Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
12. Mengetahui Amanah Abi Dona


__ADS_3

Selesai acara aqiqah semua keluarga Tomy Sanjaya tidak pulang ke apartemen seperti biasanya, mereka lebih memilih untuk menginap di rumah Ken, bukan tanpa alasan, karena begitu rindu kepada cucu laki-laki nya, terutama Opa Tomy dan Oma Nadia, mereka menginap di kamar Faro selama Faro ada di Surabaya.


Dengan penerbangan sore hari Faro dan Mario pulang kembali ke Jakarta hari ini dari bandara internasional Juanda Surabaya, menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam sudah tiba di bandara internasional Soekarno Hatta di jemput oleh Ken dan Tomy Sanjaya.


"Bang... disini!" panggil Ken saat di depan pintu keluar bandara.


"Abi.... Opa... sudah lamakah?" tanya Faro sambil mencium punggung tangan keduanya bergantian diikuti oleh Mario juga mencium punggung tangan mereka juga.


Mereka langsung berjalan keluar menuju parkiran, diperjalanan Opa Tomy mengajak makan malam terlebih dahulu sebelum pulang.


"Kita makan dulu ya... Bang, Mario tidak apa-apa kan jika makan dulu?" tanya Tomy Sanjaya.


"Tidak masalah bos, aku ngikut aja" jawab Mario singkat.


Mereka duduk berhadapan setelah sampai di restauran yang tidak jauh dari bandara, setelah memesan makanan dan menunggu pesanan datang sambil bercanda Tomy mulai bertanya masalah pribadi.


"Bang, bolehkah aku bertanya, masalah pribadi?" tanya Tomy Sanjaya perlahan.


"Tentang pribadi, apa itu Opa?" Faro balik bertanya.


Dengan ragu-ragu Tomy Sanjaya sambil melirik Ken sejenak, Ken hanya mengangguk tanda setuju jika Tomy bertanya tentang pasangan hidup.


"Apakah Abang sudah memiliki calon pendamping?" Tomy Sanjaya ragu-ragu bertanya.


"Kok Opa tanya itu sih?" tanya Faro heran.


"Kalau Abang belum punya, Opa Tomy akan memperkenalkan seorang gadis untuk di kenalkan pada Abang" Ken ikut menimpali argumen Tomy.


"Sebenarnya begini Bang, bukan ingin memperkenalkan Abang dengan seorang gadis, tetapi ini menyangkut keinginan almarhum Abi Dona" jawab Tomy Sanjaya dengan menunduk.


Faro kaget dengan perkataan Tomy Sanjaya, ada apalagi, apakah masih ada rahasia lagi yang belum di ketahui oleh Faro gumamnya dalam hati.


"Apakah masih ada rahasia yang belum Abang ketahui Opa... Abi?" tanya Faro sambil memandangi Tomy dan Ken bergantian.


"Iya Bang, maaf...tapi tentang masalah rahasia ini, kami sepakat tidak akan memaksakan ke Abang, ini amanah Sebelum Abi Dona meninggal dunia" jawab Ken pura-pura sedih.


Melihat Ken yang menunduk dan tatapan mata yang sendu, Faro melirik Mario, sedangkan Mario hanya menatap dengan datar saja.


"Apa amanah Abi Dona memangnya Bi?" tanya Faro penasaran.


"Menjodohkan Abang dengan keturunan asisten Anton Sahroni" ucap Tomy Sanjaya lirih.


Faro melirik Mario, sedangkan Mario hanya menatap Faro dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan, karena Mario tidak mengeluarkan suara sepatah katapun di tendangnya kaki yang ada di bawah meja.


"Jujur aja bos, jangan di tutup tutupi" saran Mario kemudian.


"E.....e.. sebenarnya sudah punya, tetapi Abang masih menunggunya satu tahun lagi" jawab Faro dengan ragu.


"Kok harus satu tahun lagi?" tanya Tomy Sanjaya sambil tersenyum dan melihat Ken.


"Karena sekarang dia masih kuliah, tahun depan baru lulus" jujur Faro lagi.

__ADS_1


Ken hanya manggut-manggut, mencocokkan cerita Faro dan Keke tadi malam saat di tanya oleh Imma saat mereka ada di dapur.


