
Sore harinya semua keluarga berkumpul di kediaman Faro, teman dari Ken, Imma, keluarga besar dari bunda, di tambah sahabat dari Faro termasuk si Cinta dan anak buahnya yang bekerja di rumah kecantikan Ara.
Sayangnya tidak ada Jasson dan Fia masih di Korea untuk honeymoon, tanpa di duga sore itu juga datang Opa Tomy datang dari kampung di dampingi mama Meera.
"Abang, selamat ya... sebentar lagi menjadi bapak" Opa Tomy datang langsung memeluk Faro dengan erat.
"Opa... Abang kangen banget, apa kabar, kenapa nekat kesini nanti kalau sakit gimana, siapa yang ngabarin Opa?" Faro langsung mencecar banyak pertanyaan.
"Opa baik sayang, satu-persatu pertanyaannya, Abi tadi pagi menghubungi dan menceritakan tentang kehamilan istrimu, jadi Opa langsung terbang kesini" cerita Opa Tomy senang dan bahagia.
"Tapi harus janji disini sampai cucu menantu Opa lahiran, tidak boleh pulang" titah Faro dengan penuh penekanan.
"Baiklah..... baiklah" Opa Tomy langsung memeluk Faro kembali dengan erat.
"Mama tidak di anggap nich?" protes Mama Meera karena sedari tadi tidak di sapa oleh Faro.
"Mama...maaf apa kabar, terima kasih sudah datang?" Faro mencium punggung tangan mereka berdua gantian dan memeluknya dengan erat.
Setelah semua berkumpul kecuali Ara yang belum datang karena sedang meeting dengan Jelita dan stafnya, sambil bercanda dan berbincang mereka mulai membakar ikan dan ayam, para laki-laki yang mempersiapkan orangnya sedangkan para wanita membuat bumbu, sambal dan lalapan.
Karena ada mangga yang kemarin masih mentah di kulkas tangan gemulai Cinta meracik sambal mangga dengan cekatan, saat Inneke datang melihatnya air liur seperti mau menetes.
"Cin, waaah aku mau sepertinya enak banget sambal mangga nya mau dong" Inneke langsung mencicipi dengan mentowel sambal itu dengan ujung telunjuknya di masukkan ke dalam mulutnya.
"Sabar dong say, sebentar lagi" balas Cinta sedang mengulek sambal itu.
"Nanti ajarin aku ya Cin, top markotop rasa sambal mangga yang kamu buat" pinta Inneke berjalan mengambil piring kosong yang ada di sebelah Cinta.
"Tenang aja, kapanpun elo ingin sambal mangga hubungi gue aja, gue siap buatin biar si bos kecil yang di perut tidak ileran"
"Bawa sini piringnya say, mau seberapa sambalnya, gue ambilkan?" tangan Cinta mengambil piring kosong yang di pegang Inneke dan memberikan beberapa sendok sambal mangga.
"Terima kasih Cin, kamu memang yang terbaik" Inneke mentowel lengan Cinta, diikuti senyum yang mengembang dari wanita jadi-jadian itu.
Sayangnya ikan baru di bakar, Inneke jadi mondar-mandir menunggu ikan rasanya sudah tidak sabar menunggu matang dan segera menikmatinya.
Faro dan Mario yang sedang memulai meletakkan ikan diatas bara arang yang sudah jadi sambil berbincang.
"Bagaimana perkembangan acara akad nikahnya?" tanya Faro kepada Mario.
"Sudah kurang dua puluh persen lagi selesai bos, memang sedikit berbeda jika kita nikah dengan orang yang beda negara" jawabnya sambil memberikan bumbu pada ikan bakar yang mulai berbau harum.
__ADS_1
Inneke langsung mendekati Faro dengan sedikit berlari kecil karena sudah mencium bau harum dari ikan bakar.
"Abang.... cepat atu bakarnya lama banget" Inneke mengurutkan bibirnya sedikit kesal karena ingin segera menikmati sambal mangga buatan Cinta.
Faro terkekeh melihat tingkah istrinya yang tidak sabaran jika menyangkut makanan favoritnya akhir-akhir ini.
"Sabar sayang sebentar lagi, itu apa yang dibawa?" tanya Faro mendekati Inneke.
