
Sedangkan di dekat TKP sebuah rumah dekat pasar, ada sekitar tujuh orang yang terkena peluru panas Faro sedang di keluarkan oleh seorang perawat laki-laki dengan peralatan yang seadanya secara bergantian, teriakan demi teriakan keluar dari mulutnya karena sebagian besar tidak di berikan obat bius saat pencabut peluru itu.
Dan pimpinannya sedang melaporkan kepada bosnya menggunakan handphonenya duduk di samping perawat yang sedang mengeluarkan peluru.
"Maaf bos, saya tidak bisa menangkap gadis itu, saya juga kurang yakin karena gadis itu sangat handal menggunakan senjata otomatis, tujuh anak buah saya terkena peluru panas pada kakinya" lapor pemimpin itu kepada bosnya.
Sepertinya pimpinan itu tidak mengetahui jika yang menembak anak buahnya adalah Faro, karena yang mereka tahu mobil itu milik orang sipil yang tidak mungkin mempunyai senjata dan handal juga dalam menembak.
"Dasar b*d*h" ada suara memaki di balik suara handphone pimpinan itu.
"Maaf bos, gadis itu ternyata sangat terlatih, mempunyai senjata otomatis dan cara menghindari kami juga sangat handal" lapor pimpinan itu kembali.
"Dasar tidak berguna, cepat cari lagi dimana gadis itu tinggal dan cari identitas gadis itu" perintah seseorang dari suara handphone dan mematikan sambungan telepon seluler itu.
_______________________
Setelah kejadian itu, Ara sering melamun di rumah Jelita, masih memikirkan siapa sebenarnya bos dari pacarnya Mario, tangan dingin yang begitu tepat membidik sasaran, pasti bukan orang sembarangan.
Bertanya kepada Mario tentang siapa sebenarnya bosnya, tetapi dia hanya menjawab jika karena pengalaman keluarga terutama uminya yang pernah di culik oleh seorang yang tidak di ketahui identitasnya membuat Faro memiliki keahlian itu.
Tetapi karena seorang Ara yang pernah belajar dan dididik tentang cara menembak masih sedikit meragukan jika Faro hanya orang sipil yang bisa menembak saja, karena ketepatan menembak Faro melebihi guru yang pernah mengajarinya yang notabene asli seorang sniper handal.
Sore ini sebelum di jemput oleh Mario untuk menemani mencari apartemen di pinggiran kota Jakarta Ara sengaja ke salon terlebih dahulu, dia ingin merubah penampilannya, yang awalnya rambut panjang hitam hampir sampai pinggang kini dipotong menjadi sebahu saja dan di berikan warna cat rambut keemasan atau pirang seperti gadis bule dan lebih segar penampilannya.
Mengenakan blazer berwarna merah maroon penampilan baru Ara seperti pebisnis muda yang sukses dan lebih segar di pandang mata, saat Mario menjemputnya sampai memandangi dengan penuh kekaguman.
"Elo terlihat berbeda, cantik sekali" kata Mario mendekati Ara dan memeluknya dengan erat.
"Abang bisa aja, ayo berangkat" balas Ara malu-malu dan bergelayut manja di lengan Mario.
Mendatangi beberapa apartemen yang di lihatnya dari iklan online, Ara menjatuhkan pilihan pada sebuah apartemen minimalis yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga Ken, tepatnya di tengah-tengah antara rumah keluarga Ken dan keluarga ibu Intan.
Setelah selesai bertransaksi dengan pengelola apartemen dan membayar harga yang sudah di sepakati Ara langsung membeli kontan apartemen minimalis itu, dan sore ini juga dia pindah ke apartemen, sedangkan barang-barang Ara tentu saja Mario dan di bantu oleh salesman yang sering mengawal Imma ataupun Inneke yang memindahkan nya.
Malam harinya Faro, Rendi dan Mario beserta pasangannya masing-masing berkumpul di apartemen baru Ara, dan Mario memesan makan dan kue dari Imma kafe karena jarak yang lumayan dekat.
