
Hari ini adalah saatnya Faro dan Inneke akan mulai pindah rumah, rumah yang di belinya saat mau menikah dengan Inneke di komplek perumahan Uthi Mami dan Akung Papi.
Semua keluarga membantu Faro dan Inneke pindahan hari ini, termasuk Jasson yang mendapatkan informasi dari Ezo dan Rayhan untuk bergabung bersama keluarga membantu pindahan.
Saat sudah semua masuk mobil barang-barang yang akan di bawa ke rumah baru, Jasson mengajak Fia satu mobil, karena ingin sedikit berbincang dari hati ke hati.
"Sayang ikut mobilku saja ya, aku sudah ijin umi dan Abi, please" kata Jasson penuh harap dan memelas.
"Iya...iya baiklah ayo kita berangkat" balas Fia singkat.
Wajah Jasson berbinar, kegembiraan terpancar di hatinya, hanya dengan berdekatan dengan gadis pujaan hatinya sudah membuat hatinya bahagia.
"Terima kasih, silahkan masuk ratuku" rayu Jasson dengan penuh cinta.
"Jangan lebay deh Bang, aneh tau, Abang seperti Bang Faro aja bucin, geli aku jadinya" cabik Fia sedikit kesal karena tingkah Jasson yang merayu ala receh.
Jasson terkekeh tetapi tetap bersikap cool dan mendekati Fia saat sudah duduk depan kemudi "Bukan cuma bucin, Abang sudah gila dan hilang akal karena calon istri Abang yang selalu cantik" rayu Jasson lagi, mulai mengikuti mobil yang ada di depannya beriringan menuju rumah baru Faro dan Inneke.
Fia hanya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan receh Jasson, tetapi dia hanya menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sampai di depan rumah Faro semua mobil masuk di halaman rumah di bukakan oleh dua sekuriti yang sudah menjaga rumah itu, dalam satu bulan ini.
Faro yang memegang kunci langsung membuka pintu dengan hati yang bahagia menggandeng Inneke dengan satu tangan.
Rumah Faro terdiri dari tiga lantai, lantai bawah ruang tamu dan ruang keluarga yang menyatu dengan luas yang lumayan besar, dapur utama dan dapur basah, ruang makan, dan dua kamar tamu, di lantai dua ada kamar utama yaitu kamar Faro, ruang kerja dan dua kamar tidur, sedangkan di lantai tiga ada ruang karaoke, bar mini dan gedung film mini, serta ada empat kamar tidur, diantara lantai atas dan bawah ada penghubung lift dan tangga yang berada di dekat dapur kering.
Sedangkan di ruang belakang ada kolam renang yang besar dan ada lagi satu rumah yang terpisah dengan delapan kamar untuk yang nantinya akan bekerja.
"Ayo masuk sayang, ini rumah kita, rumah untuk anak-anak kita kelak" ucap Faro menciumi punggung tangan Inneke dengan penuh gairah dan cinta.
"Terima kasih sayang, I love you" jawab Inneke mencium bibir Faro sekilas.
Tetapi yang di belakang mereka berdua adalah Ezo dan Rayhan yang selalu usil dan jahil apalagi melihat mereka yang bermesraan tanpa tahu tempat.
"Woi... Abang, kakak kita ada di belakang, jangan ngajarin kami hal yang mesum" celoteh Rayhan dengan tersenyum kesal.
"Tutup mata elo berdua, kalian belum cukup umur, sana bantuin angkat barang aja, mau dapat hadiah kuota tidak?" rayu Faro kepada mereka berdua.
"Waaih Abang nyogok kami ya, baiklah yang penting kita dapat kuota" cabik Ezo berlari menarik Rayhan keluar mendekati mobil yang membawa barang pindahan.
__ADS_1
"Ayo kita ke kamar, Abang ingin menggunakan kamar kita sebagaimana mestinya" cabik Faro cengar-cengir menarik tangan Inneke dengan mata yang berbinar.
