
Pukul sembilan pagi jenazah Oma Nadia di mandikan dengan dipangku oleh Faro, Opa Tomy dan Papa Edi Darmawan, sedangkan Mama Dini, Mama Meera, mbak Lia, dan mbak Nia ikut memandikan jenazah dengan terisak tanpa henti.
wajah damai dan mulut yang seperti tersenyum pada almarhumah Oma Nadia membuat semua yang memandang menjadi tenang dan mengikhlaskan kepergian beliau.
Di sholatkan, di masjid lingkungan perkebunan teh baru dimakamkan di area komplek perkebunan teh juga.
Tubuh tua Tomy Sanjaya begitu lemah di tinggal oleh belahan jiwanya, Faro hanya bisa memberikan dukungan dengan memeluknya dengan erat walau tanpa terucap tetapi sangat terlihat kesedihan itu di sorot matanya yang sendu.
Di saat yang sama di Bandung Rendi mengucapkan ijab Kabul dengan pujaan hati Erna, sangat kontras memang, keluarganya saat ini begitu merasa kehilangan tetapi sahabatnya hari ini memulai hidup bahagianya.
Sebelum berangkat malam itu Faro sempat menghubungi Rendi jika Oma Nadia meninggal dunia jadi minta maaf tidak bisa menghadiri acara akad nikah dan resepsi sahabatnya.
Faro hanya bisa menitipkan hadiah pernikahan kepada kedua mempelai dua tiket bulan madu dan akomodasinya ke Bali selama tiga hari yang dititipkan kepada Mario.
Mario lah yang mewakili Faro untuk menghadiri pernikahan Rendi di Bandung di dampingi oleh Ara tentunya.
Ternyata setelah pertemuannya saat itu antara Mario dan Ara semakin dekat, saling tertarik akan tetapi belum resmi jadian di antara keduanya.
"Ini titipkan dari bos gue, semoga kalian senang" kata Mario saat di panggung pelaminan memberikan amplop warna coklat.
"Terima kasih, cepatlah menyusul kami, jangan lama-lama tuuh calon di gantung!" goda Rendi dengan melirik gadis manis yang sedang di gandeng Mario.
"Memang jemuran di gantung, selamat ya bro, jangan lupa kalau sudah belah duren cerita ke gue" bisik Mario di telinga Rendi dan di dengar oleh Erna.
"Apaan sih kak, malu atuh mesum di dengar ama kakak yang sedang di gandeng" celoteh Erna.
"Selamat ya, salam kenal aku Ara" kata Ara mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Terima kasih kak Ara, semoga cepat nyusul nikah ama kak Rio" balas Erna tersenyum manis.
"Gue buka langsung ya amplopnya?" kata Rendi penasaran.
"Malu atu kak banyak orang" cabik Erna dengan memukul lengan Rendi.
"Tidak apa-apa sayang, gue penasaran soalnya masak bos kasihnya cuma amplop tipis begini" protes Rendi meremehkan, yang ada di benaknya sih uang hanya beberapa lembar.
Perlahan Rendi membuka amplop dari Faro itu, di tariknya kertas dari dalam ternyata prediksinya salah, di dalamnya terdapat dua lembar tiket pesawat, hotel bintang lima untuk menginap serta akomodasi lainnya lengkap di amplop itu.
"Wow...sayang tiket honeymoon ke Bali selama tiga hari, bos memang keren" puji Rendi dengan tersenyum bahagia memeluk istrinya.
"Kak, aku jadi ingat Inneke, sudah Abang Faro tidak hadir, Inneke juga kembali Malaysia, apakah nanti mereka bisa bersatu ya?" tanya Erna sedih karena perpisahan mereka.
"Kita berdoa saja sayang, semoga mereka bersatu" jawab Rendi bahagia.
Keesokan harinya Rendi terbang ke Bali untuk honeymoon bersama istrinya Erna, sebetulnya rasa tidak enak juga menghantui pikiran Rendi, saat dia bahagia sahabat karibnya Faro bersedih karena cobaan bertubi-tubi datang padanya.
