
Dengan adanya penemuan mayat itu, kasus penyerangan Fia seolah olah mengalami jalan buntu, tetapi tidak bagi Faro, dia masih menyelidiki secara diam-diam dan di bantu oleh jenderal Hendro.
Faro masih menyelidiki latar belakang kedua orang laki-laki yang menyerang Fia, dan masih mengamati CCTV tempat di temukannya mayat yang tertembak di kepalanya.
Hari ini hari Minggu pas istirahat siang, Faro sudah berdandan rapi, sudah hampir dua Minggu tidak bertemu dengan calon makmum, kerinduan yang mendalam di rasakan dalam hati Faro.
Keluar dari kamar turun ke lantai bawah dengan menggunakan tangga parfumnya menyeruak sampai di ruang keluarga dimana semua keluarga ngumpul.
"Beeeuh...wangi banget, si Abang yang ganteng, mau kemana, ikut dong?" rayu Ezo mengikuti Faro dari belakang.
"Ogah.... Abang mau ada acara, tidak ada bocah disana" tolak Faro.
Ezo cemberut dan mengerucutkan bibirnya, tetap mengikuti Faro yang akan pamit kepada Ken dan Imma.
"Abang ganteng... please..ikut?" rayu Ezo lagi.
"Emang ganteng dari orok, elo tidak usah ngerayu, kagak mempan, main game aja sana" jawab Faro lagi.
"Bi,...umi.. Abang jalan dulu ya" pamit Faro dengan mencium punggung tangan keduanya bergantian.
"Mau kemana to Bang?" tanya Ken dengan menarik Ezo untuk duduk di samping Ken.
"Mau bertemu Rendi dan teman-teman Abi" balas Faro kemudian.
"Hati-hati Bang, jangan pulang malam ya" nasehat Imma dengan lembut.
"Ya umi, Abang sayang umi, muuuah" Faro mencium pipi Imma dan berlari kecil menuju pintu keluar rumah.
"Eee... Kenapa yang di sayang umi aja, tidak sayang Abi?" protes Ken dengan sedikit suara keras agar Faro mendengar.
"Maaf Bi, Abang sayang abi juga, tapi tidak mau aaah, nanti jeruk makan jeruk kalau cium Abi, bercanda Bi maaf" celoteh Faro sambil berlari kecil menuju garasi.
Ken terkekeh dan menggelengkan kepalanya dan memeluk Ezo dengan erat "Cium Ezo aja muuuah".
"Abi.... jangan cium adik,....cium umi aja tuuuh, masak jeruk makan jeruk" cabik Ezo dengan mengusap pipinya, diikuti kekehan Ken dan Imma.
Faro menjemput Mario sebelum melajukan mobilnya ke mall tempat mereka janjian sebelumnya.
Sampai di mall Rendi sudah berdiri di pintu masuk mall, sedangkan Inneke dan Erna menunggu di dalam mall tempat biasa Faro dan Inneke duduk menikmati es krim berdua yaitu bangku panjang.
"Sudah lama bro?" tanya Mario saat melihat Rendi berdiri di depan pintu masuk mall.
"Kaki gue sampai kegajahan tidak kesemutan lagi" cabik Rendi kesal.
"Apa itu kegajahan?" tanya Mario penasaran.
"Kalau kesemutan itu kecil-kecil, ini kaki sudah gede kayak kaki gajah makannya kegajahan" keterangan Rendi.
"Aaaah garing lo" celetuk Mario.
"Ngapa elo tidak masuk si doi ada di dalam, dasar o'on" protes Faro sambil memukul kepalanya perlahan.
Mereka bertiga masuk ke mall, sudah terlihat dari jauh dua gadis cantik yang duduk di bangku panjang, dan bergabung dengan mereka berdua.
Rendi langsung mendekati Erna tanpa basa-basi dengan senyum yang mengembang.
"Hai...sayang, apa kabar?" tanya Rendi dengan duduk di samping Erna.
"Aku baik kak" jawab Erna dengan menundukkan kepalanya.
"Pepet terus Ren, jangan kasih kendor" bisik Mario di telinga Rendi.
Rendi hanya tersenyum devill, melirik si doi yang hanya menunduk tanpa berani menatap wajah Rendi.
