Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
23. Akan Mundur


__ADS_3

"Apa kabar Abi, umi?" ucap Inneke mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Kami sehat nak, apakah sudah selesai skripsi nya Keke?" tanya Imma basa basi.


"Tinggal sidang terakhir Minggu ini umi?" jawab Inneke kemudian.


"Bagaimana keadaan Abi, apakah sudah baikan?" Inneke bertanya lagi.


"Sudah mendingan, Alhamdulillah" jawab Ken singkat.


Bergantian Rama, Kemmy, Ratih dan yang lainnya saling menanyakan keadaan Ken, keluarga besar merasa bersyukur setelah di operasi Ken bisa pulih dengan cepat karena dukungan semua keluarga, walaupun belum di perbolehkan untuk bangun dari tempat tidur sekitar sepuluh hari kedepan.


Tepat pukul dua belas siang, semua keluarga pamit pulang termasuk Inneke berpamitan, dan mendoakan semoga cepat sembuh seperti sedia kala.


"Sayang ayo makan dulu, mumpung tidak ada yang besuk?" ajak Imma dan mulai menyuapi Ken.


Ken makan dengan lahap sesuap demi sesuap di terima dari tangan Imma, tetapi tangan Ken juga mulai menyusup ke dalam baju Imma tanpa permisi.


"Bi....ini tangan mulai ya....lagi sakit juga masih mesum aja pikirannya" ucap Imma masih tetap menyuapi Ken.


"Yang sakit itu tulang punggung, bukan tangan dan junior Abi honey?".


"Ini juga rumah sakit, jangan macam-macam, nanti kalau tidak kuat menahan rasa siapa yang repot?" marah Imma dengan memukul tangan Ken perlahan.


Ken terkekeh, jadi mengingat jika tidak bisa menahan rasa akan pusing kepala dan marah-marah.


"Iya deh.... Honey, Abi ngikut deh, tetapi---!" kata Ken tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa sayang?".


"Pingin pegang itu sedikit aja ya...ya... please" pinta Ken sambil menunjuk dua gunung kembar dengan penuh harap.


"Nich... minum obat dulu, dan ini minumnya" Imma memberikan obat kepada Ken.


Setelah Ken meminum obat, mulai ingin memegang sepertinya yang di harapkan, datang Faro, Mama Meera dan Mama Dini, membuka pintu ruang rawat inap itu, di sertai Imma yang terkekeh melihat muka Ken yang di tekuk gara-gara tidak sempat memegang gunung kembar itu keburu mereka masuk.


"Mengganggu aja, awas nanti ya.." bisik Ken karena melihat Imma terkekeh geli.


Apa kabar Ken.. Imma?" tanya Mama Meera sambil memeluk Imma cipika-cipiki, dan diikuti oleh mama Dini, serta bersalaman dengan Ken.


"Umi, ini makan siang dulu" perintah Faro memberikan makan satu kotak nasi lengkap dengan sayur, lauk dan buah.


"Abang sudah makan?" tanya Imma.


"Sudah mi, Sebelum kesini kita tadi mampir untuk makan siang dulu" cerita Faro sambil tersenyum.


Para Mama sedang ngobrol cantik bersama satu orang ganteng yang sedang terbaring, Faro harus pergi ke apotek untuk menebus obat untuk abinya, sedang ngantri di apotik datang Mario membawa setumpuk berkas yang harus di tandatangani.


Mario melihat bosnya mengantri obat, merasa terharu, demi Abi tercintanya Faro ikhlas mengantri menebus obat untuk kesembuhannya.


"Bos, sini gue yang antri, elu kembali aja ke ruang rawat inap" kata Mario meminta resep dokter yang dipegang oleh Faro.


"Tidak apa-apa, gue bisa, tinggal enam orang lagi tuuh" jawab Faro.

__ADS_1


"Atau bos duduk aja di bangku itu, ini banyak yang harus di tandatangani, gue yang ngantri".


Faro dan Mario bertukar tempat, Mario berdiri mengantri sedangkan Faro mengambil setumpuk berkas laporan yang harus Faro periksa dan tandatangani.


