
Tidak terasa Rafael sekarang sudah berumur sepuluh bulan, dia sudah merangkak kemana mana, hampir seluruh ruangan sudah bisa dia raih, meja, taplak meja, kursi, lemari, kulkas, tempat tidur selalu berhasil diacak-acak oleh Rafael.
Rumah sekarang seperti kapal pecah jika Rafael sedang bermain, bahkan terkadang bibi Jum kewalahan mengikuti petualangan Rafael menjelajah seluruh ruangan rumah, terkadang merangkak di ruang tamu, ruang keluarga, dapur ataupun ruangan lainnya.
Terkadang Rafael tidak tertarik dengan mainan yang dibelikan oleh Faro, Rafael lebih tertarik dengan barang barang yang ada disekitarnya.
Seperti saat ini, hari Minggu Rafael dibawa ke ruang kerja Faro, Inneke sedang di kamar mandi, dan papinya sedang konsentrasi membaca laporan yang dikirim oleh Mario, lemari buku dan dokumen sudah di tarik oleh Rafael dari tempatnya, berantakan di lantai berserakan.
Saat membuka pintu ruang kerja Faro, Inneke membelalakkan matanya melihat Rafael sudah berdiri berpegangan pada lemari sedang menarik buku di rak kedua, sedangkan rak kesatu sudah berantakan dibawah, ini pertama kalinya melihat Rafael berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Papi, sedang mengerjakan apa serius banget, coba lihat apa yang Rafael kerjakan, kenapa Papi tidak memperhatikan dia?" bisik Inneke ditelinga Faro dan menunjuk kearah Rafael.
"Ya Allah ya Tuhanku, gantengnya Papi, buku apa yang El cari" Faro langsung berlari mendekati Rafael yang sedang bergumam seperti biasa tetapi sekarang bahasanya lebih jelas sedikit.
"Pi..Pi.. mi....mi..mim..mum mum" jawab Rafael berbicara dengan bahasa planet.
Terpaksa Faro merapikan buku dan berkas itu setelah Rafael dibawa keluar oleh Inneke, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya karena mendengar Faro yang sedang menggerutu sambil merapikan buku yang sudah berserakan.
Sore harinya setelah Rafael selesai mandi sore, Faro mengajak bermain lempar bola di gazebo samping kolam renang.
Rafael akan terkekeh jika bola menuju kearahnya dan berhasil mengembalikan bola itu kepada Papinya.
Tetapi saat sedang asyik bermain berdua, Inneke datang sambil berlari kecil dengan membawa handphone tergesa-gesa.
"Papi ada telepon dari Mama Meera, sudah empat kali menghubungi Abang" Inneke menyerahkan handphonenya dengan cepat.
"Ya Mama Meera ada apa?" dengan cepat Faro berkata setelah handphone itu menempel pada telinganya.
"Bang.. Opa Tomy dia....dia.." terbata bata Mama Meera mengucap kata yang tidak sanggup untuk dilanjutkan.
"Mama tenang dulu, ambil nafas dulu baru bicara".
Terdengar suara tarikan nafas panjang dari dalam handphone Faro dan isakan tangis terdengar dari suara Mama Meera.
"Bang apakah bisa kesini sekarang, Opa Tomy masuk rumah sakit, beliau menanyakan tentang Abang dan Rafael terus" dengan terisak Mama Meera terus memohon kepada Faro agar dapat secepatnya.
"Mama tenang, Abang akan segera datang kesana jangan khawatir, Mama bilang ke Opa, Abang akan segera datang" dengan sedikit bergetar Faro memandangi wajah Inneke, untungnya Rafael sudah di gendong oleh Inneke.
"Ada apa Papi?" tanya Inneke yang sangat khawatir melihat Faro yang pucat pasi dan tangan bergetar.
__ADS_1
"Opa masuk rumah sakit sayang, kita siap siap berangkat, ajak bibi Jum juga" Faro berjalan cepat masuk rumah.
Faro menghubungi Mario untuk mempersiapkan helikopter yang baru dibelinya, dan pilotnya sekalian, kemudian menghubungi Abi dan umi, karena pekerjaan yang sangat banyak hanya umi yang ikut bersama Faro, tetapi saat Inneke berpamitan kepada bunda, bunda juga ingin ikut menengok Opa Tomy.