Apartemen itu terdiri dari dua kamar dan ada kamar mandi didalamnya, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan dan ada kamar mandi disamping dapur.
"Erna sudah berapa bulan kandungnya terlihat sudah sangat besar?" tanya Inneke sambil mengusap lembut perut Erna.
"Ini sudah mau memasuki bulan ketujuh, rencananya dua Minggu lagi akan mengadakan acara tujuh bulanan, nanti jangan lupa datang ke rumah" jawab Erna bahagia.
"Kapan elo nyusul bro?" Rendi dengan memukul lengan Faro.
__ADS_1
"Nyusul kemana?" tanya Faro pura-pura tidak tahu maksud Rendi.
"Elo ini pura-pura tidak tahu, nyusul buntingin bini elo lah, gimana sih?" celoteh Rendi kesal.
Faro melirik Inneke seakan meminta apa yang harus di jawab dengan pertanyaan Rendi tentang kehamilan.
"Kak Ren, kami santai aja, sedikasihnya sama yang maha kuasa, yang penting usahanya tidak berhenti" Inneke akhirnya yang menjawab dengan bijak.
"Naaah, itu yang betul, usaha setiap hari?" Faro mengacungkan kedua jempolnya dan mengedipkan matanya.
"Gue belum nikah, tidak usah ngomong yang tidak gue fahami, dasar bucin" cabik Mario kesal.
"Makanya cepatlah nikah halalkan kak Ara, kasihan dia harus berpindah-pindah tempat tinggal" ucap Faro dengan penuh penekanan.
Mario dan Ara hanya saling memandang, tidak mudah pernikahan antar dua negara untuk ijinnya, perpindahan identitas agama juga belum di urus.
"Kalian kira menikah dengan negara yang berbeda mudah, harus ada prosedur dan syarat yang harus diperhatikan" kata Mario dengan tegas.
"Bang akhirnya bulan ini aku akan mengurus identitas perpindahan agama terlebih dahulu, jadi kemungkinan aku akan ke Singapura sudah janjian dengan ibuku" cerita Ara sendu.
"Gue anter aja ke Singapura, bos ayo kita berangkat bareng gunakan paket honeymoon ke Singapura" ajak Mario semangat.
"Baiklah kita ke Singapura akhir bulan ini, tapi jangan lupa hubungi juga Conan, Rendi elo mau ikut tapi bayar sendiri-sendiri jangan lupa" Faro sambil tersenyum defil.
"Tidak, gue tidak mau terjadi apa-apa dengan istri dan calon anak gue, silahkan bersenang-senang" tolak Rendi melirik Erna yang berharap ingin ikut ke Singapura juga.
"Identitas dan paspor jangan lupa berikan ke gue, nanti gue yang beli tiketnya?" pinta Mario kepada Ara.
"Nanti ya Bang, masih ada di rumah Jelita semua dokumen aku, besok aja aku antar ke kantor" balas Ara kemudian.
"Baiklah gue tunggu di kantor besok" Mario sambil mengambil camilan yang ada di depannya.
Faro keluar dari apartemen Ara ingin melihat lihat selengkapnya apartemen itu, karena apartemen itu termasuk lumayan ramai hampir penuh penghuninya, di tepuk pundaknya membuat Faro tersentak kaget.
"Bang elo disini?" Cinta si wanita jadi-jadian yang lama tidak di temuinya.
"Eee Cinta, gue lagi main tempat teman, elo tinggal disini Cin" tanya Faro penasaran melihat Cinta dengan membawakan banyak barang.
"Iya Bang, gue tinggal disini, kebetulan gue baru datang dari kota Surabaya hampir satu tahun tinggal disana" jawab Cinta kemudian.
"Ayo gue bantu" Faro membantu membawakan barang dan koper Cinta ternyata apartemen Cinta tepat di depan apartemen Ara.