"Bang, jangan mesum, itu di belakang banyak keluarga kita yang datang, masak kita akan enak-enakan di kamar" protes Inneke sambil mencubit pinggang Faro.
"Aduh....aduh Yang sakit, Abang selalu ingin dirimu, ingin lagi dan lagi" rayu Faro sambil mengusap pinggangnya yang sakit.
"Iya tapi tidak harus sekarang dong, nanti malam aja, aku juga selalu ingin Abang" rayu Inneke dengan mengedipkan matanya sedikit nakal.
"Baiklah, istriku yang cantik Abang mau servis yang top untuk malam ini kalau perlu sampai pagi ya" pinta Faro dengan penuh semangat.
"Iya Bang, nanti malam ya, jangan sekarang, spesial untuk Abang kalau perlu pakai telor" canda Inneke membantu keluarga yang mengangkat barang.
"Tapi Yang, cobranya sudah terbangun sekarang, bagaimana ini, dia sudah bangun?" Faro jujur dengan memelas menahan rasa dengan wajah yang memelas.
"Siapa yang sudah bangun?" tanya Ken dengan penasaran mendekati mereka berdua dengan membawa satu kardus di letakkan di ruang tamu.
Faro dan Inneke kaget ada abinya di belakang mereka mendengar pembicaraan absurt yang seharusnya tidak di dengar oleh siapapun.
"Abi bikin kaget aja, siapa lagi yang bangun kalau bukan yang sembunyi di balik celana" jawab Faro jujur karena dia sudah mendengar pembicaraan absurt mereka.
"Abang ini sebelas dua belas aja kayak Abi, hobinya mengganggu Istri" justru Ken sengaja mengimbangi obrolan yang aneh antara ayah dan anak.
"Eee kenapa Abi dan Abang sama aja mesumnya" protes Inneke di sertai kekehan Faro dan Ken bersamaan.
Sebelum makan malam di mulai Jasson mendekati Ken dan Imma duduk diantara keduanya.
"Umi, Abi barusan mama kirim pesan, ada Oma Cecil dari Singapura datang, minta calon cucu mantu makan malam di rumah, apakah boleh ijin ajak Fia ke rumah?" Ijin Jasson dengan memeluk keduanya bergantian.
"Abi terserah kakak aja, gimana nak?" tanya Ken kearah Fia yang sedang bercanda dengan Ezo dan Rayhan.
"Adik Ezo boleh ikut?" Ezo mengacungkan telunjuknya.
"Rayhan ikut juga dong?" Rayhan tidak mau kalah.
"Baiklah kalian boleh ikut, yang penting kakak Fia mau ikut, pasti oleh-oleh Oma banyak, hitung-hitung bisa membantu membawakan nanti" Jasson tersenyum melihat Fia dengan penuh harap.
"Baiklah ayo kita berangkat, umi Abi kakak pamit, Oya bunda dan ayah serta Uthi Intan" pamit Fia meninggalkan tempat tetapi sebelumnya mereka mencium punggung tangan mereka bergantian diikuti oleh Jasson, Ezo dan Rayhan.
"Hati-hati kalau sudah selesai langsung pulang, Abi dan umi sebentar lagi juga pulang setelah makan malam" nasehat Ken dengan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Semua keluarga makan malam bersama di ruang makan yang sudah disiapkan oleh dua bibi, selesai makan bercengkerama lagi di ruang keluarga dengan berbagai camilan.
Rencananya dua bibi itu mulai sekarang akan bekerja di rumah Faro yaitu bibi Jum dan bibi Narti, sedangkan ada tiga sekuriti dan tiga bodyguard yang akan mengamankan rumah juga, tambah satu lagi tukang kebun yaitu suami dari bibi Jum bernama paman Sam.
Setelah pulang sepuluh malam semua pamit pulang ke rumah masing-masing kecuali bunda, ayah dan Uthi Intan akan menginap beberapa hari ini di rumah Faro dan Inneke, mereka tinggal di lantai dasar yaitu dua kamar tamu.