__ADS_1
Sedangkan Faro hanya tiga hari tinggal di rumah Opa Tomy, karena masih khawatir dengan keselamatan dan kesehatan uminya, berkali-kali jenderal Hendro selalu menghubunginya, mengabarkan jika dua orang yang tertembak peluru di kakinya saat penculikan Imma kemarin, di temukan tewas di sel tahanan metro jaya karena keracunan.
Jenderal Hendro juga menceritakan jika kedua orang yang telah menculik uminya itu di temukan di mulutnya kapsul kosong yang telah di gigitannya sehingga mulutnya berbusa dan meregang nyawa di sel tahanan itu.
Dan satu lagi sopir yang bersama dengan Ramos Sandara waktu malam itu juga tewas karena menabrak trotoar jalan tol Jagorawi, sedangkan Ramos tidak di temukan keberadaannya.
Mendengar kabar itu Faro kembali ke Jakarta, dari bandara internasional Soekarno Hatta sore hari, langsung ke markas karena sudah di tunggu jenderal Hendro dan anggota disana.
Sudah hampir dua Minggu ini setelah penculikan uminya, Faro jarang tidur nyenyak, juga tidak merawat dirinya, bahkan cambang nya mulai tumbuh sehingga membuat wajah Faro menjadi lebih garang dan dingin.
"Selamat sore jenderal" Faro datang sambil menarik koper dan duduk di samping Jenderal Hendro.
"Sore Bang, kenapa kau kusut begitu Bang, ayolah semangat, kami selalu mendukungmu" jenderal Hendro menepuk pundak Faro untuk bisa semangat dan tidak terlalu terbebani dengan apa yang menimpanya selama ini.
"Terima kasih Jenderal ayo kita mulai" ajak Faro mengalihkan pembicaraan agar tidak mencampurkan masalah pribadi dengan tugas yang harus di kerjakan.
Mereka menganalisa tiga kasus, saat itu juga termasuk kasus mengenahi penculikan Imma, karena sudah empat tersangka yang tewas, dan dua orang lagi menjadi ODP yaitu Ramos Sandara dan satu lagi belum di ketahui identitasnya.
Sampai pukul sepuluh malam mereka baru menyelesaikan tugas itu dengan seksama, baru pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Faro diantar oleh Jenderal Hendro.
Sesampainya di rumah, semua keluarga sudah ada di dalam kamar masing-masing, Faro masuk hanya di bantu oleh sekuriti saja.
"Selamat malam bos, mari aku bantu" kata sekuriti membawakan koper Faro sampai di ruang keluarga.
"Kenapa seragam kerja tidak seperti biasanya Pak?" tanya Faro setelah melihat ada tiga sekuriti menggunakan seragam tetapi hanya kemeja putih yang di gulung sampai siku dan celana kain hitam penampilan mereka jadi seperti salesman.
Sesampainya di ruang keluarga sekuriti kembali keluar rumah untuk berjaga di depan garasi kembali dan Faro baik tangga menuju lantai atas ke kamarnya sendiri.
Tetapi baru melewati kamar Abi dan uminya, awalnya sunyi tetapi terdengar jeritan Imma dari dalam kamar.
"Aaaaaaa.. bibi... Ibu... tolong" rancu Imma terbangun dari tidurnya dan duduk dengan keringat dingin mengucur deras dan tangan yang sudah mengepal.
"Honey, tenang ada Abi disini" Ken memeluk Imma dengan erat mengelus punggungnya lembut.
Spontan Faro masuk kamar tanpa mengetuk pintu dan sedikit berteriak, melempar koper di sembarang tempat.
"Abi, umi, ada apa?" tanya Faro khawatir, mengelus tangan uminya dan menciumi tangan itu bekali-kali dengan mata yang menganak sungai.
"Abang sudah pulang honey, coba lihatlah putramu brewokan dia, terlihat garang jadinya dan maco, Abi jadi kalah gantengnya" kata Ken mengendorkan pelukannya, memberikan ruang untuk melihat putranya yang baru datang.
"Abang.... kenapa mukanya jadi garang begini tetapi kok cengeng pipinya basah karena air mata?" tanya Imma mengusap air mata yang ada di pipi Faro.
