
Di perkebunan selama tujuh hari Opa Tomy meninggal dunia, seluruh keluarga besar berkumpul bersama tetangga dan karyawan mengadakan acara doa bersama pada setiap malam harinya, malam ini hari ketujuh mengadakan acara doa bersama.
Keesokan harinya rencana Faro sekeluarga akan kembali pulang ke Jakarta, sudah menghubungi Mario untuk menjemputnya nanti malam pukul delapan malam, tujuan mengadakan penerbangan malam hari agar tidak terlalu mencolok dan tidak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar lapangan yang dipakai untuk mendaratkan pesawat helikopternya.
Setelah makan malam bersama seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga bercengkerama, Faro, Papa Edi, Mama Meera dan Mama Dini duduk lesehan saling berhadapan.
"Bang, Mama akan melaksanakan amanah Opa Tomy ikut Abang tinggal di Jakarta tetapi tidak sekarang, mungkin setelah empat puluh hari selesai mengirim doa, tetapi Mama juga punya syarat buat Abang" Mama Meera mengawali pembicaraan.
"Apa Mama syaratnya?" jawab Faro singkat.
"Butik yang disini akan mama serahkan untuk Lia, saham destinasi pariwisata untuk Nia dan untuk Abang adalah saham perkebunan, sebelum Mama pindah ke Jakarta sudah harus ada hitam diatas putih" lanjut Mama Meera, Faro jadi tersentak kaget.
Jika saham Mama Meera dibalik atas namaku maka dengan otomatis saham 60% milikku gumam Faro dalam hati.
"Tapi Ma, Abang---?" Faro tidak jadi melanjutkan ucapannya sudah dipotong lagi oleh Mama Meera.
"Tidak pakai tapi tapian Bang, Abang jangan khawatir, perkebunan tetap Papa Edi yang akan memimpin, Abang cukup mengawasi dan menikmati aja" titah Mama Meera lagi.
Faro hanya menunduk, merasa tidak enak hati dengan Mama Dini dan Papa Edi jika perusahaan mayoritas dimiliki olehnya.
"Tidak usah merasa tidak enak Bang, kami setuju kok dengan Mama Meera" Mama Dini juga ikut meyakinkan Faro agar menyetujui permintaan Mama Meera.
"Nanti setelah 40 hari Abang kesini jemput Mama ya, surat suratnya biar Papa Edi yang mengurus semuanya" dengan menepuk pundak Faro Mama Meera tersenyum, dengan terpaksa Faro hanya mengangguk setuju tanpa berani menolaknya.
Waktu hampir pukul delapan malam, Faro perpamitan kepada seluruh keluarga besar berjanji untuk kembali lagi saat menjemput Mama Meera satu bulan lagi.
Satu jam perjalanan helikopter sampai hanggar perusahaan, disana sudah ada pak Pardi sopir pribadi yang sering mengantar Inneke kemanapun beserta bodyguard yang selalu setia mengawal.
Bibi Jum istirahat di kamarnya, Rafael sudah tertidur pulas di box kesayangannya, sedangkan Faro dan Inneke berada di kamar berdua berpelukan, Faro bercerita tentang syarat Mama Meera yang diajukan sebelum pulang ke Jakarta tadi.
"Jadi apakah Abang akan sering ke perkebunan setelah menandatangani kepemilikan saham Mama Meera menjadi atas nama Abang?" Inneke menatap sendu wajah Faro berhadapan tetapi tetap dipeluk oleh Faro.
"Entahlah sayang, Abang juga bingung, jadi semakin banyak pekerjaan Abang setelah itu, tapi yang jelas Mama Meera akan tinggal bersama kita, sayang tidak keberatan kan?".
"Abang ini ngomong apa sih, aku akan sangat bahagia jika Mama bersama kita, katanya di Jakarta ini Mama Meera juga memiliki butik apa betul?".
"Iya tetapi katanya satu tahun yang lalu mau di jual, sekarang Abang tidak tahu betul atau tidak" Faro menjawab tetapi tangannya mulai menyusup ke balik baju dengan tersenyum defil.
