Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
129. Tertusuk di Pasar


__ADS_3

Di kantor Felix Siregar sedang duduk fokus melihat leptop sedang membandingkan foto Ken yang masih muda dan Faro saat masih SD dengan Mr misterius, hampir beberapa Minggu ini dia selalu mencari kemiripan antara ketiganya.


Felix Siregar memiliki firasat jika Mr misterius ada hubungannya dengan keluarga Kenzie Wiguna, tetapi dia belum bisa menarik titik terang dalam hal ini dan juga berhubungan dengan kematian anak angkat dari bos besarnya Theo Thanapon yang ada di Thailand.


Hampir seluruh keluarga inti dari Kenzie satu persatu diteliti oleh Felix dari Ken, Imma, Faro, Fia bahkan Ezo juga ada di leptop itu, ada juga Baron Pranoto, Tomy Sanjaya, tidak luput dari penyelidikan Felix.


Berbagai foto Mr misterius dari beberapa sumber dikumpulkan tanpa kecuali hanya ingin melihat kemiripan antara mereka, hanya yang membuat ragu adalah kemampuan menembak dari Mr misterius dengan peristiwa tertembaknya anak angkat Theo Thanapon sangat berbanding terbalik, Mr misterius tidak menembak tepat di posisi yang sama sedangkan peristiwa saat itu peluru ada diposisi yang sama bahkan tidak bergeser sedikitpun.


Justru yang Felix temukan sorot mata Mr misterius itu bukan sama dengan Ken tetapi sama dengan mata Tomy Sanjaya,


Saat Agus Martono datang di kantor Felix dan duduk di depan detektif sekaligus pengacara gaek itu.


"Coba kemarilah, kamu lihat antara Mr misterius dan Tomy Sanjaya bagaimana menurutmu?" tanya Felix mendekatkan leptopnya kearah Agus Martono.


"Ini sepertinya sama, siapa Tomy Sanjaya ini bos?" tanya Agus Martono yang notabene generasi sekarang tidak mengetahui siapa sebenarnya Tomy Sanjaya.


"Dia adalah rivalnya Baron Pranoto, seorang pengusaha perkebunan yang cukup terkenal di daerah Jawa Timur" dengan mengerutkan keningnya berpikir, karena jika dipikir-pikir Tomy Sanjaya seharusnya sudah berumur senja tetapi Mr misterius seperti masih muda dan menurut keterangan pers waktu itu baru memiliki satu putra.


Agus Martono langsung mengeluarkan leptopnya dari tas, membuka dan mencari informasi tentang Tomy Sanjaya di media sosial, betapa terkejutnya dia jika pengusaha perkebunan itu sudah meninggal dunia sekitar lima bulan yang lalu.


"Mr misterius tidak mungkin Tomy Sanjaya bos, coba lihat artikel ini" gantian Agus Martono menunjukkan leptopnya kepada Felix Siregar tentang berita itu.


"Berarti dia sudah meninggal dunia, kita fokus ke keluarga Kenzie saja, sebaiknya mulai sekarang awasi mereka lebih ketat lagi" perintah Felix Siregar lagi.


"Mereka susah ditembus bos, karena memiliki keamanan sendiri, yang jarang dalam pengawalan anak perempuan Kenzie yang sekarang sudah menikah tetapi dia dan suaminya juga tidak bisa dianggap remeh karena memiliki kemampuan karate diatas rata rata" Agus memberikan informasi tentang mereka.


"Bagaimana dengan putra bungsunya?" Felix sambil memandangi foto Ezo yang menggunakan seragam SMU.


"Dia jarang sendirian bos, selalu bertiga dengan gengnya sepertinya mereka juga memiliki kemampuan karate yang lumayan"


"Cari lengah mereka dan cari informasi terkait tentang mereka, ini sudah berapa tahun misteri itu sulit sekali dipecahkan, semakin hari aku semakin ditekan oleh bos besar, aku hampir kehilangan akal karena tekanan ini" Felix mengambil nafas panjang dan berat serasa ingin melepaskan semua beban yang selama ini diembannya.


Sementara akhir-akhir ini Faro merasakan ada yang mengawasi gerak-gerik setiap langkahnya setelah peristiwa Mr misterius meringkus enam penjahat yang akan menyerang supermarket.


