Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
87. Babymoon Bersama


__ADS_3

Senin pagi jam sepuluh tidak cuma Inneke dan Faro yang membuat janji, Mario dan Ara, serta Rendi dan Erna juga ikut konsultasi dengan dokter Rianti, pasalnya ketiga pasangan itu berencana akan babymoon bersama ke Malaysia sekalian menghadiri acara pernikahan teman Inneke disana .


Usia kandungan Inneke enam bulan, Ara empat bulan dan Erna tiga bulan, karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sehingga ketiga pasangan itu memilih konsultasi dengan dokter Rianti.


Masuk ke ruang dokter langsung bersamaan karena memang mempunyai tujuan yang sama padahal yang di panggil pertama adalah Inneke sehingga suster yang memanggil menjadi bingung dan terbengong bengong.


"Pak, Bu satu-satu masuknya" suster itu jadi bingung dan terpaku tidak bisa berbuat apa-apa karena tiga pasang suami istri itu masuk tanpa permisi.


"Nanti saya yang bilang sama dokternya langsung suster, tenang aja" Faro melenggang masuk tanpa merasa bersalah.


Dokter Rianti juga tidak kalah kagetnya ada tiga pasangan suami istri masuk ruangan secara bersamaan.


"Ada apa ini kenapa tidak sabaran, bukannya yang di panggil cuma satu?" tanya dokter Rianti sambil berdiri karena kaget.


"Tenang dok, kami mempunyai tujuan yang sama, ini justru akan mempersingkat waktu kerja anda" Faro berdiri di samping Inneke yang sudah duduk di kursi depan dokter Rianti.


Ara juga duduk di sebelah Inneke sedangkan Erna diambilkan satu kursi lagi oleh suster dari luar ruang pemeriksaan.


"Silahkan duduk Bu" suster meletakkan kursi disamping kursi Ara.


Akhirnya Faro menceritakan maksud dan tujuan mereka datang bersamaan, sehingga satu persatu suster membantu mengecek tensi darah, denyut nadi dan suhu tubuh kepada ketiga bumil itu.


Sebenarnya yang paling parah ngidam adalah Rendi tetapi dengan minum obat mual dari dokter Rianti akhirnya ketiga pasangan suami istri itu mendapatkan rekomendasi bisa terbang menggunakan pesawat dengan catatan harus banyak istirahat tidak boleh terlalu capek dan tidak boleh banyak kegiatan selama babymoon nanti terutama Erna yang paling muda usia kandungannya.


Sudah memesan paket babymoon di sebuah villa di Kuala lumpur Malaysia untuk Minggu depan selama satu Minggu sangat tidak sabar ketiga menantikan momen itu, berangkat hari Sabtu depan dengan persiapan yang matang.


Setelah satu Minggu berangkat ke bandara internasional Kuala Lumpur Malaysia dari bandara internasional Soekarno Hatta dalam dua jam perjalanan langsung dijemput oleh mobil villa berdiri tegak di depan pintu keluar bandara dengan tulisan "Faro dan kawan".


Sampai villa masuk di kamar masing-masing, membersihkan badannya selama satu jam ada ketukan pintu dari para pelayan villa untuk makan malam, di sambut dengan hidangan makan malam dengan masakan khas Malaysia kesukaan Inneke terutama, yaitu nasi lamak, Asam Laksa Penang dan kue lapis Sarawak sebagai makanan penutup.


Tetapi mata Inneke langsung berkaca-kaca saat mereka sudah duduk di ruang makan villa karena tidak adanya menu ikan kesukaannya di meja.


"Bang ikannya mana, aku tidak mau nasi lamak, aku mau ikan atau seafood?" tanpa terasa air mata Inneke mengalir.


Faro langsung mendekatkan kursinya mengusap air matanya dengan tangan, tersenyum manis, moodnya ibu hamil terkadang memang susah di tebak, hampir enam bulan ini Inneke tidak pernah ketinggalan makan dengan menu makan ikan atau seafood tanpa merasa bosan sedikitpun.


"Sayang jangan menangis, sebentar Abang panggil pelayannya" rayu Faro sambil mengangkat tangan kanannya memanggil pelayan yang ada di dapur.