Faro hanya terkekeh langsung memeluk uminya dengan erat bahkan air matanya tetap mengalir sampai membasahi pundak Imma.
"Abang, masih nangis kah, kok pundak umi basah sih?" celoteh Imma mendorong dan mengendorkan pelukan Faro sehingga terlihat jika Faro masih menangis tetapi bibirnya tersungging senyuman yang mengembang.
__ADS_1
"Abang mandi dulu ah, lengket dan bau" Faro turun dari tempat tidur big size milik kedua orang tuanya, malu karena menangis di depan kedua orang tuanya.
"Berarti dari pagi, Abang belum mandi, pantas aja dari tadi ada yang aneh baunya" goda Ken pura-pura menutup hidung.
Faro terkekeh lagi, hatinya menghangat sebetulnya jika di ajak bercanda Imma akan seperti normal dan tersenyum riang, tetapi jika mengingat kejadian itu dia terlihat tidak bisa membedakan masa lalu dengan masa kini.
"Abi, umi istirahat ya sudah malam, Abang juga sudah ngantuk" Faro keluar kamar Ken dan menuju ke kamarnya sendiri untuk membersihkan badannya serta istirahat sekedar untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah.
Pukul enam pagi Faro sudah berada di ruang kerja Ken, mengerjakan pekerjaan dan laporan dokumen yang harus di tandatangani oleh Faro.
"Waaah rajinnya putra Abi, banyak pekerjaan yang harus di tangani kah? tanya Ken penasaran melihat Faro yang sibuk dengan banyak dokumen yang akan ditinggalkan oleh Mario.
"Bagaimana perkembangan umi, Bi?," tanya Faro menutup dokumen yang ada di depan meja.
"Kalau ada yang menemani sepertinya sudah normal seperti sedia kala Bang, tetapi jika mengingat peristiwa itu badannya keluar keringat dingin umi tidak bisa membedakan mana yang masa kini dan masa lalu" balas Ken.
"Rencana hari ini Abi akan mengajak umi untuk ke makam ibu Lestari, apakah Abang mau ikut?".
"Iya Bi, Abang ikut, jam sepuluh aja tapi, biar kerjaan Abang selesai terlebih dahulu".
"Baiklah, umi juga belum bangun, tadi menjelang pagi hari baru bisa tidur"
"Bagaimana kata dokter, Bi?".
"Sudah 70% sembuh, katanya terkadang umi masih belum bisa membedakan antara masa lalu dengan kejadian sekarang, makanya saat malam ataupun saat mengingat peristiwa itu umi masih sering memanggil nama ibu Lestari dan Uthi Sumi" Ken menjawab dengan panjang dan lebar.
"Apakah kita akan mengunjungi makam ibu Lestari juga salah satu terapi penyembuhan yang di sarankan dokter Bi?".
"Awalnya ide Abi sih, tetapi dengan persetujuan dari dokter yang menangani umi".
"Bagaimana kalau kita ke kampung Bi, mengunjungi makam uthi Sumi, siapa tahu setelah akan bisa menyembuhkan trauma umi?" Faro memberikan usul.
"Waaah, ide bagus Bang, tetapi setelah Ezo selesai daftar sekolah SMU ya Bang?" Balas Ken dengan perasaan yang sangat senang, ini akan memberikan dampak positif baginya.
"Fia sudah selesai daftar kuliahnya Bi?" tanya Faro yang mencemaskan adik perempuan yang sangat di sayangnya, karena akhir-akhir ini tidak begitu memperhatikannya.
"Tentang aja Bang, dia sudah di terima kuliah sesuai minat dan cita-citanya, jurusan tata boga dan kuliner.
"Syukurlah, maaf ya Bi, akhir-akhir ini Abang tidak begitu memperhatikan adik-adik" Faro begitu sedih karena jarang memiliki waktu untuk adik kesayangannya.
"Tidak apa-apa Bang, sudah besar semua mereka, apalagi Fia sudah mandiri sekarang, Abi juga tidak membantunya, hanya memantau aja" Ken memberikan dukungan kepada putranya jika semua berjalan dengan lancar.
Mario saat di kantor.
__ADS_1
Mario selalu siap mendapatkan tugas dari Faro bosnya.