Setelah dilaporkan kepada jenderal Hendro, tentang orang yang sering mengikuti keluarganya, akhirnya jenderal Hendro juga mengawasi keluarga Kenzie dan Faro dari jauh.


Seperti hari ini Inneke dan bibi Narti sedang belanja sayuran ke pasar tradisional diantar oleh sopir pak Pardi dan empat bodyguard seperti biasa, bodyguard itu mengikuti dari belakang sambil membawa belanjaan yang sudah dibeli oleh Inneke.


Ada dua orang laki-laki yang mengawasi gerak-gerik mereka dari kejauhan, hanya berbeda los saja dari dua laki-laki tadi ada juga empat orang intelejen yang mengawasi rombongan Inneke dan kedua laki-laki yang mengawasi Inneke.


Inneke dan bibi Narti berjalan mendekati dua laki-laki yang mengawasi Inneke tadi, dan salah satunya mengambil pisau kecil dari balik bajunya.


Saat semakin dekat jarak mereka, dan pisau itu semakin terlihat di balik telapak tangan salah satu orang intelejen berlari dan melompati satu los ikan dengan cepat.


"Ha...hyaaa..."


"Awas.....hyaaaat hug" intelejen itu melompat menarik lengan Inneke bergeser ke samping.

__ADS_1


Tetapi bibi Narti juga ikut bergeser sedikit karena posisi tangan memegang lengan Inneke sehingga perut bibi Narti yang yang tertusuk.


"Jleppp.....aaaaagh" teriak bibi Narti.


"Bibi...."Inneke ikut berteriak.


"Bibi..... " salah satu bodyguard menangkap bibi yang hampir terjatuh tetapi darah sudah mengalir keluar dari perutnya.


"Ada penyerangan hati-hati Bu!!!" teriak tukang ikan yang ada didekat Inneke bersamaan dengan tertusuk nya bibi Narti.


Dengan cepat orang intelejen berlari juga melompati los ikan ikut melindungi Inneke yang sudah lebih dulu dijaga oleh bodyguard.


"Siapa kalian?" bentak salah satu bodyguard kepada intelejen yang mencoba melindungi keselamatan Inneke.


"Kami Intel yang melindungi Bu Keke" bisik salah satu laki-laki kekar ditelinga bodyguard yang sedang melindungi Inneke.


Dua bodyguard langsung mengepung badan Inneke untuk melindunginya, diikuti orang intelejen, dan sisanya menangkap dua orang laki-laki yang mencurigakan dan ingin menusuk perut Inneke tetapi bibi Narti yang terkena tusukan.


Sayuran yang tadinya di tangan para bodyguard sudah berhamburan di lantai los pasar ikan, semua pengunjung berhamburan mendekati tempat kejadian.


"Ada apa?".


"Apa yang terjadi?"


"Berapa orang yang tertusuk?".


"Badannya wuiiih kekar banget!!".


"Sepertinya orang penting, ibu muda itu!!!".


"Coba lihat badan mereka, seperti tentara bayaran".


Masih banyak lagi suara yang mengomentari tentang kejadian yang baru saja terjadi.


Dengan cepat bodyguard dan intelejen mengabari atasannya masing-masing, bersamaan dengan datangnya sekuriti dan keamanan pasar mendekati mereka dan membubarkan kerumunan agar korban cepat bisa tertolong.


Dua bodyguard berlari keluar pasar mendekati arah parkiran dengan menggendong bridal bibi Narti yang sudah pingsan dan masih banyak mengeluarkan darah.


"Bibi, bangunlah, bibi...bibi!!!" terus saja bodyguard itu memanggil bibi Narti tetapi tidak bereaksi, membuka pintu mobil dan bergegas menuju rumah sakit.


Yang didalam pasar masih ada empat orang laki-laki yang menjaga ketat Inneke, dua orang lagi sedang mengintrogasi dua orang laki-laki yang mencoba menyerang Inneke menggunakan pisau kecil.


Sekuriti juga tidak berani saat intelejen sedang mengintrogasi dua orang laki-laki itu dan memukuli dengan tanpa ampun.


"Bug...bug... argh.....huff" dengan tenaga yang kuat kedua orang itu babak belur di hajar oleh Intel.


