Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
136. Penguntit di Perkebunan


__ADS_3

Di perkebunan Faro sudah mendapatkan laporan tentang Susi secara detail, walaupun dengan sedikit ditakut-takuti tetapi masalah sudah selesai dengan cepat, membaca laporan dari mereka membuat tersenyum defil karena keusilan dari Jenderal Hendro.


Hari Sabtu pagi rombongan Faro berwisata di daerah perkebunan, dimana dulu waktu Faro masih kecil, abinya Ken lah yang membangun tempat itu bekerja sama dengan keluarga besar Tomy Sanjaya, ternyata sekarang semakin berkembang dan semakin banyak pengunjungnya.


Faro membebaskan trio cabe-cabean untuk main sepuasnya, sedangkan Faro hanya mengajak Inneke dan Rafael wisata di water Park yang baru dibangun sepuluh tahun terakhir ini, waktu dulu Faro kecil saat peresmian belum ada water Park.


Dari semua wahana permainan air yang ada di waterpark, disinilah salah satu jenis yang menjadi surga para anak-anak. Water Playground dilengkapi dengan berbagai macam mainan seperti kastil buatan, air mancur, rumah, dan lainnya.


Pengunjung tidak perlu khawatir mengenai keamanannya, termasuk Faro dan Inneke karena air di wahana ini sengaja dibuat dangkal supaya tetap safety untuk anak-anak, setiap waterpark memiliki nama untuk Water Playground, seperti Ocean Park, Jellyfish, Flying Rope, Splash Town, semua dijelajahi oleh tubuh mungil Rafael walaupun Faro selalu menjaganya dari belakangnya, hampir satu jam Rafael bermain sudah capek karena terlalu bersemangat, akhirnya Rafael duduk kolam Baby Pool.


Jika Water Playground didesain khusus anak-anak, berbeda dengan Baby Poll ini, sesuai dengan namanya, wahana ini dibuat untuk bayi atau balita yang terjamin keamanannya. Kedalaman kolam renang sekitar 15 sampai 20 cm, ditambah dengan pelampung, air mancur kecil Rafael hanya berlari kecil kesana kemari dengan mencipratkan airnya dengan riang, setelah Inneke mendekati Rafael langsung memeluk maminya karena kehausan.


"Mami nen.... Mami nen" celoteh Rafael dengan meraih baju Inneke dengan tangan yang masih basah.


"Kita ke restauran itu saja sayang, pasti ada privat room nya, ayo" ajak Faro menggendong Rafael tetapi setelah diganti bajunya oleh bibi Jum.


Memberikan ASI dalam privat room itu, sekalian makan padahal waktu baru menunjukkan pukul sebelas siang, tetapi rasanya tenaga sudah terkuras karena menjaga Rafael yang aktif bermain.


Selesai makan Faro mengajak bersantai di Kolam pantai buatan, lokasi favorit pengunjung yang ingin bersantai dan menikmati suasana, memiliki pantai buatan lengkap dengan pasirnya yang sengaja didesain untuk memeriahkan dan menjadi pilihan spot wahana, Rafael mulai melorot dari gendongan bibi Jum karena melihat pasir putih, akhirnya bajunya basah kembali karena bermain pasir, apalagi ada bola yang bisa dimainkan Rafael langsung mengajak Papi bermain dengan riang, sedangkan Inneke dan bibi Jum hanya sesekali terkekeh melihat tingkah Faro dan Rafael yang sedang bermain.


Karena pantai buatan bersebelahan dengan Kolam Ombak, setelah bosan main bola Rafael berlari mendekati ombak buatan mengejar ombak jika menjauh dan berlari jika ombak mengejarnya.


Dari awal wisata bibi Jum membawa tas baju ganti Rafael, sedangkan Inneke memegang kamera digital, selalu mengabadikan momen Rafael saat bermain dengan riang.


Waktu Rafael melihat permainan Ember Tumpah, Rafael hanya memandanginya dari jauh.


"Mau main disitu sayang, Papi temani kalau mau?" tawar Faro menunjuk ember berukuran besar yang menumpahkan air dari ketinggian.


"No...no... " jawab Rafael dengan menggelengkan kepalanya.


