
"Baiklah saya memanggil anda karena saya percaya kepada bapak, dan melihat kinerja bapak, anda saya angkat sebagai kepala cleaning servis yang baru" kata Faro tegas dan penuh wibawa.
Mata pak Basiran membelalakkan matanya dengan sempurna, hampir tidak percaya apa yang dikatakan bos yang ada didepannya, matanya langsung berkaca-kaca tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Pak, kenapa malah melamun?" terkekeh Faro melihat Pak Basiran yang seakan tidak percaya apa yang barusan didengarnya.
"A...a.. apakah yang anda katakan bos, saya bukannya mau dipecat tetapi diangkat menjadi menjadi kepala cleaning servis?" terbata bata Pak Basiran antara terharu campur bahagia sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Ya Pak, saya percaya anda mampu melaksanakan tugas yang saya berikan" Faro hampir ikut menangis melihat Pak Basiran begitu terharu campur bahagia.
"Terima kasih atas kepercayaan anda, saya akan melaksanakan tugas ini dengan baik bos, terima kasih sekali lagi" Pak Basiran langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Mario hanya memandangi interaksi antara Faro dan Pak Basiran dengan duduk di sofa tamu yang ada disamping mereka, ternyata masih ada orang jujur disekitar kita gumamnya sendiri dalam hati.
"Boleh saya bertanya satu lagi pak tentang keluarga anda?" pinta Faro ragu-ragu tetapi sambil melirik Mario yang dari tadi hanya melihat dan menyimak saja.
"Silahkan bos, apa yang ingin anda tanyakan?" Pak Basiran membetulkan duduknya berani menatap sekilas Faro yang menatap tajam padanya.
"Apa maksudnya sudah menganggap anaknya tidak ada?" ragu tetapi tetap tegas bertanya kepada pak Basiran.
Awalnya ragu-ragu Pak Basiran mau membuka mulut untuk cerita, tetapi Pak Basiran tetap harus berkata jujur.
"Anak saya mencari uang dengan cara tidak halal bos, saya tidak mau menikmati hasil jerih payahnya, lebih baik saya menikmati jerih payah saya sendiri dengan cara halal" ucap Pak Basiran sedih dan menunduk.
"Maksudnya tidak halal pak?" semakin Faro menekan pertanyaan yang spesifik dan membuat pak Basiran semakin bingung untuk menjawabnya.
"A...a..itu bos" gagap Pak Basiran dan semakin bingung harus berkata apa.
"Sudah Pak, saya tidak memaksa untuk bapak menjawab, selama tidak mengganggu kinerja bapak saya tidak mempermasalahkan hal itu, silahkan bapak kembali ke tempat kerja, bapak akan menjabat sebagai kepala cleaning servis terhitung mulai besok" Faro tegas dan berwibawa tetap memandang wajah pak Basiran yang seperti menyembunyikan kesedihan dan merasa bersalah tidak menjawab pertanyaan dengan gamblang.
"Terima kasih bos" Pak Basiran mau keluar dari ruangan kantor Faro, saat sampai pintu Faro memanggilnya kembali.
"Pak Basiran, jika suatu saat nanti bapak mau menceritakan tentang anak anda datanglah padaku, atau jika bapak ada masalah jangan ragu meminta bantuan kesini, saya yakin bapak tahu siapa saya" dengan lantang Faro bicara bersandar di kursi kebesarannya.
Pak Basiran tersentak kaget tetapi berusaha untuk menjaga kegugupannya hanya mengangguk saja, membuka pintu keluar dari ruangan kantor Faro.
"Sebentar bos, gue punya ide" Mario berdiri kecil keluar menyusul Pak Basiran yang berjalan mendekati lift.
"Pak Basiran tunggu" teriak Mario berlari mendekatinya.
"Ya ada yang bisa saya bantu bos" pak Basiran berhenti dan membalikkan badan tidak jadi menekan tombol lift.
__ADS_1
"Tenang Pak, saya mau minta tolong masalah pribadi, bukan soal pekerjaan perusahaan, bisa kita keruangan saya sebentar?" ajak Mario berjalan kearah ruangan kantornya, Pak Basiran mengikuti dari belakangnya.
