
"Yaaaah gagal maning...gagal maning" cabik Faro mengerucutkan bibirnya, diikuti Inneke yang terkekeh keluar dari kamar meninggalkan mereka berdua.
Tetapi Inneke kembali berbalik badan tersenyum defil dan berbisik di telinga Faro "Bilang sama kobra untuk berpuasa lagi, suruh istirahat yang panjang, ingat dilarang bangun tanpa komando" Inneke berlari meninggalkan Faro yang sedikit kesal tetapi tersenyum.
"Awas nanti malam ya!" ancam Faro dengan sedikit berteriak.
Selesai menemani baby Rafael berjemur, Faro mandi sarapan dan bergegas ke kantor, hari ini akan ada meeting penting pukul sembilan pagi, karena Mario cuti sehingga Faro datang ke kantor lebih cepat.
Pukul empat sore Faro bergegas pulang karena sudah berjanji kepada Inneke untuk mengajaknya untuk menengok baby-nya Mario walaupun hanya sebentar bareng dengan Rendi dan Erna yang sekarang hamil tujuh bulan.
Faro hanya datang berdua tanpa membawa baby Rafael yang diasuh oleh bibi jum, memompa ASI untuk persediaan selama mereka ke rumah sakit, hampir bersamaan Erna dan Rendi datang masuk ke ruang rawat inap, cipika-cipiki dan mengucapkan selamat, serta mencium punggung tangan mommy bergantian.
"Bagaimana rasanya?"tanya Inneke duduk di samping Ara yang berbaring di tempat tidur.
"Seperti nyawa akan di cabut dari ragaku, tetapi setelah dia lahir, aku juga seperti terlahir kembali, tidak bisa dilukiskan bahagia itu" cerita Ara dengan mata berbinar dan senyum terus mengembang.
"Apakah ASI sudah lancar keluarnya mana baby kok tidak disini?" tanya Erna karena belum melihat baby bergabung di kamar.
"ASI belum begitu lancar, baru mandi sama suster tadi" Mario ikut menjawab.
"Kata orang tua dulu jika tidak lancar ayahnya diminta membantu mengisap biar cepat keluar" Rendi bicara tanpa disaring dulu.
Dengan spontan Inneke, Erna dan Ara menatap horor kearah Rendi, Faro melempar bantal kearah Rendi juga.
"Teori macam apa itu, rasanya aneh tahu" cabik Faro tanpa sadar kerena mengingat tadi malam tanpa sengaja Faro mengisap dan langsung tertelan.
Semua tertawa lebar mendengar kejujuran Faro, dan Inneke mencubit perut Faro dengan kencang.
"Mami maaf, sakit tahu tidak sih" mengusap perutnya cepat mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Ha ha ha, berarti elo sudah buka puasa bro?" tanya Rendi tersenyum mengejek.
"Buka puasa dari mana, baru mulai menyicil sedikit, sudah harus lari kesini mendengar Ara teriak teriak karena kesakitan" celoteh Faro lagi dengan kesal.
Tambah kencang Mario dan Rendi tertawa, dengan lagi dan lagi kejujuran Faro yang tanpa disadari.
"Papi, sudah jangan ngomong macam macam malu tahu" Inneke akhirnya hanya berbisik saja walaupun kesal karena kejujuran suaminya.
Datang mommy dengan menggendong baby berkulit sawo matang dan rambut lebat.
"Halo semua, apa kabar Tante dan Om semua" mommy menirukan suara anak kecil.
"Waah putra elo manis sekali bro, siapa namanya?" tanya Rendi dengan memandangi wajah bayi itu lekat-lekat.
"Marcello Kurniawan namanya" jawab Mario diikuti anggukkan Ara dan mommy.
"Baiklah, Mami Keke panggil baby Cello ya sayang" Inneke berdiri menggendong bayi kecil itu.
__ADS_1
"Bro, anak anak kita nanti akan memanggil gue papi dan Mami, Mario anak elo akan memanggil apa, dan untukmu juga Rendi" tanya Faro memandang wajah Mario dan Rendi.
"Mama dan Papa aja nanti memanggil kami" jawab Mario diikuti anggukkan kepala oleh Ara tanda setuju.
"Mommy dan Deddy nanti anak-anak kita memanggil gue dan Erna" Rendi menjawab cepat.