"Tapi tenang aja Bang, kita tidak akan memaksakan pada Abang, karena jodoh, maut, pertemuan dan perpisahan adalah rahasia Allah, coba Bang, ceritakan gadis itu pada Abi" pinta Ken dengan antusias.


Faro langsung berbinar hanya mengingat Inneke, sangat terlihat dari raut wajahnya, yang melihat saja bisa menebak seberapa tertariknya pemuda itu dengan gadisnya.


"Dia waktu kecil tinggal di Bandung, tetapi harus pindah ke Malaysia mengikuti ayahnya yang di tugaskan disana" cerita Faro dengan senyum yang mengembang.


Ken dan Tomy Sanjaya hanya saling pandang, sepertinya memang Keke lah gadis yang di sukai oleh Faro.


"Abi tahu, gadis itu hampir mirip seperti umi, cantik, anggun, lemah lembut dan sopan santun selalu dia utamakan dimanapun dia berada" Faro menceritakan lagi tentang Inneke.


"Oya.... Berarti selera Abi dengan Abang sama dong?" Jawab Ken dengan tersenyum simpul.


Mario mengerutkan keningnya berpikir, memang sepertinya antara uminya Faro dan Inneke memiliki kemiripan dari sikap ataupun cara berdandan, serta bentuk wajahnya hampir sama.


Selesai menikmati makanan di restauran itu pulang ke rumah sebelumnya mengantar Mario terlebih dahulu.


Malam harinya Faro bercengkerama dengan akrab bersama keluarga besar Tomy Sanjaya di ruang keluarga, tetapi sambil mengirim pesan kepada Inneke jika dia sudah sampai rumah dengan selamat.


Tidak lupa pula Faro membelikan oleh-oleh dari Surabaya yaitu jam tangan cauple, tetapi Inneke bisanya Bertemu malam Minggu karena banyaknya kegiatan kampus.


Keesokan harinya Rendi mengirim pesan mengajak ketemuan karena memang sudah lama ketiga sahabat itu bertemu, akhirnya setelah selesai bekerja nanti sore mereka berjanji bertemu di Kafe tempat biasa mereka bertemu.


Faro masuk ke perusahaan pagi itu dengan hati yang bahagia, di dampingi oleh Tomy Sanjaya, semua karyawan menunduk hormat setelah mereka melewati pintu utama dan masuk lift khusus untuk direktur.


Pagi hari ini juga seperti biasa Ken berangkat ke kantor dipersiapkan keperluan baju kerja oleh Imma istrinya.


Saat selesai memakai baju dan dasi yang dipasangkan oleh Imma Ken memperhatikan dengan seksama istrinya itu, tumben pagi-pagi sudah rapi bersih dan rambut yang masih basah.


"Hhhmmm..." jawab Imma tangannya masih belum selesai membuat simpul dasi.


"Kenapa tidak bilang dari bangun tidur tadi pagi?".


"Emang kenapa to Bi, malas lah pagi-pagi baru bangun tidur harus laporan?".


"Kan Abi pingin makan umi, sudah satu Minggu Abi merana tidak bisa bertemu dengan kesayangan Abi" protes Ken dengan tangan yang sudah tidak bisa di kondisikan.


"Sayang....ini tangan coba di beri rem, pagi-pagi sudah modus, sudah ganteng dan rapi, anak-anak dan keluarga Opa Tomy sudah menunggu cepatlah" titah Imma.


Imma menarik tangan Ken keluar kamar, dengan menenteng tas kerja turun ke lantai bawah untuk menemui Fia dan Ezo yang sudah menunggu, di tambah keluarga besar Tomy Sanjaya, sedangkan Faro dan Opa Tomy sudah berangkat pagi tadi.


"Ini Abang dan Opa mana?" tanya Ken.


"Abang sama Opa sudah berangkat Bi, tadi sarapan duluan karena ada yang mau dikerjakan di kantor" keterangan Fia sambil minum susu vanilla.


Mereka kemudian sarapan pagi dengan nikmat dan tanpa ada suara, baru Ezo, Fia dan Ken pamit kepada seluruh keluarga untuk berangkat.


Ken yang bagi berangkat dengan setengah hati gara-gara satu Minggu menahan rasa dan mengetahui jika sudah selesai, membuat kerja tidak begitu konsentrasi, Sandi yang tahu betul bagaimana bosnya hanya tersenyum devill.