__ADS_1
"Bang ini kita lagi membicarakan Mama Meera, mana ada diskusi plus-plus" tangan Inneke mendorong lengan Faro yang sudah bergantian memegang gunung kembar Inneke.
"Adalah, kita ini contohnya, ini bukan hanya diskusi plus-plus, melainkan----" Faro tidak melanjutkan ucapannya, mencium bibir Inneke dengan lembut.
Dengan sekuat tenaga Inneke mendorong Faro dan mengusap bibirnya yang basah akibat ulah Faro yang selalu mesum.
"Melainkan apa Bang?"
"Melainkan diskusi dengan cinta" kembali lagi Faro mengulangi lagi mencium bibir Inneke dengan lembut.
Hanya satu ronde pergulatan panas mereka sampai keduanya terpuaskan di puncak klimaks penyatuannya karena Rafael sudah terbangun haus dan merengek tidak bisa tidur nyenyak.
Hampir dalam satu bulan ini Faro disibukkan oleh pekerjaan kantor dan intelejen karena mendekati akhir tahun, banyak yang harus di selesaikan sebelum tahun akan berganti.
Rafael semakin aktif dan pintar mendekati umur satu tahun, sekarang sudah bisa berjalan walaupun masih satu atau dua langkah.
Satu Minggu lagi Rafael berulang tahun, akhir Minggu ini rencana Faro akan menjemput Mama Meera, Rafael sangat dekat dengan papinya jarang sekali dia di tinggal sampai menginap, sehingga Faro mengajak istri dan putranya karena akan menginap dua hari di perkebunan.
Diikuti oleh Abi, umi, bibi Jum, Faro dan Inneke serta Rafael berangkat Jum'at pagi ini berangkat dengan menggunakan helikopter ke perkebunan karena malam nanti akan diadakan acara empat puluh hari meninggalnya almarhum Opa Tomy Sanjaya.
Tiba di perkebunan langsung bergabung dengan seluruh keluarga, membantu membuat hidangan yang akan disiapkan untuk nanti malam, acara doa berjalan dengan lancar dihadiri oleh keluarga, karyawan dan tetangga dekat.
Tetapi seperti kesepakatan awal jika kepemimpinan tetap dipegang oleh Papa Edi, ini disetujui oleh seluruh pemegang saham setelah mereka selesai mengadakan rapat.
__________________
Di kediaman keluarga Mario, mommy baru saja mendapatkan informasi dari asisten pribadinya jika Daddy sudah mengetahui jika Ara dan mommy tidak tinggal di USA, sudah hampir satu bulan ini Daddy sedang melacak keberadaan mereka.
Daddy menugaskan detektif kepercayaannya pergi ke USA sudah hampir satu bulan tetapi belum menemukan titik terang dimana mereka tinggal.
Daddy juga sudah mengintrogasi asisten mommy, tetapi memang dari awal perselisihan itu Mommy tidak pernah menceritakan tentang keberadaan Ara, sedangkan handphone mommy memang sudah tidak aktif hampir satu tahun yang lalu saat baby Cello lahir.
Kata asisten itu, Daddy mencari Ara dan mommy ke USA, Singapura, Malaysia dan Inggris karena Daddy mengetahui saat Ara kecil keempat negara itulah yang menjadi negara favoritnya.
Mommy mendapatkan informasi dari asistennya tentang gerak gerik Daddy tidak dengan menelponnya, tetapi mommy membaca di media sosialnya dan tidak ditujukan untuk mommy secara langsung.
Asisten itu hanya menulis seperti sedang menulis story di media sosialnya, agar bisa dibaca oleh mommy, karena setiap bulannya secara otomatis mommy masih mentransfer uang gaji kepada asistennya melalui rekening Bank swasta yang ada di Thailand.
__ADS_1
Setiap bulan memang asisten mommy menulis story di media sosialnya dua sampai tiga kali, sehingga tidak ada yang bisa melacak keberadaan mommy, tetapi mommy tetap bisa mengetahui perkembangan keluarganya di Thailand.
"Apa tindakan kita sekarang mom?" tanya Ara saat bertiga duduk di ruang tamu.