"Katakan siapa yang menyuruh kalian menyerang kedua orang itu?" Intel itu dengan memegang kerah kepada laki-laki yang mencoba menusuk Inneke tadi.

__ADS_1


"Sa....sa .. saya tidak tahu pak, saya disuruh seseorang tadi dipojok pasar dekat parkiran" jawabnya terbata-bata dan meringis kesakitan.


"Dibayar berapa hah?"


"Dua juta untuk dua orang Pak" jawab salah satu laki-laki yang tidak kalah bonyoknya dengan teman yang dipegang kerahnya tadi.


Inneke hanya menangis dan berdiri dengan masih dikelilingi oleh bodyguard dan orang intelejen, berusaha ingin menyusul bibi Narti tetapi, dilarang oleh mereka karena Faro dan Jenderal Hendro berpesan kepada mereka Inneke tidak boleh pergi kemanapun sebelum kedua atasannya itu tiba di tempat.


"Jangan khawatir Bu bos, bibi Narti sudah sampai di rumah sakit dan di tangani oleh dokter" jawab salah satu bodyguard yang ada di sebelahnya.


"Tapi aku ingin melihat keadaan bibi Narti Pak" memelas Inneke dengan linangan air mata yang terus mengalir.


"Maaf Bu bos, ini perintah dari bos langsung" bodyguard itu berkata sambil melipatkan tangannya.


"'Dari jenderal Hendro juga memerintahkan anda tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum beliau tiba Bu bos" orang intelejen juga menjawab dengan tegas.


"Aisst.... ,Kalian ini" dengan kesal Inneke melotot tajam kearah mereka.


Banyak yang bersimpati pada peristiwa itu, belanjaan Inneke dibawakan mendekati Inneke dan para pengawal yang menjaganya.


"Bu ini belanjaannya, sayang kan ditinggal begitu saja" beberapa orang menawarkan belanjaan didekat mereka.


"Baik Bu letakkan disini saja, terima kasih banyak telah membantu kami" jawab salah satu orang intelejen dengan menunjuk tempat kosong disampingnya.


Datang dengan berlari kecil jenderal Hendro bersama Bang Kumis dan Uda Padang mendekati mereka.


"Kau tidak apa-apa nak?" tanya jenderal Hendro mendekati Inneke, Inneke hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit masih khawatir.


Datang berbarengan mobil polisi beserta anggotanya dan mobil Faro yang di kemudikan oleh Mario, belum sampai mobil mobil parkir dengan sempurna Faro sudah berlari mencari Inneke dengan khawatir.


"Bos sabar, kenapa tidak sabaran sih" cabik Mario melihat bosnya yang berlari seperti orang kesetanan khawatir dengan istrinya.


"Sayang..., apakah kau baik-baik saja?" Faro mendorong orang Intel dengan sedikit kasar tanpa perduli sekitarnya memeluk dan menciumi wajah Inneke dengan lembut.


Para intelejen memalingkan wajahnya saat melihat Faro yang tidak malu meluapkan rasa cintanya kepada istrinya, dan jenderal Hendro hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Jangan khawatir bos, tanpa tergores sedikitpun, masih mulus seperti sedia kala" Uda Padang menggoda Faro karena sikapnya yang absurt.


Setelah mendapatkan informasi dari dua orang laki-laki yang mencoba menyerang Inneke, Intel langsung menyerahkan mereka kepada pihak kepolisian, mendekati jemderal Hendro dan memberikan laporan.


"Jenderal, mereka sepertinya hanya disuruh seseorang yang sengaja ingin membuat istri Bang Faro celaka" laporan salah satu Intel dengan memberikan kertas laporan sementara dengan catatan kecil.


Setelah jenderal Hendro membacanya bergegas menuju sekuriti meminta untuk menunjukkan tempat ruangan CCTV.


Jenderal Hendro dan anggotanya langsung didampingi para sekuriti pasar masuk kearah kantor CCTV pasar untuk menyelidiki kasus penusukan itu, dan ingin melihat siapa yang memerintahkan kepada dua orang laki-laki yang akan menyerang Inneke.


Sedangkan Faro tidak henti hentinya menciumi wajah Inneke dengan penuh kasih "Abang malu semua orang melihat kita" Inneke mencoba melepaskan pelukan Faro.

__ADS_1


__ADS_2