"Waaaah kebetulan, didepan elo teman gue tinggal, titip teman gue ya Cin?" pinta Faro.
__ADS_1
"Ok beres" suara Cinta kembali pada suara aslinya.
Faro jadi terkekeh, wanita jadi-jadian ini emang unik, walaupun lemah gemulai sikapnya tetapi tetap saja terkadang dia kembali ke awal kodratnya.
"Sebentar Bang, gue mandi dulu, nanti gue berkunjung ke apartemen teman Abang" Cinta masuk apartemennya meninggalkan Faro, sedangkan Faro masuk kembali di apartemen Ara.
Para wanita sedang mempersiapkan makan malam sedangkan para laki-laki duduk di ruang keluarga bercengkerama, Cinta menekan bel apartemen Ara, Faro bergegas membukakan pintu.
"Bang gue datang, maaf waktu Abang nikah Cinta tidak bisa datang, ini kado buat elo, mana bini elo?" Cinta membawa kado yang cukup besar dan satu lagi plastik yang cukup besar juga.
Inneke dan Ara yang mendengar ada tamu berlari kecil mendekati Cinta yang baru masuk bergabung dengan Faro dan yang lainnya.
"Yang mana bini elo Bang?" tanya Cinta lagi.
Faro hanya menunjuk kearah Inneke dan meminta untuk menerima kado dari cinta dengan kode kedipan mata saja dan anggukan kepala.
"Ini kado buat elo say, maaf kemarin kagak sempat datang di acara pernikahan, karena Cinta ada diluar kota" celoteh Cinta lagi sambil mengulurkan tangannya memberikan kado yang cukup besar itu.
"Terima kasih, Cinta tidak usah repot-repot seharusnya" jawab Inneke sekenanya.
"Sama-sama say, yang mana tuan rumahnya?" Cinta dengan tangan yang melambai dan badan yang di buat seolah-olah lemah gemulai.
"Aku Ara, salam kenal Cinta" Ara mendekati Cinta dan cipika-cipiki dengan santainya.
Mario dan Rendi justru membelalakkan matanya melihat Ara dan Cinta yang dengan santainya cipika-cipiki tanpa ada rasa canggung sama sekali.
"Idih geli gue, itu bini elo malah seperti itu" cabik Rendi kepada Mario.
Cinta melirik Rendi yang sedang duduk santai di samping Mario dan mendekatnya bergelayut manja dengan meraih lengannya.
"Apa kabar Abang sayang?" Cinta mencolek dagu Rendi, memang diantara ketiga sahabat itu memang Rendi lah yang sangat di sukai Cinta.
"Awas Cinta, jangan dekati gue nanti bini gue cemburu" cicit Rendi mencoba melepaskan tangannya dari Cinta.
Erna datang dari dapur bergabung di ruang keluarga pura-pura merajuk karena di gandeng oleh wanita jadi-jadian yang lemah gemulai.
"Cinta, itu laki gue jangan dekat-dekat, nanti anak gue yang Cemburu" Erna menarik tangan Rendi dengan mesra dan duduk di pangkuannya.
"Sorry say, gue tidak apa-apa, jadi bini kedua" justru Cinta menawarkan diri lagi tanpa malu-malu.
Akhirnya semua tertawa terbahak-bahak mendengar tingkah Cinta yang absurt dan membuat suana menjadi semakin ramai.
"Ini Ara, gue bawa ayam rica-rica buat makan malam bersama ayo, apakah elo sudah mempersiapkan semua" Cinta memberikan plastik yang lumayan besar tadi dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Akhirnya mereka menikmati hidangan makan malam bersama dengan penuh akrab dan candaan yang semakin ramai karena bergabungnya Cinta.
Dengan adanya Cinta, Ara juga lebih aman walaupun Cinta seorang waria, tetapi dia akan melindungi dan setia dengan teman jika teman dalam masalah, Mario yang sangat tahu bagaimana sifat Cinta semakin tenang karena Ara memiliki tetangga yang bisa diandalkan.