Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
71. Ijab Qobul Jasson Fia


__ADS_3

Waktu cepat berlalu tinggal satu Minggu lagi acara pernikahan Fia dan Jasson diadakan, Imma dan Trisya semakin sibuk dibantu oleh Inneke dan Kemmy semakin membuat acara hampir seratus persen siap.


Karena Fia baru selesai melaksanakan ujian semesternya, hari ini mereka akan fitting baju dan foto prewedding, fitting di temani oleh Imma dan Trisya di butik langganan Uthi Mami, sedangkan prewedding dilakukan hanya berdua saja.


Ini adalah kali pertama Fia mau diajak Jasson pergi berdua, biasanya Fia selalu menggunakan seribu macam alasan jika Jasson mengajaknya keluar rumah, bahkan jika ingin sekedar mengajaknya makan malam seringnya mengajak serta Ezo dan Rayhan, prinsip yang benar-benar kuat yang dimiliki Fia.


Prewedding dilakukan hanya di studio saja dengan menggunakan gaun sederhana dan jas senada sedang duduk disebuah jalan layang yang seolah olah nyata padahal ada di studio, foto kedua sedikit lebih intim karena berfoto diatas motor gede Jasson yang duduk didepan dan Fia memeluknya dari belakang dengan menggunakan celana Levis dan jaket kulit membuat penampilan mereka terlihat macho.


"Terima kasih, sudah mau mengikuti konsepku dalam foto prewedding kita" kata Jasson saat sudah selesai melakukan sesi terakhir pemotretan.


"Hhmm" Fia hanya menjawab dengan deheman saja.


"Bisa kita makan dulu sebelum pulang, Abang benar-benar lapar, please?" pinta Jasson dengan sedikit memelas karena tahu betul jika selama ini Fia tidak pernah mau diajak makan berdua.


"Mau makan apa dan dimana?" tanya Fia dengan sedikit kesal.


'"Terserah titah tuan putri, dimanapun itu" Jasson akhirnya sedikit merayu.


"Baiklah ayo kita kesana, kita makan ditempat langganan makan aku" akhirnya Fia setuju.


Hanya dalam waktu setengah jam sampai di warung tenda yang berada disamping taman dipinggir jalan.


"Parkir sebelah sana aja Bang, dekat warung tenda itu" Fia menunjuk kedepan samping tenda dipinggir jalan juga.


"Kita makan di tenda itu?" tanya Jasson heran.


"Iya Bang, apakah Abang tidak pernah makan di tenda pinggir jalan?" tanya Fia penasaran, sedangkan Jasson hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Jangan khawatir disini bersih kok, ayo


masuk" ajak Fia mendahuluinya masuk di tenda yang lumayan besar dan duduk lesehan didalamnya.


Seorang laki-laki paruh baya sedikit berlari kecil mendekati Fia dengan tersenyum.


"Kakak Fia apa kabar, lama tidak kesini, mengapa umi tidak ikut?" tanya laki-laki paruh baya itu.


"Baik paman, umi di rumah lagi repot, Cotto Makasar dua ya Paman" titah Fia sopan.


Orang yang dipanggil paman oleh Fia itu memperhatikan Jasson dengan seksama karena selama ini belum pernah bertemu dengannya.


"Siapa si ganteng ini kakak, kok paman belum pernah melihatnya?" tanya paman penasaran.


"Oya Paman, kenalkan dia Bang Jasson calon suami kakak" balas Fia singkat.


"Salam kenal Bang Jasson, Paman ini teman uminya kakak Fia saat beliau masih memegang toko Bakary Imma" cerita paman kemudian.


"Salam kenal paman" Jasson menjabat tangan Paman dengan sopan dan sedikit membungkukkan badannya.


Paman meninggalkan mereka sebentar untuk mengambilkan pesanan yang dibantu oleh istri Paman saat pesanan itu sudah siap.


"Silahkan menikmati kakak, apakah mas mu merepotkan Abi dan umi?" tanya istri Paman sambil meletakkan pesanan Fia lengkap dengan es teh yang biasa Fia pesan jika berkunjung ke tenda itu.


"Tidak bibi, justru mas selalu menjaga umi dengan baik" jawab Fia sambil tersenyum.

__ADS_1


Jasson yang tidak tahu siapa sebenarnya yang disebut mas itu, sedikit resah seperti ada rasa cemburu dalam hatinya.