__ADS_1
"Bisa kita bicara berdua sebentar?" pinta Rendi kepada Erna.
"Aku....a...a..ku" jawab Erna terbata-bata.
"Sana Erna kasihan tuuuh, tidak bisa move on dari elo" perintah Faro dengan mendorong Rendi mendekat.
Erna menganggukkan kepalanya berdiri mengikuti Rendi menjauhi Faro yang duduk berdampingan dengan Inneke.
"Beb, ini oleh-oleh Abang dari Surabaya, ini cauple, satu buat Abang satu buat elo" kata Faro sambil memberikan jam tangan cantik.
"Terima kasih, waaah cantiknya, aku pakai ya Bang" celoteh Inneke riang.
Setelah bercengkerama beberapa saat, hanya Mario yang diam saja seperti nyamuk yang menggangu, dia hanya bermain game di handphone.
Faro melihat Mario mukanya yang di tekuk menjadi kasihan.
"Bro...coba WA Rendi kita ke restauran cepat saji disana" perintah Faro kepada Mario.
Setelah masuk restauran cepat saji tidak lama kemudian Rendi dan Erna menyusul mereka dan bergabung di meja makan yang sama.
Makan dengan tanpa bersuara sejenak sampai habis di piring baru mulai berbincang kembali.
"Bagaimana bro... sudah CLBK nya?" tanya Mario penasaran.
Rendi tersenyum melirik Erna, sedangkan yang dilirik hanya tertunduk malu, karena jengkel di sikut oleh Inneke dan di goda dengan mengedipkan matanya.
"Apa sih elo?" cabik Erna sedikit tersipu malu.
Semua menjadi penasaran dengan tingkah dua insan yang saling tersenyum yang tidak bisa di artikan.
Mereka berlima bercanda ria dengan riang, datang seorang laki-laki gemulai yang pernah ketemu di Imma kafe mendatangi mereka.
"Abang kok disini, lagi pacaran ya..., awas ya Cinta laporin!" ancam Cinta duduk di samping Rendi dan tersenyum simpul.
Si wanita jadi-jadian itu tertawa lepas dengan suara bass-nya, sedangkan yang ada disitu saling pandang dengan tingkah polah Cinta.
"Tapi ada syaratnya ya Bang, si Rendi ini buat gue, yang lain kan sudah berpasangan, si ganteng ini jadi pasangan gue hari ini ha ha ha" pinta Cinta dengan meraih tangan Rendi dan bergelayut manja
"Idih najis..... gue sudah punya gebetan, ini di sebelah, elo ama Mario aja si jomblo abadi" tolak Rendi bergeser mendekati Erna.
"Enak aja, dia pinginnya ama elo, kenapa harus gue" Mario berdiri menjauhi Cinta.
"Bang siapa sih itu orang?" bisik Inneke kepada Faro sambil tersenyum geli melihat tingkah polah Cinta yang seperti ulat.
"Dia itu penjual sabun kecantikan langganan umi gue" cerita Faro dengan melirik si Cinta yang masih meraih tangan Rendi bergelayut manja.
Saat sedang asyik bercengkerama dengan kekasih, sahabat dan Cinta, Faro mendapatkan panggilan telepon dari jenderal Hendro untuk bisa datang ke markas sekarang juga.
Dengan terpaksa Faro harus mengundurkan diri perpamitan ada hal yang harus dilakukan.
"Beb, maaf ya, Abang pulang duluan ada hal penting yang harus di lakukan" pamit Faro kepada Inneke samping mengecup tangannya dengan mesra.
"Ya Bang hati-hati, kabari aku kalau sudah sampai rumah" jawab Imma dengan tersenyum manis.
"I love you " bisik Faro di telinga Inneke yang sudah bersemu merah pipinya.
Faro berbalik badan keluar restauran cepat saji "Sorry semua, Cin, tolong rahasiakan dari umi ya, elo kan sudah sudah dapetin gebetan si Rendi" tersenyum devill melirik kearah Rendi.
"Sialan lo, kenapa gue yang jadi korbannya" protes Rendi tetapi tidak di gubris oleh Faro.
Akhirnya setelah Faro meninggalkan tempat itu, mereka juga pulang kerumahnya masing-masing, Mario ikut pulang bersama Rendi.
