
Selesai akad nikah, acara di lanjutkan di hotel bintang lima setelah istirahat siang sebentar, di lakukan dengan dua sesi yaitu pukul satu sampai lima di khususkan untuk undangan keluarga Ken dan Andri Pranoto baik rekan bisnis, kolega, tetangga dan para karyawan, sedangkan sesi keduanya untuk teman-teman Fia ataupun Jasson.
Di atas panggung pelaminan Fia tampak cantik dengan riasan dari MUA terkenal, Jasson juga terlihat gagah berwajah melayu mengenakan jas senada dengan gaun pengantin wanita, di sebelah kiri pengantin duduk kedua orang tua Jasson Andri Pranoto, Trisya Hamsah dan di sebelah kanan duduk Ken dan Imma dengan pakaian yang senada pula.
Tamu datang silih berganti, semua keluarga sibuk dengan tugas masing-masing, baru jam tiga sore Inneke terduduk di samping meja prasmanan dengan kepala di sandarkan di dinding mata seperti lengket tak bisa terbuka sangat ngantuk, Ara yang dari tadi bertugas berdua dengan Inneke menjadi bingung karena patnernya menghilang, dicarinya memutari gedung ternyata ada di samping meja prasmanan mendekatinya dan mengusap lembut punggung Inneke.
"Keke....kamu kenapa, apakah kecapean?" tanya Ara khawatir.
Inneke hanya membuka matanya sedikit dan terpejam lagi seolah tidak bisa di buka matanya karena sangat ngantuk.
"Aku ngantuk banget kak, sepuluh menit lagi ya" pinta Inneke kembali memejamkan matanya.
"Tidurlah, gue tinggal ya" Ara meninggalkan Inneke yang tertidur berjalan keluar berniat mencari Mario yang sedang menemui rekan bisnis bosnya, tetapi belum sampai di tempat Mario duduk melihat Faro yang sedang mencari sesuatu.
"Cari siapa Bang?" tanya Ara mendekati Faro yang matanya masih melihat disekitar area gedung.
"Istri gue" jawab Faro tanpa menoleh kearah Ara sedikitpun.
"Ikut aku Bang, katanya tadi dia ngantuk berat, jadi dia tidur sebentar" Ara berbalik arah menuju tempat di mana Inneke memejamkan matanya di kursi dekat prasmanan dan diikuti oleh Faro dibelakangnya.
"Itu Bang Inneke sedang tidur" Ara menunjuk kearah Inneke kemudian kembali mencari Mario.
Faro langsung berlari kecil mendekati Inneke dengan raut wajah yang khawatir, menepuk pipinya dengan lembut.
"Sayang... kenapa tidur disini?" langsung Faro menggendong Inneke dengan bridal berjalan lewat pintu samping dan melewati belakang panggung pelaminan masuk kedalam kamar ganti baju pengantin.
Setiap orang yang di lewati Faro menatap heran kepada Faro yang menggendong istrinya yang sedang tertidur lelap dalam gendongannya tetapi Faro hanya cuek dan tetap berjalan kearah kamar ruang ganti pengantin.
"Abang.... sepuluh menit lagi ya mataku tidak bisa di buka" suara serak Inneke berucap sambil meringkuk membetulkan posisi tidurnya miring membelakangi Faro saat Faro sudah membaringkan Inneke di tempat tidur itu.
"Eeee, baiklah tidurlah" Faro membelai lembut rambut Inneke, duduk di samping Inneke meluruskan kakinya yang terasa pegal karena dari pagi belum sempat istirahat karena menemui tamu yang tiada henti datang silih berganti.
Hampir seperempat jam Faro menunggu Inneke sambil membuka handphonenya menjawab ucapan selamat dari teman dan kolega bisnis atas pernikahan adiknya.
Perlahan mata Inneke terbuka setelah menyadari dia berada ditempat yang berbeda dari awal dia tidur, berbalik badan ternyata ada suaminya yang duduk di belakangnya.
"Bang kita dimana ini?" tanya Inneke bangun duduk di samping Faro.
"Sayang sudah bangun, ini di kamar tempat pengantin berganti baju, bagaimana sudah tidak ngantuk?" tanya Faro memeluk Inneke dari samping.