"Sayang, siapa mas yang dimaksud bibi tadi?" bisik Jasson sambil berbisik.


Fia menatap tajam Jasson seperti tidak suka cuma membahas orang yang dipanggil mas oleh bibi.


"Kenapa Bang, kok sepertinya tidak suka?" tanya Fia heran.


"Takut aja, kalau calon istri Abang diambil si mas, gimana?" cabik Jasson masih curiga dengan orang yang sedang di bicarakan.


"Lebay...dia itu putranya bibi yang bekerja pada Abi, tugasnya mengawal umi jika keluar rumah, lagian mas sudah memiliki dua anak" jujur Fia menceritakan tentang yang dimaksud mas.


"Ooooo pengawal umi, eee ngomong ngomong bagaimana cara makannya cotto Makassar ini, Abang bingung?" Jasson memegangi ketupat yang sudah dibelah dua.


Fia terkekeh ternyata orang yang mau menikahinya itu tidak pernah makan dipinggir jalan, tidak pernah juga makan makanan Nusantara, Cotto Makasar saja tidak tahu bagaimana cara makannya.


"Begini caranya, ketupat ini diambil dengan sendok di campur kuah dan daging Cotto baru di makan" Fia memeragakan dengan jelas.


"Tambah sambal dan jeruk terlebih dahulu Bang, akan bertambah semakin lezat" saran Fia kemudian.


"Baiklah.." Jasson menambah satu sendok sambal, jeruk nipis diperas, diaduk sebentar baru memakannya sesendok demi sesendok sampai satu ketupat habis.


"Boleh Abang tambah ketupat lagi?" tanya Jasson tanpa malu-malu.


"Tentu... sebanyak yang Abang mau tidak ada yang melarang"


"Apakah Cotto Makasar salah satu makanan kesukaanmu?" tanya Jasson sambil menghabiskan meminum es teh.


Selesai makan Jasson mengantarkan Fia pulang, baru memarkirkan mobilnya di halaman rumah, bertemu pengacau yang biasa diajak saat mereka keluar dengan Fia.


"Abang, kenapa curang, adik tidak diajak?" Ezo protes melihat kakaknya dan Jasson jalan berdua.


Fia hanya terkekeh geli melihat Ezo, sedangkan Rayhan tidak ada membantunya untuk ikut membelanya saat ini.


"Apa sih dik, karena Rayhan tidak ada, jadi Bang Jasson tidak mengajak kalian" jawab Fia sekenanya.


"Tapi kak itu tidak adil, adik Ezo tidak bisa makan enak, tidak bisa jalan jalan terlebih lagi adik harus beli kuota sendiri, tidak asyik tau kak" Ezo masih mengikuti mereka berjalan ke rumah ke ruang tamu.


Jasson akhirnya mengeluarkan dompetnya mengambil enam lembar uang warna merah di serahkan kepada Ezo "Nich sebagai ganti rugi karena tidak ikut Abang hari ini, bagi rata sama Rayhan jangan lupa".


"Asyik terima kasih, Abang memang yang terbaik" Ezo lompat lompat kegirangan mendapat rejeki nomplok.


"Dasar modus, bisanya cuma memanfaatkan kakak aja, playboy cabe-cabean" Fia kesal selalu saja adiknya memanfaatkan situasi dengan baik.


"Kakak aja yang syirik, minta sendiri kalau mau" Ezo berlari ke kamar lantai atas dengan bahagia.


Waktu seakan sangat lambat bagi Jasson menunggu satu Minggu lagi seperti bertahun tahun, karena setelah makan Cotto Makasar waktu itu dia tidak bisa bertemu sama sekali dengan pujaan hatinya, tetapi akhirnya sekarang hari yang di tunggu tunggu.


Tepat pukul sembilan pagi ini akan diadakan ijab qobul di kediaman Ken, ruang tamu dan keluarga yang sudah disulap menjadi lebih cantik dan bertaburan bunga segar menambah suasana semakin semarak dan segar.


Jasson duduk dengan gelisah, setelah semua sudah berkumpul disana termasuk pak penghulu, tinggal menunggu pengantin wanita turun dari lantai atas.


Selesai MUA mendandani Fia, sangat cantik dan terlihat berbeda, terlihat lebih dewasa dengan balutan kebaya modern warna merah muda warna favoritnya.

