
"Mommy.....I am here" ucap Mario sambil mengangkat satu tangannya.
"Hello my son, how are you?" ibunya Ara memeluk erat tubuh Mario seperti putranya sendiri, dan bergegas Mario mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.
Setelah selesai persiapan pernikahan selesai kemarin dan mendengar dari Faro jika Decha Thanapon ada di Jakarta Ara berterus-terang bercerita tentang hal yang berhubungan dengan kakak angkatnya itu, jika Ara adalah nama panggilan kesayangan kakaknya, sedangkan Ara memanggil kakaknya dengan panggilan kesayangan phi Eca, saat kecil mereka sangat menyayangi satu sama lain, tetapi karena berbeda prinsip keduanya menjadi berpisah.
"I am fine, mom, maaf mom mohon pakai masker ini, untuk keselamatan kita, phi Eca ada di Jakarta sekarang" cerita Mario sedikit khawatir (phi artinya kakak dalam bahasa Thailand dan Eca adalah panggilan sayang Ara untuk kakak angkatnya Decha).
Dengan sedikit tergesa-gesa mommy memakai masker yang di berikan oleh Mario
"Kapan phi Eca datang ke Jakarta?" tanya mommy ikut khawatir.
"Kami juga tidak tahu mom, kapan dia tiba di Jakarta?" jawab Mario berjalan keluar area bandara.
"Mom, nanti aku ceritakan, ayo kita cepat ke mobil, takutnya ada orang-orang phi Eca mengenali kita" ajak Mario sambil membawakan koper mommy bergegas ke parkiran masuk ke dalam mobil dan dalam perjalanan pulang Mario menceritakan jika Decha Thanapon menjadi DPO kepolisian Indonesia karena keterlibatannya dalam kerusuhan dan penyerangan kemarin hari Jum'at yang mengakibatkan terjadinya banyak korban jiwa maupun fasilitas umum.
"Mario...." panggil mommy dengan nada yang sedikit meninggi.
Walaupun Mario sedikit kaget karena panggilan dari mommy, tetapi dia berusaha tetap fokus memegang kemudi dan melihat kearah depan.
"Yes mom, ada apa?" tanya Mario tanpa menoleh kearah mommy.
Mommy menarik nafas dalam-dalam, seakan ragu untuk bertanya, raut wajahnya menjadi sedikit menegang tanpa Mario tahu apa sebabnya.
"Apakah phi Eca memiliki banyak anak buah di Jakarta?" tanya mommy sambil melihat sekeliling jalan raya memperhatikan gerak-gerik orang dan kendaraan yang lalu-lalang sekitar mobil Mario.
"Lumayan sih mom, tetapi karena insiden kemarin banyak yang sudah ditangkap oleh pihak kepolisian" lanjut Mario bercerita.
Hampir menjelang malam Mario tiba di rumah dimana Ara sedang menunggu dengan harap cemas, setelah turun dari mobil mengikuti Mario dari belakang sudah ditunggu didepan pintu oleh Ara, mommy sedikit berlari dengan merentangkan kedua tangannya.
"Ara....my darling" mommy memeluk erat tubuh Ara mencium pipi dan dahinya bergantian.
"Mommy I miss you so much" Ara menyambut pelukan mommy dengan erat dan tidak lupa cipika-cipiki.
Disambut dengan hangat oleh bapak kandungnya Mario serta keluarga dekat dengan sopan, berjabat tangan.
"Selamat datang di keluarga kami Bu, anggap seperti rumah sendiri" ucap bapak dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Terima kasih pak, terima kasih telah menerima putriku dengan tulus" jawab mommy sopan dengan membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Ayo kita makan saja dulu, Ara, Mario ajak mommy ke ruang makan" perintah bapak berjalan menuju ruang makan terlebih dahulu.
Makan malam bersama dengan seluruh keluarga besar Mario dengan hangat, membuat mommy menangis terharu, merasa sangat bahagia ternyata putrinya begitu dihargai dan disayangi oleh keluarga suaminya.
Selesai makan malam bersama mommy istirahat sebentar di kamar tamu yang sudah disiapkan, tetapi mommy tidak mau untuk istirahat, dia hanya ingin memanfaatkan waktu untuk bercerita dengan Putri tercintanya.
