Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
24. Aksi si Mata Elang


__ADS_3

Malam harinya Inneke duduk di ruang keluarga bersama nenek dan kedua orang tuanya, mereka ingin membicarakan tentang amanah dari kakeknya Anton Sahroni.


"Nak... boleh ayah bicara sesuatu dengan kamu?" kata ayah Inneke mengawali pembicaraan.


"Tentang apa sih yah, kok sepertinya penting?" Jawab Inneke penasaran duduk mendekat kepada ayahnya.


"Begini nak, dulu saat kakek Anton satu Minggu sebelum meninggal, beliau meninggalkan amanah yang belum beliau laksanakan dari sahabatnya" ucap ayah Edi dengan hati-hati.


"Memangnya amanah apa sih yah, kok malah membuat aku jadi penasaran?" Inneke semakin antusias mendengar ucapan ayahnya.


"Kakek Anton berpesan jika Putri ayah akan di jodohkan dengan putra dari sahabat karibnya itu" ayah Edi menggenggam tangan Inneke memandangi wajahnya yang langsung pucat, membelalakkan matanya dengan sempurna


"Ha' ..... aku di jodohkan dengan putra sahabatnya kakek?, tapi ayah aku---?" Inneke mulai berkaca-kaca, ingatannya langsung kepada Faro, tambatan hati yang selama ini masih di rahasiakan dari orang tuanya ataupun neneknya.


"Dengar Keke, nenek minta maaf, jika ini akan sangat membebani kamu, tetapi namanya amanah harus di sampaikan, jika tidak kami sampaikan, kami akan berdosa" jujur Ibu Intan Ariyani kepada Inneke.


Inneke hanya tertunduk, sedih bercampur marah, akan jujurpun tidak berani, karena dari awal di larang untuk berpacaran, jika menerima perjodohan ini bagaimana dengan Faro.


"Keke...... Keke...kok melamun nak?" panggil bunda Inneke dengan suara yang agak tinggi di dekat telinga Inneke.


"Aa....a...apa Bun, bunda ngomong apa?" Inneke menjawab dengan gugup karena kaget.


Bunda Inneke jadi terkekeh melihat putrinya yang melamun dan terkejut saat di panggil.


"Nak, Walaupun kami tidak memaksamu harus menerima perjodohan ini, tetapi tolong di pertimbangkan ya, demi kakek?" nasehat ayah Inneke bijak tetapi seperti memaksa secara halus.


"Aku pikirkan terlebih dahulu ya ayah, bunda, permisi aku akan ke kamar dulu" pamit Inneke meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke kamar menguncinya baru merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Matanya menatap langit-langit, tanpa di sadari air matanya menganak sungai, hatinya terasa perih, kenapa harus di jodohkan, dengan orang yang tidak di kenalnya, Inneke harus bagaimana memilih antara kekasihnya atau perjodohan ini.


Padahal baru kemarin mengatakan kepada Faro akan berjuang untuk mempertahankan hubungan dengannya, sekarang dia tidak tahu harus mulai darimana cara mempertahankan hubungan dengannya.


Sampai menjelang pagi Inneke baru bisa tidur dengan mata yang sembab, bahkan sampai pagi juga tidak bisa mendapatkan solusi dengan masalah perjodohan ini, Inneke masih tidak bisa memutuskan mana yang harus dia pilih, perjodohan itu atau mempertahankan kekasih hatinya.


Keesokan harinya saat makan siang Faro menghubungi Inneke ingin bertemu di sebuah kafe NN, tetapi Inneke menolaknya dengan alasan sedang melaksanakan sidang di kampus, dalam satu Minggu ini Inneke selalu menghindar saat Faro mengajak bertemu dengan alasan masih sibuk, sedangkan Faro memakluminya, karena Faro juga masih merawat Abi Ken yang cedera punggung.


Inneke juga selalu menghindar dari Erna, karena tidak ingin sahabatnya itu curiga jika dia belum menemui Faro, Inneke masih dilema, Inneke tidak berani dan tidak ingin tahu siapa sebenarnya orang yang di jodohkan kakek untuknya.


_________________


Sudah hampir sepuluh hari Ken dirawat, dan rencana hari ini di perbolehkan pulang, semua keluarga menyambut bahagia dengan pulihnya Ken.