__ADS_1


Turun dari lantai atas dengan di dampingi oleh Inneke melalui lift terlalu cantik dan anggun pengantin wanita hari ini.


Jasson sampai tidak bisa mengedipkan matanya melihat pengantinnya yang begitu cantik dan anggun.


Duduk disebelahnya dengan senyum yang mengembang, semakin membuat Jasson berdegup kencang jantungnya tanpa bisa di kendalikan olehnya.


Dari acara pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, membuat Jasson semakin gelisah, walaupun hampir satu Minggu ini menghafalkan berkali-kali ijab qobul tetapi seperti menguap begitu saja, kegugupan itu sangat terlihat setelah Ken mendekati Jasson saat akan di memulai.


"Tarik nafas panjang Bang, jangan gugup" papa Andri menepuk pundak putranya.


Bahkan sahabat sekaligus asistennya Gio sampai menertawakan tingkah Jasson yang terlihat gugup.


"Bos tenanglah, bukankah sudah hampir satu Minggu ini menghafalkan ijab qobul itu, bikin malu aja" bisik Gio di telinga Jasson.


"Diam kau, tambah membuat aku tambah nervous saja" Jasson mengatakan sambil mencondongkan badannya mendekati Gio.


Ken mendekati Jasson duduk di depannya menambah semakin nervous Jasson dengan keluar keringat terus menerus.


"Bagaimana Jasson sudah siap?" tanya Ken mantap.


"Siap Abi, mari kita mulai" Jasson membetulkan posisi duduknya menghadap kearah Ken dengan mantap.


Ken mengulurkan tangannya menjabat tangan Jasson, dengan arahan penghulu Ken akan langsung menjadi wali nikah Fia.


"Jasson Pranoto bin Andri Pranoto, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Safia Anjani Kenzie Wiguna binti Kenzie Wiguna dengan mas kawin seratus gram emas dibayar tunai" kata Ken dengan lantang dan jelas.


Walau masih sedikit gugup Jasson langsung menjawab dengan suara lantang juga.


"Saya terima nikah dan kawinnya Safia Anjani Kenzie Wiguna binti Kenzie Wiguna dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai" Jasson dengan mengucapkan dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana sah?" tanya penghulu itu dengan cepat.


"Sah....saaah.....saaaah" semua yang hadir mengucapkan sah dengan disertai tepuk tangan yang meriah.


Penghulu langsung membacakan doa dan di aminkan oleh semua yang hadir dalam acara akad nikah itu, dilanjutkan dengan sungkem kepada kedua orang tua, Akung Papi, uthi Sumi dan seluruh keluarga bergantian.


Hanya saja kali ini tidak hadirnya Opa Tomy membuat Faro sedikit kecewa, yang hadir hanya Mama Meera dan Mama Nadia tanpa diikuti keluarga besar seperti biasanya, karena mengingat kesehatan Opa Tomy harus ada yang menjaganya disana.


"Selamat ya, adik Abang sudah menikah sekarang semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, jaga dia baik-baik Jasson, jangan sampai dia lecet sedikitpun, karena kau akan langsung berhadapan dengan Abang" nasehat Faro dengan sedikit melo.


"Tentu Bang, aku pertaruhkan dengan nyawaku"Jasson tidak mau kalah seriusnya dengan Faro.


"Apaan sih ini nasehat apa ancaman Bang, kok aneh betul" cabik Fia kesal dengan memukul tangan Faro perlahan.


"Selamat Fia, kakak turut bahagia, semoga samawa" Inneke memeluk Fia dan cipika-cipiki.


Datang Cinta dengan lemah gemulai berjalan melenggak-lenggok bak peragawati dengan dandanan yang dan baju yang mencolok.


"Fia.... selamat, maaf gue terlambat, waduh ganteng banget abangnya, Fia gue boleh pinjam sebentar?" Celoteh Cinta dengan mengedipkan matanya dan berusaha bergelayut manja di lengan Jasson.


"Sayang siapa dia, Abang geli melihatnya?" Jesson berbisik di telinga Fia dan berlindung di belakang Fia dan mengusap lengannya


"Namanya Cinta, teman umi dan dia yang mengelola rumah kecantikan milik kak Ara" cerita Fia sambil terkekeh melihat Jasson yang berusaha berlindung di belakang Fia.

__ADS_1


__ADS_2