
Di kafe NN sedang duduk berhadapan Faro, Andri Pranoto dan Lewi Cervantes sedang menyaksikan vedio yang di tunjukkan oleh Faro tentang Decha Thanapon sedang membidik sasaran dari jarak jauh, dan vedio pertemuan antara dirinya dengan anak angkatnya Theo Thanapon itu yaitu Decha Thanapon.
Setelah selesai menyaksikan vedio itu, baru Faro ingin bertanya kepada Andri Pranoto tetapi belum sempat bertanya Andri lebih dulu bertanya.
"Kamu dapat darimana rekaman video ini Bang?" tanya Andri Pranoto heran.
"Dari putranya almarhum Akung Letnan yang bernama jenderal Hendro" jawab Faro singkat.
Andri hanya menyipitkan matanya, mengingat peran penting yang di lakukan oleh almarhumah letnan Agung dalam mengubah pandangan hidup dari jalan kelam menjadi lebih baik setelah ibu Sarah, Letnan Agung adalah orang yang sangat bijak dan tidak pandang bulu jika menolong atau menasehati orang lain.
"Bisa tolong jelaskan mengapa anda bekerja sama dengan anak angkat dari Theo Thanapon?" tanya Faro dengan mata yang sendu.
"Terus terang aku tidak tahu kalau dia adalah anak angkat dari ketua mafia itu, dia menawarkan untuk kerjasama dalam ekspor baju jadi" keterangan Andri.
"Sepertinya mereka masih mencari informasi tentang penembakan yang terjadi saat Abang SD dulu, jadi bagaimana langkah anda selanjutnya?" tanya Faro kembali.
"Maaf Bang, kami sudah terlanjur menandatangani kontrak kerjasama dengan mereka, tetapi aku janji ini hanya urusan bisnis saja, dan tidak akan pernah menceritakan tentang kejadian waktu itu" Jawab Andri Pranoto.
"Bagaimana dengan Ramos Sandara, apakah anda juga bekerja sama dengan mereka?"
"Tidak Faro, kemarin aku bertemu dengan Ramos tanpa sengaja dia baru pulang berjudi dan sedikit mabuk, kamu hati-hati aja dengan dia, orangnya masih seperti dulu, ceroboh dan mudah marah" Lewi menambah keterangan.
"Bisakah atur pertemuan dengan jenderal Hendro untuk kami... Bang, aku ingin menawarkan kerjasama mengenai Decha Thanapon?" pinta Andri Pranoto kepada Faro.
"Baiklah Pak, nanti aku sampaikan kepada jenderal".
Karena terburu-buru Andri Pranoto dan Lewi Cervantes sudah janjian akan bertemu dengan klien lagi, langsung pamit kepada Faro setelah membayar pesanan makanan yang mereka pesan.
Sedangkan Faro sedikit melamun mengingat guru menembaknya yang sudah tiga tahun lalu meninggal dunia.
"Flashback on.
Waktu Faro duduk di kelas dua belas SMU, selesai bimbel karena sudah mendekati ujian Nasional, pulang sekolah langsung di jemput oleh abinya, yang biasanya di jemput oleh pak Rudi (pak Rudi adalah anak kandung pak Sardi yang sudah pensiun).
"Bi, kemana pak Rudi, kok Abi yang jemput, memang Abi tidak kerja?".
"Pak Rudi ada di Imma kafe, kita mau ke rumah Akung Letnan, umi dan adikmu sudah disana".
"Abang tidak bawa ganti baju Bi, acara apa disana?".
"Umi sudah bawa baju ganti Abang, putra Akung Letnan naik pangkat, jadi mengadakan acara makan-makan".
Faro hanya ber-o ria mendengar jawaban Ken, sesampainya di rumah Akung Letnan, Faro berganti baju menikmati hidangan yang sudah di sediakan oleh tuan rumah, setelah selesai baru bergabung dengan Akung Letnan yang sedang bercengkerama dengan Ken dan putranya Akung Letnan yang bernama jenderal Hendro.
"Sini Bang, duduk samping Abi" kata Ken sambil menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Bang, nanti kalau sudah kuliah bantu jenderal Hendro ya, menangani kasus di intelejen, sekalian ijin ke kamu Ken, biar kemampuan Abang terasah dan bermanfaat" pinta Letnan Agung setelah Faro duduk manis di samping Ken.
