Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
58. Top Servis


__ADS_3

Turun dari pesawat, Faro langsung dibawa ke rumah sakit oleh jenderal Hendro, tanpa bisa menolaknya, dengan sedikit pincang cara berjalannya Faro langsung di sambut dengan kursi roda dan di bawa ke ruang ronsen oleh pegawai rumah sakit.


Rupanya jenderal Hendro menghubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan semua keperluan yang akan di perlukan untuk memeriksa Faro.


"Bang, apakah kita akan menginap di rumah sakit, apakah kaki Abang sakit banget?" tanya Inneke khawatir setelah mereka sampai di depan ruang ronsen rumah sakit.


"Tidak usah khawatir sayang, Abang baik-baik aja, ikutin prosedur sebentar baru kita nanti pulang" hibur Faro pada Inneke dengan mengusap lembut pipinya.


Setelah selesai ronsen dan kaki Faro tidak terjadi apa-apa dan tidak ada retak di sana hanya memar saja akhirnya di perbolehkan pulang dan di jemput oleh Mario di rumah sakit.


"Bos, kita langsung pulang atau kemana terlebih dahulu?" tanya Mario saat mereka sudah naik mobil menuju rumah.


"Sayang langsung pulang atau makan dulu?" tanya Faro pada Inneke dengan lembut.


"Pulang aja Bang, kita makan di rumah aja pasti bibi dan umi sudah masak buat kita" Jawab Inneke dengan sendunya.


Sampai di depan rumah Faro di papah oleh Inneke masuk rumah duduk sejenak di ruang keluarga, sedangkan semua keluarga menjadi khawatir karena pulang honeymoon seharusnya bahagia tetapi ini terjadi insiden yang tidak di inginkan.


"Abang, bagaimana kakinya bisa memar seperti itu?" tanya Imma khawatir membantu Inneke memapah Faro duduk di ruang keluarga.


"Abang tidak apa-apa umi, cuma memar aja, bahkan masih kuat kalau beberapa ronde mengajak istriku olahraga malam" jawab Faro nyeleneh terkekeh mengedipkan matanya kepada Inneke dan Ken yang sedikit khawatir melihat keadaan kakinya.


"Abang bisa aja, mau saingan sama Abi nich ceritanya" Ken malah ikut ngeres mengedipkan matanya kepada Imma.


Setelah bercengkerama sejenak bersama Mario juga, Ezo dan Fia ikut bergabung barulah Faro minta tolong Ezo dan Fia membawakan koper keatas karena akan di berikan oleh-oleh jika sudah sampai kamar, baru Mario pamit pulang kepada keluarga Ken.


Dengan menggunakan lift, mereka ke atas menuju kamar Faro dan tetap di papah oleh Inneke.


Sesampainya di kamar Faro duduk di pinggir tempat tidur, sedangkan Inneke memberikan oleh-oleh kepada kedua adiknya dan kedua mertuanya, baru membantu membersihkan diri di kamar mandi.


"Yang, punggung nich rasanya gatal banget" titah Faro meminta menggosok punggung dan badannya.


"Sabar sayang, nanti tidak bersih kalau terlalu cepat" kata Inneke sambil menggosok punggung dan badannya perlahan.


"Yang, Abang boleh minta disinikah, Abang tidak tahan nich, bangun sendiri" pinta Faro dengan manja.


"Nanti aja ya Bang, kasihan umi dan Abi menunggu kita untuk makan malam, lagian sedang sakit juga masih ngeres aja yang dipikirin, aku juga lapar dari siang belum sempat makan" memelas Inneke sambil terus mengusap punggung Faro dengan perlahan.

__ADS_1


"Tapi janji setelah makan ya, Abang minta servis yang top" rayu Faro dengan penuh harap dan gairah.


"Iya Bang, nanti spesial servis untuk Abang, ayo pakai baju dulu, ini handuknya" Inneke melilitkan handuknya di pinggang Faro dan memapah lagi ke tempat tidur, mengeringkan badan dan rambutnya dengan handuk, memakaikan baju dan celana pendek baru Faro duduk berselonjor di tempat tidur malas turun dari tempat tidur.