"Apakah kalian setuju jika mommy mengajukan tuntutan perceraian kepada Daddy kamu Ara?" tanya mommy kepada Ara dengan tegas.
Mario dan Ara kaget dan saling menatap, walaupun kaget tetapi cepat atau lambat pasti ini akan terjadi karena mereka berdua sudah berbeda keyakinan dan hampir satu tahun tidak saling memberikan kabar.
"Terserah mommy saja, jika memang mommy yakin, Ara akan mendukungnya" jawab Ara sambil menggenggam tangan Mario meminta dukungan.
"Baiklah kalau kalian setuju, tolong Mario belikan mommy tiket pulang ke Thailand" perintah mommy kepada menantunya itu.
"Mommy sebaiknya untuk beberapa Minggu berkunjunglah ke Myanmar tempat Lung Dio, agar Daddy mengira jika selama ini mommy tinggal disana" saran Mario kepada mommy diikuti anggukkan Ara tanda setuju.
"Waah ide bagus, baiklah tolong belikan tiket ke Myanmar besok pagi ya" perintah mommy lagi.
"Ok mommy, saya pesankan sekarang ya" Mario mengambil handphone membuka aplikasi penjualan tiket online untuk pesawat ke Myanmar.
"Mommy packing baju dulu ya, dimana Cello apakah belum bangun tidur" tanya mommy berdiri ingin berjalan menuju kamar.
"Belum mom, dia masih tidur, ayo Mom, Ara bantu packing, Oya Bang bisa tolong belikan oleh oleh untuk Lung Dio" pinta Ara sambil mengikuti mommy ke kamarnya.
"Ok siap baby, everything for you" jawab Mario singkat.
Pagi harinya mommy diantar Mario, Ara dan Cello ke bandara internasional Soekarno Hatta.
"Hati hati mommy, salam buat Lung Dio dan keluarga, tolong mintakan maaf pada beliau belum bisa berkunjung kesana" pesan Ara setelah sampai di bandara.
"Mommy jangan lupa kalau sudah sampai sana dengan selamat hubungi kami" gantian Mario berpesan.
Berpelukan dengan erat, menciumi beberapa kali pipi Cello dengan gemas sambil terisak mommy berpamitan dan melambaikan tangannya masuk ke pintu bandara, Mario sekeluarga pulang dengan perasaan sedih karena harus berpisah dengan orang yang sangat di cintainya.
Menjelang tengah hari saat Mario mendengar kabar dari bosnya bahwa siang ini akan tiba di Jakarta, Mario juga mendapatkan kabar dari mommy jika beliau sudah tiba sampai di rumah Lung Dio.
Ada kabar gembira yang sama sekali tidak disangka oleh mommy dan keluarga Ara, ternyata Lung Dio sudah hampir dua tahun ini juga menjadi mualaf, tepatnya saat setelah kekalahannya dengan Daddy merebut kekuasaan wilayah Asia tenggara.
Mommy bercerita jika Lung Dio Thanapon masuk agama Islam karena setelah mendengar suara azan di suatu daerah pemukiman penduduk yang mayoritas beragama Islam di Myanmar, hatinya merasa damai setelah mendengar suara merdu itu, bahkan Lung Dio sengaja menginap di daerah itu selama satu Minggu hanya untuk mendengarkan suara merdu yang menenangkan hati, setelah satu Minggu Lung Dio langsung mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid daerah itu juga, dan hampir dua tahun ini beliau belajar agama dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Karena sekarang sudah seiman mommy bercerita tentang dirinya dan putrinya setelah Lung Dio berjanji akan merahasiakan tentang Ara dan keluarganya, betapa bahagianya hati Lung Dio mengetahui jika kakak ipar, anak keponakan, serta menantunya seiman dengannya.
Mommy juga bercerita jika Lung Dio akan mendukung perceraian yang akan di ajukan setelah nanti ke Thailand, mommy akan tinggal beberapa Minggu di Myanmar dan berniat sengaja menampakkan diri agar bisa diketahui Daddy jika sekarang berada di tempat adik ipar dan tinggal disana.