Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
65. Aksi Mario


__ADS_3

Waktu cepat berlalu ini adalah akhir bulan, kerjasama dengan Cinta untuk mendirikan rumah kecantikan juga sudah mulai berjalan dengan ijin usaha atas nama Mario, Minggu lalu juga Rendi telah mengadakan acara tujuh bulanan di kediaman keluarga Rendi di Tanggerang.


Rencananya Faro dan Inneke serta Mario dan Ara akan berangkat ke Singapura hari Kamis sore besok sampai Minggu malam, sedangkan Conan sampai saat ini masih berada di Singapura disamping mengawasi Andrew Hidayat juga sudah hampir delapan puluh persen mengurus administrasi kependudukan dan tentang pindah agama dari Ara selesai karena bantuan dari ibu kandungnya Ara sendiri tanpa di curigai oleh kakak angkatnya Ara yaitu Decha Thanapon, tinggal menunggu tanda tangan dari Ara saja.


Dan saat mengurus identitas itu Ara bukan menggunakan nama asli pemberian ayahnya tetapi menggunakan nama yang diberikan oleh seorang ustadz Indonesia yaitu Amara Khotijah, itu juga atas persetujuan dari ibu kandung Ara sendiri.


Inneke hari ini sudah mulai packing karena nanti malam akan berangkat ke Singapura, saat makan siang berkunjung ke rumah Imma untuk berpamitan diantar sopir dan di kawal oleh dua orang bodyguard yang berpenampilan salesman.


"Apa kabar umi?" tanya Inneke saat sampai di rumah mencium punggung tangan dan cipika-cipiki.


"Baik sayang, kesini sendirian, ayo temani umi makan?" ajak Imma berjalan ke ruang makan.


Inneke dan Imma makan siang dengan lahap, tanpa ada obrolan sampai nasi di piring tandas hanya sesekali suara sendok dan garpu yang beradu.


"Umi, nanti malam aku dan Abang Faro akan ke Singapura sampai hari Minggu" pamit Inneke kepada ibu mertuanya.


"Iya sayang hati-hati, apakah sudah pamit sama bunda dan ayah?" tanya Imma kemudian.


"Setelah dari sini aku langsung ke rumah bunda umi" jawab Inneke lagi.


Setelah bercengkerama dengan uminya hampir satu jam Inneke pamit dan langsung ke rumah bunda untuk berpamitan juga, sampai menjelang sore Inneke baru pulang kerumah sebelum Faro pulang kerja.


Faro pulang hampir bersamaan dengan Mario dan Ara karena mereka sengaja akan berangkat ke Singapura dari rumah Faro, sehingga Inneke meminta bibi Jum untuk memasak lebih sebelum berangkat ke bandara akan menikmati hidangan makan terlebih dahulu.


"Mandi dulu Bang, baru kita makan bareng!" perintah Inneke saat Faro baru masuk rumah.


Inneke mengambil tas kerja mengikuti Faro ke lantai atas dengan lift, sedangkan Mario dan Ara duduk santai di ruang keluarga.


"Kak Rio, kak Ara, aku tinggal sebentar ya, bibi Jum tolong buatkan minum buat tamu!" teriak Inneke sambil mengikuti Faro dari belakang masuk lift.


"Ok Bu bos santai aja masih banyak waktu" jawab Mario santai duduk di samping Ara.


Bibi Jum membuatkan jus jeruk dan camilan untuk Ara dan Mario yang berada di ruang keluarga, sedangkan Inneke di dalam kamar membantu membukakan jas dan dasi Faro dengan telaten.


"Mandi sana Bang" Inneke mendorong Faro yang sedari tadi hanya tersenyum dan tangannya sudah menelusuri tubuh Inneke tanpa henti.


"Sebentar Yang, Abang mau nyicil sedikit" Faro mencium bibir Inneke dengan lembut dan mesra.


"Nanti kita ketinggalan pesawat Bang, jangan mulai mesumnya" Inneke mendorong dada Faro dengan sekuat tenaga.


