
Mata Inneke mengerjap perlahan melihat sekelilingnya, ternyata duduk di sebelahnya orang yang selama ini dia rindukan sedang menggenggam tangannya dengan erat.
"Abang, Abang apakah aku mimpi menikah dengan orang yang aku inginkan selama ini?" tanya Inneke seolah masih tidak percaya dengan jodohnya sendiri.
"Kenapa apakah tidak percaya kalau Abang ini suamimu?" tanya Faro tersenyum manis memandangi wajah Inneke yang masih terlihat bingung.
Spontan Inneke bangun dan memeluk Faro dengan erat seolah-olah tidak ingin terlepas lagi tanpa memperdulikan ada umi dan bundanya ada di samping Faro.
"Eeeee, umi kenapa anak gadis bunda malah yang nyosor duluan, main peluk ajak anak laki orang" protes bunda kepada Imma sambil mencolek lengan Imma.
"Sebentar ya Bun, aku kangen banget sama Abang" kata Inneke lebih erat lagi memeluk Faro tanpa memberi kesempatan Faro untuk mengucapkan sesuatu.
Faro hanya terkekeh melihat tingkah Inneke dan membalas pelukan itu lebih erat.
"Ayo sudah pelukannya, dibawah semua sudah menunggu, kalian belum tanda tangan buku nikah, beresin dulu nikahnya, belum selesai sudah nyosor aja putri bunda bikin malu aja" gerutu bunda memukul pundak Inneke baru melepaskan pelukannya.
"Bunda, boleh dong nyosor sama suami sendiri" protes Inneke tetap tidak mau kalah.
"Ya sudah sayang kita turun, nanti aja kangen kangennya" bisik Faro di telinga Inneke dengan suara mesra.
Akhirnya mereka turun tangga Inneke dan Faro jalan beriringan dengan bergelayut manja tangan Inneke di lengan Faro tanpa mau di lepaskan, diikuti oleh umi dan bunda di belakangnya.
Dari bawah sampai bersorak gembira melihat perubahan wajah Inneke yang tadinya wajah selalu menunduk sekarang menjadi rona bahagia dan selalu tersungging senyuman merekah.
Saat membaca buku nikah dan membaca kewajiban dan hak masing-masing Inneke tidak mau melepaskan tangan nya dari lengan Faro.
Suara Rendi dan Mario yang paling banyak berkomentar karena Inneke yang tidak mau melepas lengan Faro, membuat suasana menjadi lebih riuh.
Selesai keduanya bertanda tangan meminta restu kepada orang tua kandung ataupun dari orang tua Faro, semua keluarga yang datang teman teman, Inneke baru menyadari ada Mario bersama Ara dan Rendi bersama Erna yang perutnya sudah buncit hamil sekitar lima bulan.
"Kekep terus, jangan dilepaskan lagi awas nanti menghilang susah di cari" sindir Rendi mendekati pengantin baru yang nempel kayak perangko.
"Erna kenapa perut sudah isi aja, aku tidak di undang saat kalian nikah?" ucap Inneke dengan enteng tanpa mengingat apa yang telah dia lakukan selama setahun terakhir ini.
"Halo sahabatku yang cantik, selama ini emang elo ada dimana, menghilang tanpa jejak, handphone mati, tidak ada kabar sama sekali, terus mau aku antar undangan kemana, rumput yang bergoyang pun tidak mau bantu gue menunjukkan dimana dirimu berada" celoteh Erna sedikit kesal tetapi mereka langsung berpelukan dan melepaskan lengan Faro.
Faro hanya mengusap lengannya, sedari tadi di kekep Inneke tanpa terlepas sedikitpun.
"Bro, cepat belah durennya biar nyusul gue buntingin bini" bisik Rendi menggoda Faro yang dari tadi cengar-cengir melihat tingkah Inneke yang absurt tidak seperti saat kuliah dulu.
"Jangan kotorin pikiran gue yang polos, sembarangan belah duren cepat cepat, slowly aja di nikmati" Seloroh Faro ikut ngeres pikirannya.
"Yee kirain polos, ternyata elo lebih parah" protes Rendi lagi.