"Sambal mangga Bang, si Cinta yang buat, top markotop rasanya" Inneke mengacungkan jempolnya.
Datang Ara yang masih mengenakan pakaian kerja yaitu rok panjang dan blender warna ungu di temani oleh tangan kanannya Jelita juga masih menggunakan baju kerjanya hanya saja berbeda warna dari Ara yaitu merah maroon.
Entah kemana wajah Inneke yang tadinya berseri-seri seketika masam hanya karena kedatangan Jelita, Inneke teringat pertemuan pertamanya di sebuah restauran milik Ara jika waktu kecil jelita sangat menyukai Faro.
"Baby, sudah selesai meeting nya?" tanya Mario saat Ara dan Jelita mendekati mereka.
"Iya Bang, maaf aku mengajak Jelita untuk bergabung, tidak apa-apa kan Bang Faro?" tanya Ara kemudian.
"Tidak apa-apa, semakin banyak orang semakin ramai, selamat bergabung Jelita anggap saja rumah sendiri" balas Faro masih tetap membolak-balik ikan yang hampir matang.
"Halo Keke, si dekbay sehatkan di dalam sini?" Ara memeluk Inneke dengan mengusap lembut perutnya dan cipika-cipiki.
"Selamat ya Keke, semoga sehat selalu ibu dan dekbay nya" Jelita juga tidak mau kalah cipika-cipiki dengan Inneke.
Ara dan Jelita kemudian bergabung dengan Erna, Cinta dan yang lainnya untuk mempersiapkan kelengkapan ikan bakarnya, sedangkan Inneke masih berdiri di tempatnya saat cipika-cipiki dengan Jelita air matanya menganak sungai tanpa ada suara tangis dari Inneke.
Faro yang melihat istrinya menangis terheran heran berlari mendekatinya dengan penuh khawatir, mood orang hamil memang susah di tebak gumamnya dalam hati.
"Sayang kenapa menangis, itu ikannya sudah matang ayo kita makan?" rayu Faro sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Dia dulu suka sama Abang kan?" tanya Inneke sambil terisak-isak.
"Eeeee siapa maksudnya sayang, ayo duduk dulu sini?" Faro mendudukkan Inneke di bangku kayu samping kolam renang sedangkan Faro duduk di jongkok didepan Inneke sehingga dia harus sedikit mendongak saat melihat wajah Inneke yang masih mengeluarkan air mata.
"Itu...tadi yang baru datang, kak Jelita, dia dulu---" Inneke tidak sempat melanjutkan ucapannya karena di cium bibirnya oleh Faro dengan singkat.
"Sayang dulu dia yang suka sama Abang, tapi Abang tidak, jangan khawatir, Istri Abang cemburu ya?" Faro mentowel hidung Inneke gemas.
"Tapi tadi dia senyum senyum ama Abang" cabik Inneke masih mengeluarkan air matanya.
Faro berdiri duduk di samping Inneke menariknya dalam pangkuan diciumi seluruh wajahnya dengan gemas.
__ADS_1
"Dengar sayang, walaupun Abang senyum dengannya tetapi hati dan cinta Abang hanya untuk istri tercinta ini, masa lalu tidak usah di masalahkan dong, Abang dan dia tidak pernah terjalin hubungan apapun" keterangan Faro panjang lebar sambil memeluknya dengan erat.
"Ayo itu ikan bakarnya sudah menunggu, tidak jadi makan pakai sambal mangga yang dibuat oleh Cinta yang top markotop?" rayu Faro mengalihkan perhatiannya.
"Oya...cepat Bang, liur aku sudah menetes, tapi ingat jangan dekat-dekat dengan dia lo Yang, awas aja" ancam Inneke dengan matanya yang sedikit melotot.
"Siap tuan putri titah dilaksanakan" Faro menjawab cepat sambil memberikan hormat kepadanya.
Malam itu sambal mangga buatan Cinta yang menjadi primadona karena semua keluarga dan sahabat sangat menyukai sambal mangga itu.
"Cinta seharusnya elo jadi koki bukan kerja di salon" Erna yang sedang menikmati ikan bakar dengan sambal mangga dengan lahap.