"Bos...dari tadi kerja salah terus, emang berapa lama tidak dapat jatah?" tanya Sandi penasaran.

__ADS_1


"Satu Minggu" jawab Ken jujur disertai tertawa Sandi sedikit meledek.


Sandi hanya menggelengkan kepalanya, melihat bosnya selalu tidak bisa menahan rasa padahal sudah bertahun-tahun menikah.


"Telepon aja bos, apa susahnya sih, kenapa harus pusing-pusing?" Celetuk Sandi kesal.


Ken hanya bisa mengacak rambutnya, jika sudah begini, akan tidak bisa konsentrasi jika mengerjakan pekerjaan walaupun hanya pekerjaan yang ringan.


"Masalahnya Sandi, di rumah masih ada keluarga Opa Tomy Sanjaya, tidak enaklah jika di tinggal sendiri" cerita Ken frustasi.


"Oooo itu masalahnya, ya sudah selamat berpusing ria menahan rasa sendiri" celoteh Sandi dengan mengibaskan tangannya.


"Sudahlah aku mau tidur sebentar, kepalaku pusing, kau lanjutkan saja pekerjaan itu" ucap Ken sambil berlalu masuk ke kamar yang ada di dalam kantor Ken.


Ken membuka jasnya, di gantung di belakang pintu, merebahkan tubuhnya di ranjang mencoba memejamkan matanya.


Karena tahu betul apa yang di butuhkan bosnya untuk menghilangkan pusing pada kepalanya, Sandi membuka pintu kamar itu sedikit, mengambil foto dan dikirim ke handphone Imma dan di tulis di bawah Foto dengan tulisan "Bos lagi pusing katanya, sekarang sedang berbaring di kamar tidur kantor, aku lagi sibuk, apakah bisa minta tolong antar makan siang dan obat untuknya".


Tidak menunggu lama ternyata Imma langsung membaca pesan dari Sandi "Baiklah, aku bawakan makan siang untuk berdua, kamu tidak usah keluar untuk mencari makan kalau sibuk, terima kasih" .


Tidak sampai satu jam Imma datang dengan membawa dua kotak bekal makan siang pertama ke ruang Sandi "Ini makan siangnya, makan dulu jangan telat" perintah Imma.


"Terima kasih, bos ada di kamar, mungkin masih tidur" jawab Sandi sambil tersenyum devill.


Imma menuju kantor Ken dengan khawatir, mendorong pintu kantor, menuju kamar dan membuka perlahan pintu kamar itu.


"Sayang.... bangun dulu, ayo makan baru minum obat!" titah Imma dengan menggoyangkan tubuhnya.


Ken mengerjab, mengumpulkan nyawanya memandangi wajah istrinya dengan tatapan penuh gairah.


"Honey.... honey....kau disini".


Ken langsung menarik Imma dalam pelukannya dengan erat, menciumi seluruh wajahnya dengan bertubi-tubi.


"Sayang katanya sakit, apa ini hanya modus Abi aja?" tanya Imma penasaran.


"Honey... Abi dari tadi pagi pusing karena ini, tolong jangan bertanya lagi, nanti saja abi jawabnya.


Ken mulai bergerilya baik tangan maupun bibirnya, dengan sentuhan dari Ken Imma mulai terbuai, mulai mengimbangi sentuhan Ken, membalas ciuman, hanya bermain di dalamnya sampai hampir habis nafasnya baru melepaskan tautan itu.


Ken hanya tersenyum, walaupun selalu memimpin permainan, tetapi setelah suasana menjadi panas istrinya akan lebih dominan itulah yang selalu di rindukan Ken saat mereka bertempur di atas ranjang.


Baju sudah tidak tahu terlempar entah kemana, bersamaan dengan peluh yang membasahi tubuh, keduanya terbuai dalam indahnya surga dunia, seolah olah dunia hanya milik berdua..


Ken selalu candu dengan istrinya, walau umur sudah tidak lagi muda, rasanya tetap sama, keharmonisan yang selalu di jaga oleh keduanya sampai keduanya merasakan kepuasan ******* berdua Ken berbisik di telinga "honey I love you" baru Ken tumbang di samping Imma dengan tersenyum simpul.


________________________


Jangan lupa komentar terbaik, vote terbanyak,


hadiah terbanyak juga..... untuk give away

__ADS_1


nanti..........


terima kasih ditunggu.....


__ADS_2