Akhirnya sore itu mereka berangkat ke kampung, Faro, Inneke, Rafael, bibi Jum, umi dan bunda langsung berangkat dengan helikopter beserta pilot dan kopilot mendampingi mereka, tanpa ada pengawalan sama sekali.
Menghubungi Papa Edi sebelum take-off untuk mempersiapkan lapangan dekat perkebunan yang pernah di pakai mendarat saat umi sedang sakit depresi berat dulu.
Dalam waktu hampir satu jam perjalanan menuju perkebunan sampai dengan selamat, karena tiba di perkebunan waktu sudah malam hari sehingga tidak banyak yang tahu tentang kedatangan helikopter itu, setelah semua penumpangnya turun helikopter take-off kembali ke Jakarta.
Langsung di jemput oleh Papa Edi dan asisten Budi mereka langsung ke rumah sakit dimana Opa Tomy dirawat, tanpa beristirahat terlebih dahulu.
Di rumah sakit masuk ruang rawat inap secara bergantian tidak boleh bersamaan, Faro dan Inneke masuk dengan menggendong baby Rafael.
"Opa....." Faro langsung menghambur memeluk tubuh tua Opa Tomy dengan terisak air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.
"Abang, Opa kangen bagaimana keadaan keluarga di Jakarta" dengan lemah Opa Tomy memeluk Faro dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kami sehat Opa, bagaimana dengan Opa, apa yang Opa rasakan, mana yang sakit?" dengan banyak pertanyaan Faro memeriksa keadaan Opa.
Opa terkekeh walaupun dalam keadaan lemah, melihat cucu kesayangannya begitu khawatir dengan keadaannya.
"Aku disini Opa, ini baby Rafael sedang tidur, bagaimana keadaan Opa?" Inneke mengambil dan mencium punggung tangan Opa Tomy.
"Opa baik nak, sini pingin peluk baby El sebentar, Opa kangen banget".
Inneke membaringkan tubuh Rafael di samping Opa Tomy yang tidur miring di brankar tempat tidur, Opa Tomy memeluk tubuh mungil Rafael sepertinya Rafael nyaman dalam dekapan Opa Tomy.
Satu persatu rombongan masuk untuk menanyakan tentang keadaan Opa Tomy, dan berpamitan untuk beristirahat di rumah utama bersama keluarga Tomy Sanjaya, hanya tinggal Faro saja yang tinggal di rumah sakit menunggu Opa Tomy dengan sabar.
Pukul empat pagi Faro gantian dengan Mama Meera, pulang ke rumah utama karena pasti Rafael akan mencari suara papinya jika tidak mendengarnya pasti akan rewel.
Sampai di rumah utama betul saja Rafael sudah mulai merengek bahkan sekarang dengan menangis melengking karena melihat Rafael tidak di kamarnya sendiri, lingkungan kamar yang asing membuat Rafael semakin tidak nyaman, tidak mau turun dari gendongan.
Mendengar suara mobil datang, Inneke keluar dari kamar dengan cepat, sedang Rafael masih merengek selalu saja menggerakkan badannya menggeliat terus tanpa henti.
"Sayang...dengar itu Papi pulang, ayo kita kesana, jangan menangis lagi" badan Rafael berhenti bergerak, mendengar ada mobil yang berhenti, suara planet Rafael keluar dengan cepat.
Saat pintu dibuka oleh Inneke, Faro berdiri dengan tersenyum walaupun mata sayu kurang tidur dan kurang istirahat.
__ADS_1
"Naaah betulkan Papi sudah pulang" Inneke sedikit cemberut dengan menyodorkan Rafael untuk gantian menggendong Rafael.
"Gantengnya Papi rewel ya, Rafael bikin Mami cemas dan khawatir ya?" Faro menggendong El diciumnya pipi kiri dan kanan disertai suara planet Rafael yang tidak ada dimengerti artinya.
"Mi mi Pi mum mum" suara Rafael sambil tertawa renyah karena geli diciumi Faro lagi dan lagi.