"Abang makan di kamar aja Yang, malas turun, nanti terlalu lama kalau ke bawah harus ngobrol lagi sama abi dan umi" pinta Faro kepada Inneke dengan manja.


"Abang sih, pikirannya ngeres terus, sabar kenapa, aku ambilkan makan dulu ke bawah" Inneke ingin keluar kamar setelah rapi memakai baju tidur bercorak hello Kitty.


"Jangan lama-lama ya, eee sini sebentar minta nyicil sedikit" Faro menarik tangan Inneke memeluknya dengan erat dan mencium bibir Inneke dengan lembut dan kebawah sedikit di leher sampai ada tanda merah di sana.


Inneke dengan sekuat tenaga mendorong badan Faro, dan memukul lengannya, karena hampir membuat Inneke lemah dan terbawa suasana.


"Abang nakal, di bilang nanti dulu, malah modus lagi dasar ngeres" cabik Inneke keluar kamar dan turun ke lantai bawah bergabung dengan keluarga yang sedang menunggu untuk makan malam.


"Abi, umi, Abang tidak bisa turun, aku bawa ke atas aja makan untuk Abang" ijin Inneke sambil mengambilkan makan dan minum untuk Faro.


"Iya nak, tidak apa-apa, minta bantuan bibi aja, kalau tidak bisa sendiri" saran Imma bijak.


"Iya mi, bibi tolong bantuin bawakan nasi ke atas ya?" pinta Inneke kepada bibi yang ada di dapur.


"Baik, yang mana yang mau dibawa?" tanya bibi mendekati Inneke.


Sambil di suapin oleh Inneke, tetapi tangan Faro menyusup entah kemana, Faro tidak merasakan kakinya yang sakit, tetapi dia hanya fokus dengan keinginan yang menggebu.


"Abang, makan dulu, ini tangan diam dulu ngapa, sabar sedikit lagi, habiskan dulu makannya" protes Inneke kesal karena Faro selalu usil.


Selesai makan, pemanasan akhirnya juga sudah selesai, tanpa mengembalikan piring kotor ke lantai bawah lagi, hanya di letakkan di meja Faro sudah tanpa mengenakan sehelai benangpun, Inneke sudah mulai memberikan servis topnya, Faro hanya memberikan bumbu kecup sana dan sini, sisanya Inneke yang mengendalikan permainan.


Tanda merah sudah bertebaran di seluruh tubuh Faro tanpa terkecuali, Faro juga tidak mau kalah semua di berikan tanda walaupun badan tidak terlalu banyak gerak karena pergerakan kakinya tidak leluasa seperti biasanya, sampai pada penyatuan keduanya tetap Inneke yang harus mengendalikan, karena Inneke yang di atas, bergerak cantik maju mundur tanpa jeda semakin cepat dan cepat sampai pada klimaks keduanya.


Inneke hanya merosot ke samping badan Faro yang sudah mulai rileks tidak menegang seperti sebelumnya, tersenyum manis, membuat wajah Inneke merah padam karena aksinya yang membuat dia sedikit malu karenanya.


"Terima kasih sayang, servis yang sangat dan sangat top, mau lagi please" goda Faro karena hanya mengingat aksi Inneke saja Faro mulai menegang lagi ular cobranya tanpa di komando.


Tetapi belum sempat Faro memulai aksinya pintu ada yang mengetuk dari luar.


"Tok...tok...tok"

__ADS_1


"Bang, apakah sudah tidur, ini umi dan Abi, bibi juga ikut sih mau ambil piring kotor" ucap dari luar sambil mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ya umi sebentar, Inneke lagi di kamar mandi" jawab Faro berbohong.


Inneke langsung bangun mengambil baju yang berserakan entah kemana, memakainya dengan cepat merapikan rambutnya dan mengambilkan baju Faro yang terlempar juga berserakan di lantai, membantu Faro memakai baju baru membuka pintu.