Faro hanya kaget dan memandang wajah abinya dan tidak berani menjawab permintaan Letnan Agung.
"Kalau Abang mau boleh aja, dengan syarat rahasiakan identitas Abang dan biar aja dia tetap menjadi warga sipil tanpa terikat oleh angkatan yang di pimpin pemerintah.
"Bagaimana jenderal Hendro sanggup dengan syarat abinya Faro?" tanya Letnan Agung.
"Ok...siap..yang penting Faro setuju terlebih dahulu" jawab jenderal Hendro dengan mengacungkan kedua jempolnya.
__ADS_1
"Abang sih mau banget, tapi bagaimana Bi, dengan umi?" tanya Faro ragu.
"Untuk sementara kita rahasiakan aja dulu, takut umi menjadi khawatir nanti" Jawab Ken tegas.
"Jenderal, titip murid kesayanganku yaaa, bimbing dia agar lebih terasah kemampuannya" pesan Letnan Agung dengan sepenuh hati.
"Siap bos!" jawab jenderal Hendro samping mengangkat tangan di dahinya sebagai tanda hormat.
Lima hari setelah pertemuan itu, Letnan Agung meninggal dunia di kediaman beliau, padahal sehari sebelumnya sempat berlatih seperti biasa dengan Faro.
Letnan Agung tidak memiliki riwayat penyakit apapun, tetapi memang jodoh, maut, pertemuan dan perpisahan hanya Allah SWT yang mengetahui rahasia itu.
Kami semua sangat merasa kehilangan terutama Faro dan jenderal Hendro yang selama ini paling dekat dengan beliau.
Flashback off
Faro tersentak kaget dari lamunannya setelah ada notifikasi WA dari calon makmum yang menulis pesan.
"Bang lagi dimana?" tulis Inneke singkat.
"Abang baru selesai makan di kafe NN, mau kesinikah Abang tunggu?" balas Faro menulis dengan cepat.
"Iya Bang, aku kesana tunggu, apakah Abang bersama kedua teman yang biasanya itu?" tanya Inneke dalam tulisannya lagi.
"Tidak...".
Dalam waktu sepuluh menit, gadis yang cantik dan anggun masuk dalam kafe, Faro memandangi tanpa berkedip, tersenyum manis dan langsung duduk berhadapan dengan Faro.
"Pesan makan aja dulu, jangan telat nanti sakit" titah Faro sok perhatian.
Selesai memesan makanan nasi lamak kesukaan, dan es jeruk Inneke menikmati dengan diam sampai habis di piring tanpa ada percakapan antara keduanya, Faro hanya memandangi Inneke sehingga membuat Inneke tidak berani menatap wajahnya.
"Apakah masih ada mata kuliah Bang hari ini?" tanya Inneke setelah selesai makan nasi lamak itu.
"Tidak, elu bagaimana sudah selesai?" tanya Faro balik.
"Ada, tetapi jam dua baru ada kelas lagi, mau pulang tanggung" jawab Inneke singkat.
"'Ya sudah, Abang temani sampai jam dua, tidak usah pulang" larang Faro.
Inneke mengangguk, sepertinya hati keduanya sudah saling terpaut hanya belum ada yang berani mengungkapkan perasaan masing-masing.
"Apakah ada yang marah kalau Abang menemani aku?"
"Emang siapa yang marah, apa tidak terbalik takutnya ada yang cemburu kalau lo berdua bersama Abang?".
"Idih...Abang ditanya malah balik tanya" cabik Inneke sambil mengerucutkan bibirnya.
Faro jadi terkekeh melihat Inneke yang mengerucutkan bibirnya, tingkahnya menggemaskan seperti melihat uminya bersama Abi yang sering menggoda dan usil jika sedang berdua di ruang keluarga.
"Ada sih yang cemburu?" jawab Faro sekenanya.
"Waduh... takut ah...eee tapi siapa Bang?" tanya Inneke penasaran.
"Itu setan dua yang sering muncul tiba-tiba" celoteh Faro mulai usil.