"Tidak Bang, sudah segar sekarang, ayo kita keluar, perutku lapar banget padahal tadi siang sudah makan" ajak Inneke turun dari tempat tidur dengan senyum mengembang, Faro mengikuti Inneke keluar menuju tempat prasmanan yang berjajar rapi menyediakan berbagai menu makanan yang sangat menggugah selera.
__ADS_1
Tetapi Inneke tidak mendekati di menu nasi atau makanan berat lainnya, tetapi yang dituju di tempat menu makanan penutup.
"Yang katanya lapar, kenapa kesini?" bisik Faro disamping Inneke yang sedang mengambil piring kecil.
"Aku hanya pingin makan salad buah dan nanas aja Bang, kalau Abang mau makan nasi silahkan aja" tersenyum manis sambil mengambil satu piring kecil salad buah dan satu piring kecil nanas yang sudah di potong kecil kecil.
"Abang tidak lapar, minumnya apa Abang ambilkan?" tawar Faro kemudian.
"Air putih aja, tapi ada tidak yang dingin?" permintaan Inneke yang aneh.
Faro jadi terkekeh mendengar permintaan yang aneh dari Inneke mengusap pipinya dengan lembut sambil berkata "Kalau mau air mineral dingin beli Yang ke supermarket, mana ada disini?".
"Kalau gitu bawakan air mineral dan sirup ya Bang, tapi minta es batunya sedikit, sini aku yang ngomong sama mas pelayan es sirupnya" celoteh Inneke berjalan mendekati pelayanan laki-laki itu, Faro hanya mengikuti gerakan Inneke saja tanpa protes sedikitpun sambil bergumam sendiri kenapa aneh sekali permintaannya.
"Mas boleh minta es batu sedikit kah?" pinta Inneke mendekati pelayanan laki-laki yang menunggu sirup.
"Tentu Bu, sebentar saya ambilkan" pelayanan itu membuka tutup box es batu dan memasukkan sedikit es batu di gelas kosong.
"Apakah tambah sirupnya sekalian Bu, biar saya ambilkan?" tanya pelayan itu ramah.
"Tidak usah mas, terima kasih, Bang cepat ambil" perintah Inneke kepada Faro.
Faro mengambil gelas berisi es batu, mengangguk dan tersenyum kepada pelayanan itu kemudian menyusul Inneke yang sudah berjalan duluan untuk duduk di kursi yang kosong dekat pelaminan.
"Waaah segar rasanya Bang" tetap Inneke menyendok salad buah sesendok demi sesendok sampai habis dengan cepat.
"Sayang pelan-pelan makannya, tidak ada yang minta" Faro menjadi khawatir dengan tingkah Inneke yang tidak seperti biasanya.
"Bang habis....." Inneke seperti masih pingin makan salad buah lagi.
"Mau lagi, biar Abang ambilkan, makan aja dulu nanasnya" Faro menyodorkan nanas yang dari tadi belum di sentuh oleh Inneke.
"Enggak ah, Abang aja yang makan, aku mau salad buah lagi Bang, cepetan" nanas itu di dorong oleh Inneke kearah Faro.
"Sabar Abang ambilkan, minum dulu kalau gitu" Faro membuka air mineral dan menuangkan di es batu yang di minta dari pelayanan sirup tadi.
Faro berjalan menuju gerai salad buah untuk mengambilkan pesanan Inneke, diambilnya satu piring penuh dan kembali mendekati Inneke.
"Ini sayang makanlah lagi" Faro meletakkan Sepiring salad didepannya.
Dengan mata berbinar Inneke kembali menyantap salad buah yang baru saja ada didepannya dengan lahap tanpa memperdulikan Faro yang menatap penuh heran seolah olah Inneke belum makan dalam waktu lama, sampai habis di piring itu baru Inneke merasa kenyang dan meminum air yang sampai habis.
__ADS_1
Sesi pertama selesai jam lima sore, semua keluarga beristirahat sejenak sampai berlanjut acara malam harinya untuk acara resepsi sesi kedua.