Ember Tumpah tak lain merupakan wadah berukuran raksasa sangat besar yang diisi dengan air. Ketika sudah penuh, otomatis ember akan menuangkan isinya ke permukaan kolam, di wahana permainan waterpark ini pengunjung akan merasakan sensasi diguyur air dalam jumlah yang banyak dari ember yang sangat besar. Meski harus menunggu lama sembari wadah diisi air, tetapi membuat Rafael takut.


Saat Rafael beristirahat sejenak digendong oleh bibi Jum, Faro melihat kembali jepretan kamera Inneke satu persatu, tetapi di beberapa jepretan ada tiga orang laki-laki yang sama dalam setiap tempat singgahan itu, mata elang Faro langsung menyapu daerah sekitarnya dan masih ada mereka berada sekitar lima meter dari tempatnya berada.

__ADS_1


Faro mengeluarkan handphone, dan meminta Inneke, bibi Jum dan Rafael berpose bertiga dan dengan latar belakang tiga orang laki-laki yang ada dijauhkan mengawasinya.


"Ayo bibi Jum juga harus ikut foto bersama Rafael, dan Mami" pinta Faro beralasan padahal Faro memiliki tujuan lain yaitu untuk mengambil foto mereka yang sedang mengawasi


"Cekrek..... cekrek..." Faro mengambil foto mereka menggunakan kamera digital dan kamera handphone.


"Sayang kita kesana aja yok" ajak Inneke menunjuk permainan Sinbad Playground, setelah Faro selesai mengambil foto mereka.


"Iya itu lebih aman buat si kasep Rafael" bibi Jum ikut senang.


Sinbad Playground adalah salah satu wahana yang menawarkan keseruan menjelajahi menara istana air. Permainan ini biasanya didesain terhubung jembatan goyang, yang pastinya akan sangat cocok untuk menjadi tempat bermain anak-anak, disini Rafael hanya bermain sebentar saja karena lebih tertarik dengan wahana paling ujung di water park yaitu Chimera Pool.


Wahana permainan satu ini juga cocok untuk anak-anak, karena dilengkapi banyak air mancur kecil dan air terjun yang tiba-tiba memancarkan air secara bergantian. Chimera Poll bisa memancing kelincahan, keceriaan, dan tawa si buah hati.


Sambil mengawasi Rafael bermain Faro mengirim foto foto yang ada di handphone tadi kepada asisten Budi (asisten Papa Edi Darmawan suami Mama Dini) bercerita jika kemungkinan ketiga orang laki-laki itu sedang mengawasi Faro dan rombongan, karena saat inipun mereka masih ada tidak jauh dari Faro duduk.


Saat Rafael terjun ke wahana permainan Chimera Pool, dia betah berlama-lama dan tidak ingin keluar, daya tarik yang lain adalah lokasinya di didesain berwarna-warni untuk menambah kemeriahan benar benar Rafael tidak mau pulang hampir pukul tiga sore dia bermain.


Saat Faro sekeluarga berjalan menuju tempat parkir, mereka juga masih mengikutinya walaupun dari jarak jauh.


Awalnya saat mobil Faro keluar dari parkiran ketiga orang laki-laki yang mengikutinya masih tetap mengikuti mobil Faro, mereka juga menggunakan mobil dalam jarak yang masih dijangkau oleh mata Faro, untungnya Inneke, Rafael dan bibi Jum sudah terlelap tidur dengan bersandar di dalam mobil, sehingga membuat Faro lebih leluasa mengawasi mobil yang mengikutinya, mencatat nomor mobil menggunakan tangan kiri dan tangan kanan konsentrasi memegang kemudi.


Dalam setengah perjalanan antara daerah wisata dan rumah utama keluarga Tomy Sanjaya baru mobil itu belok dan tidak mengikutinya lagi sampai Faro memarkirkan mobilnya di halaman rumah utama ditengah perkebunan.


Inneke, Rafael dan bibi Jum beristirahat di kamar setelah turun dari mobil, ternyata trio cabe-cabean belum pulang dari wisatanya, mandi membersihkan badannya sejenak setelah selesai menemui asisten Budi yang dari tadi sudah menunggu di ruang tamu bersama Papa Edi.