__ADS_1


"Bu, bisa minta tolong" pinta Faro kepada pelayanan villa yang umurnya kurang lebih umur uminya.


"Boleh saya bantu, tuan?" Jawab ibu itu dengan bahasa Melayu.


"Selama kami menginap disini bisakah membuat menu makanan dari ikan atau seafood, karena istri saya selama hamil selalu makan itu?" keterangan Faro sopan.


"Bisa tuan, nyonya nak mahu makan apa?" tanya ibu paruh baya itu lagi.


"Terserah ibu saja yang penting cepat, aku sudah lapar" jawab Inneke singkat.


Beda lagi dengan Inneke, Erna begitu menikmati Asam Laksa Penang yang rasanya sesuai keinginan lidahnya, bahkan dengan cepat dia menghabiskan hampir tiga porsi Asam Laksa Penang.


Sedangkan Ara lebih kalem dengan hidangan nasi lamak yang ada di depannya tanpa pilih-pilih karena selama ini Mario lah yang merasakan ngidam.


Hanya dalam seperempat jam menu khas Sarawak bernama Umai siap tersaji di depan Inneke, hidangan berbahan dasar ikan tengiri yang diiris tipis di tumis dengan bumbu asam pedas terasa segar dan menggugah selera, dalam satu mangkuk porsi besar Ara dan Erna hanya mencicipi satu piring kecil saja sisanya Inneke sendiri yang menghabiskan bahkan Faro yang menggoda Inneke ingin mencicipi dilarang oleh Inneke.


Keesokan harinya yaitu hari Minggu Mario, Ara dan Rendi, Erna menghabiskan waktu di villa saja karena paket babymoon akan di mulai hari Senin esok, sedangkan Faro dan Inneke akan menghadiri acara pernikahan sahabat Inneke di sebuah hotel ternama di Malaysia pukul sebelas siang.


Pertama kali masuk di area resepsi pernikahan itu hampir sama dengan adat di Indonesia dengan adat Melayu daerah Riau, perbedaannya dari pakaian adatnya yaitu pakaian adat Melayu yang dipakai pasangan pengantin, biasanya pakaian tradisional untuk pengantin pria berupa baju kurung atau baju koko khas Melayu dengan bertapikan kain bermotif khas yang diikatkan di sekeliling pinggang dan memakai peci berwarna senada. Sementara itu, pengantin wanita juga memakai jenis baju kurung yang tertutup dengan berbagai hiasan, kerudung, dan selendang yang disampirkan di bahu.


Perbedaan yang sangat mencolok dengan adat pernikahan Indonesia adalah cara menghilangkan menu makanannya jika di Indonesia menu makanan biasanya prasmanan tetapi disediakan satu tempat dan para tamu akan mengantri untuk mengambil makanannya sambil berdiri tetapi jika di Malaysia prasmanan nya di sediakan di setiap meja tamu sehingga para tamu duduk terlebih dahulu baru menikmati hidangan yang sudah disediakan.


Saat Faro dan Inneke masuk di acara resepsi Sanah dengan menggunakan pakaian coople batik asli Indonesia berbeda dengan tamu yang asli masyarakat setempat membuat mata Sanah langsung ngenali tamu yang baru saja tiba.


"Inge......Inge.....ya Allah kau datang bersama pasangan sesuai janjimu dulu" Sanah memeluk erat Inneke dan cipika-cipiki berkali-kali.


"Apakah dia orang yang---!" ucap Sanah lagi sambil melipatkan kedua tangannya di dada sambil sedikit membungkuk tersenyum manis sebagai salam perkenalan kepada Faro.


Faro juga hanya melipatkan kedua tangannya di dada dan membalas dengan tersenyum dan sedikit membungkukkan badan.


"Iya dia suami aku, kenalkan namanya Bang Faro, nanti lain kali aku ceritakan" balas Inneke memotong pertanyaan Sanah.


"Waaaah ini sudah berapa bulan kandungnya?" tanya Sanah dengan mengusap lembut perut Inneke.


"Enam bulan" jawab Inneke singkat.