Faro yang sedari tadi menahan rasa, langsung menarik tangan Inneke naik menggunakan lift ke lantai dua setelah berpamitan kepada ayah, bunda dan uthi Intan untuk beristirahat.
"Ayo Yang, keatas cepat, si cobra dari tadi bangun terus susah di jinakkan" rayu Faro masuk lift langsung bergerilya tanpa bisa di tahan.
"Sabar kenapa sih Bang"Inneke justru mulai mendesah manja karena tangan Faro sudah menyusup di balik baju dan membuka bra dengan cepat.
Keluar dari lift Faro langsung mengendong bridal Inneke sambil mencium bibir Inneke dengan rakus membuka pintu dengan kaki dan menutupnya juga dengan kaki, meletakkan perlahan Inneke di tempat tidur, langsung mulai bergerilya lagi.
"Bang, pintu di kunci dulu" Inneke mendorong tubuh Faro dengan dua tangannya.
Faro terpaksa melepaskan tautan bibirnya berjalan kearah pintu menguncinya dan kembali mendekati Inneke sambil membuka baju dan celananya sendiri di lempar ke lantai, dan membuka juga apa yang melekat pada Inneke.
"Ayo dong sayang" Faro mulai lagi dari awal, mulai dari mengabsen bibir, kebawah memberikan tanda merah di leher, dan turun sedikit mendaki dua gunung kembar itu bergantian, membenamkan wajahnya diantara gunung itu memberikan jejak disana.
Inneke sudah mengeluarkan desahan kecil, berarti sudah mulai panas, dia akan lebih mendominasi permainan, tanda merah akan bertebaran di seluruh tubuh Faro tanpa terkecuali, jika sudah begitu Faro tinggal menikmati sejenak aksi Inneke baru sampai penyatuan keduanya, bergantian mengatur ritme irama saling memuaskan sampai klimaks keduanya dan tumbang di tempat tidur big size mereka saling tersenyum puas menikmati puncak nikmat surgawi berdua.
"Sayang mau lagi, si cobra bangun lagi" rayu Faro mulai lagi memancing istrinya untuk sampai panas kembali.
Entah berapa kali ronde mereka berolahraga malam, sampai menjelang pagi baru tertidur dengan nyenyak, ada cahaya dari balik jendela baru bangun membersikan diri juga mereka lakukan berdua, tetapi seperti tidak ada capeknya, di kamar mandi di buth-up itu mereka melakukan mandi plus plus karena mengulangi sekali penyatuan keduanya di pagi hari.
Faro dan Inneke turun dari lantai atas, Faro sudah rapi menggunakan baju stelan jas duduk di ruang makan, bibi Jum sudah menyiapkan sarapan mereka, sedangkan bunda, ayah dan Uthi Intan sudah sarapan duluan tanpa menunggu Faro dan Inneke karena mereka pukul sembilan pagi baru keluar kamar.
Selesai sarapan Faro bergabung dengan kedua mertua dan Uthi Intan yang sedang bercengkerama di ruang keluarga.
Ayah menyipitkan matanya melihat leher Faro dan Inneke sama sama belang banyak sekali dan sangat terlihat disana.
"Kalian ini, kenapa sama sama ingin jadi drakula, itu leher atau macan tutul?" tanya ayah Edi dengan memandangi leher anak dan menantunya.
"Emang kelihatan banget kah ayah?" tanya Faro tanpa malu-malu.
"Bukan kelihatan lagi, sangat nyata" cabik bunda sedikit ngeri dengan kelakuan anak dan menantunya.
"Bang, pasang dasi kupu-kupu aja biar tidak terlalu kelihatan" saran Inneke sedikit malu dengan kelakuannya sendiri.
__ADS_1
"Aaaah tidak usah, biar aja ini tandanya istriku sangat mencintai suaminya, ayah bunda dan uthi Intan Abang pamit ke kantor" jawab Faro sekenanya mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Hati-hati Bang" pesan ayah Edi sambil menggelengkan kepalanya karena kelakuan anak dan menantunya.