"Silahkan masuk umi, Abi maaf agak lama dari kamar mandi" kata Inneke juga ikut berbohong, sedangkan Faro tetap tiduran di tempat tidur bersandar di dastbor tempat tidur dengan santainya.


"Bibi, tolong bawa piring kotornya ke bawah ya" perintah Imma, diikuti bibi mengambil piring dan gelas bekas makan Faro dan Inneke barusan.


"Apa perlu di panggilkan tukang urut aja biar cepat sembuh?" tanya Ken duduk di sofa panjang bersama Ezo dan Fia.


"Tidak usah Bi, sudah dapat obat anti nyeri dari dokter" jawab Faro singkat.


"Bang, kalau nanti honeymoon ke Singapura boleh adik ikut?" tanya Ezo nimbrung mengambil stik PS bermain dengan Fia dan menyalakan televisi di sambungkan dengan kabel PS.


"Tiket cuma untuk dua orang, emang mau adik Ezo nyempil di roda pesawat" cabik Faro tertawa lepas mengedipkan matanya kepada Inneke.


"Memang adik upil, harus nyempil di roda pesawat, ogah amat" protes Ezo dengan mengerucutkan bibirnya tetap aja sambil memainkan game PS.


"Besok Abang harus tetap ke kantor lo umi, Abi, ada meeting yang tidak bisa di tinggalkan, palingan minta istriku membantu berjalan ke kantor" cerita Faro kepada kedua orang tuanya agar tidak terlalu khawatir tentang apa yang terjadi pada kakinya.


Pada keesokan harinya walaupun mandi harus di mandikan, di pakaikan baju oleh Inneke, bahkan sarapan saja tetap minta di suapin, Faro tetap bertekad untuk ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah di jadwalkan sejak sebelum menikah itu.


Saat di papah di ruang meeting Faro sangat manja pada istri tercintanya, tetapi saat menghadapi para karyawan dan anggota meeting itu wibawa dan wajah garangnya tetap membuat anak buahnya menjadi tunduk dan menghormatinya.


Selama satu jam meeting berlangsung Inneke hanya duduk di kantor Faro, tetapi setelah selesai Inneke mendapatkan pesan dari Faro dan bergegas membantunya berlari ke ruang meeting mengajak kembali ke dalam kantor dan singgasana empuknya.


"Yang, tolong ambilkan map yang ada di lemari berkas itu warna merah" perintah Faro kepada Inneke yang sedang asyik bermain di handphone nya.


Inneke mengambil map itu dengan cepat dan menyodorkan kepada Faro, tetapi Faro tidak cuma mengambil map itu saja, dia langsung menarik tangan Inneke dalam pangkuannya dan langsung ******* bibir Inneke dengan lembut.


"Bang, jangan mulai lagi, ini di kantor sebentar lagi pasti kak Mario masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu" proses Inneke mencoba bangun dari dekapan Faro.


"Biarkan saja sayang, paling dia akan protes aja" cabik Faro dengan tetap mesum jika dekat dengan Inneke.


Sudah hampir satu Minggu ini Inneke selalu menemani Faro ke kantor, manjanya selalu saja membuat Inneke lemah dan selalu menuruti semua keinginannya yang mesum.

__ADS_1


Tanpa perduli di kantor ataupun di rumah, Faro selalu candu dan semakin candu, bercinta tanpa melihat waktu dan tempat, terkadang Mario sampai enggan masuk ruangan kantor Faro jika sudah berdua, karena Mario akan selalu memergoki mereka berdua bermesraan tanpa memperdulikan keadaan sekitar.


Paket honeymoon juga belum di pakai semua, karena insiden di Brunei Darussalam membuat Faro masih sedikit trauma takut terjadi apa-apa pada istrinyanya, padahal pihak intelijen sudah mengkonfirmasi jika insiden waktu itu hanya murni kecelakaan di jalan raya, tanpa ada rekayasa.


__ADS_2