
Waktu cepat berlalu pernikahan Faro tinggal satu Minggu lagi, Imma memang sengaja tidak menggunakan WO, karena kekompakan keluarga membagi tugas yang membuat persiapan menjadi lebih cepat selesai walaupun dalam waktu singkat.
Pukul sepuluh pagi ini rencananya Imma, Ken, Mama Meera dan Opa Tomy Sanjaya akan datang ke kantor Faro untuk menunjukkan undangan pernikahan yang sudah jadi beberapa hari lalu, yang akan di bagikan kepada karyawan dan relasi bisnis perusahaan Faro, dan ingin memberikan surprise siapa sebenarnya jodohnya.
Tetap di kawal oleh para salesman mereka tiba di kantor Faro dalam waktu satu jam saja, masuk ke perusahaan itu semua karyawan menunduk hormat dan di balas ramah oleh mereka sampai di depan kantor Faro tetapi Mario yang baru keluar dari toilet langsung berlari mendekati mereka.
"Bos besar, apa kabar?" tanya Mario mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Baik, apakah Abang ada di dalam?" tanya Ken sambil menunjuk kantor Faro.
"Ada bos besar, mari saya antar" balas Mario langsung mengetuk pintu kantor Faro.
"Tok...tok....tok..".
"Masuk....?" teriak Faro dari dalam.
Mereka masuk ke kantor Faro rombongan, saat melihat ada orang yang sangat di sayangnya datang bersamaan Faro langsung bangkit dari tempat duduknya mendekati mereka dengan gembira.
"Ada apa kok tidak bilang kalau mau kesini umi, bisa Abang jemput di bawah?" tanya Faro memeluk uminya dengan mesra.
"Sengaja emang Bang, mau kasih surprise Abang, Mario jangan keluar dulu di sini saja" Ken yang menjawab dengan penuh antusias.
Setelah mereka duduk di sofa tamu dan Mario menghubungi OB untuk membelikan minum dan camilan, baru Imma mengeluarkan undangan yang ada di paper bag yang dari tadi di bawa Ken dan Mama Meera.
"Abang, Mario coba kalian baca di undangan ini apakah namanya sudah di tulis dengan betul" perintah Imma dengan senyum yang mengembang memberikan satu undangan untuk Faro dan satu untuk Mario.
Faro dan Mario mengambil undangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, membuka perlahan dan membaca dengan teliti, Faro hanya fokus tulisan mempelai wanita yang bernama Inneke Farissa saja dengan mata yang berbinar.
Demikian juga Mario nama mempelai wanita yang bernama Inneke Farissa membuat mereka saling pandang seakan-akan tidak percaya jodoh itu adalah orang yang mereka kenal saat di kampus.
"Umi..... Abi.... apakah ini betul, apakah Abang tidak bermimpi?" tanya Faro dengan mata yang berbinar, berkaca-kaca hampir tidak percaya dengan jodohnya sendiri.
Karena sangking gemasnya Mama Meera mencubit lengan Faro "Apakah sakit Mama cubit?".
"Auw... sakit Mama" jawab Faro sambil mengusap lengannya sendiri disertai tertawa bersama-sama.
"Berarti tidak mimpikan?" imbuh Opa Tomy bahagia melihat ekspresi wajah Faro yang begitu bahagia.
"Jadi gadis yang dijodohkan Abang selama ini dia Bi?" tanya Faro memeluk Imma karena sangat bahagia.
"Iya Bang, bahkan perjodohan ini sejak Abang berumur tujuh bulan dalam kandungan ibu Lestari" cerita Opa Tomy sambil mengenang amanah Anton Sahroni satu Minggu sebelum meninggal dunia.
"Berarti waktu itu Inneke pun belum tercetak dong bos?" tanya Mario penasaran.
"Yap seratus buat Mario" Mama Meera mengacungkan jempolnya membenarkan ucapannya.
__ADS_1
"Selamat ya bos, akhirnya kalian bersatu juga akhirnya" seloroh Mario merasa lega dan bahagia mendengar kabar ini.
Datang dua OB mengantarkan minuman dan camilan yang di pesan oleh Mario.
