
Dari keenam karyawan Faro yang merupakan orang lama yaitu teman Pak Basiran ada dua bagian produksi, keduanya mengikuti penghasutan itu karena memiliki hutang yang belum bisa dibayar, berjanji akan langsung lunas jika mengikuti menyebarkan isu perusahaan bangkrut, tetapi setelah mendapatkan gaji ke-13 keduanya memilih untuk melunasinya.
Sedangkan ada dua staf yang dicurigai Faro ternyata tidak terbukti memprovokasi karyawan untuk demo, keduanya hanya mengenal mereka tidak lebih dari itu.
Tersangkanya ada dua yang satu karyawan bagian produksi yang baru bekerja selama satu tahun dan satu lagi seorang wanita staf bagian gudang.
Ternyata kedua tersangka adalah pasangan suami istri setelah diselidiki oleh Mario selesai memberikan gaji ke-13 kepada seluruh karyawan.
Sekarang tugas detektif Conan untuk menyelidiki pasangan suami istri yang telah membuat keributan dan menyebarkan informasi yang tidak benar.
Pukul lima sore semua sudah teratasi tanpa adanya masalah, hati merasa lega, Ken yang berada di kantor Faro sejak tengah hari memutuskan untuk pulang dan ingin membawa Rafael sehingga Mama Meera juga ikut Ken pulang.
"Mungkin satu atau dua jam lagi Abang nyusul Abi, nanti kita menginap disana tetapi Abang selesaikan dokumen ini dulu" saat Rafael sudah nempel pada grandpa tanpa mau turun.
"Iya Bang selesaikan aja, Keke mana mau ikut atau nanti bareng Abang?" tanya Ken mencari Inneke tidak ada di ruangan kantor.
"Lagi di kamar mandi, biar nanti dia pulang bareng Abang, Abi dan Mama Meera duluan aja" Faro menjawab pertanyaan Ken tanpa melihat Abi karena terlalu fokus pada dokumen yang dibacanya.
"Ok baiklah duluan ya Bang".
"Da...da gantengnya Papi, jangan nakal tempat grandpa ya sayang" Faro melambaikan tangannya kepada putranya Rafael.
"Da...da...muaah" Rafael juga ikut melambaikan tangannya dan tidak lupa kiss bye pada papinya.
Inneke keluar dari kamar mandi kantor sudah terlihat sepi, tinggal Faro saja yang duduk di singgasananya fokus pada dokumen yang ada dimeja.
"Papi kok sepi?" tanya Inneke singkat.
"Hhmm..." Faro masih fokus pada dokumen yang harus cepat dikerjakan agar cepat selesai.
"Abang....!!!!!" bentak Inneke dengan suara sedikit keras karena merasa dicuekin.
"Eee sayang kenapa bikin kaget aja?".
"Kemana semua kok sepi, Rafael kok tidak ada?" Inneke mendekati Faro dan berdiri disampingnya.
Dengan spontan Faro menarik Inneke duduk dalam pangkuannya mencium bibir Inneke dengan lembut.
"Hhff....." Inneke mencoba mendorong dada Faro karena kehabisan nafasnya.
Faro tersenyum memandangi wajah istrinya yang kaget karena ciuman itu membuat istrinya gelagapan.
"El pulang bareng Abi dan Mama Meera, nanti kita nysuul, biar selesai dulu kerjaan Abang".
Kembali Faro mencium bibir Inneke dengan lembut, menelusuri setiap rongga dan mengabsen yang ada didalamnya tanpa terlewati.
Tanpa mengetuk pintu Mario masuk ruangan kantor Faro dengan mendorong pintu perlahan tanpa sengaja melihat adegan mesum bosnya.
__ADS_1
"Woi.... sorry bos, kagak tahu kalau lagi mesum" Mario membalikkan badannya dengan cepat.
Inneke langsung melepaskan tautan bibirnya dan mencoba mendorong kembali dada Faro ingin berdiri, tetapi sayangnya kedua tangan Faro melingkar erat dipinggang.
"Tidak usah bangun sayang, biar aja nanti paling dia pulang langsung minta main perang-perangan dengan Ara" kata Faro tersenyum defil.
"Dasar bucin kronis, buat ngiri aja, sudah tahu tadi malam gue tidak bisa peluk bini, sekarang malah mesum didepan mata" cabik Mario mendekati Faro memberikan dokumen yang belum di tandatangani.