"Baiklah kita sepakat, ketiga putra kita akan tumbuh dan sekolah seperti kita dulu bersahabat dari kecil" dan ketiganya ber-tos ria seperti waktu mereka kecil.
Setelah Rendi dan Faro beserta istrinya pamit pulang, dan tidak ada tamu yang datang, mommy berterus terang kepada Mario dan Ara.
"Kenapa mommy tadi malam bisa langsung terbang ke Jakarta?" tanya Ara kepada mommy yang dari tadi malam gelisah.
"Sebelum mommy cerita, bolehkah belikan handphone buat mommy Mario?, karena handphonenya mommy matikan, agar Daddy tidak bisa melacak keberadaan mommy" pinta mommy kepada Mario.
"Tentu mom, nanti saya akan balikan handphone buat mommy" Mario mengangguk dengan raut wajah yang bahagia.
"Ayo mom cerita jangan ditutup-tutupi dari kami" pinta Ara dengan penuh harap.
Mommy bercerita jika satu bulan yang lalu identitas mommy masuk Islam sudah diketahui oleh Daddy, Daddy marah besar sampai mommy diusir dari rumah utama, sehingga dalam satu bulan ini mommy tinggal di apartemen yang biasa ditempati Thora saat kuliah.
Saat mommy akan berangkat ke Jakarta, mommy mengatakan kepada Thora jika akan menyusul Ara ke USA, kebetulan Thora ada di Thailand, dia juga yang membelikan tiket untuk mommy, mommy tidak berpamitan kepada Daddy, dengan diam diam mommy membeli tiket ke Jakarta dan menerima tiket yang dibelikan Thora.
Malam itu Thora juga yang mengantar ke bandara dan membantu mommy cek-in lewat online, sehingga Thora juga tidak curiga jika mommy membeli tiket pesawat dan pergi ke Jakarta bukan ke USA.
Saat Thora meminta alamat Ara di USA, mommy menolak dan tidak memberikannya, alasannya Daddy tahu dimana Ara tinggal, selama ini memang Daddy sangat percaya kepada mommy jika Ara masih tinggal sana.
Tetapi kenyataannya apartemen yang dibelikan oleh Daddy untuk Ara tinggal, disewakan kepada teman Ara, seorang gadis yang berasal dari Singapura yaitu teman kuliah badannya hampir mirip seperti Ara, temannya juga berprofesi sebagai model sama seperti Ara saat kuliah dan tinggal di USA.
"Iya honey, mommy akan tinggal disini entah sampai kapan, apakah boleh Mario?" tanya mommy dengan mata sendu.
"Tentu saja boleh mom, dengan senang hati kami sangat bahagia jika mommy tinggal disini selamanya" dengan spontan mommy memeluk Mario dengan erat.
"Bagaimana dengan pasport mommy?" tanyanya lagi dengan khawatir.
Ara menatap Mario dengan sendu, seakan berharap dia bisa mengatasi masalah mommy.
"Tenang baby, semoga bos bisa menyelesaikan masalah ini" Mario bergantian memeluk Ara dengan mesra.
"Sebaiknya mommy mengubah penampilan selama tinggal di Jakarta" saran Mario dan disetujui oleh Ara.
"Sebetulnya mommy sudah berniat menggunakan hijab seperti wanita muslimah pada umumnya seperti ibunya istri bos mu itu Mario siapa panggilannya?" tanya mommy yang tadi malam sempat berkenalan dengan bunda.
"Bunda" jawab Ara singkat.
Penampilan bunda memang anggun dan elegan karena sering menggunakan baju gamis dan hijab modern, keseharian penampilan bunda banyak dipengaruhi oleh budaya Malaysia karena lama tinggal disana.
Malam ini Faro dan Rendi datang lagi ke rumah sakit tetapi tidak didampingi oleh istrinya, saat baru berkumpul menyusul Cinta dengan menarik koper besar masuk ke ruang rawat inap Ara dengan gaya khasnya melenggak-lenggok bak peragawati.
__ADS_1
"Cinta, dari mana lo, atau mau minggat, ke rumah sakit bawa koper besar begitu?" tanya Faro kaget karena Cinta masuk dengan gaya yang kemayu.