Di kamar Mario sudah di rias sedemikian rupa dengan warna merah dan emas, sangat cantik dan indah di pandang oleh mata, sehingga malam ini Ara memutuskan untuk tidur berdua di kamar tamu bersama mommy, tetapi bukan istirahat Ara dan mommy bercerita sampai tengah malam bercerita tentang banyak hal yang mereka lakukan setiap hari.
Sementara malam hari Faro terpaksa harus lembur di markas intelejen dari sore hari pukul lima sampai saat ini pukul sembilan malam Faro dan anggota intelejen masih menganalisa CCTV dan menggunakan satelit pusat dari dua kejadian kemarin di sekitar pasar induk dan di sekitar pasar tanah Abang.
Awalnya menganalisa kejadian yang berada di daerah pasar induk, ternyata anggota dari masing-masing geng lumayan banyak sekitar empat puluh orang setiap gengnya, disana ada wakil dari masing-masing geng itu yang memimpin penyerangan tetapi wakil pimpinan dari Bang Ucok harus meregang nyawa di tangan anak buah Bang Laode dengan sabetan senjata golok milik salah satu lawan, dalam penyerangan itu ada enam korban jiwa, lima belas luka berat baik terkena senjata tajam ataupun senjata rakitan, dan banyak fasilitas umum yang rusak, dengan adanya analisa dari Faro mendapatkan satu persatu identitas para pelaku penyerangan hampir seluruhnya langsung di tangkap oleh pihak kepolisian.
Menganalisa di tempat kejadian kedua yaitu di sekitar pasar tanah Abang ternyata disana lebih banyak lagi anggota dari setiap geng, hampir seratus orang dalam satu gengnya, kedua pimpinan geng itu juga terdeteksi oleh Faro dan anggota intelejen dengan mudah, lebih banyak korban disana yaitu sekitar dua puluh orang yang tewas di tempat, fasilitas umum juga rusak parah bahkan warung dan rumah pribadi juga banyak yang di rusak.
Seperti tempat kejadian pasar induk, Faro dan anggota intelejen bisa mengindentifikasi satu persatu para anggota yang sedang bertikai, setiap nama sudah diketahui langsung di kirim ke lapangan yaitu pihak kepolisian yang sudah standby sehingga langsung diadakan penangkapan saat itu juga, hanya saja pimpinan mereka yang belum di ketahui dimana keberadaannya.
Faro masih penasaran dimana posisi Decha Thanapon yang isunya memang memihak salah satu geng tersebut tetapi memihak siapa belum diketahui pasti, tidak ditemukan di CCTV sosok Decha Thanapon ikut dalam penyergapan itu sampai CCTV di selidiki sampai selesai.
Tetapi setelah di ulang oleh Faro sekali lagi saat Bang Laode berdiri di pojok rumah warga sebagai pelindung diri dari musuh Faro melihat ada bayangan kepada di bawah kaki Bang Laode yang berasal dari sisi samping rumah.
"Jenderal..... Bang Kumis...." teriak Faro membuat semua anggota kaget dan melihat kearah Faro dengan cepat.
"Ada apa mata elang?" Bang Kumis sambil memegangi dadanya karena kaget.
Bang kumis menggerakkan mouse melakukan seperti yang Faro perintahkan, semua anggota intelejen melihat layar monitor besar itu tanpa berkedip.
"Itu bayangan kepala siapa sepertinya dia memakai topi?" tunjuk Faro setelah sampai pada posisi layar monitor pas di kaki Bang Laode.
"Gunakan satelit pusat Uda Padang, cepat!" perintah jenderal Hendro lantang.
Uda Padang langsung menyambungkan leptopnya dengan satelit pusat dengan cepat, menggerakkan mouse perlahan, mencari koordinat yang sesuai dengan tempat kejadian.
"1220° dan 7019° Uda, cepatlah" perintah jemderal Hendro tidak sabaran.
"Siap jemderal.." jawab Uda Padang singkat.