Faro dan Inneke tertawa lepas karena selalu bisa memprovokasi asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Apa apa, makanya kalau masuk ketok dulu kalau ada bini gue, main nyelonong aja?" Faro tetap memangku Inneke dan meletakkan satu tangannya di meja.
"Ini tolong tandatangani" Mario membuka dokumen dan memberikan pulpoin, dengan cepat dan tanda tangan diatas dokumen itu tanpa membacanya terlebih dahulu.
"Gue langsung pulang habis ini bos, silahkan lanjutkan lagi" Mario keluar dengan membuka pintu setelah mengambil dokumen yang sudah ditandatangani oleh Faro.
Sampai di depan pintu Faro berbalik badan melihat bosnya yang sedang memangku istrinya "Jangan lupa kunci pintu atau ngamar sana, bikin gue jadi ngiri aja, Ara Abang datang" Mario kembali berbalik badan mendorong pintu dengan menggelengkan kepalanya.
Dengan tersenyum Faro melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi, berdiri menggendong bridal Inneke masuk kedalam kamar mencium bibirnya lebih dalam dan menggebu, membuka pintu dengan satu tangan dibaringkan di tempat tidur dengan perlahan.
"Kau tahu sayang, dari kemarin kepada Abang rasanya mau pecah, hanya kau kaulah yang bisa mengobatinya" membuka seluruh pakaiannya dan membuka juga pakaiannya berlahan dengan bibir tak terlepas dari tautannya.
"I love you so much" Faro terus menjelajahi setiap lekuknya singgah sebentar dikedua gunung kembar itu turun pindah sampai ke daerah inti, hanya desahan kecil Inneke membuat Faro semakin menggila.
"I love you to, more and more" Inneke membalas dengan ikut menelusuri leher jenjang Faro yang menjadi favoritnya, memberikan tanda tanpa terlewati, sampai melakukan penyatuan dan melakukan gerakan lembut, semakin cepat dan menegang bersama dengan nafas yang memburu, dan Faro masih diatas sejenak setelah klimaks berdua.
"Sayang ayo turun, kenapa masih diatas tubuhku?" tersipu malu karena sedari tadi dia memandangi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Ini tempat tidur kita Bang, bukan disofa yang berada di resort, nah...malah tangannya mulai tidak bisa dikondisikan" dengan menyilang kan tangannya di dada.
"Iya Abang turun, tapi boleh minta satu ronde lagi?" setelah Faro merebahkan tubuhnya disamping Inneke miring kearahnya dan memeluk pinggangnya dengan erat.
Inneke jadi mengerutkan keningnya berpikir sejenak mengingat tidak ada putranya, membuat hatinya tidak tenang karena selama ini dia jarang berpisah dengan Rafael.
"Sayang kita ini masih di kantor, nanti saja kalau mau nambah satu ronde atau lebih tetapi kalau sudah di rumah kalau perlu Doble, kasihan Rafael nanti cari Mami dan Papi, bagaimana?" Inneke duduk bersandar menarik selimut sampai menutupi tubuhnya yang masih polos.
"Janji Doble, ya baiklah setelah mandi kita pulang" Faro langsung turun dari tempat tidur menggendong bridal Inneke kembali menuju kamar mandi.
Untuk mempersingkat waktu mandi bareng adalah salah satu solusi yang tepat walaupun terkadang membuat kobranya terbangun lagi tanpa bisa dikendalikan.
"Kalau untuk obat sakit kepala itu Bang tidak boleh banyak cukup satu saja, nanti kalau Doble malah jadi overdosis dong?" canda Inneke berdiri dibawah shower sambil membersihkan badannya dan Faro berdiri dibelakangnya, dan digeseknya berlahan kobra yang sudah berdiri tegak.
"Kalau obat buat Abang beda dong sayang, semakin banyak akan semakin cepat sembuh dan semakin membuat Abang terbang ke langit hahaha".
"Abang maah mesum aja maunya".
Pulang ke rumah Abi dan umi, sampai di teras rumah sudah disambut oleh Rafael yang berlari mendekati papi dan mami dengan riang.
__ADS_1
"Pi...Pi...mi...mi mum...mum" Rafael mendekati maminya karena sudah haus, setelah digendongnya langsung menarik baju Inneke ingin dibukanya.
"Sabar sayang kita ke kamar dulu ok" Inneke menciumi pipi Rafael dengan gemas.
Inneke dan Rafael masuk kamar, sedangkan Faro duduk di samping Ken di ruang keluarga yang sedang berkumpul bersama seluruh keluarga, bahkan ada Rayhan dan Bagas sedang bermain game bersama Ezo.