"Papa, Om... sudah lamakah?" Faro duduk di depan mereka berdua hanya terhalang meja saja jarak mereka.


"Tidak juga, coba lihat foto foto yang ada di kamera digital?" pinta asisten Budi, dan Faro langsung menyerahkan kamera itu dengan cepat.


Dengan perlahan asisten Budi dan Papa Edi melihat satu persatu fotonya dari awal wisata sampai keluar parkiran dengan teliti, kemudian Faro meletakkan kertas kecil diatas meja yang berisi nomor kendaraan yang sempat Faro catat saat dijalan tadi.


Asisten Budi dengan cepat memindahkan foto khususnya yang ada tiga orang laki-laki yang mengikuti Faro kedalam leptopnya, memasukkan nomor polisi mobil juga.

__ADS_1


Asisten Budi berdiri dan mengambil handphone dari kantong celana menghubungi seseorang, berbincang sekitar sepuluh menit, setelah selesai dan mematikan handphone, asisten Budi mengirim foto itu ke orang yang baru saja dia hubungi.


Asisten Budi adalah pria paruh baya yang seumuran dengan Abi Ken yang memiliki pengalaman tentang dunia bisnis dan lingkungan mafia karena pengalamannya mengikuti Papa Edi dan Opa Tomy sejak remaja, membuatnya memiliki koneksi dengan orang orang yang berpengaruh baik di lingkungan pemerintahan, kepolisian dan dunia hitam sekalipun.


Membuat asisten Budi mudah mencari informasi tentang ketiga orang laki-laki yang mengikuti Faro saat liburan tadi, serta nama pemilik mobil yang yang sudah dicatat nomornya oleh Faro saat dia dalam perjalanan pulang.


Hampir setengah jam mereka berbincang menceritakan tentang perjalanan wisata Faro, asisten Budi kembali fokus pada leptop yang ada didepannya.


"Sudah dapat informasi tentang mereka?" tanya Papa Edi setelah melihat asisten Budi tersenyum saat melihat leptopnya ada kiriman email.


"Yap, ini bos silahkan baca sendiri!" asisten Budi menggeser posisi leptop kearah Papa Edi dan Faro ikut duduk disebelahnya ikut membaca laporan yang baru saja didapatkan.


Pertama tentang ketiga orang laki-laki yang mengawasi Faro memiliki profesi sebagai debkolektor dalam pekerjaan kesehariannya dalam naungan sebuah perusahaan dealer motor ternama buatan Jepang, ketiga orang laki-laki itu juga memiliki kemampuan beladiri yang handal, terapi sayangnya mereka memiliki catatan hitam di kepolisian karena sering dilaporkan oleh masyarakat sering menggunakan kekerasan saat merampas motor yang tidak mampu mereka bayar tepat waktu.


Yang kedua adalah nama pemilik mobil yang nomor kendaraannya dicatat oleh Faro tadi adalah pemilik perusahaan dealer motor dimana ketiga orang laki-laki itu bekerja.


Yang ketiga Papa Edi dan Faro membaca biodata tentang pemilik perusahaan dealer motor itu rumornya adalah ketua mafia cabang Surabaya menggantikan ayahnya yang sudah meninggal satu tahun yang lalu.


Umur dari ketua mafia cabang Surabaya itu hampir sama dengan Faro memiliki tahun lahir yang sama hanya beda tanggal dan bulan saja.


"Berarti ini ada kaitannya lagi dengan Agus Martono, memang akhir ini kami selalu di buntuti dan diawasi oleh anak buahnya" cerita Faro setelah selesai membaca laporan di leptop asisten Budi.


"Sebaiknya Abang lebih waspada sepertinya mereka mulai mencurigai dan mencari informasi tentang penembakan saat Abang masih SD dulu" saran Papa Edi dengan penuh pertimbangan.


_____________________


Jangan lupa like vote dan komentar serta


hadiahnya untuk semangat.


terima kasih telah memberikan like vote dan


komentar serta hadiahnya selama ini

__ADS_1


membuat semangat outhor menulis.


__ADS_2