Hampir setengah jam Mario baru mendapatkan obat yang harus di tebusnya, dan kembali ke kamar ruang rawat inap.


"Umi, ini obatnya, Abang taruh di nakas ya nanti sore baru di minum" ucap Faro dan duduk di sofa melanjutkan melakukan pemeriksaan dokumen.


Hampir satu jam Faro bergelut dengan dokumen dokumen yang sangat menguras tenaga dan pikiran, sedangkan Mario tidak berani mengganggu pekerjaan bosnya, Mario memilih bergabung dengan Ken dan para mama.


Tanpa terasa sudah tiga hari Faro merawat abinya di rumah sakit, karena sibuk dengan pekerjaan dan abinya, Faro tidak sempat mengabarkan kepada calon makmum yang dari kemarin menunggu dengan hati yang gundah gulana.


Faro teringat kembali ke Inneke setelah ada notifikasi pesan WA masuk di handphone nya.


"Bagaimana kabar Abang dan ayah, semoga sehat selalu, maafkan aku Bang, karena janjiku, belum bisa besuk ayahnya Abang, maafkan aku juga sudah menyakiti hati Abang"


Faro membaca pesan itu begitu merasa bersalah, karena kesibukannya selama ini, sampai lupa tidak sempat membalas pesannya, belum sempat membalas ada lagi pesan WA masuk.


"Aku akan tetap menunggu Abang, aku akan tetap mencintai Abang, seandainya penantian ini tidak berarti bagi Abang, akan aku terima dengan ikhlas jika Abang menganggap aku yang salah aku hanya bisa mohon maaf, semoga Abang dan ayah sehat selalu".


Ada satu lagi pesan WA masuk yang di handphone Faro.


"Aku masih ingin memperjuangkan hubungan kita setelah aku lulus, tetapi jika Abang tidak percaya padaku, aku akan mundur Bang, aku tidak bisa jika berjuang sendiri, hubungan didasari saling percaya, sekali lagi maafkan aku Bang, sidang terakhirku di kampus dilaksanakan Minggu ini, mungkin aku sekalian pamit akan kembali ke Malaysia sampai wisuda nanti, terima kasih dan sampai jumpa lain waktu Bang'


Faro menjadi merasa bersalah karena hampir tiga hari ini tidak sempat menghubunginya, keluar dari kamar ruang rawat inap itu, baru membuka handphone mencari nama calon makmum dan menelponnya.


"Halo......" kata Faro membuka pembicaraannya, tetapi Inneke belum menjawab sapaan Faro, hanya suara nafas Inneke yang seperti tertahan.


"Beb....halo....".


"Kenapa menulis seperti itu, apakah elo akan menyerah?" tanya Faro lirih, rasanya dadanya sesak, membaca pesan singkat dari Inneke.


"Bukannya Abang yang sepertinya menyerah, aku sudah menunggu Abang selama tiga hari ini tetapi Abang tidak memberikan kabar sama sekali" Inneke seperti menarik nafas dalam dalam dan terisak.


"Maaf, Abang lagi kalut, jangan pergi please, karena ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hatiku, ada juga masalah keluarga yang harus aku selesaikan"


"Ada apa Bang?".


"Nanti kita bertemu aja, tolong jangan pergi ke Malaysia sebelum kita bertemu" pinta Faro dengan penuh harap.


"Iya Bang, aku tunggu, kabar selanjutnya kapan kita bertemu".


Setelah menutup teleponnya Faro bergegas masuk ruang rawat inap kembali.


"Darimana Bang, kok mukanya kusut begitu, ada apa?" tanya Imma khawatir.


"Dari mengubungi klien umi, Abang ngantuk, Abang istirahat sebentar ya".


Faro merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di ruang rawat inap itu, mencoba memejamkan matanya terlelap sejenak.


________________


Di rumah Intan Ariyani, hari ini datang Tiara Sahroni, Edi Santoso dan adik Rayhan tanpa mengabari terlebih dahulu, di Malaysia ternyata ujian akhir nasional sudah selesai di laksanakan, sehingga mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta karena Edi Santoso juga akan di pindah tugaskan pada perusahaan yang berada di Jakarta.