Pada acara resepsi sesi kedua ini Fia lebih santai karena MUA hanya memberi make-up sentuhan natural, tetapi terlihat semakin cantik dan terlihat segar.
Para tamu malam hari sebagian besar teman dari Jasson, mereka sebagian besar berwajah melayu dan berwajah indo keturunan.
Sampai pada acara resepsi hampir selesai Fia terlihat sedikit pucat berdiri sendirian di pelaminan tanpa berani duduk, sedangkan Ken dan Imma sedang bercengkerama dengan kolega bisnisnya yang tidak bisa datang saat siang tadi, Andri Pranoto dan Trisya Hamsah bergabung dengan teman teman Jasson, dan Jasson sendiri sedang bercengkerama dengan teman teman SMU.
Saat Jasson menyadari ada yang aneh pada Fia karena melihat hampir seperempat jam dia hanya berdiri saja langsung berlari mendekatinya dengan khawatir.
"Sayang kenapa dari tadi berdiri aja, tidak duduk nanti capek?" tanya Jasson menarik tangan Fia mengajaknya duduk.
"E....e....Bang, tidak mau duduk nanti tambah banyak" Fia berkata ragu-ragu dan tidak di fahami maksudnya oleh Jasson.
"Apanya yang tambah banyak?" tanya Jasson tidak jadi duduk dan menjadi penasaran.
"E..e itu...itu Bang" masih ragu-ragu Fia bicara.
"Sayang jangan buat Abang bingung kenapa sih?" semakin heran Jasson dengan sikap Fia yang aneh.
"Itu ada darah di belakang gaun aku Bang, tolong antar aku ke kamar Bang" Fia akhirnya jujur tetapi sambil menunduk malu.
"Ooooo kenapa harus ragu ngomongnya, Abang sekarang suamimu, tidak usah malu, ayo Abang antar ke kamar" dengan menggandeng Fia, Jasson langsung turun dari panggung pelaminan menuju ke belakang panggung dan menuju lift untuk ke kamar hotel di lantai paling atas.
"Abang kembali aja kebawah masih banyak teman Abang yang belum pulang, nanti dicari mereka" perintah Fia setelah sampai kamar hotel.
"Baiklah Abang pamit mereka sebentar, nanti Abang cepat kembali lagi" Jasson meninggalkan Fia, sementara Fia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Hampir setengah jam Jasson meninggalkan Fia di kamar hotel dengan gelisah karena harus menunggu teman temannya meninggalkan tempat acara, setelah pamit sekalian kepada umi, Abi serta kedua orang tuanya baru berlari kecil menuju kamar hotel.
Saat membuka pintu kamar hotel dengan cepat Jasson melihat Fia sedang nungging di tempat tidur sambil memegang perutnya dengan erat.
"Sayang kenapa posisi tidurnya seperti itu, kenapa dengan perutnya, coba tidurnya yang betul" titah Jasson dengan khawatir.
"Tidak mau Bang, biar begini saja, aduuuh mulas sssst" Fia sedikit merintih menahan rasa sakit.
"Sayang jangan bikin Abang khawatir ayolah" Jasson semakin bingung dengan apa yang dilakukan Fia.
Fia langsung turun dari tempat tidur dengan cepat tanpa duduk terlebih dahulu, dan langsung berlari mematung dan sambil memegangi perut yang masih mulas.
"Eeee malah berdiri, aduh mukamu kenapa pucat sekali" tambah panik Jasson melihat muka pucat Fia.
__ADS_1
Setiap wanita yang sedang mengalami menstruasi akan mengalami gejala yang berbeda-beda, seperti biasa setiap bulannya jika hari pertama Fia sedang menstruasi akan mulas, muka pucat, pinggang terasa nyeri dan kepala terasa pusing.
Biasanya jika di rumah, bibi yang selalu membuatkan wedang jahe, dan umi akan mengompres perutnya dengan air hangat untuk mengurangi rasa mulas, tetapi sekarang ini Fia ada di kamar hotel bersama suami yang baru saja menikahinya, sehingga membuat Fia semakin bingung harus berbuat apa, muka Fia semakin pucat karena tidak berani harus ngomong apa kepada suaminya.