
"Kebiasaan, lama banget sih elo, sampai kegajahan kaki gue nunggu elo dari tadi" cabik Rendi kesal.
Mario hanya menatap tajam kearah Rendi, beralih lagi ke Inneke yang masih terisak tanpa mengatakan sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Halo Bang Ren" sapa Jelita ramah
"Hey...elo...elo... Lita kan, yang suka manjat pohon neneknya Mario dan yang suka sama Faro" cerocos Rendi tanpa sadar membuat Inneke tambah menangis tersedu-sedu.
"Elo punya mulut kagak bisa di rem, elo lihat itu, tambah kejer aja dia nangisnya, dasar somplak" marah Mario dengan memukul kepalanya dengan map yang di pegangnya saat itu.
"Sabar mbak say...gue sudah punya laki, jangan khawatir, itu hanya cinta monyet, piss.....ya...piss..... jangan dengerin Bang Ren yang somplak, kami dulu hanya teman kecil sering bermain bersama" keterangan Jelita sambil mengangkat kedua jarinya, sehingga membuat Inneke berhenti menangis.
"Hah....elo sudah nikah?" tanya Rendi dan Mario bersamaan.
"Iya sudah menikah tiga tahun lalu, malah sudah punya buntut satu, umurnya dua tahun" cerita Jelita lagi.
"Siapa laki elo apakah gue kenal?" tanya Rendi.
"Nanti gue ceritakan, tetapi kenalin dulu dong ama calon bini elo" pinta Jelita dengan melirik Erna yang duduk di samping Inneke hanya mendengarkan obrolan teman yang sudah lama tidak bertemu.
"Oiya lupa... kenalkan dia Erna calon bini gue, dan yang satu lagi, calon bini Faro" balas Rendi, diikuti Erna dan Inneke berdiri menyalami jelita bergantian.
"Aku Erna kak" ucapnya sambil tersenyum.
"Aku Inneke kak salam kenal" gantian Inneke memperkenalkan diri walau mata sembab karena terlalu lama mewek.
"Ya salam kenal juga aku Jelita, ok deh gue balik kerja lagi ya, Inneke salam buat calon laki elo, salam dari Lita yang suka panjat pohon mangga nenek"
Inneke hanya terkekeh mendengar Jelita titip salam yang aneh "Iya kak, nanti aku sampaikan".
Setelah Jelita pamit kembali keruangan kerjanya Mario duduk sebentar mengistirahatkan kaki dan tubuhnya yang lumayan capek..
"Bro, elo anter pulang ya ....gue mau ke kantor lagi, mau ngurus si bos yang tadi keluar dari sini emosi berat!" perintah Mario kepada Rendi.
"Naik apa emang elo kesini?" tanya Rendi.
"Tadi sih pakai mobil bos, gue naik mobil online aja, yang penting mereka berdua aman, gua pamit dulu ya".
"Kak, nanti kalau Abang sudah tidak marah lagi kabari aku ya" pinta Inneke cemas dengan berwajah sendu.
"Elo tenang aja, yang penting elo sabar dulu" jawab Mario berlalu meninggalkan mereka dengan mengibaskan tangannya, memesan mobil online lewat handphone.
Mereka bertiga keluar dari restauran dengan beriringan.
"Sayang...ayo kita pulang, tetapi kita antar Inneke dulu ya" kata Rendi kepada Erna.
"Tidak usah kak, aku bawa motor sendiri kok, kak Rendi antar Erna aja" ucap Inneke meninggalkan mereka.
"Tapi Inneke---" balas Erna belum sempat menjawab Inneke sudah memotong ucapannya.
"Aku tidak apa-apa Er, lagian aku mau ke rumah aunty dan uncle aku terlebih dahulu karena dari tadi pagi nenekku ada disana" cerita Inneke.
"Baiklah nanti kalau ada apa-apa kabari kita ya, jangan lupa itu" pesan Erna sedikit khawatir.
Inneke mengangguk, berjalan ke parkiran mengambil motor metiknya.
__ADS_1
Sedangkan Erna dan Rendi mengikuti Inneke dari belakang sampai parkiran.