"Silahkan pak, Bu, kami permisi" ucap OB sopan.
"Terima kasih ya mas" jawab Mama Meera mewakili mereka.
Hati Faro seperti menari-nari, bayangan wajah pujaan hati langsung berputar kembali di otaknya, tanpa sadar tersenyum sendiri sambil terus memandangi undangan itu.
"Kenapa senyum sendiri, pikirannya sudah mulai ngeres kayak Abi ya?" tanya Ken menggoda Faro sambil menyenggol lengan Faro dengan siku Ken.
"Aaah Abi, pikiran Abang masih bersih Bi, setiap hari Abang sapu biar tidak ngeres kayak Abi" celoteh Faro usil.
Dari tadi Ken melihat ruangan kantor Faro ada yang berbeda, dulu terlihat luas, sekarang di bagian belakang kantor ada batasan kamar yang lumayan besar disana.
"Bang, kapan dibuatnya, ada kamarnya segala sekarang?" tanya Ken lagi membayangkan kantornya sendiri dan fungsi kamar itu bagi Ken.
"Sudah lama itu Bi, ikut Abi aja, cuma fungsinya beda, kalau Abang cuma buat istirahat, kalau Abi buat lembur sama umi, iya kan mi?" goda Faro pada Imma membuat wajah Imma menjadi merah karena malu.
"Abang kalo ngomong kok tepat, kita coba yok mi, biar fungsinya sama?" gantian Ken menggoda istri tercintanya.
"Abi sama Abang sama aja, jangan buat umi malu ah, masih ada bujang satu lagi tuuh yang masih lama nikahnya" cicit Imma memandangi Mario yang senyum sendiri karena percakapan yang tidak jelas.
Faro jadi mengingat pertemuan terakhir antara dirinya dan Inneke saat itu dia mengatakan akan menerima perjodohan tetapi tidak ingin mengetahui identitas dari jodohnya itu dan dia tidak ingin bertemu sama sekali.
"Tidak Bang, dia tidak tahu juga seperti Abang, kata bundanya dia hanya setuju di jodohkan tetapi tidak ingin mengenalnya sama sekali sampai hari pernikahan" jawab Imma sambil mengusap pipi Faro lembut.
"Jangan diberi tahu sampai hari H, biar surprise, Abang ingin tahu bagaimana ekspresi wajah dia jika yang mengucapkan ijab qobul adalah mantannya" ucap Faro senang.
"Oya Bang, ini semua sudah siap, yang belum hanya sovenir, apakah Abang mau cari sendiri atau umi yang pilihan kan?" tanya Imma sambil mengambil camilan yang ada di meja.
Faro mengerutkan keningnya berpikir sejenak, Faro ingin memberikan sovenir yang berkesan di hati calon istrinya yang paling dia suka dan di koleksi adalah jam tangan.
"Biar Abang yang beli sendiri umi, sesuai hobi Inneke aja sovenirnya, undangan ada berapa?" tanya Faro antusias membayangkan ada banyak jam tangan yang mengelilingi Inneke, pasti dia sangat bahagia.
"Baiklah kalau bisa harus sudah siap tiga hari sebelum hari H ok" pinta Imma kemudian.
Faro mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke atas tanda setuju.
"Umi boleh tanya satu lagi, tentang Inneke?" tanya Faro terus terang kepada uminya tanpa malu-malu.
"Ciek..ciek Sekarang kok jadi semangat banget bos, padahal kemarin kayak ayam jago yang akan di sembelih, loyo dan layu" rayu Mario berbisik di telinga Faro.
"Diam lo berisik aja" cabik Faro dengan melempar tisu kearah Mario.
__ADS_1
Mau tanya apa to Bang?" tanya Opa Tomy penasaran karena Faro sambil cengar-cengir tidak jelas.
"Kapan Inneke pulang ke Indonesia, apakah sekarang dia sudah disini?" tanya Faro berterus-terang tanpa malu-malu.
"Kenapa memangnya sudah kangen, dua hari sebelum hari H, dia baru tiba di Jakarta?" sekarang Imma yang menggoda Faro sambil mengedipkan matanya.