Setelah koordinat disebutkan oleh jenderal Hendro dan di perbesar sosok yang dari tadi di curigai barulah terlihat, wajah Decha terlihat jelas walaupun dia menggunakan topi, dia berhasil menghindari CCTV disekitar daerah itu, tetapi dengan menggunakan satelit tak satupun yang luput dari pemantauan dari mata elang Faro dan satelit pusat.
"Binggo....."Faro dan seluruh anggota teriak bersamaan.
__ADS_1
Dialah Decha Thanapon, sosok yang dicari pihak kepolisian dan TNI selama dua hari ini, ternyata dia berpihak kepada Bang Laode.
"Bravo mata elang.... kau memang selalu jadi andalan kami" puji jenderal Hendro dengan menepuk pundaknya karena bangga.
Setelah mendapatkan bukti keterlibatan para tersangka, dengan cepat para pihak kepolisian dan TNI hari ini langsung memburu seluruh tersangka tanpa terkecuali Decha Thanapon, diobrak-abrik seluruh markas mereka baik dari geng Bang Ucok ataupun Bang Laode, hotel kemungkinan Decha Thanapon menginap.
Pemerintah tidak mau kecolongan lagi karena adanya insiden penyerangan itu, sehingga para pihak kepolisian dan TNI seperti sedang berburu mencari keberadaan mereka.
Malam ini bang Ucok tertangkap pukul sembilan malam di sebuah kontrakan kecil di dekat stasiun Gambir bersama seorang anak buahnya yang terluka di paha kanannya, itu laporan terakhir yang di terima Faro saat sampai di rumah.
Membersihkan badannya sebentar, dipersiapkan baju tidurnya oleh Inneke dan makan malam bertiga bersama Opa Tomy.
"Opa seharusnya kalau sudah lapar tidak usah menunggu Abang pulang, makan aja duluan, mengapa harus menunggu segala?" tanya Faro khawatir.
"Sore tadi aku dan Inneke makan bakso dari penjual keliling Bang, jadi sekarang baru lapar" jawab Opa Tomy tersenyum dan diikuti anggukkan kepala oleh Inneke.
"Baiklah ayo kita makan" Faro lega setelah mendapatkan jika Opa tidak harus menunggunya menahan lapar.
Selesai makan malam, beristirahat masuk ke kamar, seperti biasa Inneke asyik menonton film laga kesukaannya Sebelum tidur, Faro akhirnya terlelap di samping Inneke yang sedang tegang menonton film.
Sampai pukul satu malam Inneke selesai menonton film kesukaannya, perut terasa kosong dan ingin segera diisi, sampai berbunyi membangunkan Faro yang terlelap disampingnya.
"Bang...bangun sebentar gin, aku lapar" Inneke membangunkan Faro dengan menggoyangkan lengannya.
Faro mengerjapkan matanya, melirik jam baru pukul satu malam, badan terasa sangat capek karena seharian bekerja ekstra Mario sedang cuti, tambah lagi kerja dobel di Markas intelejen.
"Mau pingin makan apa sayang ini masih malam?" tetap Faro siaga walau badan terasa remuk redam.
"Mau makan soto Bang yang panas dan pedas, soto Lamongan ya" rengek Inneke dengan manja.
Faro bangun dan duduk di samping Inneke, mengumpulkan nyawanya dengan cepat.
"Abang belikan sebentar, mau berapa porsi?" tanya Faro berdiri mengambil jaket, dompet dan kunci mobil.
"Aku mau makan disana, tidak mau dibungkus, aku ikut" cabik Inneke ikut berdiri dan mengambil switer yang ada di lipatan lemari.
Akhirnya Faro keluar mencari warung makan yang masih buka dengan menu soto Lamongan, dan di kawal oleh empat bodyguard karena memang suasana belum kondusif di luar.
Soto Lamongan adalah soto yang melegenda di seluruh wilayah Indonesia, sehingga walaupun sudah lebih dari tengah malam masih mudah menemukan hidangan khas Jawa timur itu.
__ADS_1
"Pak....sini masuk temani aku makan soto ya, tidak boleh menolak" perintah Inneke kepada keempat bodyguard yang awalnya hanya berdiri di luar tenda saat Inneke dan Faro sudah duduk di tenda.
"Baik Bu bos..." jawab mereka bersamaan.