"Silahkan duduk pak" Mario duduk di singgasananya sedangkan Pak Basiran duduk di kursi yang ada didepannya.
"Begini Pak, lima hari lalu istri saya melahirkan, di rumah hanya ada satu pembantu jadi kewalahan, bisakah bapak membantu saya merekomendasikan satu orang saja" pinta Mario tersenyum ramah.
Pak Basiran tersenyum, mungkin ini doa yang di lakukan secara ikhlas setiap saat istri yang hampir dua bulan ini menganggur akan mendapatkan pekerjaan kembali.
"Tenang saja Pak, kami juga menyediakan rumah tinggal untuk seluruh keluarga karena ada dua kamar untuk setiap pintunya, ada empat pintu tetapi sekarang sisa satu pintu" cerita Mario lagi dengan bergumam pasti pak Basiran akan tertarik karena kemarin sudah mendapatkan informasi jika istrinya berhenti bekerja di rumah Felix Siregar sebelum Agus Martono di angkat menjadi ketua mafia cabang Indonesia.
"Apakah boleh istri saya yang bekerja di rumah anda bos" Pak Basiran menawarkan istrinya seperti dugaan dan harapan Mario.
"Waaaah kebetulan sekali, boleh juga Pak, tetapi dengan syarat bapak sekeluarga harus pindah kesana" tebakan Mario tepat, seperti menangkap mangsa masuk perangkap istilahnya.
"Tetapi... tetapi..." Pak Basiran ragu-ragu melanjutkan ucapannya.
"Tetapi apa Pak?" Mario memajukan badannya menatap tajam kearah Pak Basiran.
Tertunduk malu, seperti buah simalakama, jika di katakan akan seperti diberi hati tetapi minta jantung, namun jika tidak dikatakan akan kehilangan tawaran pekerjaan untuk istrinya.
"Katakan saja Pak, jangan ragu-ragu" Mario mengerutkan keningnya berpikir apa yang membuat dia ragu dan takut.
"Apakah boleh kami pindah setelah habis gajian bos?" pinta Pak Basiran dengan penuh harap.
"Tidak bisa Pak karena Minggu depan kami akan mengadakan aqiqah putra kami, jadi banyak membutuhkan tenaga tambahan" jelas Mario dengan alasan yang logis agar Pak Basiran jujur kesulitan yang dialaminya.
"Tapi bos saya----" berhenti lagi ucapan pak Basiran sedih.
"Jujur saja Pak, siapa tahu saya bisa membantu masalah yang bapak alami" kembali lagi Mario meyakinkan.
"Begini bos, saya masih menunggak pembayaran uang kontrakan selama tiga bulan ini, dan lagi masih punya tunggakan uang belanja di warung sayur sebelah rumah" terasa ada kelegaan di hati laki-laki paruh baya itu setelah berkata jujur.
Mario mengeluarkan dompetnya, menghitung uang yang ada di dompetnya.
"Bos maaf saya tidak mau berhutang dengan anda, saya takut karena pengalaman masa lalu, saya kehilangan anak laki-laki karena tidak sanggup membayar hutang pada majikan istri saya" bukan ingin menolak atau berniat menyinggung tetapi di hati Pak Basiran tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Mario kembali tersenyum merasa bangga dan terharu masih ada orang jujur dan mempertahankan prinsip yang kuat untuk hidup apa adanya.
"Begini saja Pak, kita sama-sama butuh, saya membutuhkan tenaga istri bapak, bapak juga butuh uang untuk membayar kontrakan, ini uang anggap saja sebagai gaji istri bapak saya bayar dimuka, lunasi semua dan pindah hari ini juga" Mario mendorong uang yang tadi di letakkan diatas meja mendekati pak Basiran.
"Maksudnya istri saya langsung bisa bekerja bos?" berbinar mata Pak Basiran mendengar saran Mario yang logis dan bisa menyelesaikan masalah yang seperti tidak berujung.