"Kakak, Abi pulang" teriak Ezo riang berlari menuju halaman rumah dengan loncat loncat karena girangnya.


"Abi....umi.....kakak kangen" Fia juga ikut berlari menjemput abinya yang baru pulang dari rumah sakit.


"Baru kemarin tidak ketemu Abi, masak sudah kangen aja, kakak yang aneh" cabik Ezo berlari berlomba dengan kakaknya mendekati abinya berebutan memeluknya.

__ADS_1


"Kakak, adik...auw...auw... jangan keras keras peluk Abi, punggung Abi masih sakit" kata Ken menahan badannya agar tidak terjatuh karena jadi rebutan antara Fia dan Ezo.


"Maaf Bi, tidak sengaja" balas Fia cemberut karena kalah cepat dengan adiknya memeluk Abi tercintanya.


"Sini kakak gandeng Abi sebelah kanan dan adik sebelah kiri biar adil" Ken memeluk keduanya dengan penuh kasih sayang.


"Yaaaa Abang kok tidak dapat pelukan, padahal kan Abang yang jemput Abi" Faro pura-pura merajuk karena kedua adiknya mendapatkan pelukan dari abinya.


"Sini Abang sama umi, kalau ngiri pingin di peluk" Imma mendekati Faro memeluknya dari samping berjalan ke dalam rumah dengan tersenyum bahagia.


Para bibi dan pak Rudi menurunkan barang yang ada di bagasi mobil dan membawanya ke dalam rumah.


"Kakak, adik antar Abi ke kamar ya, biar Abi istirahat, karena Abi belum boleh banyak berjalan harus banyak berbaring" perintah Imma masih memeluk Faro.


"Sudah ah, pelukan terus, sana Abang pelukannya sama calon makmum aja" celoteh Imma menggoda Faro dengan tersenyum.


"Umi, belum boleh peluk calon makmum, bukan muhrim" celetuk Faro tanpa sadar mengatakan kata itu.


"Eee tunggu, memangnya selama ini Abang bagaimana pacarannya, kok belum pernah pelukan, ayo ngaku" titah Imma sambil menggelitiki perut Faro.


"Ampun umi, ampun..iya Abang ngaku, kami hanya bergandengan tangan aja, kami berkomitmen akan melakukan yang lain jika kami sudah menikah" jujur Faro sambil melepaskan tangan Imma berlari ke kamarnya sendiri.


Imma terkekeh dan menggelengkan kepalanya, ternyata adik yang dianggap putranya itu begitu menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma dengan baik.


Imma menyusul Ken di kamar yang sedang bercengkerama bersama Fia dan Ezo.


"Ya umi" Jawab Fia dan Ezo bersamaan.


Setelah pintu ditutup Ken menarik Imma dan di peluknya dengan erat, menciumi seluruh wajah Imma dengan lembut.


"Bi, jangan mulai ya!, nanti kalau anak-anak masuk bagaimana?" Imma kesal jika berdua otak mesumnya tidak pernah surut.


"Kangen honey...".


"Sayang, jangan macam-macam, masih sakit juga, pikirannya mesum terus".


"Honey yang sakit punggungnya, tetapi junior tetap saja bangun"


"Awas aah, kalau anak-anak kesini, jangan sekarang!".


Ken melepaskan pelukannya tetapi sambil mengerucutkan bibirnya kesal karena selalu saja anak-anak yang di buat alasan jika sedang ingin menemui kesayangannya.


Imma hanya tersenyum melihat Ken yang cemberut dan mengerucutkan bibirnya, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket sedari tadi pagi belum sempat mandi.


Betul saja, Faro masuk kamar Ken dan Imma tanpa mengetuk pintu,


"Abi, kemana umi?, Abang ijin keluar sebentar, di panggil jenderal Hendro untuk datang ke markas sekarang, tolong pamitkan pada umi" pinta Faro sambil mencium punggung tangan Ken.

__ADS_1


"Umi sedang mandi Bang, ada kasus apa, kok tumben sore-sore panggil Abang?" tanya Ken penasaran.


"Belum tahu Bi, nanti Abang ceritakan jika sudah tahu, Abang pamit ya Bi".