"Keahlian aku di salon say, tetapi kalau masak itu hanya kebutuhan yang kepepet" jawab Cinta sekenanya.
"Kenapa kepepet?" tanya Ara penasaran mendengar jawaban Cinta yang aneh.
"Waktu dulu gue belum berhasil seperti ini, gue harus bisa hidup bertahan makan seadanya harus bisa masak makanan apapun bahan yang ada, naah sering tuh mangga tetangga kos jatuh masih mentah, gue kumpulin dan gue racik menjadi sambal di tambah goreng ikan, di tawarin teman kos banyak yang suka ternyata, lumayan uangnya gue belikan beras" cerita Cinta dengan gaya khasnya lemah gemulai seperti ulat kepanasan.
______________________
Di Korea Jasson dan Fia sedang jalan-jalan di Seoul tepatnya di N tower atau Namsan tower dimana disana merupakan tempat romantis yang ada di Korea karena adanya gembok cinta yang terletak di gunung Namsan, konon katanya setiap pengunjung bisa memasang gembok cinta dan cinta mereka akan menjadi abadi jika sudah memasang gembok itu.
Hubungan cinta antara Jasson dan Fia sangat berbeda dengan pasangan yang lain, bahkan hari pertama di Korea untuk honeymoon kemarin, malamnya Jasson tidak langsung bisa menikmati indahnya malam pertama Jasson berkali-kali harus kuat menahan rasa dan bermain solo.
Jasson yang sudah dewasa bahkan umurnya hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Faro memiliki istri yang masih lugu dan polos membuat Jasson harus ekstra sabar, di malam hari pertama Jasson cuma bisa memeluk mencium bibir Fia dengan lembut.
Sore harinya pulang dari Namsan tower dengan sengaja Jasson menyusul Fia yang sedang membersihkan diri di kamar mandi.
"Bang kenapa masuk kamar mandi, aku belum selesai mandinya nanti gantian?" ucap Fia gugup dengan menenggelamkan seluruh badannya di bath-up agar tidak terlihat oleh Jasson karena Fia tidak mengenakan sehelai benangpun di badannya.
"Abang sudah tidak tahan gatal banget punggungnya, tolong sekalian gosokkan ya" jawab Jasson membuka seluruh pakaiannya ikut masuk ke dalam bath-up tanpa malu-malu.
Fia menjadi semakin gugup dan menelan selvinya dengan cepat baru pertama melihat badan Jasson yang kekar dan atletis, tanpa malu-malu Jasson bergabung satu bath-up.
"Punggung Abang gatal sayang ayolah tolong gosokkan!" perintah Jasson manja tetapi tangannya mulai ikut mengusap dengan lembut tetapi bukan punggung, perut dan sedikit mengenai gunung kembar Fia.
"Bang...aku... aku---!" Fia tidak berani mengatakan sepatah katapun karena sangat gugup.
"Tenang aja sayang, Abang tidak akan memaksa, kita lakukan bertahap, Abang akan menunggu sampai kau siap, walaupun harus sudah payah Abang menahan rasa, tetapi Abang boleh memegangnya ya" rayu Jasson lagi dengan tangan yang memegang kedua gunung kembar itu dengan kedua tangannya.
Walaupun sudah terbangun dan tegak sempurna senjata Jasson tetapi malam kedua di Korea Jasson belum berhasil memasukkan senjatanya ketempat semestinya, masih menahan rasa dengan susah payah, tetapi paling tidak sore itu Jasson sudah ada kemajuan bisa memegang dan memberikan kiss mark di gunung kembar itu dan Jasson bergumam sendiri semoga besok tidak harus menahan rasa lagi.
__ADS_1
Pagi harinya Jasson dan Fia ke pulau Jeju dan menginap di salah satu hotel dengan paket honeymoon di pulau itu, Jasson berharap di pulau Jeju lah bisa menikmati malam yang tidak terlupakan olehnya, bisa menikmati indahnya malam pertama seperti sebagaimana mestinya, tidak harus menahan rasa setiap menatapnya saja sudah tegak terbangun betapa tersiksanya Jasson rasakan, tetapi karena rasa cinta yang begitu besar bisa mengalahkan semua rasa yang ada.