"Dik, bagaimana sudah daftar kuliahnya?" tanya Faro dengan melempar bantal kepada Ezo yang sedang fokus melihat layar monitor game.
"Tidak usah repot-repot Bang, kita bertiga sudah mendapatkan fakultas negeri yang kita inginkan melalui jalur prestasi, tinggal tunggu hadiah dari Abang aja yang belum" cicit Ezo dengan tersenyum defil.
"Hadiah itu gampang Zo, jurusan apa yang kalian ambil?" tanya Faro lagi dengan tegas.
"Ekonomi bisnis Bang, jangan khawatir sesuai tradisi keluarga kita" Ezo, Rayhan dan Bagas mendekati Faro dan duduk di Hambal yang ada didepan Faro setelah tangan Faro melambaikan tangannya untuk mereka bertiga mendekat.
"Ada apa Bang?" tanya mereka bertiga kompak.
"Dengar pertama untuk Ezo, kuliah jangan main-main, elo boleh mengembangkan minat dan bakat elo sendiri tetapi untuk penerus Abi itu wajib elo jalankan setelah kuliah nanti, asal bisa berjalan seimbang Abang tidak akan melarang" nasehat Faro sambil menatap Abi yang tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Siap Bang, itu pasti, gue kan kesayangan Abi, iya kan Bi?" Ezo melirik kearah Abi kembali Ken mengacungkan jempolnya.
"Sekarang untuk Bagas, mulai sekarang elo yang bertanggung jawab atas keselamatan Ezo dan Rayhan, karena ilmu beladiri elo yang paling bagus, dan ingat setelah lulus kuliah nanti elo harus menjadi asisten Ezo tanpa bisa membantah dan menolak" titah Faro kepada Bagas dengan tegas dan jelas.
"Siap Bang, dengan taruhan seluruh tenaga dan nyawaku" Bagas menjawab dengan tanpa ragu.
"Sekarang gantian Rayhan, Abang mempersiapkan masa depan elo menjadi pemimpin yang handal kedepannya nanti, jangan main-main kuliahnya, satu perusahaan sudah menanti mu setelah selesai kuliah nanti" dengan tegas juga Faro menasehati Rayhan.
"Iya Bang, Abang memang is the best, tetapi gue tidak dipersiapkan asisten juga?" tanya Rayhan dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau itu bisa sambil jalan Ray, asisten harus diuji dulu kelayakan dan kejujurannya, tidak sembarang orang bisa dipercaya" jawab Inneke yang datang dari arah lift dan mendekati Faro, duduk disampingnya.
"Iya kak, gue tahu" jawab Rayhan menunduk, karena memang Inneke lah yang bisa membuat Rayhan patuh.
"Sudah jangan dibahas, Bang mana hadiah adik, nilai adik paling tinggi dari seluruh SMU di Jakarta?" rayu Ezo lagi dengan suara yang memelas.
"Abi aja yang ngasih hadiah adik nanti" Ken ikut menimpali Faro yang dari tadi berbicara serius.
"Jangan Abi, sudah Abang persiapkan kok satu Minggu yang lalu, dua malah sekalian untuk Rayhan cuma beda warna, tetapi dengan syarat kalian harus ngurus SIM A terlebih dahulu" Faro mengambil berkas dari tas kerjanya yang dari tadi ada dibelakang punggung Faro.
"Waaaah berarti kayak kakak Fia dulu saat mau masuk kuliah dapat mobil baru dari Abang, terima kasih banyak" jawab Ezo menerima berkas surat kepemilikan mobil.
"Gue juga terima kasih Bang, walaupun gue cuma juara tiga tetap Abang memberikan hadiah juga" Rayhan juga menerima surat kepemilikan mobil dengan hati yang bahagia.
"Ini untuk Bagas sebagai juara yang kedua" Faro memberikan surat kepemilikan motor metik dengan tersenyum.
"Bang, aku di kuliahkan saja sudah sangat bersyukur, tidak usah lagi memberikan ini" Bagas menunduk tidak berani menerima surat kepemilikan itu.
"Terima saja Bagas, itu rejeki, sekalian untuk antar jemput adikmu Bagus dan bibi Tini" perintah Imma dengan lembut.
__ADS_1
"Iya umi, terima kasih Bang, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan yang Abang berikan kepada keluarga kami, semoga Allah melipat gandakan rezeki Abang" doa Bagas dengan tulus.
"Aamiin...." jawab semua dengan kompak.