"Baiklah baiklah, Abang mandi dulu, tapi nanti malam harus bayar dobel dengan servis yang top" cabik Faro berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Inneke mempersiapkan keperluan baju Faro dan di letakkan di tempat tidur, baru di tinggal keluar kamar menuju lantai bawah untuk menemui Mario dan Ara.


"Sampai di Singapura kak Ara akan tinggal bersama ibu atau di hotel?" tanya Inneke kepada Ara.

__ADS_1


"Hotel aja, kemungkinan aku akan merahasiakan kedatanganku, karena aku tidak ingin bertemu dengan Andrew Hidayat" balas Ara malu-malu sambil melirik Mario.


"Awas aja elo ketemuan dengan laki-laki itu!" Mario merasa kesal mendengar nama orang yang di jodohkan oleh ayahnya Ara.


"Ciek ciek Abang cemburu ya?" goda Ara senyum senyum sendiri mendengar ancaman Mario yang kesal.


"Jangan mulai baby, jelas aja gue cemburu, apa elo mau sengaja ingin membuat gue marah" cabik Mario tambah kesal.


Datang Faro keluar lift dengan keadaan yang sudah rapi dan segar "Ayo kita makan dulu".


Mereka duduk berdampingan tetapi seperti biasanya Faro menyuapi Inneke makan dengan telaten satu piring untuk berdua.


"Bos, jangan membuat gue ngiri, mesra banget sih" celoteh Mario dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan.


"Makanya cepatlah menikah, jangan cuma pacaran aja" jawab Mario sekenanya saja.


"Bos kira mudah, terlalu banyak rintangannya, belum lagi harus menghadapi calon yang akan di nikahkan dengan dia juga, pusing gue" cicit Mario semakin kesal.


Selesai makan, mereka langsung berangkat ke bandara di antar oleh sopir menuju bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Changi Singapura.


Sampai di bandara di jemput langsung oleh Conan menuju hotel bintang lima yang sudah di reservasi sebelumnya, turun dari mobil jemputan Conan Ara sengaja menutupi wajahnya dengan makai masker agar tidak di kenali.


Mereka langsung masuk ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat dan berjanji besok pagi akan bertemu di restauran hotel untuk mendengarkan laporan Conan dan menyusun strategi selanjutnya.


Pagi harinya di restauran mereka berkumpul di restauran, Conan melaporkan jika berhasil mengubah nama identitas dan agama Ara dalam dua Minggu saja tinggal Ara menandatangani dokumen itu dengan mendatangi kantor pemerintah setempat.


"Baiklah kita selesaikan satu persatu, hari ini kalian bertiga pergilah menyelesaikan kartu identitas terlebih dahulu, dan siangnya bertemu dengan ibu kandung elo, tetapi ingat berhati-hati lah" perintah Faro dengan tegas.


"Baik bos, jadwal anda apa hari ini?" tanya Conan kepada Faro.


"Hari ini gue akan berkunjung ke rumah neneknya Jasson, karena tadi malam Jasson menghubungi gue jika dia juga ada di Singapura dalam urusan bisnis" jawab Faro kemudian.


Dengan penampilan yang sama yaitu menggunakan masker dan topi Ara dan Mario mengikuti Conan untuk menyelesaikan identitas dari Ara ke kantor pemerintahan setempat.


Saat mengurus surat identitas dari Ara semua berjalan dengan lancar, walaupun memakan waktu sampai hampir tengah hari karena prosedur yang panjang.


Setelah identitas di pegang oleh Ara dengan nama yang baru, Mario dan Ara bernafas lega, selanjutnya Ara dan Mario menemui ibunya di sebuah restauran seafood favorit ibunya Ara.


"Mommy I miss you so much" kata Ara memeluk ibunya dengan erat saat mereka bertemu di restauran itu.


"I Miss you to my darling" semakin erat memeluk Ara sampai lupa jika ada Mario yang berdiri di samping Ara.


Setelah puas berpelukan dengan erat Ara melepaskan pelukannya dan menarik tangan Mario mendekati mommy nya.


"Mom dia Bang Mario calon suamiku" Ara memperkenalkan Mario dengan bangga.