__ADS_1
"Tentu Pak, karena sekarang di rumah sangat kerepotan saat ini, bapak saya ijinkan pulang tengah hari, selesaikan semua hari ini, mulai besok pagi istri bapak sudah harus mulai bekerja, masalah gaji, nanti silahkan bicarakan sendiri dengan istri saya" kembali Mario tersenyum, berhasil membujuk orang tua dari ketua mafia cabang Indonesia.
"Terima kasih bos, boleh saya pulang sekarang" Pak Basiran berdiri ingin berpamitan keluar dari ruangan kantor Mario.
"Pak Basiran bisa minta tolong satu hal?" pinta Mario saat pak Basiran belum sempat mendorong pintu untuk keluar.
"Bisakah keluarga bapak merahasiakan tentang istri saya, karena istri saya tidak suka dan agak susah bergaul dengan orang yang tidak begitu di kenalnya"
"Tenang saja bos, rahasia anda aman ditangan kami" dengan mengacungkan jempolnya bergegas keluar, hati serasa menghangat dalam satu hari semua masalah seakan terurai dengan cepat.
Karena sangat bahagia pak Basiran lupa tidak minta alamatnya, padahal hari ini harus pindah di rumah yang sudah disediakan oleh calon bosnya itu, setelah mengambil tas kecil akhirnya Pak Basiran kembali ke kantor Mario dan mengetuk pintu.
"Tok...tok....tok.."
"Masuk" Mario kaget Pak Basiran masuk lagi ke kantor tanpa dipanggil terlebih dahulu.
"Maaf bos, saya lupa belum minta alamat rumah anda" Pak Basiran cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ooo ini alamatnya, saya tunggu hari ini, tadi saya sudah menghubungi Istri saya dan sekuriti" Mario memberikan kartu nama lengkap dengan alamat dan nomor telepon.
Dengan menggunakan motor jadul yang setia menemani pak Basiran selama bekerja sebagai cleaning servis, dia pulang dengan cepat sampai di rumah.
Sampai rumah menceritakan kepada istrinya tentang kejadian hari ini, naik pangkat, mendapatkan pekerjaan untuknya, dengan fasilitas rumah di gaji dimuka pasangan suami istri paruh baya itu sampai meneteskan air mata karena sangat bersyukur masih ada orang baik yang membantu orang susah seperti keluarganya.
Pertama yang di lakukan Pak Basiran dan istri adalah ke rumah yang memiliki kontrakan membayar tunggakan selama tiga bulan dan sekalian berpamitan jika ingin pindah karena telah mendapat pekerjaan baru sebagai ART.
Setelah selesai ketempat orang yang memiliki kontrakan, Pak Basiran dan istri ke warung sebelah rumah untuk membayar hutang yang menumpuk lumayan besar, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf serta sekalian pamit akan pindah kontrakan.
Selesai semua hutang dilunasi, pak Basiran dan istri langsung mengepak semua barang dan perabot rumah tangga, dibantu oleh kedua anaknya yang baru pulang sekolah.
Sampai pukul lima sore Pak Basiran sekeluarga sudah selesai merapikan perabot rumah tangga yang akan diangkut oleh mobil pic-up yang disewanya.
Tanpa mengabari putra pertamanya Pak Basiran pindah dan meninggalkan kontrakan bersama istri dan anaknya serta tidak meninggalkan alamat yang baru kepada tetangga sekitar.
Sampai didepan pintu gerbang pak Basiran turun dan mendekati sekuriti meminta izin untuk masuk dan mengatakan jika dia adalah keluarga yang akan bekerja sebagai ART di rumah ini.
Bersamaan Mario pulang dari kantor saat Pak Basiran tiba didepan gerbang rumahnya, Mario membunyikan klakson mobil dan membuka kaca depan.
"Buka gerbang Pak, biarkan mereka masuk" teriak Mario kepada sekuriti yang berjaga.
"Siap bos" jawab dua sekuriti serentak.
__ADS_1
Setelah Mario memarkirkan mobilnya, turun dan mendekati Pak Basiran dan keluarga, meminta sekuriti untuk membantu menurunkan barang dan menunjukkan dimana keluarga Pak Basiran tinggal.