"Umi tahu aja, sudahlah nanti aja ketemunya pas akad nikah, biar surprise, kita makan siang dulu yok sebentar lagi jam istirahat nich" ajak Faro berdiri merapikan meja kerjanya sebentar.
Mereka menuju ke restauran dekat perusahaan untuk makan siang bersama dengan penuh riang, terutama Faro selalu tersenyum mengembang di bibirnya, di balik cobaan ternyata akan ada kebahagiaan setelahnya, itulah yang ada di hati Faro saat ini.
Keesokan harinya sebagian undangan sudah di sebar untuk relasi bisnis, kolega, teman, tetangga dan keluarga dari dua belah pihak,
Sedangkan hari ini Faro terbang naik pesawat ke Bandung untuk hunting jam tangan buatan anak negeri yang sangat di kagumi oleh Inneke karena unik dan antik.
Pengrajin yang akan kedatangan tamu istimewa dari pentolan PT WIGUNA GROUP, sudah mempersiapkan dari tadi malam, mengerahkan seluruh tenaga kerja mereka, menyediakan bahan baku tinggal setting akhir saja saat kesepakatan di capai
Pengrajin jam itu juga meyakini jika mereka pasti akan pesan dalam jumlah besar jika untuk acara resepsi dari salah satu pentolan PT WIGUNA GROUP sendiri yang mengunjungi mereka, sehingga mereka mempersiapkan keperluan dengan baik, bahkan jika tidak tidur untuk menyelesaikan pesanan itu, mereka akan rela, di samping karena keuntungan yang besar pasti ini akan membuat mereka lebih terkenal.
"Selamat datang bos, di galeri kami" sambut Akang Asep pemilik kerajinan jam tangan itu.
"Terima kasih" jawab Faro singkat.
Pertama-tama Faro di ajak berkeliling di dalam galeri, menunjukkan ketersediaan bahan, barang dan macam macam contoh disain, jumlah tenaga kerja dan kemampuan produksi dalam perharinya.
Setelah Faro yakin jika dalam lima hari mereka mampu memproduksi jam tangan seperti permintaannya, baru Faro memilih disain jam tangan itu.
Pertama jam tangan disain bisa dipakai wanita ataupun pria, warnanya netral, di latar jam itu ada foto Faro dan Inneke, sedangkan nama mereka dan tanggal pernikahan mereka ada di belakang jam tangan dan di letakkan pembungkus kaca yang cantik dan elegan.
_________________
Sementara hari ini keluarga Andri Pranoto sedang berkumpul dengan keluarga untuk makan siang bersama di restauran sedang merayakan ulang tahun putri mereka yang umurnya lebih tua satu tahun dari Fia, dan kuliah juga di tempat Fia, tetapi beda jurusan.
"Papi, mami, aku mau cerita sedikit boleh?" pinta Jasson ragu-ragu.
"Cerita aja, tidak usah takut, tentang apa memangnya?" tanya Mami Trisya dengan lembut.
"Helehh, paling masalah kerjaan Pi, tidak mungkin soal cewek, selama ini aku tidak pernah melihat kakak gandeng cewek" cabik Jessi usil.
"Sembarang, kemarin aku habis ngelamar cewek, enak aja lo" protes Jasson kesal di ledekin adiknya.
"Hah, yang betul" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Makanya, ini aku mau cerita dengerin dulu" Jasson tambah kesal karena keluarganya tidak percaya dengan ucapannya.
"Baiklah, ayo cerita" kata Papi Andri Pranoto bijak.
__ADS_1
Akhirnya Jasson menceritakan pertemuan dan lamaran yang dia lakukan karena Fia tidak mau di ajak pacaran, dia juga minta jika habis acara resepsi Abang Faro akan langsung secara resmi datang untuk melamar Fia.
Andri Pranoto sangat bahagia jika bisa berbesan dengan keluarga dari PT WIGUNA GROUP, keluarga itu sangat ramah dan baik walaupun termasuk orang berada, tetapi mereka tidak sombong dan selalu menghargai sekecil apapun pendapat dan keberadaan orang lain itu.