__ADS_1
Tanpa di sadari oleh mereka berdua, datang kedua sahabat Faro yaitu Rendi dan Mario dengan cengar-cengir.
"Naaah Bang, panjang umur setannya sudah nongol dan muncul tiba-tiba" celetuk Inneke dengan menunjuk ke arah pintu depan.
Faro jadi tertawa lepas mendengar ucapan Inneke yang mulai bisa mengimbangi candaannya.
"Waaah asyik banget sih.... cekikikan berdua, tega banget tidak ajak ajak!" ucap Rendi kesal.
"Sorry bro gue gabung ada hal penting yang harus gue laporkan, maaf ya Inneke pinjem ketua senat sebentar?" Kata Mario yang sedikit sok sopan.
"Silahkan kak!" jawab Inneke senyum.
"Kalian ini, mengganggu aja, jangan jadi yang ketiga karena yang ketiga itu setan" kata Faro sambil melirik Inneke.
Inneke kembali tersenyum mendengar jawaban dari Faro yang menyebut setan.
"Bang...aku balik dulu ya sebentar lagi ada kelas nich" ucap Inneke berdiri dan berjalan ke kasir membayar pesanan makanan tadi sendiri karena ternyata kata kasir Faro sudah di bayar oleh seseorang tadi.
"Hati-hati Inneke, nanti gue hubungi lagi, kalau setannya sudah pergi" jawab Faro sekenanya.
"Kurang asem lo, gue di bilang setan" protes Rendi kesal.
Akhirnya mereka membahas laporan yang di bawa oleh Mario tentang kegiatan penggalangan dana untuk membantu bencana alam yang terjadi di Sulawesi.
Hampir setengah jam mereka baru bisa menyelesaikan pembahasan laporan itu dengan serius tanpa ada candaan yang nyeleneh.
"Ok sudah selesai thanks...bro" kata Mario sambil merapikan map dan memasukkan ke dalam tasnya kembali.
"Bagaimana perkembangan pendekatan elo ke calon makmum?" tanya Rendi kepada Faro.
"Bagaimana bisa cepat berhasil, setiap gue mau modus dan merayu calon makmum setannya datang mengganggu" jawab Faro kesal.
"Iya...iya gue salah datang pas di waktu yang tidak tepat, tapi jangan di bilang setan juga kali" Rendi protes lagi.
"Masak kalah sama playboy kampung ini bos, tadi pagi gue lihat dia sedang menggandeng Erna sohibnya si calon makmum" cerita Mario sambil melempar tisu yang sudah di remas menjadi kecil.
Faro menatap Rendi dengan tatapan horor, sedangkan Rendi hanya tersenyum cengar-cengir tanpa merasa bersalah.
"Jangan mencoreng nama baik gue di mata calon makmum, awas lo..gue tendang bukan cuma sampai puncak Monas, bisa jadi sampai gedung sate" ancam Faro sedikit kesal.
"Sadis amat jadi orang lo, gue cuma merayu aja, tetapi belum jadian, si doi malah bilang katanya muka gue seperti kakak sepupunya yang berada di Bandung, makanya dia menggandeng tangan gue" cerita Rendi ikut kesal seperti Faro.
Faro akhirnya tidak jadi kesal dan tertawa lepas bersama Mario mendengar pengakuan Rendi barusan.
"Terus aja, teruuuuuus, memang tega ya, tertawa diatas penderitaan gue" cabik Rendi lagi dengan mengerucutkan bibirnya.
"Maaf kakak sepupu ha...ha..ha..." jawab Mario sambil tertawa dan diikuti oleh Faro yang tertawa juga.
"Sudah aaaah, gue mau pulang, Mario elo mau bareng kakak sepupu atau gue?" tanya Faro sambil mengusap air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
"Ikut elu aja, biar kakak sepupu jemput adiknya" jawab Mario sekenanya.
"Awas elo berdua ya... gue bales nanti" ancam Rendi kesal menjadi bulan-bulanan candaan temannya sendiri.
Mario berlari kecil menyusul Faro yang sudah berjalan ke parkiran Kafe, sedangkan Rendi mengikuti mereka juga ke parkiran mengambil mobilnya sendiri yang di parkir di samping mobil Faro.
__ADS_1