Gantian Mario dan Ara mendekati pasangan pengantin baru dan mengucapkan selamat.
"Dia gacoan kak Rio?" tanya Inneke pada Faro.
"Iya Yang, dia gadis yang berasal dari Thailand, ke Indonesia ngejar cintanya Mario" cerita Faro dengan melirik Mario yang sedang menggandeng Ara.
__ADS_1
"Tidak usah di tambah-tambahin ceritanya, ini Ara kenalkan" jawab Mario memperkenalkan pacarnya pada Inneke.
Hampir satu jam berbincang dengan tamu, Faro ingin ke kamar mandi, dan berbisik kepada Inneke.
"Yang, Abang mau ke kamar kecil, Abang keatas dulu ya" bisik Faro ke Inneke dengan mengedipkan matanya dan berlari ke tangga menuju lantai atas ke kamar Inneke.
"Iya Bang, silahkan" jawab Inneke singkat sambil melihat jam dinding bel bandul yang ada foto Faro dan Inneke saat masih kuliah dulu bergandengan tangan di sebuah kafe dekat kampus.
"Keke kemana suamimu kok tidak ada, di ajak makan dulu kasihan, jangan cuma kamu kekep aja?" tanya bunda pada Inneke yang berdiri terbengong bengong melihat jam itu.
"Eee iya bun, lagi di kamar mandi dia, aku ambilkan dibawa ke kamar aja ya Bun, sekalian istirahat" kata Inneke berjalan mengambil makanan lengkap dengan lauk dan air mineral.
Sesampainya di kamar, makanan di letakkan di atas meja rias Inneke, menunggu Faro baru keluar dari kamar mandi, duduk di pinggir tempat tidur sambil membuka handphonenya tetapi Faro datang dengan pelan-pelan sehingga Inneke tidak menyadarinya.
"Yang, Abang kangen banget boleh peluk lagi kayak tadi pagi" rayu Faro duduk di samping Inneke, dengan spontan Inneke meletakkan handphone di tempat tidur dan langsung memeluk Faro dengan mesra.
Berpelukan dengan mesra hampir lima menit, Faro hanya menghirup bau tubuh Inneke yang harum.
"Ayo Abang makan dulu sudah aku siapin buat Abang" kata Inneke mencoba melepas pelukannya, tetapi Faro sama sekali tidak mau terlepas dari pelukan itu.
"Jangan bantah diam dulu, Abang masih kangen" ucap Faro semakin erat memeluk Inneke, yang di peluk semakin menikmati nya tanpa malu-malu.
Hampir sepuluh menit baru Faro melepaskan pelukannya, "Ayo kita makan" tetapi saat Inneke mau berdiri mengambil nasi di tarik lagi sama Faro di dudukkan di pangkuan dan mencium bibir Inneke dengan lembut, rasa manis bibir Inneke sehingga Faro mengurungkan niatnya untuk makan.
"Hhmm.... Bang katanya mau makan" kata Inneke gugup karena ini adalah ciuman pertama mereka.
"Hah, tidak bisa nafas bang" protes Inneke, Faro hanya terkekeh dan berinisiatif mengambil nasi untuk berdua satu piring.
"Sini duduk di sebelah Abang, Abang yang suapin ya, haaaa" Faro menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya ke mulut Inneke kemudian bergantian untuk dirinya sendiri.
"Kapan Abang tahu kalau ternyata kita ini sudah di jodohkan?" tanya Inneke sambil menerima suapan nasi dari Faro.
"Lima hari yang lalu, ternyata kita di jodohkan saat Abang baru berumur tujuh bulan dalam kandungan dan elo belum tercetak" cerita Faro sambil sesekali mengusap bibir Inneke yang terkena bumbu rendang.
"Apakah kau bahagia, nikah sama Abang?" tanya Faro lagi menatapnya dengan penuh cinta.
"Sangat Bang, tidak ada yang sangat membahagiakan hatiku saat ini kecuali bersama Abang" Inneke tanpa malu-malu mengungkap perasaan.