"Oya sampai lupa, perkenalan dia suami aku, Bang Ahmad" lelaki tegap itu juga melipatkan kedua tangannya di dada tersenyum sopan.

__ADS_1


Tetapi setelah beberapa saat memandang wajah Faro sangat terlihat wajah Ahmad pias, pucat pasi dan tersentak kaget, karena wajah itu tidak begitu asing terlihat.


"Adik, bercakap-cakap dengan sahabat adik sejenak, Abang ingin mengajak Tuan Faro bercakap pula" pinta Ahmad kepada istrinya.


Ahmad langsung menarik tangan Faro tanpa permisi kearah meja yang kosong walau masih ada piring kotor dimeja itu belum di bersihkan oleh pramusaji.


"Apakah anda mengenal saya?" tanya Faro heran karena tangannya ditarik oleh orang yang belum dikenalnya sama sekali.


"Ya tuan saya mengenal anda silahkan duduk dulu" Ahmad mengajak Faro duduk dengan saling berhadapan.


Ahmad mengambil handphone yang ada di saku baju Koko yang dikenakannya, bergegas mencari galeri foto yang di simpan dalam satu file oleh Ahmad.


"Ini bukankah ini foto Anda?" Ahmad menunjukkan kumpulan foto-foto dalam galeri itu ada sekitar lima puluh lebih.


Faro melihat memang ada fotonya, dan setelah di gesernya satu persatu deretan galeri foto itu, ternyata ada juga Ken, Tomy Sanjaya, Baron Pranoto bahkan ada juga Andri Pranoto.


"Dari mana Anda mendapatkan foto saya, ayah dan kakek saya?" tanya Faro dengan memandangi lekat-lekat wajah Ahmad.


"Saya adalah aparat polis Diraja Malaysia tuan, maka saya----" Ahmad tidak melanjutkan ucapannya karena datangnya Sanah dan Inneke serta semakin banyaknya para tamu yang datang.


"Abang, biar tamu istimewa kita nak menikmati hidangan sejenak, tak tega adik lihat perut Inge belum diisi sedapnya hidangan yang ada dimeja" ucap Sanah dengan bahasa Melayu yang kental.


"Tentu...tentu....maaf nanti kita lanjutkan lagi tuan, saya nak berkunjung dimana tuan menginap?" kata Ahmad berdiri sambil mempersilahkan mereka berdua menikmati hidangan yang sudah di sediakan tetapi sebelumnya ada dua pramusaji yang membersihkan piring kotor dan menambah menu makanan yang tinggal sedikit.


"Bang ada apa sepertinya suaminya Sanah serius banget ngobrol ama Abang?" tanya Inneke penasaran.


"Tidak tahu Yang, dia kenal sama Abang, bahkan dia menyimpan foto Abang, Abi dan Opa Tomy dan masih banyak lagi yang Abang kenal" jujur Faro sambil menikmati hidangan makan siang.


"Ngomong-ngomong kenapa Sanah memanggilmu Inge sih sayang?" tanya Faro mengalihkan perhatian Inneke agar tidak terlalu bertanya tentang Ahmad yang belum diketahui misteri apa sebenarnya dia mengenalnya.


"Dulu satu kantor yang namanya Inneke ada tiga orang, jadi aku di panggil Inge, untuk membedakan biar tidak menengok semua jika di panggil" cerita Inneke tersenyum seolah olah mengingat kejadian saat kerja di Malaysia.


Sampai selesai menikmati hidangan Faro melamun masih belum mendapatkan jawaban mengapa suami dari sahabat Inneke itu mengenalnya.


Sampai Inneke mengajak pulang dan berpamitan dengan kedua mempelai pikiran Faro masih sedikit bingung.


"Tuan nanti malam kami nak berkunjung dimana anda menginap?" tanya Ahmad dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan.

__ADS_1


"Di villa XX , kami tunggu" jawab Faro singkat.


Sampai di villa Faro langsung menemui Mario yang sedang duduk sendirian di samping kolam renang menunggu Ara, Erna dan Rendi berenang bersama, Faro menceritakan tentang pengantin pria yang baru saja di temui setelah Inneke ikut bergabung berenang dengan mereka.


__ADS_2