__ADS_1


Saat sampai rumah hanya ada Ibu Intan dan dua bibi saja yang ada di rumah, sedangkan Inneke ada di kampus dari pagi.


Dan satu bulan yang lalu Intan Ariyani menelpon Putri sulungnya itu untuk membicarakan tentang amanah dari Anton Sahroni satu Minggu sebelum meninggal.


Flashback on.


"Halo nak" kata Ibu Intan dalam teleponnya saat menghubungi putrinya Tiara.


"Iya Bu, ada apa?" tanya Tiara yang tidak lain adalah ibu kandung dari Inneke.


"Kapan pulang, ibu ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini masih ibu simpan sendiri?".


"Tentang apa Bu?".


"Amanah ayahmu satu Minggu sebelum beliau meninggal".


Kemudian Ibu Intan menceritakan tentang amanah yang belum sempat di laksanakan oleh Anton Sahroni yaitu menjodohkan keturunannya dengan mantan bosnya yang dulu yaitu bos Dona Sanjaya.


Ibu Intan juga menceritakan jika yang cocok menjadi calon istri dari putra Dona Sanjaya adalah Inneke.


"Satu bulan lagi kami akan pulang Bu, nanti kita lanjut lagi setelah pulang kita bicarakan dengan Inneke" jawab Tiara walaupun sedikit ragu apakah Inneke mau melaksanakan amanah dari kakeknya sebelum meninggal.


"Tetapi Bu, apakah nanti Keke mau di jodohkan dengan putra dari almarhum bos Dona?" tanya Tiara lagi.


"Makanya kamu pulang dulu, baru kita nanti sampaikan kepada Keke tentang ini, tetapi kamu harus terus terang pada suamimu dulu ya nak?" pinta Ibu Intan bijaksana.


Setelah menutup telepon dari ibunya, saat itu juga Tiara membicarakan kepada suaminya, sedangkan Tiara dan Edi Santoso akan menyerahkan semua tentang perjodohan itu kepada keputusan Inneke saja, mereka berdua tidak akan memaksakan kepada putrinya, mereka hanya akan menyampaikan amanah itu saja.


Flashback off.


Inneke pulang sore ke rumah neneknya, tetapi dari teras rumah terdengar suara sayup-sayup orang tuanya dan adiknya Rayhan sedang bercengkerama di ruang keluarga.


Inneke berlari kecil masuk rumah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, langsung berlari menuju ruang keluarga memeluk ayah dan bunda dengan hangat.


"Ayah....bunda... aku kangen banget" kata Inneke mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Kami juga kangen nak, bagaimana kabarmu?" tanya bunda Tiara memeluk putrinya mengecup keningnya lembut.


"Baik Bun,.....!" Balas Inneke duduk di tengah antara ayah dan bundanya.


"Waaaah parah, kok tidak kangen sama aku sih kakak?' protes Rayhan melipatkan tangannya di pinggang dengan kesal.


"Iiiih adikku sayang ternyata ada juga di sini, maaf....sini peluk" Inneke mendekati adik satu-satunya dan memeluknya dengan hangat.


"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang, kan bisa aku jemput sih ayah?" tanya Inneke kembali duduk di samping ayah dan bundanya.


"Surprise....kak, biar kakak kaget, atau ketahuan jika kakak hanya main aja di rumah nenek" jawab Rayhan senang mengganggu kakaknya.


"Memangnya kamu, kerjanya keluyuran dan main game setiap hari" Inneke mentowel pipi adiknya yang suka usil jika bertemu.


"Ya sudah sana mandi dulu, bau tahu, nanti kita lanjutkan berbincang nya" titah bunda Inneke.


"Iya Bun, aku mandi dulu, panas banget rasanya lengket semua badan" Inneke berjalan menuju kamar, meletakkan tas di meja belajar menggantungkan jaket, meletakkan sepatu di rak sepatu di dekat pintu masuk kamar.

__ADS_1


masuk kamar mandi dengan menyambar handuk yang mengganti di balik pintu kamar Inneke.


__ADS_2