"Nanti Abi pamitkan kepada umimu, hati-hati ya Bang".


"Iya Bi, terima kasih".


Faro menuju markas intelejen dengan cepat, hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi, mengapa sudah mulai senja tetapi memanggilnya.


"Halo mata elang, bagaimana kabar abimu?" tanya jenderal Hendro, menepuk punggungnya.


"Beliau sudah sehat, ada kasus apa jenderal, kenapa harus jam segini, apakah mendesak?" tanya Faro penasaran.


"Duduklah, nanti kau akan tahu, pak kumis ayo kita mulai!" perintah jenderal Hendro.


Pak kumis memulai menyalakan monitor besar yang ada di depan mereka, tayangan pertama ada pertemuan antara Ramos Sandara dengan seorang laki-laki gaek tetapi masih terlihat maskulin dengan berpakaian jas yang terlihat elegan sedang memberikan dua lembar pas foto berukuran 2R.


"Siapa yang bersama Ramos Sandara itu jenderal?" tanya Faro tetap fokus melihat layar monitor besar yang ada di depannya.


"Dia adalah pengacara yang yang pernah membela almarhum Baron Pranoto saat penembakan putra angkat Theo Thanapon" jawab jenderal Hendro tegas.


"Coba fokus pada pas foto itu pak kumis" perintah Faro tetap memperhatikan monitor besar yang ada di depannya.


Foto pertama adalah foto mobil Abi Ken yang sedang melintasi jalan di dekat TKP waktu itu, foto ke dua adalah saat Sandi, Ken dan Faro yang duduk di dalam mobil juga terlihat di dekat TKP juga.


"Ini ada hubungannya dengan penyerangan Fia waktu itu Bang" ucap jenderal Hendro berdiri dari tempat duduknya.


"Maksudnya jenderal?" tanya Faro lagi.


"Kelompok Theo Thanapon sudah mengetahui jika waktu itu ada kamu dan Kenzie saat penembakan itu, makanya kelompok itu mencoba menculik Fia, untuk mencari informasi tentang keberadaan orang yang menembak putra angkat Theo Thanapon, karena mereka tidak berhasil menculik Fia, makanya mereka menembak kepala dua orang laki-laki itu untuk menghilangkan jejak" keterangan jenderal Hendro panjang lebar.


Faro hanya mengangguk anggukkan kepalanya mulai memahami tayangan yang ada di layar monitor.


"Pak kumis lanjut, ke tayangan kedua" perintah jenderal Hendro dan duduk kembali di samping Faro memperhatikan dengan seksama monitor yang sudah mulai tayangannya.


Tayangan itu di awali seorang laki-laki gaek yang di bilang jenderal Hendro adalah seorang mantan pengacara almarhum Baron Pranoto yang keluar dari sebuah restauran masuk ke sebuah mobil dengan nomor plat mobil yang asing dan tidak di ketahui oleh Faro, berjalan menuju jalan raya sampai di sebuah jalan yang ada terowongannya, di dalam mobil itu ada dua orang yang duduk di belakang, satu sopir dan ada satu orang lagi yang duduk di samping sopir, tiba-tiba mobil itu menabrak dinding jalan terowongan itu bersamaan dengan peluru menembus kepala keempat orang yang ada di dalam mobil itu.


"Dimana TKP nya jenderal?" tanya Faro tetap memandangi layar monitor besar yang ada di depannya itu.


"Salah satu jalan yang ada di Singapura, jenazahnya besok sore mungkin baru tiba di Jakarta" balas jenderal Hendro.


Faro tetap memperhatikan monitor besar itu yang di buat slow motion tanpa berkedip.


"Peluru itu sama persis posisinya seperti dua orang laki-laki yang akan menculik adik Fia waktu itu" kata Faro tanpa mengedipkan matanya.


"Yap, itu laporan yang aku dapatkan dari kepolisian Singapura" jawab jenderal Hendro.

__ADS_1


"Matamu memang benar-benar mata elang, mudah sekali kamu mengetahui itu dengan cepat, memang sepertinya itu di lakukan oleh tersangka yang sama, aku juga mendapatkan laporan bahwa jenis pelurunya juga sama" jenderal Hendro menjelaskan lebih rinci kepada Faro.


__ADS_2