi Faro sangat tegas dan over protektif jika menyangkut keselamatan dari umi tersayangnya.
Sudah hampir petang rombongan Ahmad berpamitan kepada keluarga besar Ken dengan sopan.
"Tuan Ken, tuan Faro kami mohon diri, terima kasih telah menerima kami penuh kekeluargaan" pamit inspektur Ahmad dengan membungkukkan badannya diikuti oleh semua keluarga.
Semua keluarga bersalaman satu persatu dengan mereka serta berpelukan bagi para bapak bapak, dan cipika-cipiki untuk para ibu-ibu.
"Tuan Ken saya ingin bertemu dengan anda besok di kantor untuk membicarakan lebih lanjut tentang kerjasama kita" bisik Hasan Hidayat dengan dan memeluk Ken dengan menepuk pundaknya.
"Baiklah tuan Hasan, saya tunggu kedatangan anda" jawab Ken mantap dan juga menepuk pundaknya.
Inneke sedikit lelah karena hari ini dia tidak sempat istirahat, setelah sebagian besar dari keluarga pulang, memberikan ASI kepada baby Rafael sampai kenyang, berbaring di tempat tidur setelah membaringkan baby Rafael di box bayi.
__ADS_1
Badan rasanya panas dingin, menyelimuti tubuhnya sampai leher mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat datang Faro masuk kamar.
"Sayang kenapa jam segini tidur dan memakai selimut seperti itu ada apa?" Faro mendekati Inneke duduk dipinggir tempat tidur dengan khawatir.
"Badanku panas dingin, sakit kepala dan badan sakit semua rasanya" Inneke berbicara dengan lirih.
"Sayang... badannya kenapa panas begini, panggil dokter ya!" Faro menjadi panik karena selama ini Inneke memiliki daya tahan tubuh yang kuat, mungkin karena terlalu capek sehingga membuat dia sakit.
"Sebentar sayang, Abang panggil Abi dulu untuk memanggil ke dokter"
Faro berlari keluar kamar melewati tangga dengan kencang karena mendengar suara mobil Ken yang akan pulang ke rumah mereka beserta keluarganya.
"Abi....umi... tunggu jangan pulang dulu" teriak Faro dengan suara yang lantang.
"Abi......umi.... tunggu".
Mas Tono bodyguard yang mendengar suara Faro berteriak langsung mendekati mobil Ken dan berteriak juga.
"Bos besar, itu bos Faro memanggil anda, sepertinya ada yang penting" mas Tono mengetuk kaca mobil perlahan.
"Pak Min, matikan dulu mobilnya, ada apa mas Tono?" tanya Ken sambil membuka kaca mobil.
"Itu bos Faro memanggil" mas Tono menunjuk kearah Faro yang berlari mendekati mobil Ken.
"Abi, umi tunggu jangan pulang dulu" nafas Faro tersengal-sengal setelah sampai di samping mobil Ken.
"Ada apa Bang?" tanya Imma turun dari mobil dengan cepat karena melihat Faro yang khawatir.
"Umi, badan Inneke panas dingin, bisa minta tolong hubungi dokter" Faro meminta Imma dengan suara yang cepat seperti tidak sabaran.
"Kita menginap disini lagi aja ayo turun semua" perintah Ken dan diikuti oleh Imma, Fia, Jasson dan Ezo.
"Kak Keke sakit apa umi?" tanya Ezo jadi ikut khawatir.
"Belum tahu sayang, sebentar umi hubungi dokter dulu" Imma menghubungi dokter yang biasa memeriksa keluarga Ken.
Kurang dari satu jam dokter sudah datang dan memeriksa kondisi Inneke dengan teliti.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Faro duduk di samping Inneke yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Tidak apa-apa Bang, dia hanya kecapean saja, ini saya buatkan resep, jangan lupa diminum rutin dan jangan lupa banyak istirahat" jawab dokter sambil memberikan kertas resep.
__ADS_1
"Baik terima kasih, apakah obat ini aman untuk ibu menyusui dok" tanya Ken yang khawatir karena menantunya itu sedang menyusui.
"Tenang aja aman" dokter pamit pulang dengan diantar oleh Jasson sampai diteras rumah.