Sesampainya di markas, Faro bergegas menemui jenderal Hendro yang sudah menunggunya beserta anggota yang lain.
__ADS_1
"Bagaimana semua sudah siap" pertanyaan jenderal Hendro.
"Siap...!" Jawab semua serentak.
Layar monitor di hidupkan, potongan CCTV yang di dapat dari TKP, semua mata menatap ke layar monitor tanpa berkedip, setelah sampai di penghujung tayangan CCTV itu.
"Siapa yang sudah menemukan petunjuk awal dari tayangan ini" tanya jenderal Hendro.
"Apakah bisa di putar 90° pada mobil warna merah setelah kereta api itu lewat" pinta salah satu anggota intelejen yang sering di panggil Pak Kumis.
Mereka memperhatikan layar monitor kembali dan memutar tantang vedio itu sesuai permintaan Pak Kumis.
"Tolong perbesar mobil yang ada di samping tetapi agak belakang itu Pak!" Perintah Faro.
"Orang yang ada di dalam belakang sopir bisa diperbesar lagi Pak" perintah Faro lagi.
Setelah di perbesar ada seorang laki-laki yang berambut cepak kekar dan terlihat garang.
"Itu salah satu tersangka yang menyerang Fia, jam berapa saat itu pak , dia masih hidup" tanya Faro lagi.
"Ada perbedaan sekitar setengah jam dari perkiraan meninggal dunia, jarak antara mobil itu dengan TKP sekitar 4 km" keterangan jenderal Hendro.
"Tersangka satu lagi tidak ada di mobil itu kah jenderal?" tanya pak kumis.
Layar monitor memperbesar tampilan mobil dan memutar sedikit hingga nampak siapa saja yang ada di dalam mobil itu.
"Tidak ada di mobil itu, coba di lihat CCTV daerah sekitar stasiun kereta api" titah Faro.
Memutar dan menggeser mouse di leptop dari lintasan rel kereta api ke stasiun yang jaraknya hanya satu setengah kilo meter saja.
Memutar ulang vedio dengan waktu yang sama dengan penemuan mobil yang masih ada tersangka yang masih hidup berada di dalamnya.
Di lihatnya setiap pengunjung yang datang, bergeser ke samping kiri dan kanan dari stasiun itu tetapi tidak menemukan sosok yang di carinya.
Dari semua kemungkinan kecil sampai terbesar sudah di selidiki dan tidak luput dari penglihatan para intelijen itu, tetapi hasilnya nihil, sedangkan letak TKP di temukannya mayat itu juga tidak terjangkau CCTV, sepertinya orang yang membuang mayat itu sudah memperkirakan waktu dan tempat Sebelumnya.
Hampir putus asa mencari titik terang kejadian itu, sebetulnya kasus seperti inilah yang sering mereka hadapi, sulit dan susah untuk mencari bukti ataupun tersangka utamanya.
Di ulangnya tayangan vedio itu oleh Faro, yang lain sudah hampir menyerah, saat Faro membuka lebar-lebar kedua matanya.
"Eeeee mata elang, apakah kamu menemukan sesuatu?" tanya Pak Kumis penasaran setelah melihat ekspresi wajah Faro.
"Setelah sepuluh detik dari kereta api lewat coba di ulang di gerbong terakhir" balas Faro ragu-ragu.
Ada bayangan satu pasang langkah kaki yang berlari menjauh di balik gerbang kereta api yang melaju kencang.
"Bisa di putar 180° posisi CCTV nya?" perintah jenderal Hendro dengan menatap tajam kearah layar monitor.
Dengan cepat petugas intelejen menggerakkan mouse sehingga layar itu gambarnya berputar seperti yang di minta sang jenderal.
"Binggo...... dapat....!" kata Pak Kumis antusias.
"Benar-benar si mata elang, tidak salah kami memberikan julukan itu padamu" jenderal Hendro tersenyum sambil menepuk pundak Faro.
Ternyata tersangka yang kedua berlari menyusuri rel kereta api yang gelap menjauh dari jangkauan CCTV mengarah tempat TKP dimana mereka di temukan tewas disana.
______________
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang
menjalankannya, mohon maaf lahir dan batin.
jangan lupa like vote dan komentar serta
__ADS_1
hadiahnya. thanks