"Apa sebaiknya kita ikuti Inneke sampai ke rumah aunty nya, sayang?" tanya Rendi melihat Erna yang begitu khawatir.
"Tidak usahlah kak, semoga dia tidak apa-apa, dia itu anaknya mandiri, nanti malah marah kalau kita ketauan mengikutinya".
"Kak, kalau Abang Faro marah, bagaimana sih emangnya?" tanya Erna penasaran, saat mereka sudah duduk di mobil dalam perjalanan pulang.
Rendi mengingat-ingat selama berteman dengan Faro, dia jarang sekali marah, tetapi jika dia marah akan diam dan kadang menghilang tidak mau bertemu dengan temannya selama beberapa hari.
"Dia itu kalau marah, akan menghilang dari kami selama beberapa hari, setelah tenang baru dia muncul kembali dengan sikap seperti biasa" cerita Rendi.
"Apakah yang sering membuatnya marah?".
"Ya biasanya sih dia itu paling tidak suka kalau di bohongi, sudahlah jangan bahas dia terus, kita bahas pernikahan kita aja yok".
"Kakak ah... kalau yang itu, tunggu aku lulus dulu, sabar ya".
Sementara Mario baru sampai di kantor kembali, dia tidak masuk ke ruangannya sendiri, tetapi langsung masuk ke ruangan bosnya.
Mario tahu betul jika bos sekaligus temannya itu dengan marah, akan berada di ruangan rahasianya yang ada di belakang rak lemari buku di kantornya, ruangan itu di rancang persis seperti ruangan Opa Tomy Sanjaya yang ada di perkebunan teh.
Ruangan menembak dan beberapa air soft gun tertata rapi disana Opa Tomy lah yang mempunyai ide membuat ruang rahasia itu, saat baru membangun perusahaan itu.
Tidak banyak yang tahu ruang menembak itu, hanya keluarga Ken, Opa Tomy dan Mario saja, Rendi pun tidak mengetahuinya.
Disinilah Faro, kembali dari restauran itu sampai sekarang belum juga keluar dari ruang menembak, bahkan sasaran yang di tuju oleh Faro hampir penuh dengan lobang sampai Mario masuk kesana dengan menekan tombol yang ada di samping lemari rak buku.
"Bos.... cukup sudah, lihatlah sasarannya sudah tidak berbentuk lagi" kata Mario dengan mengambil air soft gun yang Faro pegang.
Faro akhirnya mengikuti perintah Mario tangannya begitu pegal karena begitu lama memegang air soft gun.
"Kenapa sebegitu marahnya sih, cemburu ya cemburu tidak ada yang melarang, tapi tidak menyiksa diri juga kali bro" kata Mario kesal.
Mario masih memandangi tangan kanan Faro yang merah dan luka karena kemungkinan Sebelum menembak dia juga memukuli samsak yang tergantung di pojok ruangan itu.
"Ayo keluar dari sini, gue obati luka elo, dasar bucin, baru di pegang tangannya aja sudah semarah ini" marah Mario lagi.
Dengan paksa Mario menarik tangan Faro, sedangkan Faro hanya diam dan mengikuti Mario berjalan menuju sofa yang ada di kantor itu.
Mengambil kotak P3K mengoleskan obat merah pada tangan Faro yang mukanya datar dan masih sedikit di tekuk.
"Sudah....mau dengar cerita gue atau masih diam seperti cewek yang sedang datang bulan?" tanya Mario kesal duduk di samping bosnya itu.
"Terserah elo aja pusing gue" jawab Faro bersender di sofa memegangi kepalanya dengan memandangi langit langit kantor.
"Ya sudah kita lihat ini aja" jawab Mario membuka laptopnya, memasang flashback yang tadi berisi rekaman CCTV di restauran saat Inneke dan anggota senat mahasiswa yang sedang merayakan ulang tahun Fajar salah satu anggota senat sedang menikmati hidangan makan siang bersama.
Dengan terpaksa Faro ikut melihat vedio yang di tunjukkan oleh Mario, awalnya malas-malasan tetapi setelah sampai Inneke di tarik tangannya oleh Fajar baru Faro semakin serius melihat vedio itu sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.