Masih belum selesai makannya masuk bunda, umi, Erna, Ara dan Kemmy masuk kamar pengantin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Anak bunda, kenapa manja banget makan aja disuapin, kenapa tidak makan sendiri?" protes bunda mendekati mereka yang sedang makan sambil disuapin.
"Romantis banget sih Bang, bagaimana perasaannya sekarang?" tanya Imma mendekati Faro yang tinggal satu suap langsung di sodorkan untuk Inneke.
"Sudah kayak Abi belum umi?" tanya Faro menggoda uminya.
"Iya Abang sudah kayak Abi, bucin kronis sepertinya" celoteh Imma mengusap pipi Faro dan Inneke bersamaan.
"Sebentar lagi MUA datang Bang, buat rias pengantin wanita, Abang sana keluar, disini sekarang kamarnya khusus untuk cewek" usir Kemmy kepada Abang.
__ADS_1
"Tante ini kan kamar pengantin, kenapa pengantinnya yang di usir, ogah Abang mau istirahat sama Istri Abang" protes Faro pada Kemmy.
Datang lagi Rendi, Mario, Ken, Rama dan ayah Edi untuk menjemput pengantin laki-laki keluar dari kamar pengantin.
"Bos ayo keluar, jangan di kekep terus itu Istri, biar berdandan cantik" ajak Mario dengan menarik Faro dari rombongan para ibu-ibu.
"Tenang aja Bang, nanti malam aja masih banyak waktu, nanti kalau perlu Abi ajarin" celoteh Ken melirik Imma dan di berikan tatapan horor oleh Imma.
Dengan gontai akhirnya Faro di tarik dari istrinyanya karena perias MUA sudah datang, akan segera mendandani untuk acara resepsi yang akan di lakukan setelah jam istirahat.
Di lantai bawah Faro menjadi bulan-bulanan candaan temannya ataupun para Om yang usil.
"Tadi apa saja yang sudah dicicipi, saat berduaan di kamar?" bisik Rendi menggoda Faro yang malas duduk lesehan di ruang keluarga bekas akad nikah tadi pagi.
"Cicipi apa, baru cium aja itupun belum hot, sudah pada datang, masih lama kenapa sudah berdandan aja sih?" Kesal Faro jujur dan di ikuti senyum ledekan dari semua para laki-laki yang sengaja menggodanya.
Sudah satu jam berlalu pengantin wanita mulai selesai di make-up, barulah Faro harus berganti baju dan jas menyesuaikan baju pengantin warna putih tulang.
Semua keluarga mulai bersiap-siap untuk pergi ke gedung hotel untuk mengadakan resepsi pernikahan Faro dan Inneke.
Inneke turun dari tangga dengan mengenakan pakaian berwarna putih tulang sangat anggun dan terpancar aura cantik dan anggun, membuat Faro semakin mengagumi kecantikan istrinya.
Sampai di bawah tangga tidak sabar Faro langsung menyambutnya menggandeng tangan Inneke dengan senyum yang mengembang.
"Cantiknya istriku, boleh cium lagi tidak?" goda Faro berbisik di telinga Inneke tetapi bunda dan Imma masih mendengar ucapan Faro.
"Jangan macam-macam Bang, nanti riasannya belepotan semua kalau Abang cium, nanti aja mesumnya, dasar anak Abi" kata Imma memukul lengan Faro menggerutu tidak karuan.
"Umi, kenapa Abang tidak boleh cium istri sendiri, cium umi aja deh, muuuah" goda Faro mencium pipi uminya dengan genit dan diikuti oleh yang lain tertawa lepas melihat Faro yang genit.
Iring-iringan mobil pengantin berangkat dari rumah ibu Intan menuju hotel bintang lima yang berada di sebelah restauran Ibu Intan dalam waktu setengah jam sudah sampai di lobi hotel.
Kedua mempelai langsung duduk di pelaminan di dampingi kedua orang tuanya masing-masing, Ken dan Imma serta ayah Edi Santoso dan bunda Tiara.
_______________________
Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir
dan batin, dari kesalahan baik yang
di sengaja maupun tidak disengaja
dari keluarga besar kami, jangan
lupa like vote dan komentar serta
hadiahnya
terima kasih, I love you all
__ADS_1