"Jangan rewel lagi dong gantengnya Papi, kita sekarang ada di rumah Opa buyut, kasihan Mami capek gendong Rafael terus, Rafael sayang sama Mami kan?" lagi lagi Rafael mengeluarkan suara planet lagi dengan tangan meraih Mami yang sedang tersenyum manis.
Walaupun mata mengantuk Faro bermain sebentar dengan putranya sampai matahari mulai mengintip dari balik jendela, sambil menunggu Inneke mandi.
Setelah Inneke selesai membersihkan diri datang bibi Jum menggendong Rafael, bersiap siap untuk memandikannya, dibiarkan bermain sebentar untuk mengenali lingkungan rumah yang baru dan asing bagi Rafael.
"Abang tidur sebentar ya sayang, mata rasanya perih hampir semalaman Abang tidur" Faro merebahkan tubuhnya di tempat tidur kamar tamu keluarga Tomy Sanjaya.
"Iya istirahat aja dulu, nanti kalau mau ke rumah sakit, aku bangunin jam berapa kesana?".
"Sekitar jam sepuluh, tapi sini peluk dulu, mana bisa Abang tidur tanpa memeluk istri kesayangan Abang"
Faro memeluk Inneke dengan erat, saat Faro mengajak Inneke berbaring dengan cepat Inneke menarik tangan Faro berdiri dari tempat tidur.
"Sayang jangan mengajak aku berbaring, nanti Rafael rewel lagi setelah mandi pasti minta ASI, sini peluk aja sebentar" dengan erat Inneke memeluk Faro mencium bibirnya sekilas.
Dengan perlahan dan pasti nafas Faro berhembus dengan teratur, terlelap dalam mimpinya, Inneke tersenyum mengusap lembut pipinya, baru keluar kamar mencari Rafael.
Ternyata bunda dan umi bergabung dengan bibi Jum yang sedang bermain bersama Rafael di ruang tamu, Rafael seolah berkenalan dengan rumah yang asing baginya, merangkak menarik taplak meja, membuang bantal kecil yang ada dikursi, pernak pernik lucu di lemari hias yang ada di pojok ruang tamu juga tidak luput dari penjelajahannya.
Jika dilarang Rafael akan menangis kencang, jika dilepas dan dibiarkan bermain kembali dia akan kembali mengajak ajak semua barang yang bisa dijangkau nya, bunda dan umi geleng geleng kepala melihat Rafael yang aktif dan tidak mau diam.
"Sayang, ayo minum susu dulu yuk" rayu Inneke menggendong bayi gembul itu duduk disofa dekat sofa yang diduduki umi disertai celotehan Rafael yang seolah olah masih ingin bermain.
"Iya sayang, nanti main lagi tapi harus minum susu dulu, biar kuat badannya, ini juga waktunya gantengnya Mami bobokkan?" dengan cepat Rafael menyedot ASI sambil menggerakkan kaki menendang badan umi yang ada disampingnya.
Dengan gemas umi menggelitiki telapak kaki Rafael, sambil sedikit terkekeh renyah Rafael tetap saja menyedot ASI eksklusif dengan lahap.
"Grendma jadi gemas, Rafael selalu saja membuat grendma kangen terus" ucap umi sambil menggelitiki telapak kaki Rafael.
Umi dan bunda bergegas membantu Mama Dini dan bibi membuat sarapan di dapur untuk seluruh keluarga juga membuat bubur untuk dikirim ke rumah sakit.
Pukul sepuluh pagi Faro sudah rapi, setelah sarapan bergegas ke rumah sakit, Faro ingin bertemu langsung dengan dokter yang menangani Opa Tomy, jika fasilitas di rumah sakit daerah tidak lengkap rencana Faro akan memindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di Jakarta.
__ADS_1
Hampir dua hari ini Faro mempersiapkan keperluan untuk Opa Tomy dibawa ke Jakarta setelah berunding dengan Mama Meera dan keluarga besar Mama Dini menyetujuinya, baik tranportasi dengan menggunakan helikopter barunya sampai rumah sakit dan dokter yang akan menangani Opa Tomy setelah nanti tiba di rumah sakit sudah siap semua, tinggal menunggu besok pagi.