"Abang tega banget, gue dibilang minggat, gue habis menghadiri lomba dan seminar kecantikan di Bandung, ini gue dapat piala dan juara harapan satu, lumayan kan?, gue langsung kesini dari bandara karena dapat kabar bos cantik sudah melahirkan" cerita Cinta sambil mengeluarkan piala dari dalam koper besarnya.
"Waaah hebat juga lo Cin, salut gue" Rendi memuji wanita jadi-jadian dengan mengacungkan jempolnya.
"Tentu dong, siapa dulu Cinta kesayangan Abang Rendi" Cinta mentowel hidung Rendi dengan cepat sehingga Rendi tidak bisa mengelak.
"Bos cantik, ini piala buat putra angkat gue, dimana baby ganteng?" Cinta mendekati Ara yang berbaring di brankar tempat tidur.
"Selamat ya say, itu baby Cello ama grandma sedang ganti popok" Ara menunjuk kearah mommy yang sedang sibuk mengganti popok dengan luwes.
"Mommy.... mommy bos cantik dari negara gajah putih datang lagi, halo mommy selamat menjadi grandma" Cinta mendekati mommy cipika-cipiki tanpa canggung sok akrab.
"Halo Cinta apa kabar?, semakin seksi aja sekarang ya" mommy sambil menggendong baby Cello dan mendekati Ara.
Melihat Ara mulai memangku Cello, Faro mengajak Rendi dan Cinta keluar ruangan sebentar memberikan ruang privasi untuk bisa menyusui.
"Rendi, Cinta, kita keluar sebentar yok, biar baby Cello leluasa menyusu" Faro menarik kedua orang yang sama kelamin tetapi beda penampilan itu.
"Eleh....eleh si Abang pengertian banget so sweet, Bang Mario ayo ikut juga nanti ngiler lihat yang montok dan mulus" canda Cinta mengedipkan matanya kepada Mario.
"Yeee enak aja, elo aja yang keluar, dia bini gue tidak masalah kalau lihat juga" cabik Mario mendorong mereka keluar dan segera menutup pintu.
Setelah selesai baby Cello menyusu dan terlelap kembali di box bayi, Faro ijin pamit pulang duluan kepada mereka.
"Bos apakah karena mau buka puasa malam ini sehingga buru-buru ingin pulang, ini belum terlalu malam" bisik Mario di telinga Faro tersenyum defil.
"Tau aja lo, gue mau buka puasa sekarang gantian elo yang puasa, selamat bersabar bro" Faro menepuk pundak Mario tetap berbisik juga di telinga Mario.
"Bang gue nebeng dong, enak cari gratisan aja" Cinta mengambil koper besar dengan cepat.
"Arah kita beda Cinta, elo bareng Rendi aja yang jalannya searah" jawab Faro mengibaskan tangannya sambil berjalan cepat.
"Enak aja ogah gue, nanti gue dikirain selingkuh dengan makhluk astral" cabik Rendi melotot tajam kearah Faro.
"Iya Abang sayang, gue ikut elo aja, tenang aja walaupun hanya selingkuhan nanti gue servis dengan memuaskan" Cinta menggoda Rendi dengan candaannya.
"Najis gue, ogah jangan pegang pegang" Rendi menepis tangan Cinta yang menggelayut manja di lengan Rendi.
Ara, Mario dan mommy tertawa lepas melihat interaksi antara Rendi dan Cinta sedangkan Faro sudah tidak terlihat lagi.
"Ikut Bang please.... ogah gue cari taksi online, lama nunggunya" pinta Cinta dengan suara manja yang dibuat buat.
"Kasihan Ren, apa salahnya sih, toh kalian satu arah, turunkan aja di tengah jalan dekat apartemen dia" Mario ikut menyela perdebatan mereka.
"Abang ngawur aja, jangan juga diturunkan di tengah jalan juga kali, nanti gue ditabrak oleh kendaraan umum dong, turunnya di pinggir jalan, dasar tidak jelas" Cinta mengomel tetapi sambil cengar-cengir tidak jelas.
__ADS_1
"Hehe betul juga ya, tumben elo pintar Cin" cabik Mario terkekeh geli.
"Dari dulu gue pintar Bang, elo aja yang baru nyadar" Cinta malah menyombongkan diri dengan menepuk dadanya.