__ADS_1


Mario meraih dan mencium punggung tangan mommy Ara dengan sopan.


"Salam kenal mommy, saya Mario" kata Mario sambil membungkukkan badannya menghormati calon ibu mertuanya.


"Aduh gagahnya menantu mommy, salam kenal my son" mommy Ara memeluk Mario dengan erat tanpa canggung.


"Kapan rencana kalian akan menikah?" tanya mommy dengan penasaran.


"Akan aku usahakan secepatnya mommy, setelah administrasi selesai, nanti kami kabari secepatnya" balas Mario dengan tegas.


Mereka bercengkerama dan makan hidangan seafood dengan gembira, tetapi sayangnya tanpa mereka sadari ada sekitar empat orang laki-laki mengawasi gerak-gerik nya dari kejauhan, walaupun hanya mengawasi dari kejauhan di luar restauran dan tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


Mommy pulang terlebih dahulu karena ada janji dengan Decha Thanapon putranya sehingga meninggalkan mereka berdua terlebih dahulu.


Setelah selesai mommy pulang Ara memakai masker dan topi kembali keluar dari restauran itu berjalan bergandengan tangan dengan mesra saat ingin mencari taksi, tetapi baru berjalan beberapa langkah Ara dan Mario menyadari ada yang mengikutinya di belakang sehingga mereka memutuskan untuk berjalan saja.


"Baby...gue tidak mengenal jalan ini, bagaimana ini" bisik Mario sambil tetap berjalan.


"Tenang saja, aku hafal setiap jalan disini, ayo kita cepat kita lewat gang itu saja" ajak Ara sambil menarik tangan Mario berjalan cepat melirik empat orang laki-laki yang mengikuti mereka.


Saat Ara dan Mario berbelok ke gang kecil, keempat orang laki-laki itu juga mengikuti dengan cepat berlari juga mengikuti mereka berdua.


Hampir satu kilometer mereka berlari mengejar Ara dan Mario, saat di gang itu sedikit sepi, lama kelamaan Mario jengah juga, menggulung lengan kemejanya sampai diatas siku dan bersiap siap menghadapi mereka.


"Minggirlah baby, gue yang menghadapi mereka" Mario sedikit mendorong Ara untuk sedikit menepi di pinggir jalan.


Mario memasang kuda-kuda kaki dengan kokoh, menghadapi mereka dengan tangan kosong, Ara awalnya hanya berdiri di pinggir jalan mengawasi situasi dari lawan.


"Sebenarnya siapa kalian mengapa mengikuti kami?" ucap Mario sambil tetap memasang kuda-kuda dengan kokoh.


"Tidak perlu anda tahu, kami hanya ingin membawa nona kepada tuan kami, sebaiknya kau pergi saja" celoteh salah satu laki-laki yang mengikuti mereka.


"Kalau begitu langkahi dulu gue" tegas Mario menyerang mereka dengan sekuat tenaga.


"Hyaaaaaat...huuk haaak" Mario melawan mereka berempat sendirian dengan keahlian yang dimiliki, mereka menyerang Mario bersamaan dengan memutari dan mengepung Mario.


Menendang, memukul tanpa menyerah, ini terlihat mudah bagi Mario seperti melawan satu orang, dari salah satu dari mereka di tendang oleh Mario terkena perutnya


"Hyaaaaaat"


"Bruuk aduh" seketika salah satu orang laki-laki itu tertunduk memegangi perutnya kesakitan.


"Hayo... siapa yang ingin merasakan tendangan lagi majulah" Mario mulai merasa terbakar semangatnya.


"Buuuk....haak ..." terjatuh lagi terkena pukulan tangan kanan Mario dengan mengeluarkan darah dari bibir laki-laki itu dan pingsan seketika.

__ADS_1


"Hyaaaaaat...hyiaat" kedua orang laki-laki akhirnya kalah terkena tendangan bebas Mario tidak berkutik.


Ara hanya diam tanpa membantu Mario, karena sepertinya Mario sendiripun mampu menghadapi mereka, terbukti mereka tumbang satu persatu.


__ADS_2