Setelah selesai vedio itu, Mario mematikan laptop dan menutupnya, di letakkan di atas meja.
"Bagaimana, apakah sudah faham siapa yang salah, atau otak elo masih tertutup rasa cemburu, tidak bisa mikir?" tanya Mario.
"Iya....iya gue yang salah, lagian siapa yang tidak kesal, kalau lihat pemandangan seperti tadi siang" jawab Faro yang masih mencoba membela diri.
__ADS_1
"Dasar gemblong lo, masih aja membela diri"
"Sembarangan, ngatain gue gemblong, gue pecat baru nyahok lo!" ucap Faro kesal sambil memukul kepala Mario.
"Emang bisa elo pecat gue, palingan bos Ken yang akan pecat elo jadi anaknya eeee... bercanda bro, biar muka tidak di tekuk lagi".
Mereka akhirnya berpelukan, saling menguatkan dan saling mengingatkan adalah arti dari persahabatan yang sejati.
"Bagaimana pertemuan dengan klien tadi apakah lancar?" tanya Faro setelah mereka duduk kembali di sofa.
"Beres bos, tinggal pengajuan budget aja, oya bos....elo masih inget Jelita kah?.
"Jelita.....Lita yang suka panjat pohon mangga itu?".
"Iya ternyata dia manager restauran itu, CCTV itu dari dia, cantik lo bos dia sekarang tidak tomboi lagi seperti dulu".
Faro terdiam sejenak, mengingat si tomboi itu sepertinya sangat menyukai aku saat masih SMP gumamnya dalam hati.
"Kenapa tidak elo deketin aja dia, daripada jomblo abadi?" celoteh Faro kemudian.
"Enak aja, dulu dia sukanya sama elo, lagian dia sudah kawin sekarang, buntutnya aja berumur dua tahun" Mario cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
"Eeeee lakinya orang mana?".
"Dia belum sempat cerita sih, sudahlah ayo kita pulang, capek gua" ajak Mario berdiri ingin keluar ke ruangannya sendiri.
"Aduuuh" Mario dan Rendi bertabrakan di pintu masuk kantor Faro saat Rendi membuka pintu sedangkan Mario akan keluar.
"Elo kebiasaan masuk kagak ketok pintu dulu, dasar playboy kampung" cicit Mario kesal dengan mengusap keningnya yang berbenturan dengan Rendi.
"Sembarangan ini jomblo abadi kalau ngomong, sorry....gue buru-buru, takutnya elo pada pulang" celoteh Rendi cengar-cengir.
"Elo mau ngapain kesini, pulang sana, gue tidak terima tamu?" tanya Faro masih duduk santai di sofa.
"Enak aja gue diusir, gue mau klarifikasi, kenapa elu bilangin calon bini gue selingkuh?" tanya Rendi duduk didepan Faro.
Dengan terpaksa Mario tidak jadi keluar kantor Faro dan ikut duduk di samping Faro kembali.
"Apakah sudah elo antar sampai rumah" tanya Mario kenapa Rendi.
"Tadi gue cuma antar calon bini aja, sedangkan Inneke tidak mau gue anter, katanya mau ke tempat aunty dan uncle nya" jawab Rendi dengan santainya.
"Parah lo, kenapa amanah satu aja tidak pecus melaksanakannya" cabik Mario sangat kesal.
"Elo tahu tidak, rumahnya aunty dan uncle dari Inneke, perasaan selama ini dia tidak pernah cerita kalau dia punya saudara di Jakarta kecuali neneknya deh?" tanya Faro begitu khawatirnya.
"Kagak tau juga sih, Sorry bro, dia kekeh tidak mau gue anter karena dia bawa motor" keterangan Rendi.
"Coba elo tanyakan calon bini lo sudah sampai belum itu si calon makmum bos" titah Mario.
"Kenapa harus gue, kenapa bukan dia aja yang tanya?" cicit Rendi kesal.
"Kan tadi sudah bilang itu tanggung jawab elo, harusnya elo yang antar" bentak Mario lagi.
"Ok deh... yang mau jadi lakinya siapa, yang repot siapa?" gerutu Rendi tetapi masih di dengar oleh kedua sahabatnya itu.
__ADS_1